
Abaddon berbalik menatap ke arahku yang saat itu sudah berada tidak jauh di belakangnya.
Namun karena hal itu pula Abaddon berhasil aku kelabui dia melepaskan genggamannya dari Brox sehingga Brox bisa lepas dari Abaddon dan dia langsung saja di tangkap oleh sang putra mahkota dengan cepat lalu membawanya pergi ke tempat yang aman bergabung dengan yang lainnya, sedangkan kini aku sendiri yang berhadapan langsung dengan Abaddon si makhluk menyeramkan dan sangat kuat tersebut.
Setelah aku melihat Brox dan Arshaka pergi ke tempat yang aman barulah aku bisa benar-benar bertarung dengan segenap kekuatan di dalam diriku tanpa takut temanku akan di jadikan ancaman atau sebuah sebagai sandra oleh iblis jahat dan sangat menjijikan tersebut.
"Kau ... makhluk kecil dari api, beraninya kau berurusan denganku, rasakan kekuatan milikku yang paling dahsyat ini kebencian....dendam....dan seluruh rasa sakit makhluk bumi berkumpulah padaku...huaaaaa......trassss.... Grrr....grrr..." Ucap Abaddon menaikkan kedua tangannya ke atas langit dan gelegaran perih mulai muncul juga gumpalan awan hitam yang semakin pekat menampakkan kekuatan Abaddon yang semakin meningkat saat itu.
Aku menatap ke atas langit di mana lubang hitam tersebut masih belum berhenti menyedot seluruh beda yang ada di permukaan bumi juga orang-orang yang berpegangan dengan erat berusaha untuk tidak sampai terbawa oleh arus kekuatan Abaddon saat itu.
Aku mengepalkan sayapku dan terbang mendekati Abaddon saat itu, dengan tangan yang mulai menggenggam kekuatan api semakin banyak hingga aku dapat membuat sebuah tombak panjang dengan api yang menyelubunginya, aku arahkan tombak besi di tanganku itu ke arah Abaddon hingga jarakku dan Abaddon sudah sangat dekat barulah ku lemparkan tombak api yang panas membara itu tepat mengenai jantungnya hingga menancap cukup kuat dan membuat Abaddon terlihat kesakitan sampai dia kehilangan keseimbangan dalam dirinya, juga tubuhnya yang mulai menyusul sedikit demi sedikit hingga setara dengan besaran manusia pada umumnya.
"Aaarrkkkhhh...tidaakkk...." Teriakkan Abaddon yang sangat menggelegar meski tubuhnya sudah mengecil dengan perlahan.
Aku masih belum puas karena masih melihat iblis itu berusaga melepaskan tombak api yang besar dan panas dalam tubuhnya, ku kumpulkan lagi ke kuatan dalam diriku dan aku berfokus pada satu titik inti dalam tanganku, aku merasakan angin kencang mengelilingi diriku juga sebuah air yang dingin menyeruak dari kakiku menuju ke seluruh tubuh, akar yang terdengar merambat juga sebuah bayangan yang muncul dari belakang, aku bisa merasakan seluruh kekuatan milik teman-temanku hadir dalam diriku sampai seketika sayapku berubah menjadi sebuah sayap berwarna keemasan dan semakin tegak bentuknya.
Rasanya diriku semakin kuat dan kuat aku merasa tubuhku seperti di penuhi dengan kekuatan elemen yang baru hingga ketika aku membuka mata, aku mampu mengumpulkan semua kekuatan tersebut, mulai menyatukannya dan mengarahkan sekaligus pada Abaddon tepat mengenai titik jantung miliknya lagi.
"Huaaaa ........brassssh" suaraku teriakkanku dan kekuatan yang begitu besar keluar dari tanganku tepat mengenai dada Abaddon dan jantungnya.
Iblis terkuat dari pada iblis tersebut langsung terlihat menampakkan wujud aslinya yang terlihat sama persis seperti makhluk menyeramkan yang pernah aku temui di dunia paling bawah dari tingkatan dunia paralel yang aku jelajahi, setengah tubuhnya berbentuk seperti keledai dan bagian atasnya terlihat layaknya manusia tetapi dengan wajah seperti seekor monyet besar.
