Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Keanehan Mauren


__ADS_3

Hingga ketika berada tepat di depan kelas Devano akhirnya mau melepaskan tanganku dan aku langsung memarahinya habis-habisan karena sudah memendam kemarahan dan emosi ini sejak lama sebelumnya.


"Eughhh....heh, apa kau gila kenapa kau menarikku seperti itu, kau tidak lihat kakiku sakit dan kau masih terus menarikku dengan kuat" bentakku sambil menatapnya dengan tajam.


Rasanya aku ingin menghajarnya saat itu juga tetapi disaat aku baru saja mengangkat tanganku Mauren datang menghampiri kami dan rupanya dia mengikutiku sedari tadi.


"Ehh, tunggu Emely jangan sakiti Devano dia mungkin mengkhawatirkanmu" ucap Mauren yang tiba-tiba saja muncul dan menghentikan aku,


Aku menatapnya dengan penuh kebingungan, bagaimana bisa dia tetap bersikap baik padahal Devano sudah menyinggungnya berkali-kali bahkan aku pikir Devano selalu bersikap kasar dan tidak menghargainya tetapi Mauren tetap membela dia, aku pun segera menurunkan tanganku dan menghampiri Mauren.


"CK.... bersyukur kau selamat dari tanganku karena Mauren" ucapku berdecak kesal dan menatapnya dengan sinis.


Aku tahu saat itu Devano terlihat sangat kesal tapi aku tidak memperdulikannya, aku langsung menggandeng tangan Mauren dan membawanya segera masuk ke dalam kelas meninggalkan Devano yang masih berdiri mematung di depan pintu.


"Mauren ayo kita masuk" ajakku membawanya segera.


Aku langsung duduk di kursiku sedangkan Mauren menggeser salah satu kursi lain untuk duduk dekat denganku, dia terus menatapku sambil tersenyum begitu ceria, aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia lakukan dan dia benar-benar terlihat sangat aneh serta mencurigakan.


"Mauren apa yang kau lihat dariku, kenapa kau terus menatapku seperti itu?" Tanyaku kepadanya dengan meninggikan nada suaraku,


"Tidak apa apa Emely aku hanya menyukaimu kau adalah teman pertama yang mau dekat denganku, aku senang karena kau mau menggandeng tanganku sebelumnya, terimakasih ya Emely sudah mau menjadi temanku" ucapnya dengan raut wajah bahagia.


Aku menatapnya dengan heran dan kebingungan sebab perasaanku mengatakan bahwa aku tidak pernah mengakui dia sebagai temanku tapi hanya karena aku menggandeng tangannya dan mengajak dia masuk ke dalam kelas bersama, dia sudah berpikiran aneh seperti ini dan mengira aku mau menerima dia sebagai temanku.

__ADS_1


"Hey, kapan aku pernah berkata setuju kau menjadi temanku, aku hanya memiliki satu teman di dunia ini dan dia bukan manusia apalagi orang sepertimu" ucapku mempertegas.


Mauren langsung terlihat sedih dan murung tapi aku tetap tidak perduli, bahkan jika dia menangis sekalipun aku tidak perduli sedikitpun kepadanya, lagi pula dia sudah hampir membunuhku dua kali, apa aku pantas menerima orang berbahaya sepertinya menjadi temanku sendiri, tentu saja tidak aku tidak bodoh meski aku tidak jahat.


Yang tidak aku sangka adalah dia memohon di hadapanku dan menangkupkan kedua tangannya diatas meja belajarku.


"Emely aku mohon tolong terima aku sebagai temanmu, aku mohon Emely tolong terima aku yah, aku ingin memiliki satu teman terbaik dan aku yakin kau lah orang yang tepat" ucapnya terus merengek dan memohon tanpa henti.


Aku tetap tidak ingin berteman dengannya dan aku menolaknya secara langsung saat itu juga karena aku tidak ingin memberikan dia sebuah harapan yang tidak pasti dan mungkin itu hal yang tidak akan bisa aku berikan kepadanya sampai kapanpun.


