
Aku terus berlari mengejar Devano yang mengambil tasku tapi sayangnya dia berlari sangat kencang sedangkan aku tidak bisa menyusulnya untunglah Pelik datang tepat waktu dan dia berhasil mengambil tas ku dari tangan Devano sehingga tas itu terlihat melayang di udara dengan sendirinya.
Beberapa orang siswa yang berada di sekitar sana langsung berlari terbirit-birit karena takut melihat tasku yang melayang begitu saja.
"Hei...lihat itu..a....a..hantuuu" teriak beberapa orang yang langsung berlari ketakutan.
"Astaga...Pelik cepat jatuhkan tasku!" Ucapku sambil memberinya isyarat,
Tadinya aku senang karena Pelik membantuku tapi sekarang aku menyesal karena sudah merasa senang sebab teman-teman yang lain menjadi ketakutan dan berteriak memanggil Pelik sebagai hantu, jelas sekali ini di siang bolong dan mereka melihat hal di luar akal seperti itu makanya mereka berteriak ketakutan.
Aku segera mengambil tasku yang dijatuhkan oleh Pelik dan segera memeriksa isinya.
"Fyuhh...untung saja tidak ada yang rusak, aishhh ini semua gara-gara si Devano sialan itu" gerutuku sangat kesal.
Saat aku berbalik ku lihat Devano hanya berdiri di belakangku dan ketika aku menatapnya dia memalingkan pandangan dengan cepat ke arah lain, aku segera bangkit berdiri lalu segera menghampiri dia.
"Devano aku peringatkan kepadamu jangan pernah mengacau lagi denganku atau kau tahu sendiri akibatnya!" Ucapku dengan wajah yang sinis dan mendominasi lalu segera pergi meninggalkan dia dengan cepat.
Setelah aku pergi rupanya Mauren tadi berlari mengejar Devano dan dia langsung datang menghampiri Devano dengan wajah polos dan cantik yang dia miliki.
"Hah...hah...hah... Devano apa kamu baik-baik saja?, Dimana Emely?" Tanya Mauren dengan nafas yang ngosngosan,
"Dia sudah pergi" balas Devano sekilas dan dia juga pergi dari sana.
Namun disaat Devano hendak melewati Mauren tiba-tiba saja Mauren menahan tangannya dengan kuat dan matanya berubah menjadi putih semua dalam beberapa detik, Devano yang melihat perubahan pada Mauren dia langsung terbelalak dan refleks langsung menghempaskan tangan Mauren dengan cepat.
"Lepaskan, apa yang terjadi denganmu Mauren, kau bukan Mauren yang aku kenal seperti dulu" ucap Devano dengan perasaan sedikit takut,
__ADS_1
"Devano aku masih Mauren yang lemah dan korban bully layaknya dahulu tapi kenapa kamu berubah, aku sudah cantik sekarang dan kau tidak perlu merasa malu lagi karena dekat dengan perempuan sepertiku, kenapa sekarang kau menghindari ku?, Apa kau masih menyukai Keysa? Atau justru karena Emely?" Ucap Mauren dengan nada yang tinggi,
"Tidak bukan karena mereka berdua dan perlu kau tahu aku tidak pernah menyukai Keysa dia hanya sahabat untukku dan kau dulu, aku kasihan padamu karena kau selalu dibully habis-habisan oleh sahabatku sendiri maka dari itu aku menjagamu dan aku juga sempat menyukaimu tapi itu dulu jauh sebelum kau menjadi seperti saat ini" Ucap Devano dengan sorot mata penuh kekecewaan.
Dia langsung pergi meninggalkan Mauren meski Mauren terus berteriak memanggilnya dan meminta Devano untuk kembali padanya.
"Devano berhenti!, Devano..." Teriak Mauren sangat frustasi.
Sayangnya Devano tetap tidak berhenti dia terus berjalan tanpa menengok sedikitpun ke belakang, Mauren yang sedih karena Devano mengabaikannya dia mulai kembali berubah menjadi di penuhi dengan emosi di sekujur tubuhnya, matanya kembali berubah-ubah menjadi putih untuk seluruhnya dan aura jahat kembali hadir di dalam tubuhnya.
Hingga tidak lama Anita dan Alexa tiba disana dan bertemu dengan Mauren.
"Mauren ternyata kau disini kami sudah mencarimu sejak lama, ku kira kau kemana, ayo kita main bersama" ajak Alexa dengan tersenyum seperti biasa.
