Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Jatuh


__ADS_3

Menyebalkan sekali mendengarkan gerutuan dia yang terus merutuki ku seakan-akan dia pikir aku tidak bisa mendengarnya, hingga akhirnya kesabaranku habis dan aku langsung bangkit berdiri lalu menggebrak meja belajarnya dengan cukup keras.


"Brakkk....heh, kau pikir aku ini tuli apa, berhenti menggerutu tentangku atau aku akan menghajarmu!" Bentakku dengan keras sambil melemparkan tatapan tajam kepadanya.


Dia hanya menatap dengan heran dan sedikit kebingungan serta kedua alis yang dia naikkan ke atas bersamaan, sebenarnya saat itu aku sangat membenci dia dan rasanya ingin menghajar dia saat itu juga, tapi sepertinya dia memiliki keberuntungan yang cukup bagus.


Sayangnya di saat emosiku tengah memuncak kebetulan guru masuk ke dalam kelas dan dia segera memulai pembelajaran sehingga aku pun kembali duduk ke mejaku dengan menahan kekesalan dalam diriku sendiri.


Aku berusaha menghembuskan nafas dengan rasa kesal dan segera mengeluarkan buku dari dalam tas sekolahku lalu segera mengikuti pembelajaran sesuai dengan yang di perintahkan guru di depan.


Selama jam pelajaran aku hanya berusaha belajar dengan baik agar bisa menyetarakan nilaiku dengan anak-anak yang ada di dalam kelas tersebut, karena aku tahu aku bukan anak yang pandai namun setidaknya jika aku berusaha mungkin aku akan mendapatkan nilai yang setidaknya bisa membuatku lulus di akhir nanti.


Sedangkan disisi lain Devano justru hanya terus tertidur lelap bahkan disaat guru melemparinya dengan penghapus barulah dia terbangun dan dia tetap bersikap acuh tak acuh dengan pelajaran, dia adalah brandal pertama yang aku temui dan aku kenal sejak aku pindah ke kota ini.


"Aishh...dasar berandal itu, dia lebih mirip monster tidur dibandingkan seorang pelajar" gerutuku mengatainya.


Setelah pelajaran selesai dan jam istirahat tiba, aku langsung membuka roti yang aku bawa serta susu kotak milikku dari tas lalu aku pergi keluar dari kelas dan pergi menuju tempat yang tenang di dekat lapangan utama.


Aku duduk di tribun sambil membuka roti di tanganku lalu menyaksikan anak anak pria lain yang bermain sepak bola di lapangan dan ada juga sebagian yang hanya berlari-lari tidak jelas.


"Aaahhh...sudah lama sekali tidak melihat pemandangan seperti ini" ucapku sambil menikmati roti ku,


Tidak lama setelah itu, tiba-tiba saja Mauren duduk di sampingku dan sedikit membuatku kaget dengan kebaradaannya yang muncul dari belakang secara tiba-tiba.


Saat itu jujur saja aku agak takut karena aku pikir dia masih dalam pengaruh kekuatan jahat di dalam ruh tubuhnya, sehingga aku langsung refleks menggeser menjauhkan diri darinya untuk berjaga-jaga agar dia tidak bisa menyerang ku secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Ehhh....Ma.. Mauren kapan kau ada disini?" Tanyaku dengan gugup dan sedikit takut,


"Emely kenapa kau menghindar dariku, aku tidak akan menghinamu dan tidak pernah membicarakan kamu di belakang seperti siswa lainnya kok, aku justru ingin berteman denganmu" ucap Mauren yang membuat aku kebingungan dan membuka mataku lebar.


Aku tidak mengerti apa yang dia maksudkan sebenarnya, sehingga aku hanya bisa diam membisu dengan menatap dia tertegun tanpa bisa mengatakan atau bergerak sedikitpun saking merasa anehnya dengan perubahan sikap Mauren yang sangat membuatku syok dan tidak bisa mempercayai keadaan ini.


"Wahhh....ada apa dengannya apa kepalanya benar-benar hilang ingatan karena terpentok ke dinding saat itu?" Gerutuku pelan dengan terus menatapnya heran.


Aku menggeser tubuhku terus ke samping untuk menjaga jarak aman dengannya tapi Mauren terus saja ikut bergeser dan mendekatiku hingga akhirnya aku malah jatuh terjungkal ke belakang sebab tidak menyadari jika tribun itu sudah habis.