"Maafkan aku Mauren tapi bukankah kau sangat populer di sekolah ini, semua pria bahkan menyanjung mu dan lihat itu mejamu penuh dengan kado dan hadiah aneh dari para pria penggemarmu, untuk apa kau memohon merendahkan dirimu kepada orang cacat sepertiku, sana pergi ke mejamu aku tidak ingin berteman dengan manusia cantik dan sempurna sepertimu" ucapku dengan tegas sambil mengusirnya.


Bukannya pergi dia justru malah mengambil tanganku dan memegangnya dengan erat, dia tidak menyerah dan terus memaksaku untuk menerimanya menjadi temanku, untunglah saat itu anak anak yang lain tiba dengan cepat ke dalam kelas di ikuti dengan guru yang masuk memulai pembelajaran, teman satu gengnya Mauren juga menghampirinya dan langsung mengajak Mauren berkumpul bersama mereka.


"Fyuhhh....akhirnya aku bisa tenang juga, aishh menjadi populer dan cantik memang merepotkan" gerutuku merasa lega dan kembali fokus pada pembelajaran di hadapanku.


Hingga waktu pulang berdenting aku segera mengambil tas dari bangku yang aku duduki dan mulai membereskan semua buku belajar yang ada diatas meja tapi disaat aku baru saja hendak menyeletingkan tas sekolah, tiba-tiba saja Devano merampas tas sekolahku dan dia langsung berlari sambil membawa tas sekolahku keluar dari kelas.


Aku sangat kesal dan emosi bahkan aku refleks langsung berteriak sekencang yang aku bisa untuk menghentikan dia tetapi dia malah meledekku dan terus berlari membawanya keluar.


"Aishhh....hey, kau kembalikan tasku dasar sialan kau DEVANO, idiot!" Teriakku dengan membentak sangat keras hingga membuat teman-teman lainnya yang masih ada di kelas menatapku dengan aneh.


"Ahaha...sini tangkap aku jika kau bisa atau tas mu tidak akan kembali ke tanganmu, ahaha" ucap Devano sambil meledekku dengan menurunkan mulutnya dan mengeluarkan lidahnya menghina.

__ADS_1


Sejujurnya aku cukup malu karena mereka saling berbisik langsung membicarakan aku dengan melemparkan tatapan sinis kepadaku dan aku langsung memakai kupluk hoodie dan segera berlari keluar mengejar Devano si sumber masalah utamanya.


"Aishh .....tunggu kau Devano!" Teriakku sambil langsung berlari mengejarnya.


Aku terus berlari mengejar dia hingga keluar dari kelas.


Sedangkan disisi lain Mauren yang melihat kejadian itu dia menatap sinis dan penuh kebencian serta mengepalkan kedua lengannya dengan kuat kepada Emely hingga tidak lama temannya Alexa mengajaknya segera pergi dari kelas.


"Mauren ayo kita pulang bersama" ajak Alexa yang terkenal dengan kepandaiannya di kelas.


Dia adalah yang paling pandai sebelumnya, dan masih tetap pandai hingga sekarang meskipun menjadi nomor dua setelah Mauren.


"Iya Mauren ayo kita pergi ke cafe di samping sekolah yang baru buka, aku dengar disana ada makanan menu baru loh, ayo kita coba kesana" tambah Anita yang terkenal sebagai putri kepala sekolah.


Entah kenapa Mauren yang tadinya terlihat begitu ceria dan tertawa bercanda bersama dengan kedua temannya itu kini malah langsung berubah murung dan terlihat begitu sinis serta penuh dengan emosi, dia bahkan menendang meja miliknya hingga terjungkal ke samping dan membuat Alexa juga Anita kaget saat itu juga.


"Aaarggghhh...sialan...brukkkk, minggir kalian semua" bentak Mauren menabrak Alexa dan Anita setelah menendang mejanya itu.


"Aaarkhhh....." Teriak Alexa dan Anita bersamaan sambil menutupi telinga mereka berdua saking kagetnya melihat emosi Mauren yang meluap saat itu.


Meski mereka kaget dan takut melihat Mauren yang marah, tetapi mereka berdua langsung berlari mengejar Mauren dan segera menyusulnya.


"Ehh...Mauren ada apa denganmu, tunggu kami Mauren!" Teriak Anita dan segera berlari mengejar Mauren dengan Alexa.

__ADS_1


__ADS_2