Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Ending


__ADS_3

Sampai ke esokan paginya ini menjadi sebuah awal baru untukku, hidup seorang diri tanpa adanya seorang makhluk pelindung yang selalu menemani aku setiap hari, aku bahkan terkadang masih lupa dan sering memanggil nama Pelik, padahal dia nyatanya sudah tidak ada di sampingku, mungkin sekarang dia sudah bereinkarnasi menjadi sosok lain dan pasti akan melupakan aku juga semua kenangan yang pernah terjadi diantara kami berdua.


Ini bukan tentang sebuah cinta pasangan kekasih, tetapi aku menyayangi Pelik lebih dari itu, dia seperti saudara laki-laki untukku, malaikat penjaga dan super Hero terbaik sepanjang masa dalam hatiku, aku pergi ke sekolah dengan lesu tanpa semangat sedikitpun, kali ini aku benar-benar sampai ke sekolah seorang diri, namun saat hampir sampai di sekolah entah kenapa aku merasa seperti ada seseorang yang mengikuti aku dari belakang sejak tadi, namun aku tidak berani menatap ke belakang karena sudah tahu pasti tidak akan ada apapun yang aku dapatkan, aku hanya memeriksa dengan melirik menggunakan ujung mataku saja saat itu dan aku bisa melihatnya, seseorang yang memakai pakaian serba hitam juga topi yang sama denganku, dia berjalan begitu pelan di belakangku dan terlihat dia berpura-pura mengikat tali sepatunya di saat aku berhenti berjalan untuk memastikan apakah dia benar-benar mengikuti aku atau tidak.


Saat mengetahui hal itu aku pikir dia memang orang yang telah mengikuti aku sejak tadi, sehingga aku mulai bersiap dan berjaga-jaga dari orang tersebut dan akan meringkusnya, sampai tidak lama ketika aku mulai memperlambat jalanku dan orang itu semakin dekat, aku langsung saja berbalik dan memelintirkan tangannya sambil mendorong tubuh orang tersebut hingga mendesaknya ke benteng gerbang sekolah saat itu.


"AA..aaaakkkk..aduh...lepaskan Emely...ini aku Devano, Emely lepaskan aku!" Teriak pria tersebut yang ternyata seorang Devano.


Aku tersentak kaget dan membelalakkan mataku saat itu juga, aku langsung melepaskan dia saat tahu bahwa itu ternyata Devano, dan langsung memarahi dia dengan sorot mata yang kesal dan nafas yang cukup kuat.


"Aishh.. Devano apa yang kau lakukan, kenapa kau malah mengikuti aku dari belakang secara diam-diam seperti itu, apa kau gila hah?" Bentakku kepadanya saat itu.


Dia terlihat memegangi pangkal tangannya yang kemungkinan akan terasa sakit atau sedikit terkilih karena barusan aku memelintirkan ya dengan tenaga yang kuat, tapi aku tidak terlalu mencemaskannya karena aku tahu dia bisa menyembuhkan segalanya sendiri.


"Emely kemarin kau melarang aku untuk bertemu denganmu, bahkan kau mengusir aku dengan cara yang kasar, tentu saja aku merasa cukup takut untuk menemuimu, jadi aku hanya mengikutimu saja secara diam-diam dan menjagamu dari belakang, sama seperti yang dilakukan oleh Pelik sebelumnya" balas Devano membuat aku akhirnya luluh.


Aku pikir dia memiliki niat lain, namun ternyata dia hanya mencemaskan aku dan ingin melindungi aku seperti yang sering Pelik lakukan, namun baginya semua itu bukanlah cara yang tepat sebab dia bukan makhluk yang sama dengan Pelik, jadi saat itu aku langsung memberikan dia pemahaman.


"Devano kemarin aku bersikap seperti itu karena kau cukup mengganggu dan tidak tahu situasi, aku baru saja kehilangan Pelik aku tentu sangat sedih jadi aku membutuhkan waktu sendiri, dan kau tidak perlu bersikap sama seperti dia karena kalian jelas berbeda, aku menyukai dirimu dengan persimu sendiri tidak perlu menyamakan atau mengikuti orang lain, siapapun itu termasuk Pelik" balasku kepadanya.


