
"Eummm....Emely kalau begitu ayo kita pergi bersama, aku juga di kelas A" ajak Mauren kepadaku dengan tersenyum manis.
Aku hanya mengangguk dan mengikutinya dari belakang, selama berjalan aku terus memperhatikan bagaimana cara dia berjalan, dan semuanya nampak sama tidak ada sesuatu kejanggalan pada dirinya, hanya saja aku selalu merasa ada seorang makhluk jahat yang selalu mengikuti Mauren atau bahkan mungkin makhluk itu kiriman seseorang.
Aku sebenarnya sangat penasaran tapi aku tidak ingin ikut campur selama itu tidak menyakitiku dan tidak ada hubungannya denganku, karena disini aku masih baru dan aku belum tahu pasti bagaimana lingkungan tempat tinggalku sekarang sebenarnya.
"Sebaiknya aku berhati-hati, karena aku tidak pernah tahu makhluk seperti apa yang bersembunyi di balik wajah cantiknya" gumamku dalam hati.
Hingga kami masuk ke dalam kelas dan Mauren memperkenalkan aku kepada teman-teman sekelas lainnya.
"Hallo semuanya aku membawa seorang siswi baru yang dibicarakan oleh wali kelas sebelumnya, dan karena wali kelas ada rapat pagi hari ini sehingga aku sendiri yang akan memperkenalkannya, Emely ayo masuk" ucap Mauren sambil mempersilahkan aku untuk masuk ke dalam kelas.
Aku pun berjalan mulai memasuki kelas namun disaat aku pertama kali masuk ke dalam kelas itu, suasana disana sangat berbeda sekali aku bahkan bisa merasakan betapa kuatnya sebuah energi jahat yang begitu mencekam hingga membuat tubuhku terasa panas yang luar biasa.
"Apa ini....kenapa kelas ini dipenuhi dengan aura mistis yang kental?" Gerutuku pelan dan terus memikirkan.
Aku sedikit melamun karena terus memikirkan mengenai aura mistis yang aku rasakan hingga tidak sadar Mauren sudah memperkenalkan aku kepada teman-teman sekelas dan dia mempersilahkan aku untuk memperkenalkan diriku sendiri secara langsung.
"Emely....Emely...ayo perkenalkan dirimu" ucap Mauren mempersilahkan.
Aku memanggil dan segera mengambil sebuah cemi di meja guru dan menuliskan namaku di papan tulis dengan tulisan yang besar.
__ADS_1
"EMELY" tulisan yang aku tulis di papan tulis.
Semua anak yang ada di dalam kelas menatap dengan tatapan aneh dan bingung karena aku tidak bicara sama sekali, tapi aku memang tidak bisa berbicara sebab tenggorokanku terasa sakit dan seperti ada seseorang yang mencekik leherku, sampai tidak lama aku melihat Pelik di ujung kelas dan dia menatap tajam ke belakangku, sejak saat itu aku tahu bahwa ada makhluk jahat yang mengincarku sejak aku masuk ke dalam kelas itu.
Diam-diam aku mulai membacakan mantra dan tidak lama makhluk itu akhirnya hilang berubah menjadi abu, untunglah makhluk itu hanya makhluk halus biasa yang memiliki tingkat lemah sehingga aku bisa menghancurkannya dalam hitungan detik.
"Ahh...hah...hah...hah...." Suara nafasku yang terengah-engah,
Dan lagi lagi teman-teman di kelas tersebut menatapku lalu ada juga diantara mereka yang saling berbisik satu sama lain karena mereka mungkin merasa aneh terhadap sikapku yang masuk ke dalam kelas tanpa bicara lalu tiba-tiba bersikap seolah-olah telah berlari cepat dan kecapekan.
Untuk menghilangkan kecanggungan di kelas tersebut aku segera di persilahkan untuk duduk oleh Mauren di salah satu bangku yang kosong, namun ekspresi anak anak di kelas tersebut seperti ketakutan dan mereka terus saling berbisik satu sama lain entah membicarakan apa.
