
Flashback on
17 tahun yang lalu sejak pertama kali Pelik menjadi makhluk karena sebuah kecelakaan yang menimpanya, dia kebingungan dan panik melihat ruh dirinya sendiri yang berpisah dengan raganya, dia bahkan tidak bisa melihat raganya yang sudah hancur, dia frustasi dan terus melayang kesana kemari tanpa tujuan, hingga dia bertemu seorang bayi kecil di malam yang gelap dan dingin, serta hujan deras yang tiba-tiba saja muncul saat itu.
Di dalam sebuah gerobak sampah dia melihat gadis cantik dan lucu meski dia saat itu sudah bukan manusia lagi namun melihat bayi kecil tergeletak disana tentu saja dia merasa tidak tega dia ingin membawa bayi kecil itu namun dia sadar mungkin bayi itu tidak akan bisa melihatnya, tapi ternyata saat Pelik menyentuh bagian tubuhnya bayi kecil itu memberikan respon sehingga membuat Pelik sangat senang sebab masih ada manusia yang bisa melihatnya.
Dia terus mengajak bermain bayi kecil itu hingga bayi itu bisa tertawa dengan riang sampai tidak berselang lama seorang nenek menghampirinya dan mengambil bayi itu, Pelik tidak bisa melakukan apapun sampai nenek itu mengucapkan terimakasih kepadanya karena telah menjaga Emely kecil, sejak saat itu Pelik sadar bahwa bukan hanya bayi itu saja yang bisa melihatnya tetapi nenek tua itu juga dapat melihatnya.
Dia ingin bertanya kepada nenek itu dan menanyakan apa yang harus dia lakukan tapi sayangnya nenek itu sudah menghilang bersamaan dengan bayi kecil yang dia temui sebelumnya, Pelik terus mencari keberadaan nenek itu dia menjadi ruh yang tidak tahu arah dan melayang ke sana kemari, dia tidak tahu apapun dan tidak pernah melihat keluarganya lagi.
Hingga akhirnya takdir kembali mempertemukan Pelik dengan mbok Warni dan Pelik terus memaksa mbok Warni untuk menuntunnya menuju alam baka sebab dia tidak ingin terus menjadi makhluk yang gentayangan di dunia tanpa tahu arah, karena merasa kasihan mbok Warni pun memberitahu segalanya dan Pelik hanya terdiam karena dia tidak tahu dimana keberadaan keluarganya saat ini, sehingga mbok Warni memutuskan untuk menjadikan Pelik sebagai makhluk penjaga Emely dengan imbalan bahwa Emely akan menuntun Pelik menemui keluarganya dan dia bisa segera pergi ke alam baka.
Pelik pun setuju dan hingga saat ini dia masih setia menemani Emely dan melindunginya dengan semua bekal yang pernah di berikan oleh mbok Warni, sejak dulu mbok Warni hanya mempercayai Pelik sebab dia adalah makhluk murni, sehingga semua rahasia akan tersimpan dengan baik, namun nyatanya Pelik selalu menceritakan semua kembali kepada Emely.
Flashback off
Kini Emely kecil sudah tumbuh menjadi gadis berusia tujuh belas tahun sama dengan waktu kematiannya, tapi karena masih belum bisa menemukan keluarganya, Pelik hampir putus asa dia kembali seperti dulu, melayang ke segala arah mencari informasi di sekitar kota tersebut hingga matanya tertuju kepada seorang wanita paruh baya yang saat itu hendak menyebrang jalan.
Sebenarnya Pelik hanya merasa wanita itu tidak asing baginya dan wajahnya terlihat begitu familiar untuk dirinya maka dari itu Pelik hanya mengikuti isi hatinya dia pergi mengikuti wanita tersebut hingga dia sampai di sebuah persimpangan jalan dan wanita paruh baya itu menyimpan sebuah buket bunga di bawah salah satu pohon.
Saat wanita itu duduk di depan pohon tersebut dengan menitikan air mata Pelik kebingungan dan dia tiba-tiba saja merasa ikut bersedih ketika melihat wanita itu bersedih disana seorang diri, tanpa disadari Pelik ingin menyentuh wanita itu namun dia tidak bisa, hanya orang yang bisa melihatnya yang bisa dia sentuh, tangannya yang hendak meraih wanita paruh baya tersebut seperti sebuah angin, dia menembus tubuh wanita itu dan tidak bisa menyentuhnya.