Kini Devano mulai terlihat memasang sebuah senyum kecil dan terlihat cukup aneh, entah apa yang sudah dia tangkap dari maksud ucapanku sebelumnya hingga wajahnya terlihat cukup senang dan bahagia seperti itu, padahal aku rasa barusan aku hanya memberikan dia sedikit pengertian saja, agar dia tidak lagi mengagetkan dan membuat aku takut seperti sebelumnya.


"Emely....apa kamu akan merasa sedih seperti ini juga jika yang pergi adalah aku?" Tanya dia kepadaku saat itu.


"Tentu saja, aku bahkan akan merasa sangat terpuruk jika kau pergi juga" balasku sambil tersenyum kepadanya.


Dia semakin terlihat aneh saat itu, pipinya mulai merona dan aku tidak terlalu perduli dengan hal itu sehingga langsung saja berjalan mendahului dirinya tanpa memperdulikan apapun lagi.


"Ehhh... Emely tunggu, aku ikut denganmu kenapa kau meninggalkan aku Emely!" Teriak Devano menyusulku segera.


Kami pun pergi ke kelas karena aku sudah selesai mendaftar, kelas yang sama seperti sebelumnya saat aku pertama kali masuk ke sekolah itu, dengan suasana yang sama dan posisi kursi yang sama, hanya saja saat ini Mauren sudah terlihat lebih baik dia lebih ceria daripada sebelumnya dan aku cukup senang melihatnya dalam persi saat ini, juga Devano yang terus tersenyum memandang padaku ketika aku tengah memperkenalkan diriku di depan kelas.


Kejadian seperti sebelumnya kembali terulang dimana Mauren mengajak aku berkenalan dan Devano yang mengantar aku untuk mengganti kursi yang rusak, namun bedanya sekarang aku menolak untuk berteman dengan Mauren aku tidak ingin membuat dia curiga atau mengingat kejadian sebelumnya yang terjadi di sebabkan oleh dirinya, aku juga hanya mengantisipasi dan mengingatkan dia agar tidak memendam sebuah rasa sakit dan dendam terlalu dalam lagi di dalam hatinya.


"Kenapa kamu tidak ingin berteman denganku?" Tanya Mauren saat aku menolaknya,

__ADS_1


"Aku tidak sama denganmu, tidak baik untuk wanita idola sekolah berteman dengan wanita buruk rupa sepertiku" balasku kepadanya,


"Emely aku rasa kamu wanita yang baik, jadi aku ingin berteman denganmu aku tidak memandang kau dari fisikmu" balas dia lagi yang masih berusaha keras untuk berteman denganku sama seperti sebelumnya.


"Mauren, aku tidak bisa dan aku tidak ingin berteman dengan siapapun yang tidak sama denganku, bukan karena fisikku saja tapi aku memang bukan seperti kamu atau mereka semua yang ada disini, dan kau ingat baik-baik ucapanku, jangan memendam dendam, iri dan kebencian terlalu besar dalam hatimu, jika itu terus kau tahan dan suatu saat meledak maka dirimu yang akan hancur" ucapku kepadanya dengan sorot mata yang tajam hingga Mauren langsung terlihat gugup dan dia mundur menjauhkan diri dariku.


Aku tahu dia mungkin merasa takut padaku tapi itu lebih baik daripada dia terus meminta aku untuk menjadi temannya.


Namun wajah gugup yang dia perlihatkan membuat aku sedikit cemas dan kecewa aku takut dia masih memendam kebencian, keserakahan, dan semua rasa hati yang buruk pada dirinya, sehingga aku harus terus memantaunya.


Hingga tidak lama seorang guru perempuan masuk ke dalam kelas dan menyapa kami semua tapi ada sebuah hawa panas yang hampir sama dengan panasnya diriku saat wanita itu pertama kali masuk ke dalam kelas.


Aku mengerutkan kedua alisku menatap wajahnya yang terlihat cantik dan berkarisma, dia mulai menerangkan pelajaran sedangkan aku terus menatapnya dengan teliti hingga kalung berlian merah yang aku pakai mulai menyala dan seperti memberikan dorongan padaku untuk menghampiri guru wanita tersebut, namun aku tidak bisa melakukan apapun selain dari menahan semua itu dengan kekuatanku sendiri, aku menggenggam kalung itu dengan sekuat tenaga dan berusaha menyembunyikan sebuah cahaya merah yang keluar dari kalung tersebut.