Teriakkan Abaddon yang sangat keras dan begitu menyeramkan seakannmembuat semua makhluk hidup seketika bersembunyi pada tempat-tempat yang mereka rasa aman untuk dirinya saat itu.
Aku tidak pernah berhenti dan terus menerus aku keluarkan kekurangan penggabungan dari seluruh kekuatan elemen yang di berikan oleh teman-temanku sebelumnya.
Meski tubuhku terasa mulai melemas secara perlahan tetapi aku tidak berhenti menyerang Abaddon saat itu hingga Abaddon akhirnya dapatnaku musnahkan.
Cahaya terlihat dari bagian dada makhluk menyeramkan tersebut sedikit demi sedikit hingga hancur bak sebuah kaca yang pecah berhamburan saat itu, langit juga mulai terlihat kembali cerah dan semua benda yang sebelumnya tersedot masuk pada sebuah lubang hitam yang di buat oleh iblis tersebut kini mulai berjatuhan bak seperti hujan benda-benda aneh.
Aku merasakan tubuhku mulai kehilangan kesadaran sedikit demi sedikit dan merasakan jatuh dari ketinggian yang cukup lama saat itu, sayap di tubuhku perlahan menghilang berbarengan dengan hancurnya jiwa Abaddon saat itu.
Aku merasa sangat lega walau aku harus kehilangan nyawaku saat itu, karena aku sudah yakin bahwa Abaddon benar-benar berhasil aku hancurkan.
"Aku telah menepati janjiku, meski tidak bertemu dengan ibu aku akan menyusul nenek" ucapan terakhirku saat itu hingga aku kehilangan seluruh kesadaran dalam diriku.
Di sisi lain Devano dan yang lainnya justru sudah sedikit pulih karena kekuatan yang di miliki oleh Abaddon juga ibunya Arshaka berhasil menyembuhkan semua orang tepat waktu, bunga ajaib yang berasal dari pulau ilusi milik ibunya Arshaka berhasil mengembalikan energi mereka dan memulihkan diri mereka seperti semula walau secara bertahap.
Devano yang sudah sembuh lebih cepat dari yang lainnya dan dia yang melihat Emely jatuh dari atas seperti itu, dia langsung berlari mengejarnya berusaha untuk menangkap Emely agar tubuhnya tidak sampai mengenai tanah.
Namun sayangnya di saat Devano sudah bersiap di bawah untuk menangkap tubuh Emely, Pelik yang dasarnya seorang makhluk halus dan bisa terbang kemanapun dia inginkan, dia sudah lebih dulu mengambil tubuh Emely menggendongnya dan mendaratkan dia dengan lembut.
"Emely....." Teriak semua orang yang langsung berlari menghampiri Emely.
__ADS_1
Sedangkan Devano yang terlihat murung karena dia tidak berhasil menangkap Emely saat itu.
Dia juga segera datang menghampiri Emely menyingkirkan semua orang yang menghalangi dirinya untuk menatap wanita yang sangat dia cintai itu, teman-teman yang lainnya yang bersembunyi di dalam rumah sewaan milik Emely juga terlihat berhamburan keluar melihat bumi mereka yang sudah berhasil di selamatkan oleh seseorang, tetapi Mbah Kerto dan kakek tetua yang memiliki kekuatan daya ingat juga pengendali pikiran, mereka tidak bisa membiarkan manusia biasa seperti itu melihat dan menyaksikan semua kejadian seperti ini.
Alhasil mereka harus memusnahkan dan menghilangkan semua daya ingat dan pikiran dari semua manusia yang ada di tempat itu agar mereka tidak pernah mencoba mengungkit kejadian tersebut atau mengingatnya sedikitpun.
"Tetua...mari kita lakukan ini sudah saatnya" ucap Mbah Kerto kepada kakek tetua saat itu.
Mereka mulai menggabungkan kekuatan dan langsung saja menyebarkan kekuatan mereka ke seluruh tempat dan wilayah yang terdampak di seluruh kota tersebut tanpa tersisa sedikitpun, bahkan mbah Kerto sengaja melakukan semua serangannya sebanyak tiga kali untuk memastikan agar tidak ada satu orang pun manusia yang menyadari telah terjadinya kejadian yang sangat menyeramkan seperti sebelumnya.
Hingga setelah semuanya telah di netralkan bangunan yang sebelumnya amburuk dan hancur kini kembali seperti semula dan tidak terlihat satu jejak pun dimana kejadian seperti sebelumnya pernah terjadi.