__ADS_1
"Ada apa denganku?, Mengapa aku merasa sedih seperti ini disaat melihat wanita paruh baya ini bersedih, siapa yang dia kunjungi untuk melayat?" Ucap Pelik memikirkan.
Sebelumnya dia tidak pernah merasakan rasa kesedihan seperti ini hingga tiba-tiba saja dia mendengar teriakkan Emely yang memanggilnya.
Pelik segera menghilang dan kembali ke kediaman itu lalu menemui Emely, dia muncul tepat di hadapan Emely secara tiba-tiba membuat Emely hampir jatuh terjungkal ke belakang.
"Aaarkhhh...astaga Pelik kau ini sudah gila ya, kenapa kau malah muncul dihadapanku seperti itu, membuatku kaget saja!" Bentakku memarahinya.
Dia tiba-tiba saja memelukku dengan erat dan menangis di dalam dekapanku sambil terisak.
Aku kaget melihat Pelik dalam keadaan seperti ini, padahal sebelumnya aku memanggil dia karena aku merasa sedikit pusing dan berniat ingin pergi ke luar bersamanya, namun melihat kondisi Pelik seperti itu aku memendam niatku dahulu.
"Pelik, apa yang terjadi denganmu kenapa kau menangis terisak seperti ini?" Tanyaku kepadanya dengan lembut,
Aku mendorong tubuhnya pelan agar melepaskan dahulu pelukannya dariku dan menyuruh Pelik agar menenangkan dirinya dahulu lalu mulai menceritakan semuanya dari awal kepadaku.
Untungnya dia mau menurut dan segera melakukan apa yang aku katakan kepadanya, dia juga menceritakan semuanya dengan jujur.
"Eumm...Pelik atau jangan-jangan perempuan paruh baya itu keluargamu atau mungkin dia ibumu" ucapku mulai terpikir dengan keluarganya.
Pelik membelalakkan matanya sempurna dan dia juga baru teringat akan hal itu.
__ADS_1
"Emely kau benar, mungkin saja dia keluargaku" balas Pelik berpikiran yang sama,
"Tapi Pelik apa kamu masih ingat seperti apa wajah ibumu atau salah satu anggota keluargamu itu?" Tanyaku kepadanya untuk memastikan,
"Ini sudah 17 tahun Emely dan aku bukan manusia lagi yang bisa menyimpan memori ingatan dengan baik, bagaimana aku bisa mengingat mereka, tapi mbok Warni bilang perasaan kami akan tetap terpaut bahkan jika aku sudah menjadi makhluk gentayangan seperti ini" balasnya kepadaku.
Kami pun menunduk dengan lesu bersamaan karena tidak tahu lagi jalan apa yang harus kita ambil, hingga aku mulai memiliki sebuah ide di dalam pikiranku.
"Aahhh...iya aku tahu apa yang harus kita lakukan, Pelik kau tenang saja besok sepulang sekolah kita pergi ke sana untuk memastikan aku akan mendekati wanita itu untuk mencari tahu lebih dalam, bagaimana?" Ucapku memberikan ide,
"Benarkah?, Terimakasih sudah mau membantuku Emely" ucap Pelik sambil langsung memelukku,
"Hey... Pelik bodoh, kau tidak perlu berterima kasih kepadaku aku kan sudah bilang kau itu orang paling berharga dihidupku sejak dulu, sekarang dan kehidupan selanjutnya, aku akan selalu membantumu tanpa kamu minta" balasku sambil tersenyum ceria kepadanya.
Pelik nampak begitu senang dan aku beralasan ingin ke kamar mandi sebab aku tidak tahan menahan haru di dalam mataku.
"Sudah ah aku mau ke kamar mandi dulu, ingat kau jangan pergi ke mana-mana aku butuh bantuanmu setelah ini" ucapku memperingati dia,
"Iya..iya" balas Pelik.
Aku langsung masuk ke kamar mandi dan mulai menitikan air matanya begitu saja, aku sakit saat mendengar Pelik sudah menemukan keluarganya, aku tahu dia selalu ingin pergi ke alam baka, aku juga ingin dia bahagia dan bisa berainkarnasi seperti makhluk lainnya namun aku belum siap kehilangan dia saat ini.
__ADS_1
"Nenek apa aku egois karena menahan Pelik di sampingku?, Aku tidak ingin sendirian nek" gumamku di dalam hati kecilku sendiri.