
Avan dan Devano termenung dan kami memikirkan cara lain untuk bisa menembus tameng transparan tersebut juga menghancurkannya.
"Emely bagaimana jika kau mencoba membentuk api menjadi tombak siapa tahu jika dengan bentuk yang tajam itu akan membuatnya hancur" ucap Avan memberikan ide.
Aku mengangguk dan mencobanya, segera ku kumpulkan kekuatanku lalu memfokuskan diri lalu segera ku buat apindi tanganku yang bergejolak cukup besar membentuk sebuah tombak yang runcing dan tajam, lalu aku langsung mengarahkannya ke atas dan mendorongnya dengan sangat kuat dalam sekuat tenaga sekaligus dalam satu satu dorongan kuat.
"Hiyaaaaa...." Teriakku mengeluarkan semua tenagaku yang aku milikku.
"Gerrard...trakkkkkk......" Suara tameng itu yang terlihat retak perlahan-lahan kemudian hancur berkeping keping.
Aku kaget begitu pula dengan Avan dan Devano, kami semua tidak menyangka ide seperti itu bisa terjadi.
"Waahhh ini luar biasa, Emely kau memang penguasa elemen yang hebat" ucap Devano sambil menepuk pundakku.
Sementara aku merasa sangat lemas karena mengerahkan semua kekuatanku dengan seluruh tenaga yang tersisa.
Namun saat tameng itu retak cahaya perlahan muncul dan tiba-tiba saja berubah menjadi siang, suara hewan-hewan juga mulai terdengar hingga aku mulai merasa sangat lega dan ambruk jatuh ke tanah karena sangat lemas.
"Emely apa kau baik-baik saja, ayo beristirahat dahulu" ucap Devano dan mereka berdua segera membantuku ke pinggir.
Aku merasakan energi tubuhku yang sudah sangat berkurang mungkin karena aku tidak beristirahat dan terus memaksakan diri menggunakan kekuatan elemen apiku sepanjang hari dan setiap saat.
Tidak lama disaat Devano tengah menyembuhkan aku suara seseorang terdengar memanggil kami dan seperti membentak kami.
"Siapa yang berani menghancurkan tamengku!" Suara seseorang yang entah berasal dari mana dan begitu menggelegar di telinga.
Bahkan terlihat burung-burung berterbangan dari atas pohon dan menghindari kami.
Aku kembali memiliki firasat yang buruk dan tidak enak hati ketika melihat hal tersebut di tambah keadaanku yang tengah lemah seperti ini.
"Kalian....kalian bertiga yang menghancurkannya, jangan harap.bisa keluar dari hutan ilusiku... Ha...hah...hah...hah" suara seseorang lagi yang begitu menggelegar di iringi dengan tawa yang cukup menyeramkan,
"Siapa kau? Keluarlah! Tampakkan dirimu jika kau seorang pemberani!" Teriak Avan memancingnya,
__ADS_1
"Avan apa yang kau lakukan bagaimana jika dia seorang raksasa atau alien, bagaimana jika dia memakan kita?" Ucap Devano yang penakut dan sudah panik lebih dulu.
"Devano bodoh...ohok...ohok....dia sedang memancingnya agar kita bisa melihat wujudnya dengan jelas" ucapku menjelaskan,
"Ooohh... Begitu rupanya, ya sudah aku akan membantumu memancingnya" balas Devano segera.
Mendengar itu perasaanku sudah tidak baik aku takut dia akan melewati batas dan ternyata itu memang terjadi.
"Hey....siapapun kau keluarlah dasar, penakut hanya suaramu saja yang besar tameng itu bahkan bisa di hancurkan temanku dengan sekali serangan, huh lemah!" Teriak Devano yang sepertinya berhasil membuat penghuni hutan itu marah besar.
Bahkan Devano bukan hanya berhasil memancingnya untuk keluar tapi berhasil membuat kita untuk terjebak disana semakin lama.
"Kau... Aku melihatmu dasar bocah tengik, lihatlah wujudku ini!" Ucapnya dan seketika hutan menjadi hening.
Aku dan Avan segera melirik ke segala arah untuk melihat dan mencari dari arah mana orang dengan suara besar dan berat itu akan muncul, namun tiba-tiba saja dari arah yang tidak kami duga-duga, seseorang dengan badan yang besar dan tegap muncul dari atas pohon yang kami gunakan untuk sandaran dan dia seperti sebuah robot dengan batu dan tanah di sekujur tubuhnya.
