
Untuk sementara waktu, kini kami semua sudah berhasil setidaknya menghentikan aliran lahar panas itu untuk menyentuh kami, dan kami berada di tengah-tengah aliran lahar panas yang tiasa henti itu, panas tentu saja kami rasakan dan es yang di buat oleh Avan juga semakin mencair saking panasnya lahar tersebut yang terus keluar dari gunung merapi.
Hingga kami benar-benar tidak memiliki pilihan lain lagi untuk segera terbang, dan menghindari tempat berbahaya tersebut.
Brox aku bawa dengan Avan terbang bersamaku, sedangkan Devano langsung ikut terbang di bawa oleh Vayu, juga Arshaka yang terbang berada Erebus menggunakan naga bayang miliknynya untuk yang terakhi, sampai tidak lama setelah kami semua benar-benar sudah ada di langit es yang tertahan itu mulai mencair seluruhnya dan hancur dengan cepat sampai seluruh tempat disana benar-benar tertutupi oleh Kahar panas gunung Merapi yang terus meluap menghancurkan seluruh benda dan tumbuhan yang di lewatinya yang dengan sekejam langsung hangus terbakar.
Kami pun mulai melanjutkan misi kami, kami semua terbang semakin mendekati gunung Merapi tersebut hingga jepulan asapnya sudah tidak setebal sebelumnya di tambah Vayu yang mengerahkan kekuatan angin yang dia miliki untuk menghamburkan asap hitam di sekitar sana agar kami semua bisa memandang dengan jelas ke depan.
Aku, Brox dan Avan menjadi orang pertama yang masuk ke dalam kawah gunung Merapi tersebut dan dengan jelas kami mulai melihat letupan lava panas yang masih saja begitu banyak di dalam gunung Merapi itu, aku menurunkan Brox dan Avan di tempat yang aman dalam bebatuan tinggi yang tidak terkena lava di dalam gunung merapi tersebut.
Serta teman-teman yang lain segera mengikutiku.
"Emely tidak ada apapun di dalam gunung Merapi ini selain dari lahar panas yang terus menguap juga membuat letupan menyeramkan seperti itu" ucap Avan kepadaku.
Aku tahu semua itu dan aku masih harus memperhatikan semuanya dengan seksama menggunakan kedua mataku sendiri, karena aku masih merasa sangat yakin bahwa peta yang aku bawa sebelumnya pernah memberikan aku petunjung ke arah gunung Merapi ini, dan petunjuk dari peta tidak mungkin bohong apalagi meleset.
"Avan jangan terlalu mudah dan cepat untuk menyimpulkan semuanya, coba kita semua perhatian bagian gunung Merapi ini dengan lebih jeli dan teliti lagi, aku yakin tempatnya ada di dalam gunung Merapi ini, peta itu tidak akan mungkin salah bukan?" Balasku kepada Avan juga menatap dengan penuh keyakinan kepada yang lainnya juga.
"Tapi Emely apa yang dikatakan oleh Avan benar aku juga sedari tadi sudah melihat ke segala arah tapi semuanya hanyalah lava panas juga bebatuan keras seperti ini" balas Devano kepadaku.
"Devano tolong berikan aku sedikit waktu untuk fokus dan menemukan jalan keluarnya, kita tidak mungkin keluar lagi disaat sudah berada di dalam dan hampir dekat dengan jalan keluar" ucapku kepadanya dengan tegas.
Devano pun akhirnya berhenti bicara dan aku segera memalingkan pandanganku ke segala arah penjuru gunung merapi tersebut, aku masih sanga yakin dengan petunjuk dari peta meski sekarang petanya sudah benar-benar tidak bercahaya lagi dan tidak bisa menunjukkan arah jalan keluar dari tempat ini lagi.
__ADS_1
Aku mengeluarkan peta itu dan aku sangat berharap keajaiban akan muncul padaku dan peta tersebut, aku sangat memiliki harapan besar dengan memegangi peta itu dengan erat.
"Mbah Kerto aku tahu kau bisa melihatku dengan kekuatan sihirmu, kau bisa melihat kami semua dalam kesulitan, tolong bantu kami Mbah Kerto, kami harus segera kembali untuk menyelamatkan dunia permukaan, dan itu misi yang kau berikan kepadaku, bantu aku dan beri aku kesempatan sekali lagi agar peta darimu bisa memberikan petunjuk kepadaku" batinku berbicara dan berharap bisa berkomunikasi dengan Mbah Kerto saat itu.
Aku sangat yakin sekali jika Mbah Kerto bukan manusia biasa ataupun penguasa elemen sihir yang sama dengan kami semua, aku sangat ingin dia bisa mengambilkan permintaanku kali ini, namun sayangnya aku mungkin terlalu berharap dan aku sama sekali tidak tahu apakah aku berhasil untuk berkomunikasi kepada mbah Kerto atau tidak saat itu.
Sampai tidak lama kemudian Vayu berteriak kepadaku karena dia menemukan sebuah lubang gua di samping kawah gunung Merapi tersebut.
"Teman-teman lihat ini teman-teman, cepat kemarilah dan lihat disini ada sebuah lubang besar mirip seperti gua" teriak Vayu membuat kami semua kaget dan langsung saja mendekatinya dengan cepat.