Begitu pula dengan semua orang-orang yang ada disana kembali beraktivitas seperti sebelum datangnya Abaddon ke sana.
Teman-teman Emely seperti Angel, Anita, Alexa dan Mauren juga sudah melupakan semua kejadian tersebut.
Mereka semua kembali pada diri mereka yang sebelumnya bahkan mereka juga akan melupakan bahwa mereka pernah mengenal seorang teman bernama Emely sebelumnya.
Para penguasa elemen menatap dengan heran dan kebingungan sebab semuanya terjadi seperti sebuah waktu yang di putar berbalik juga semuanya kembali seperti semula dengan waktu beberapa detik saja, itu terlalu luar biasa untuk mereka lihat.
"Wahhh ....kakek tetua Mbah Kerto apa yang kalian lakukan, kenapa kalian menggunakan sihir di tempat ini?" Tanya Devano dengan wajahnya yang heran,
"Jika tidak semua orang akan mengetahui keberadaan kalian dan itu tidak boleh sampai terjadi atau kalian akan di buru oleh manusia sendiri" balas Mbah Kerto kepada Devano.
"Devano kau yang paling aku andalkan hanya kau yang bisa menyembuhkan semua luka pada Emely, aku sangat mempercayai dirimu Devano" ucap Mbah Kerto sambil menepuk pundak Devano pelan saat itu.
Devano sendiri langsung menatap ke arah Emely yang terlihat terpejam tidak sadarkan diri dengan wajah yang penuh bekas luka dan keadaannya sangat mengkhawatirkan.
Dia langsung mengangguk dan Mbah Kerto juga yang lainnya sudah harus pergi kembali ke tempat asal mereka karena misi ini telah selesai.
"Devano kita semua harus kembali, sebelum dinding pembatas antara dunia ini dengan dunia kami akan tertutup, kau harus menjaganya dan kau bisa datang menemuiku di tempat biasa kau selalu datang, aku akan selalu menunggumu menantikan kabar Emely disana" ujar Mbah Kerto kepada Devano saat itu.
"Tapi kek...apa kalian semua benar-benar harus pergi sekarang, kenapa tidak menunggu sampai Emely lebih baik, mungkin dia juga perlu mihat teman-teman yang lainnya untuk terakhir kali" ucap Devano saat itu,
"Tidak bisa Devano, waktunya tidak banyak, gerbang yang aku buat bersama kakek tetua tidak akan bertahan lama, kita semua yang sejatinya tidak tinggal dan di ciptakan untuk berada di tempat ini tidak bisa hidup dan bertahan disini dalam waktu yang lama, kita semua tetap harus kembali atau selamanya akan hidup sebagai manusia biasa di dunia ini" ujar Mbah Kerto menjelaskan.
Devano sudah tidak bisa protes atau berkutik lagi ketika Mbah Kerto Kakeknta sendiri sudah mengatakan semua itu, dia juga tidak bisa melawan takdir dan ketentuan yang sudah di buat oleh semesta sehingga hanya bisa menerima semuanya meski dengan hati yang tidak terima.
"Baiklah kek, tepi izinkan aku untuk melakukan satu hal dengan teman-teman tim ku dahulu sebelum kalian benar-benar pergi" ucap Devano meminta satu hal terlebih dahulu.
Mbah Kerto pun mengangguk memberikan izin dan Devano terlihat sangat senang, dia pergi mengambil ponsel milik Emely yang ada di atas meja belajar di kamarnya, lalu dia membuka menu kamera dan meminta semua orang agar berfoto bersama saat itu.
"Heh kalian berlima ayo merapat kita akan berfoto sekarang, ayo cepat" ucap Devano kepada ke limat temannya dari dunia lain tersebut.
__ADS_1
Mereka berlima yang sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Devano mereka hanya bisa menatap dengan tatapan yang aneh dan kebingungan sedangkan Devano yang jengkel karena mereka sangat sulit sekali di ajak berfoto langsung saja membentak mereka cukup keras saat itu.