Aku sangat kaget dan kagum melihat makhluk yang mirip seperti raksasa tanah dengan batu pipih dan besar menjadi tangannya juga kakinya yang sangat besar dan terdapat beberapa tumbuhan menjalar di tubuhnya itu.
"Boom!" Suara makhluk itu turun dari atas kepala kami tepat menghadap ke arah kami dengan jarak yang sangat dekat.
"Kita akan mati jika dia menginjak kita" tambah Devano yang merusak suasana,
"Aku rasa dia tidak mungkin bicara seperti suara yang baru saja kita dengar" ucapku merasa yakin dengan hal itu.
Hingga tidak lama setelah kemunculan monster tanah yang besar dan muncullah seorang pria dengan memakai pakaian seperti tarjan dan dia meloncat begitu saja ke depan kami, tangannya juga terlihat sangat besar dan seperti tertutupi oleh tanah yang membentuk sarung tangan melekat di kedua tangannya itu.
Pria itu muncul dari belakang Devano sehingga membuat Devano langsung terperanjat dengan kemunculannya yang secara tiba-tiba.
"Ah...astaga...aku pikir dia setan" ucap Devano sembarangan yang membuat pria itu tersinggung.
Dia langsung memukulkan tangan tanahnya itu ke bawah dan seketika bumi terasa berguncang sangat hebat.
"Aaaahhh..... Apa itu tadi, apa kau yang menyebabkan gempa barusan?" Tanyaku kepadanya,
__ADS_1
"Tentu saja itu aku, apa kalian tidak melihat kekuatanku barusan hah?" Bentak pria itu menatap ke arahku dengan tajam.
Mendengar dia mengakuinya aku langsung merasa yakin bahwa dia adalah pemilik kekuatan elemen spiritual yang lainnya dan aku berusaha untuk menenangkan dia.
"Oke... Devano Avan serahkan ini kepadaku, dia akan menjadi rekan kita setelah ini" ucapku menenangkan dia orang bodoh ini terlebih dahulu.
Karena aku yakin jika tidak menenangkan mereka dulu, bisa saja mereka menghancurkan rencanaku untuk mengajak pria dengan kekuatan bumi ini bergabung dalam tim kita.
Aku perlahan bangkit berdiri dengan terhuyung-huyung dan menghampiri dia lebih dekat, aku berusaha untuk meminta maaf terlebih dahulu karena sudah menghancurkan tameng miliknya.
"Begini pertama aku minta maaf kepadaku karena akulah yang sudah menghancurkan tameng itu, tapi aku melakukannya karena aku ingin keluar dari hutan ini, aku dan kedua tanku tersesat di dalamnya dan kami tengah melakukan perjalanan misi yang sangat penting, ini menyangkut raja iblis Abaddon" ucapku menjelaskannya.
Dia perlahan melunak ketika mendengar nama Abaddon, tapi sorot matanya masih menunjukkan sebuah kekesalan dan amarah sehingga aku mencoba untuk memperlihatkan kekuatanku kepadanya.
"Jika kau tidak percaya atau ragu dengan apa yang aku ucapkan, maka lihat lah ini, brussshh" aku mengeluarkan api dari kedua lenganku,
"Dan lihat kekuatan yang di miliki oleh Avan rekanku" ucapku menunjuk pada Avan.
Dan dia segera memberlihatkan es di tangannya juga menjadikan pohon disana menjadi beku lalu mengembalikannya seperti semula.
"Bagaimana apa kau percaya padaku sekarang?" Ucapku padanya lagi,
"Lalu bagaimana dengan kekuatan dia?" Ucap pria itu menunjuk pada Devano,
"Ah....dia memiliki kekuatan yang paling istimewa, kekuatannya tidak bisa di perlihatkan begitu saja, dia bisa menyembuhkan segalanya" ucapku menjelaskan.
Dia langsung membelalakkan matanya terbuka dan bertanya dengan antusias kepadaku.
"Apakah dia bisa menyembuhkan penyakit dan semacamnya?" Tanya dia terlihat bersemangat dan sangat tertarik dengan kekuatan milik Devano,
"Iya semacam itu dan lebih hebat dari itu" balasku sambil mengangguk.
Dia langsung menghampiri Devano lebih dekat lalu memperhatikan wajahnya sangat lekat dalam beberapa saat.
__ADS_1
"Tapi... Wajahnya terlihat konyol dan bodoh? Apa dia mungkin bisa melakukan hal sehebat itu?" Tanya dia seperti tidak mempercayai kekuatan dari Devano,
Aku langsung membelalakkan mataku begitu juga dengan Avan yang langsung tertawa mendengar ucapan dari pria itu yang meremehkan Devano.