
"Astaga.... Devano lepaskan tanganku, kau mau membawaku kemana hey..... Apa kau mendengarkan aku? Lepaskan!" Bentakku sambil menghempaskan tangannya dengan kuat.
Tiba-tiba saja dari belakang terlihat sebuah awan hitam yang begitu pekat dan firasatku mulai merasa tidak enak, aku berbalik dan terperangah melihat gumpalan awan hitam itu yang mulai menghampiri kami lebih dekat dan terus mendekat seperti ingin menelan semua hal yang dilewatinya, angin semakin bergemuruh dengan kencang, semua benda yang ada di jalanan berterbangan dan awan hitam berkabut itu seperti menyedot semua mobil serta bangunan yang ada di sekitar sana dan aku melihat ke arah rumah sewaanku dimana aku tahu Pelik dan yang lainnya masih ada di dalam sana, aku berniat hendak berlari kembali ke rumah sewaanku, tetapi Devano mencegah tanganku dengan kuat.
"Oh ..tidak, Pelik dan yang lainnya ada di rumah itu, aku harus melindungi mereka" ucapku sambil bergegas untuk pergi,
"Emely jangan, itu terlalu berbahaya, anginnya sangat kencang dan awan hitamnya semakin mendekat kita tidak akan sempat jika kembali kesana, ayo cepat kita pergi" ucap Devano dengan tangan yang terus menarikku dengan kuat,
"Tidak Devano, apapun yang akan terjadi aku harus kembali kesana, mereka dalam bahaya dan mereka membutuhkan aku, lepaskan aku, aku harus kembali pada mereka" ucapku berontak.
Sayangnya kekuatan tangan Devano jauh lebih besar dibandingkan kekuatanku dia terus menarik aku dan membawaku masuk ke dalam gedung itu, dan dia terus membawa aku menaiki tangga menuju lantai paling atas, aku terus berusaha berontak kepadanya dan sekuat tenaga ingin melepaskan tanganku dari genggamannya, aku tidak bisa meninggalkan Pelik seorang diri dan aku ingin kembali ke sana bersama mereka semua.
"Devano tidak, lepaskan aku, aku harus melindungi mereka dan Pelik, oh...tidak jangan....kumohon jangan rumah itu" ucapku tidak sanggup melihat awan hitam yang pekat mulai menutupi rumah sewaanku tersebut sedikit demi sedikit.
Dan awan hitam itu juga semakin mendekati gedung tempatku berdiri, saat itu aku sudah berada di atap gedung paling tinggi di kota dan dari sana aku bisa melihat dengan jelas semua kota di tutupi oleh kabut yang gelas dan awan hitam yang membawa badai itu terus bergerak seakan telah memakan semua hal yang dia lewati, dan aku sungguh tidak sanggup lagi melihat semua keanehan ini.
"Devano apa yang sedang terjadi, mengapa semua ini bisa terjadi, kota ini dan semuanya?" Ucapku menatap dengan kebingungan.
Aku langsung jatuh ambruk begitu saja sampai tiba-tiba terdengar suara seseorang yang berteriak kepada Devano.
"DEVANO....." teriak seseorang dari belakang kami.
Aku dan Devano refleks langsung membalikkan badan dan nampak sosok seorang kakek memakai pakaian serba hitam dengan bendo di kepalanya, dia juga memegangi sebuah tongkat di tangannya yang membantu dia berjalan ke arah kami.
"I..itu...apa dia...." Ucapku sambil menatap ke arah Devano,
"Iya itu kakekku, orang yang aku maksudkan" ucap Devano sambil mengangguk.
Aku masih terperangah dan tidak menyangka bisa benar-benar bertemu dengan kakek Devano di tempat seperti ini, tetapi kakek itu terlihat memasang wajah yang sangat serius dan dia segera menghampiri kami dengan cepat lalu tatapannya terus saja menatapku dengan tajam.
"Kalian.... Bagaimana bisa kalian sampai disini?" Tanya kakek tersebut.
Wajahnya terlihat begitu menakutkan, dia berbicara kepada kami dengan mengerutkan dahinya hingga jeritan itu terlihat begitu jelas dan dia mengeratkan giginya seperti menahan sebuah amarah di dalam hatinya, dia juga menatapku dengan tatapan yang aneh sampai aku merasa merinding dengan tatapannya itu.
__ADS_1
"Kakek...aku butuh bantuanmu makanya aku langsung mengejarmu disaat aku melihatmu tadi" ucap Devano kepada kakeknya.
"Tidak ada waktu untuk bicara Devano, kalian berdua jika ingin selamat ikutlah denganku" ucapnya dengan serius.
Aku tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh kakek tersebut tetapi Devano menatap kepadaku dengan tatapan yang tidak aku mengerti, dia tiba-tiba saja menggandeng tanganku dan menyetujui ucapan kakeknya tersebut.
"Baik kek, kami akan ikut denganmu" balasnya begitu saja, tanpa menanyakan persetujuan dariku dahulu.
Aku menatapnya dengan tajam dan saat itu juga aku mau membentak dia tetapi tiba-tiba saja kakek tersebut mengetukkan tongkat di tangannya lalu sebuah lubang dengan cahaya yang menyilaukan mata muncul di hadapan kami, aku kaget melihat semua itu sehingga membuat mulutku yang hendak merutuki Devano tertahan begitu saja.