Mauren yang sudah bukan dirinya lagi dia menatap tajam kepada Alexa dan langsung mencekik Alexa dengan kekuatan sihir di tangannya, Mauren mengangkat Alexa dengan sangat tinggi dan dia terlihat begitu marah.
Anita langsung ambruk terjatuh ketika melihat temannya diangkat dalam posisi tercekik serta di kelilingi dengan kabut hitam di sekitar sana, dia begitu lemas dan syok sampai tidak mampu untuk berkata-kata lagi.
"Eug...eughh...Ma..Mauren...si..siapa kau...aaa" ucap Alexa berusaha melepaskan diri.
Anita langsung bangkit dan kabur dari sana, dia berlari ke arah dimana Emely pergi, Anita terus berteriak dengan kencang dan ketakutan.
"Aaarkhhh.....tolong..... Iblis...disana ada iblis tolong.....brukk" Suara Anita yang berlari sambil berteriak dan menabrak Emely.
Saat itu aku hendak pergi menuju persimpangan dimana Pelik pernah melihat seorang perempuan yang dia curigai sebagai keluarganya namun baru juga aku ingin menyebrangi jalan Anita tiba-tiba saja menabrakku dari belakang cukup kencang hingga kami berdua jatuh tergeletak di pinggir jalan.
"Aaaww...asihh...heh apa kau punya ma..." Ucapku terhenti karena melihat Anita yang bergetar ketakutan dan histeris tidak jelas.
__ADS_1
Aku langsung bangkit dan mendekati Anita lalu bertanya kepadanya.
"Antia?, Apa yang terjadi denganmu, hey... Anita cepat jawab aku, kenapa kau ketakutan seperti ini?" Tanyaku sambil memegangi kedua pundaknya sedikit panik.
"Di...di...disana...Alexa...dia...dia akan dibunuh iblis...." Ucap Anita terbata-bata sambil menunjuk ke sebuah arah dimana itu tempat sebelumnya aku bertengkar dengan Devano.
Aku sedikit kebingungan dan heran mendengar Anita mengatakan kata iblis maka dari itu aku segera membantunya berdiri dan menyuruh dia membawaku ke tempat itu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia justru terus ketakutan dan malah bersembunyi di belakang tubuhku.
"Anita dimana iblis yang kau lihat, bisa kau bawa aku kesana?" Tanyaku memintanya mengantarkan aku,
"Tidak....dia jahat, itu berbahaya...dia akan membunuh Alexa...a..aku takut" ucapnya semakin ketakutan dan sekujur tubuhnya bergetar sangat hebat.
Aku menatap kepada Pelik dan meminta dia untuk memeriksa lebih dulu ke arah yang sempat di tunjukkan oleh Anita.
Pelik mengangguk mengerti maksud dari tatapanku dan dia segera pergi melayang ke arah sana, sedangkan aku mencoba untuk menenangkan Anita terlebih dahulu.
"Anita tenangkan dirimu dahulu, coba tarik nafas dan buang dengan perlahan" ucapku sambil terus menenangkannya dengan mengelus punggungnya berkali-kali.
Setelah dia terlihat sedikit lebih tenang aku menyuruhnya untuk membawaku ke sana dengan segera karena aku tidak kunjung melihat Pelik kembali memberikan kabar, aku juga mulai merasa cemas dengan Pelik.
"Anita bisa kau membawaku kesana sekarang?" Tanyaku lagi.
Untungnya Anita mengangguk kali ini dan kami segera pergi ke tempat tersebut dengan Anita sebagai petunjuk, sampai ketika aku melihatnya dimana Pelik tengah berhadapan dengan sejenis makhluk yang aku tidak ketahui sebelumnya, makhluk yang terlihat seperti bayangan gelap itu keluar dari belakang tubuh Mauren dan seperti memiliki kendali sendiri dengan kan tangan lainnya mencekik Alexa di udara.
"AA..apa ini?" Ucapku kaget dan aku segera menyuruh Anita untuk pergi memanggil Devano.
"Anita kau tahu ini diluar nalar, aku meminta bantuanmu tolong panggilkan Devano hanya dia yang bisa membantu kita saat ini" ucapku dengan begitu panik.
__ADS_1
Anita mengangguk dan dia segera pergi dari sana sedangkan aku langsung berusaha merubah diriku dan mengumpulkan kekuatan spiritual yang aku kuasai.