"Astaga....apa yang terjadi saat ini aku tidak bisa terus diam disini, kekuatan di dalam kali ini sulit untuk di kendalikan, aku harus pergi" batinku merasa resah.


Aku langsung mengangkat tangan dan pergi dari kelas dengan berlari terburu-buru, tidak perduli dengan bisik teman-teman di dalam kelas yang terpenting aku harus keluar dengan aman dan jangan sampai ada siapapun yang mengetahui hal ini.


Hingga ketika aku sudah keluar dari kelas justru kalung itu langsung berubah menjadi normal kembali, dan hal tersebut membuat aku merasa sangat aneh sampai tidak lama Devano datang menyusulku.


"Tidak ...tapi berlian merah ini mengeluarkan kekuatan di dalamnya dia mendorongku ke depan dan aku berusaha menolak dorongan itu sehingga aku keluar dari kelas karena tidak ingin orang lain melihatnya" balasku kepadanya saat itu.


Aku dan Devano saling tatap satu sama lain dan kebingungan sambil memegangi berlian merah di kalung tersebut, hingga tak lama guru wanita tersebut datang berjalan menghampiriku dan dia mengatakan sebuah pengakuan yang membuat aku begitu kaget mendengarnya.


"Kau adalah putriku, aku sudah menemukanmu sayang" ucap guru wanita tersebut.


Aku langsung menatap tajam ke arah seorang wanita yang masih terlihat cukup muda juga memiliki paras yang cantik di hadapanku, dan aku lihat dia memakai kalung yang sama dengan kalung yang aku kenakan saat itu.


Hingga wanita itu mulai melepaskan kalungnya dan mendekatkan kalung itu dengan kalung milikku yang ada di tanganku saat itu.


"Lihatlah, kalung ini adalah satu aku yang membuatnya agar menjadi pelindung api untukmu, dan jika disatukan maka terjadilah cahaya merah dan puncak kekuasaan api yang menyatu antara diriku dan kamu putriku Emely" ucap wanita tersebut dengan mata yang berkaca-kaca dan aku juga tidak tahu harus berbuat apa saat itu.


Dia langsung memelukku dengan sangat erat dan aku bisa merasakan arus kekuatan api di dalam tubuhnya, sejak saat itu aku mulai merasa yakin bahwa dia sungguh ibu kandungku, dan aku telah menemukannya setelah sekian lam, semua itu berkat kalung peninggalan ibu yang Pelik berikan kepadaku, ini semua karena Pelik, aku sangat berterima kepadanya meski dia sudah tidak ada di sampingku.


"Ibu aku menemukanmu, ibu sangat menyayangimu Emely, ibu sangat merindukanmu" balas wanita tersebut.

__ADS_1


Sampai tidak lama sebuah cahaya yang menyilaukan mata mulai keluar dari kedua kalung api yang kami satukan saat itu dan cahaya tersebut mulai mendorongku menjauh dari ibuku, aku melayang ke udara dengan perlahan dan di selimuti oleh cahaya tersebut sedikit demi sedikit hingga menutupi seluruh tubuhku dan aku merasakan sesuatu yang segar menyentuh seluruh tubuhku saat itu, hingga tak lama ketika cahaya itu sudah menghilang dan aku kembali menyentuh lantai seluruh tubuhku seketika pulih dan kutukan itu sudah di patahkan, tidak ada lagi bintik hitam dan semua tanda lahir bulan yang besar di seluruh tubuhku dan aku merasa tubuhku terasa jauh lebih ringan sekarang.


Devano kaget melihat semua itu begitu juga dengan ibuku yang terlihat sangat senang ketika melihat aku telah pulih kembali.


"Wahh.... Emely kau sembuh, kutukannya telah hilang" ucap Devano yang menyadarkan aku pertama kali,


"Hah....ini...ini sungguh terjadi, artinya ibu...kamu...kamu sungguh ibuku" ucapku sambil menatap kembali ke arah ibu guru bernama Melinda Kusuma tersebut.


Kami kembali berpelukan dan aku sungguh merasa sangat senang bisa bertemu dengan ibuku setelah di pisahkan sejak lahir hingga sebesar sekarang.