"Devano apa kau gil....." Ucapku tertahan karena melihat keajaiban luar biasa di depan mataku,
"A..a...apa itu....aaahh...ini silau sekali" ucapku sambil berusaha melindungi mataku dengan sebelah tangan,
"Jangan banyak bertanya, makhluk jahat itu sudah kembali, cepat masuk ke dalam jika kalian ini selamat" ucap kakek tersebut dengan tegas.
Devano mengangguk dan dia langsung menyeretku masuk ke dalam lubang cahaya itu dengan paksa.
Kami masuk ke dalam lubang dengan cahaya yang menyilaukan mata tersebut dan entah kenapa aku merasa sangat silau hingga mulai merasa tubuhku seperti jatuh dari ketinggian tanpa dasar.
"A..apa ini, oh tidak aku jatuh. Aaaaarkhhh.....tolong!" Suara teriakkan diriku.
Aku sangat takut karena tidak bisa melihat apapun di sekitar sana karena sangat silau, yang bisa aku rasakan saat itu hanyalah tangan Devano dan aku menggenggam tangannya dengan sangat erat, aku sangat takut terpisah darinya saat itu, karena hanya dia yang aku kenal.
"Devano..., Jangan lepaskan tanganku!" Teriakku kepadanya,
"Aaaarkkk....aku tidak bisa mendengar apapun" teriakkan Devano tidak kalah keras.
Aku tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa berteriak sangat keras bersama Devano sampai akhirnya perlahan cahaya yang menyilaukan mata kami mulai meredup dengan perlahan, dan kami merasakan sesuatu yang berbeda hingga akhirnya kami jatuh mengenai tanah cukup keras.
"Aaaakkkhhh...brukkk....aduhhhh" suaraku yang jatuh berguling di tanah.
Saat aku jatuh, tanganku terlepas dengan tangan Devano dan aku berusaha bangkit sambil memegangi kepalaku yang terasa sedikit pusing juga pinggangku yang terasa remuk.
__ADS_1
"Aaduhh...berapa lama aku jatuh, dan ehh....dimana aku?" Ucapku mengeluh dan panik.
Ketika aku bangkit terduduk aku mulai merasa panik dan kebingungan karena melihat sekelilingku yang di penuhi dengan pepohonan besar, aku tidak mengenali tempat itu dan aku langsung berteriak berusaha mencari Devano.
"Aishhh....dimana ini sebenarnya, dan Devano dimana dia?.... Devano..... Devano dimana kau?" Teriakku sangat kencang.
Aku mulai berusaha bangkit berdiri dan berjalan dengan pelan sambil memegangi pinggangku yang sakit, aku berjalan dari pohon satu menuju pohon lainnya sambil terus berteriak memanggil nama Devano.
"Devano.....apa kau bisa mendengarkan?, Hei.... Devano dimana kau?, Apa kau baik-baik saja?" Teriakku terus menerus.
Aku sangat kebingungan melihat sekelilingku yang di penuhi tumbuh-tumbuhan aneh dan aku tidak bisa mengenali semua tumbuhan yang ada disana, aku merasa semua itu adalah sihir dan aku tidak bisa menemukan keberadaan Devano, hingga tidak lama aku melihat sebuah tangan yang tergeletak di balik pohon.
Karena aku kira itu Devano, aku langsung bergegas lebih cepat menghampirinya.
"Itu pasti Devano, Devano apa itu kau?" Ucapku berteriak sambil berlari sekuat tenaga menghampirinya.
Namun betapa kagetnya aku saat melihat ternyata itu bukan Devano, melainkan kakek sebelumnya yang menyuruh aku dan Devano untuk masuk ke dalam lubang bercahaya tersebut sebelumnya, aku panik dan kaget bercampur menjadi satu, kakek tersebut terlihat tidak sadarkan diri dan aku sangat mencemaskannya.
"Astaga, kakek?, Kek....kakek apa kau baik-baik saja?" Ucapku sambil mendekati dia dan berusaha menggoyangkan wajahnya.
Aku sangat ketakutan melihat kondisi kakek tersebut, badannya terasa sangat dingin dan wajahnya begitu pucat pasi, aku terus berusaha membuatnya tersadar tapi dia tetap tidak sadarkan diri dan suhu tubuhnya semakin menurun.
Aku terpaksa harus menggunakan kekuatan spiritual yang aku miliki untuk menghangatkan tubuh kakek tersebut, meski aku sendiri tidak tahu pasti bagaimana cara mengeluarkan kekuatan itu, tetapi aku berusaha untuk tetap melakukannya demi menyelamatkan kakek tersebut.
"Tidak ada cara lain, aku harus menghangatkannya, tapi bagaimana cara mengeluarkan kekuatan itu?, Aishhh.....aku harus bagaimana sekarang" gerutuku merasa frustasi.
Aku berusaha untuk fokus dan terus berusaha mengumpulkan kekuatan di dalam diriku, aku sudah berusaha fokus tetapi tetap saja tidak bisa mengeluarkan kekuatan itu.
"Aahh....ha....ha....aishhh...kenapa tidak bisa juga?" Gerutuku semakin frustasi.
Aku menyerah untuk menggunakan kekuatanku dan terpaksa aku harus mencari kayu bakar dan membuat api unggun dengan tanganku sendiri, sebelum hari menjadi malam.
"Tunggu aku disini kek, aku akan menyelamatkanmu" ucapku dan segera pergi dari sana.
__ADS_1