"Astaga...heh...apa kalian tulis atau benar-benar bodoh sih! Aku akan sudah bilang merapat, aku berjajar yang rapih dan buat tangan kalian seperti ini, iya betul Avan seperti itu, kau sangat pintar kalian semua belajar dari Avan ayo lakukan dengan wajah yang tersenyum apa kalian mengerti? Aku akan menghitung mundur" ucap Devano bersiap-siap saat itu.
"Tiga...dua..." Ucap Devano yang tertahan karena melihat Vayu yang sama sekali tidak tersenyum sedikitpun.
"Aishhh.. berhenti.... berhenti....Vayu heh apa kau tuli, aku kan sudah bilang tersenyum ayo senyumlah itu tidak di bayar kenapa kau sangat sombong sekali dan terus memasang wajah datar mu itu" ucap Devano memarahi Vayu,
"Aku tidak bisa" balas Vayu yang membuat Devano kesal sampai harus membelalakkan matanya saat itu.
Hingga ketika Devano akan marah tiba-tiba saja Emely terbangun dan bicara menghentikan pertengkaran tersebut.
"Aishh....dasar kau manusia padang pasir....benar-benar seperti mumi ribuan tahun yang tidak bisa tersenyum" ucap Devano mengatainya.
Hal itu membuat Avan merasa sangat kesal dan dia langsung membelalakkan matanya menatap tajam kepada Devano.
"Kau....beraninya kau bicara seperti itu kepadaku" ucap Vayu terlihat sangat kesal.
"Hey...berhenti bertengkar di depan orang yang lemah saja kalian masih sempat-sempatnya bertengkar dan malah asik berfoto melupakan aku yang sudah berjuang mati-matian" ucapku yang melihat mereka bertengkar di hadapanku saat itu dan Devano yang membawa ponsel milikku di tangannya.
Seketika mereka semua yang ada disana langsung menatap dengan sangat senang ke arahku dan wajah mereka terlihat lucu jika di lihat dari bawah saat aku berbaring lemas seperti ini.
Aku tersenyum menatap ke arah mereka yang terlihat sangat kaget ketika mengetahui aku tersadar saat itu.
"Emely....kau sadar..." Ucap Devano kepadaku saat itu,
"Dasar bodoh sudah mendengar aku bicara masih bertanya seperti itu, otakmu ketinggalan dimana bodoh!" Balasku kepadanya sambil tersenyum kecil melihat reaksi dari mereka semua yang sangat lucu termasuk reaksi dari Devano yang paling membuatku ingin tertawa bila seandainya perutku tidak sakit saat itu.
"Emely aku sangat senang melihatmu siuman, aku akan merindukanmu Emely" ucap Vayu memegangi tanganku,
"Vayu jangan seperti itu, jika kau tidak bisa datang menemui aku, akulah yang akan datang menemuimu lagi" balasku kepadanya,
"Lalu bagaimana dengan kami semua, memangnya hanya Vayu saja yang akan merindukanmu, aku juga akan merasakan hal yang sama" balas Arshaka kepadaku saat itu dengan wajahnya yang berpaling ke arah lain.
"Arshaka, Brox, Avan, dan Erebus kalian juga akan aku kunjungi, kita akan bertu lagi dalam perjalanan misi berikutnya dan aku akan sangat menantikan hal itu" ucapku kepada mereka.
"A..a...apa? Memangnya masih ada misi yang lain?" Tanya Devano kepadaku saat itu sambil membelalakkan matanya dengan sangat lebar dan terlihat tidak terima mendengarnya.
"Kau tanyakan saja pada kakekmu kenapa di peta itu terdapat banyak misi dan kita hanya baru menyelesaikan satu saja" balasku kepadanya.
Devano langsung terlihat murung dan dia begitu lemas saat mendengar hal tersebut, hingga semua orang yang ada disana langsung saja tertawa melihat ekspresi dari Devano yang terlihat begitu menyedihkan dan wajahnya yang sangat lucu ketika terlihat tertekan seperti itu.
Rasa sakit di dalam tubuhku dan aku yang tidak bisa merasakan kakiku sendiri, seakan tidak aku rasakan dan bisa aku tahan selama aku bisa melihat semua orang disana tertawa dengan senang dan gembira, walau hanya satu misi saja yang baru terselesaikan tetapi ini sudah membuat kami banyak sekali menemukan pembelajaran dalam hidup, dan sebuah pertemanan yang saling membantu dalam suka maupun duka.
__ADS_1