Sejak saat itu aku pulang ke rumah ibuku dan bertemu ayahku Tirta Mangun Kusuma yang terkenal dengan kekayaan dan kekuasaannya, dia menyambut kedatanganku dengan sangat gembira dan penuh kebahagiaan, aku mulai merasakan hidup yang sesungguhnya, memiliki orang tua yang lengkap, sahabat baik seperti Devano dan bisa sekolah dengan normal layaknya para siswa sekolah menengah atas pada umumnya, aku tidak lagi mengenakan hoodie hitam dan topi hitam kemana-mana dan seketika menjadi gadis populer di sekolah, itu sangat membuat aku senang hingga aku melupakan seseorang, dia adalah Mauren dia masih ingin berteman denganku dan aku mulai menerimanya, dia selalu bercerita ingin menjadi nomor satu di sekolah dan aku selalu mengingatkannya untuk tidak terperdaya dengan semua itu, dia selalu terobsesi untuk menjadi cantik supaya di gemari semua orang dan mendapatkan banyak sanjungan, itu membuat aku sedikit tidak nyaman dengannya, tujuanku menerima dia karena aku takut Abaddon akan kembali muncul jika dia masih menyimpan banyak keserakahan dan dendam di hatinya terhadap banyak orang yang terlihat memiliki hal lebih darinya, hingga suatu hari aku melihat Angel yang merupakan gadis paling cantik dan menjadi wajah dari sekolah kami bertengkar dengan Mauren di atap sekolah yang paling tinggi, Mauren mulai menampakkan sisi jahatnya lagi dan aku yang berada di bawah tidak bisa melihat mereka dengan jelas hanya Devano yang menunjukkan kepadaku bahwa mereka bertengkar di atas sana.


"Emely lihat, Mauren bertengkar dengan Angel diatas sana mereka akan jatuh jika terus seperti itu" ucap Devano sambil menunjuk ke atap.


Saat aku melihatnya Mauren terlihat tengah mendorong Angel dengan kuat namun entah apa yang terjadi justru Angel malah membalikkan keadaan dan dia membuat Mauren jatuh dari atap sekolah yang sangat tinggi dan dia jatuh tepat di hadapan aku dan Devano.


Daras segar mengalir dari kepalanya dan sebuah ruh jahat keluar dari tubuh Mauren di hadapanku, aku sejak saat itu jika ternyata ruh jahat masih ada di dalam dirinya, semua orang berkumpul dengan menatap ngeri melihat wajah Mauren yang berubah menjadi hitam dan jelek, aku mendekatinya dan mulai memeriksa denyut nadi di lehernya.


"Emely bagaimana?" Tanya Devano dan semua orang yang berkumpul mengerumuni saat itu.


Aku sangat berat hati untuk mengatakan yang sebenarnya tetapi aku tetap harus mengatakan itu di hadapan semua orang.


"Dia sudah tidak ada, dan ini adalah balasan atas apa yang dia perbuat, keserakahan, dendam dan kebencian yang tumbuh di dalam hatinya membuat dia gelap mata hingga harus berakhir tragis seperti ini" balasku membuat semua orang seketika bergidik takut.


Sejak saat itu rumor tentang kejahatan Mauren sedikit demi sedikit mulai terungkap tentang dirinya yang selalu mengupayakan segala cara untuk menjadi cantik bahkan hingga bersekutu dengan iblis dan menjadi anak buah dari Abaddon sang raja iblis yang telah aku hancurkan.


Semenjak musnahnya Abaddon dan meninggalnya Mauren, duani terasa lebih tenang, aku bisa menjalani hari-hariku tanpa rasa cemas dan bisa menikmati udara segar dengan sepuasnya, sekolah menjadi lebih baik dan tidak ada lagi siswa yang tergila-gila akan dunia termasuk berlomba untuk menjadi nomor satu di sekolah, sedangkan Angel tetap harus menerima hukuman dan dia di keluarkan dari sekolah karena kejadian tersebut.


"Emely apakah sekarang tugas kita sudah selesai? Semuanya sudah damai dan aman bukan?" Tanya Devano kepadaku di depan gerbang sekolah,


"Iya ini sudah selesai tapi kita tetap harus berjaga-jaga, kita tidak pernah tahu manusia mana lagi dan di belahan bumi mana yang akan sama dengan Mauren" balasku kepadanya.


Kami pergi dari sekolah dengan hati yang tenang walau sedikit merasa pilu atas kepergian Mauren, padahal aku sudah mencoba yang terbaik untuk menyelamatkan dirinya dari Abaddon.


TAMAT.

__ADS_1


__ADS_2