Aku hanya mengangguk lalu berjalan perlahan menuju meja tersebut hingga ketika aku hendak duduk disana tiba-tiba saja Pelik menahan tanganku dia langsung menggelengkan kepalanya seperti hendak memberitahukan sesuatu kepadaku namun dia tidak membicarakannya secara langsung.
Aku sempat berpikir apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Pelik terhadapku dan aku memutuskan untuk tidak duduk di bangku tersebut karena Pelik melarangnya, aku tahu jika seorang makhluk baik seperti Pelik melarangku artinya ada sesuatu yang tidak beres dengan meja dan bangku tersebut sehingga aku tidak ingin mengambil resiko.
"Mauren bisakah aku mengambil tempat lain, aku tidak bisa duduk di samping jendela, aku akan mengambil meja dan bangku sendiri" ucapku berkata kepada Mauren dan seketika teman-teman di kelas tersebut menghembuskan nafas begitu lega.
Aku menyulitkan mataku melihat sikap yang mereka tunjukkan, karena itu terlihat begitu aneh dan sayangnya aku tidak bisa melihat apapun di kelas tersebut, tidak ada satu makhluk apapun yang berkeliaran disana semuanya bersih hanya saja terasa aura jahat yang melekat di kelas tersebut sangatlah kuat.
Selain makhluk kecil yang mencekikku secara diam-diam sebelumnya tidak ada lagi makhluk lain yang bisa aku lihat atau aku rasakan keberadaannya.
__ADS_1
Sedangkan Mauren nampak terlihat gugup dan gelisah ketika aku memilih untuk mengambil meja dan bangku baru sendiri.
"Mauren tunjukkan padaku dimana gudang untuk meja dan kursinya" ucapku dengan wajah yang datar seperti biasanya.
Dia tidak menjawabku hingga seorang siswa laki-laki berdiri dan dia mengantarku ke gudang untuk mengambil meja dan kursi yang aku butuhkan.
"Sudahlah, hey....kau anak baru, ayo ikut aku" ajak pria itu sambil keluar dari kelas lebih dulu.
Aku berjalan melewati Mauren dan mengikuti pria tersebut hingga keluar dari kelas dan terus berjalan menuju gudang suasana setelah aku keluar dari kelas terasa jauh lebih melegakan dan tidak sesak seperti ketika aku berada di dalam kelas sebelumnya, aku masih merasa aneh dengan orang-orang yang berada di kelas tersebut, semuanya terlihat mencurigakan bagiku.
Sampai ketika aku sudah berada di depan gudang pria itu memintaku untuk segera mengambil apa yang aku butuhkan.
"Ini gudangnya cepatlah kembali jika urusanmu selesai karena kelas akan segera dimulai" ucap pria itu dengan nada yang cuek,
Aku mengangguk patuh dan langsung masuk ke dalam gudang itu, bahkan di dalam sebuah gudang barang-barang rusak serta terlihat kurang terawat dan nampak menyeramkan seperti ini justru tidak terasa aura apapun padahal.jika.dilihat oleh mata biasa gudang inilah yang akan dikira kebanyakan orang terdapat banyak penghuninya.
Aku segera mengambil satu meja kecil dan satu kursi keluar dengan sekuat tenaga, Pelik tidak bisa membantuku meski saat itu dia berada di samping aku, sampai ketika aku kesulitan mengeluarkan meja dari gudang pria tadi yang mengantarku dia segera membantuku membawakannya dan aku pikir pada awalnya dia akan langsung membawakan mejaku ke kelas tapi ternyata tidak dia justru menghentikanku.
"Kau harus berhati-hati dengan Mauren, dan jangan pernah coba-coba untuk duduk di bangku kosong itu!" Ucap pria itu mendominasi dan membisikkannya kepadaku dengan nada yang seperti memberi peringatan keras.
Aku ingin bertanya kepadanya tapi pria itu sudah berjalan lebih dulu di depan meninggalkanku yang masih kesulitan membawa kursi dari kayu tersebut.
__ADS_1