"Emely ada apa denganmu?" Tanya Mauren sambil terus menggeser mendekati aku,


"A..ahh...aku tidak papa....eh..aaarkkk...brukk...aduhhh" ucapku yang terus mundur hingga akhirnya jatuh terperosok ke belakang.


"Ahaha... teman-teman lihat si buruk rupa itu jatuh, ahaha dia sangat lucu sekali benar-benar si buruk rupa yang konyol" teriak beberapa anak yang menertawakan aku dan menunjukku.


"Aishh....sial mereka malah menertawakan aku, aduhhh mana sakit banget lagi" gerutuku sambil memegangi punggungku yang terasa nyeri,


Aku benar-benar kesal dan berniat untuk bangkit tapi tiba-tiba saja ku lihat ada dua orang yang mengulurkan tangannya kepadaku untuk membantuku berdiri saat itu.


Kedua orang itu adalah Devano dan Mauren sehingga membuat aku kaget serta langsung membuka mataku dengan lebar, aku juga bingung tangan mana yang harus aku terima uluran tangannya, jika aku menerima uluran tangan Devano aku takut dia salah paham dan semakin besar kepala tapi jika aku menerima uluran tangan Mauren aku takut ini jebakkan darinya.


Sehingga aku pun memutuskan untuk tidak menerima uluran tangan dari keduanya dan tetap berdiri sendiri meskipun itu rasanya lebih sulit dan aku menahan sakit yang tidak sedikit.


"Aaahh....sudahlah aku bisa bangkit sendiri" ucapku sambil bangkit lalu langsung membersihkan pakaian belakangku yang kotor karena jatuh ke tanah sebelumnya.

__ADS_1


Melihat aku yang mengabaikan uluran tangan dari keduanya, mereka segera menarik kembali tangan mereka ke belakang dan Devano langsung menyentuhku begitu saja seperti orang yang tengah mencemaskan aku dan dia menjauhkan aku dari Mauren.


"Panda apa kau baik-baik saja, apa yang sudah terjadi diantara kalian apa dia yang melakukan ini padamu?" Tanya Devano yang salah paham,


"Ehh... Devano kau ini bicara apa sih, aku jatuh sendiri dan tidak ada hubungannya dengan Mauren jadi jangan menyalahkannya" balasku memberitahunya.


Devano tetap saja bersikap begitu sinis kepada Mauren dan dia hendak menarik tanganku, tapi aku menahannya karena urusanku dengan Mauren belum selesai.


"Ya sudah, jangan dekat-dekat dengan perempuan sepertinya dia itu punya topeng, ayo ikut aku" ucapnya memaksaku,


"Hey, lepaskan! Aku ingin bersama Mauren dan kau jika ingin pergi, pergi saja sana sendiri jangan memaksaku yang tidak ingin pergi denganmu!" Ucapku dengan begitu tegas dan langsung menghempaskan tanganku dengan kuat hingga dia melepaskannya.


"Emely apa kau gila?, Atau kau mau cari mati hah?" Bentak Devano bicara kasar padaku di hadapan Mauren secara langsung.


Saat itu aku lihat Mauren hanya menatap kebingungan sendiri dan entah kenapa aku sudah tidak bisa merasakan aura jahat dari sekitar sana padahal Mauren tengah berada di hadapanku saat ini dan jelas sekali kami sangat dekat tetapi aku sungguh tidak bisa merasakan aura apapun selain dari aura wangi seorang manusia pada umumnya.


Maka dari itu, karena ku pikir ini akan aman dan aku menghempaskan pegangan tangan Devano dan menyuruh dia untuk pergi sendiri.


"Devano aku lebih tau apa yang aku lakukan jadi tolong jangan ikut campur dengan urusanku!" Ucapku mempertegas.


Devano hanya memegangi pinggangnya dan dia mengusap kasar wajahnya sendiri karena kesal dengan jawaban dariku.


Aku tahu mungkin Devano mengkhawatirkan aku tapi aku juga tidak memberikan penjelasan kepadanya secara langsung saat ini, sebab masih ada Mauren di depan kami berdua.


Devano terus cemberut menatapku dan aku tahu dia pasti kesal kepadaku namun Mauren menghampiriku lebih dekat dan dia memeriksa keadaanku dengan wajahnya yang sama seperti Mauren yang aku lihat pertama kali saat bertemu dengan dia di gerbang sekolah pada saat aku awal masuk ke sekolah ini.

__ADS_1


__ADS_2