Saat melihatnya secara lebih dekat aku bisa melihat benar-benar ada sebuah gua yang gelap disana, aku berusaha menerangi gua itu dengan api di tanganku tetapi sayangnya gua tersebut terlihat cukup dalam dan jauh sampai apiku saja bahkan tidak bisa mencapai ujungnya.
Awalnya aku pikir itu hanya lubang biasa yang di sebabkan oleh benda-benda asing di dalam gunung Merapi tetapi ketika aku memasukkan cahaya api ke dalamnya dan cahaya itu terus masuk ke dalam seakan tidak terlihat lagi cahayanya.
"Entahlah aku juga tidak mengetahuinya, tapi kita bisa masuk untuk memeriksanya jika ingin tahu" balasku kepada mereka.
"Ya sudah ayo kita masuk ke dalam" balas Vayu dengan yakin.
Aku mengangguk menyetujuinya tanpa pikir panjang sedikitpun tetapi Devano dan Avan segera menghentikan kami yang saat itu hendak masuk ke dalam lubang gua yang ada di dalam gunung Merapi tersebut.
"Tunggu Emely apa kau yakin lubang ini benar-benar aman dan tidak akan ada makhluk aneh yang tinggal di dalamnya?" Tanya Devano terlihat cemas kepadaku.
Aku segera meyakinkan Devano agar dia tidak perlu merasa takut sebab aku sudah memasukkan apiku ke dalam sana dan seandainya ada makhluk aneh di dalam dua itu, sudah bisa di pastikan hewan aneh itu akan mati karena api yang aku masukkan ke dalam.
__ADS_1
"Tenang saja Devano semua ini akan aman, kau hanya perlu yakin kepadaku, dan mau bisa berjalan denganku jika kau takut" ucapku kepadanya,
"Emely tapi bahkan apiku saja masuk ke dalam terus seperti tadi, itu menunjukkan bahwa lubang gua ini kemungkinan sangat panjang atau bahkan tidak memiliki ujungnya, nanti bagaimana jika kita tersesat di dalam?" Ucap Avan membuat yang lainnya langsung berbalik dan menjadi sangat ragu untuk masuk ke dalam lubang tersebut.
"Avan Devano ayolah kian hanya menakut-nakuti diri kalian sendiri dengan kemungkinan yang sama sekali belum tentu terjadi, ayo kita masuk saja, dan jangan bertanya atau memikirkan hal lain lagi" ucapku kepada mereka sambil menariknya hingga masuk ke dalam gua di paling depan bersamaku.
Aku terus menyalakan api besar dalam seluruh tubuhku agar bisa memberikan cahaya yang terang dan menunjukkan jalan kepada mereka semua.
Hingga kami sudah berjalan selama beberapa menit masuk ke dalam gua itu, sama sekali tidak ada yang kami temukan dan semuanya masih aman hingga tiba-tiba saja di depan sana aku mulai melihat sesuatu yang aneh seperti sebuah ujung dari gua ini dan ada apiku juga yang melayang di sana.
"Emely bukankah itu kekuatan apimu, dia melayang seperti itu tanpa hancur sedikitpun, bukankah seharusnya kekuatan api itu akan musnah ketika menghantam sesuatu atau merusaknya? Kenapa ini malah melayang seperti itu?" Tanya Arshaka dengan heran.
Jangankan Arshaka atau yang lainnya, aku sendiri bahkan merasa bingung dan heran ketika melihatnya, hingga aku mulai mendekati tempat tersebut dan merapa kekutan api yang aku keluarkan barusan barulah api itu menjadi musnah dan hilang itu menunjukkan bahwa kekuatan apiku sebelumnya tidak menghantam sesuai sehingga dia dapat mengambang seperti itu.
Aku benar-benar merasa sangat penasaran dan kembali berusaha untuk memegang tempat yang gelap itu sampai tiba-tiba saja tanganku seperti terbentur sesuatu dan aku merasa seperti ada dinding transparan pada gua tersebut.
"Dukkk.....aduhhh" suara tanganku yang tidak sengaja mengenai dinding gua tersebut.
Aku meringis merasakan tanganku yang sedikit sakit, tapi aku langsung sadar bahwa dan pembatasan disana dan tiba-tiba saja peta yang aku simpan dia saku pakaianku tiba-tiba saja melayang keluar lalu memperlihatkan sebuah cahaya yang perlahan-lahan semakin besar dan besar.
Aku menatap dengan membelalakkan kedua mataku sangat geran dan kebingungan begitupun dengan teman-temanku yang lain, pasalnya cahaya dari peta itu semakin membesar dan terus saja membesar hingga peta itu terbuka secara perlahan dan cahaya yang menyilaukan mata sedikit ke kuning-kuningan mulai memenuhi semua sudut di gua tersebut hingga tiba-tiba saja kami semua berada di dalam rumahku saat itu, rumah sewaan yang aku gunakan sebelumnya.
Kami tiba-tiba saja terjatuh di dalam rumahku yang tidak terlalu besar itu dan aku merasa sangat heran juga terperangah kaget, begitu juga dengan Devano yang baru menyadari tempat tersebut juga teman-teman yang lain yang merasa aneh dengan suasana baru yang mereka lihat saat itu.
__ADS_1