Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Menyadari Kekuatan Spiritual


__ADS_3

Aku benar-benar bingung bagaimana harus menjelaskan semua kepada mereka dan untuk sesaat aku hanya bisa menepuk jidatku sendiri pelan dengan kesal serta menghembuskan nafas lesu.


"Huuh....kalian tidak perlu panik begitu, dia bukan makhluk jahat dia sahabatku sekaligus makhluk pelindungku, dan kau kembali ke sofa!" ucapku sambil menatap datar menyuruh Anita agar kembali ke tempat duduknya.


Dia pun kembali duduk walau masih dengan wajah yang sedikit menaruh rasa takut, disaat aku merasa kesal pada Pelik Devano justru malah menahan tawa dan terlihat menertawakan ketakutan Angel serta Anita, dia memang pria yang cukup menjengkelkan.


Aku tidak bisa berbicara kepada Pelik di hadapan mereka semua, sehingga aku pun segera mencari alasan untuk pergi ke kamar dan meninggalkan mereka sejenak.


"Kalian bisa tidur dimana saja asal jangan ada yang berani masuk ke kamarku, itu privasi dan jika salah satu dari kalian melanggar aku tidak akan segan-segan untuk menendang kalian keluar!" Ucapku memperingati mereka.


Tidak perduli tanggapan apa yang mereka bertiga berikan kepadaku yang pasti saat itu aku langsung berjalan masuk ke kamarku dan meminta Pelik untuk menampakkan wujudnya di hadapanku.


"Pelik keluar kau, aku tahu kau ada di sekitar sini" ucapku dengan nada yang dingin.


Pelik akhirnya mau menemuimu dan dia berdiri tepat dihadapan aku dengan tertunduk dan aku menatapnya tanpa ekspresi.


"Pelik jelaskan kenapa kau harus meninggalkanku secara tiba-tiba seperti tadi, aku tahu ini seperti bukan kau, kenapa Pelik cepat jawab aku!" Bentakku mulai meninggikan suara.


Meski suara dariku sangat kencang tetapi karena aku sudah memasang tameng pelindung yang kedap suara di sekitar sana jadi itu tidak akan terdengar keluar, karena mau bagaimanapun aku yakin mereka tidak dapat dipercaya sepenuhnya, maka dari itu aku membuatnya untuk berjaga-jaga.


Pelik terlihat gugup untuk menjawab pertanyaanku dan aku segera berjalan perlahan menghampirinya serta berusaha untuk bersikap lebih tenang padanya.


"Pelik aku tidak akan marah atau mempermasalahkan semua ini kepadamu jika kau mau menjawabnya dengan jujur, tolong Pelik jangan mengecewakan aku" ucapku pelan namun mendesaknya,

__ADS_1


"Maafkan aku Emely tetapi aku sengaja melakukan itu karena Anita datang dan Devano, aku hanya takut Anita ketakutan karena melihat kau melayang jadi aku terpaksa melakukannya karena aku juga tahu Devano akan membantumu, dengan begitu kau juga bisa dekat dengannya bukan?" Balas Pelik yang sukses membuatku semakin kesal.


"PELIK!" Ucapku dengan mengepalkan kedua lenganku dan menahan emosi, tetapi di saat aku menahan emosiku yang kesal atas ulah Pelik, justru malah keluar api dari tangan yang aku kepalkan dan bukan hanya itu, tubuhku sedikit demi sedikit mulai tertutupi kobaran api dan mataku berubah menjadi merah, aku tidak menyadarinya hingga Pelik terlihat gugup dan ketakutan.


"E...E... Emely tubuhmu...api...lihat tubuhmu" ucap Pelik panik tidak menentu.


Aku langsung melihat ke bawah dan benar-benar ada api di tanganku serta seluruh tubuhku tapi anehnya aku tidak merasakan panas sama sekali hingga tidak lama kemudian api itu perlahan mengecil dan padam, aku tidak tahu kemana perginya semua api itu, namun Pelik mulai menyadari sesuatu yang baru di dalam diriku.


"Hah?, Apa yang baru saja terjadi padaku, aku berubah lagi sama seperti ketika melawan Mauren, apa aku juga memiliki makhluk aneh di dalam diriku?" Gerutuku sangat bingung.


Aku mulai panik, bingung dan tidak mengerti dengan semua yang terjadi kepada diriku sendiri, Pelik mulai berjalan mendekatiku dan dia meraih tanganku lalu menatapnya dengan lekat.


"Emely itu bukan makhluk tetapi kekuatan spiritual" ucap Pelik memberitahuku.


Awalnya aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pelik sebab aku sendiri belum pernah melihat hal-hal seperti ini sebelumnya, mungkin jika manusia yang memiliki indra ke enam serta bisa melihat hal-hal gaib itu sudah biasa, tetapi memiliki kekuatan spiritual seperti ini sungguh di luar nalar akal sehatku sebagai manusia.


"Tidak Emely, saat aku bayi aku juga pernah melihat burung phoenix api yang keluar dari tubuhmu, itu terjadi ketika badai hujan, dia menghangatkan tubuhmu kala itu, tapi ketika aku hendak menyentuhnya semua langsung hilang hingga aku baru kembali melihatnya lagi saat kau melawan Mauren" ujar Pelik membuatku langsung penasaran dan mengerutkan dahiku.


Dilihat dari ekspresi wajah Pelik, aku mulai yakin bahwa itu adalah sebuah kebenaran darinya bukan kebohongan maupun candaan, sehingga aku langsung duduk di ranjangku dan kembali melemparkan pertanyaan atas kepenasaranan di dalam diriku kepadanya.


"Tapi Pelik kenapa kau baru memberitahuku tentang hal itu saat ini?" Tanyaku kepadanya,


"Karena tadi aku harus memastikannya dulu, namun setelah melihat bagaimana kau bisa mengeluarkannya lagi barusan, aku sudah cukup yakin bahwa itu kekuatan spiritualmu, kau seorang penakluk Emely sehingga mungkin sekali bagimu memiliki kekuatan semacam sihir, bukankah nenek dan ibumu juga penyihir?" Ucap Pelik yang mulai membuatku berpikir keras.

__ADS_1


Setelah aku pikirkan semua yang dikatakan oleh Pelik memang masuk akal, sebab api itu sama sekali tidak membakar tubuhku namun ketika aku melemparkannya api itu bisa membakar apa saja, termasuk burung phoenix yang keluar dari tubuhku dia juga menuruti perintahku dan dia terlihat sangat kuat dengan kobaran api di tubuhnya.


"Tapi Pelik jika itu benar, aku tetap tidak bisa menggunakannya sesuai yang aku inginkan, kekuatan itu selalu keluar secara kebetulan, dan aku tidak bisa mengendalikannya" balasku kepada Pelik.


Dia hanya menanggapi ucapanku dengan lesu, sebab dia juga tidak mengetahui cara untuk mengendalikan kekuatan spiritual dan cara memanggil atau menghentikannya.


Disisi lain tepat di luar ruangan kamar Emely, tiga orang yang kepo itu menempelkan telinga mereka di pintu dengan rapat, berusaha untuk bisa mendengar apa yang sedang dilakukan oleh Emely di dalam kamarnya dalam waktu yang cukup lama, dan kebetulan sekali saat itu Emely keluar dari kamar dan mereka yang bersandar pada pintu terlalu kuat tidak sadar jika Emely membuka pintu tanpa aba-aba sehingga mereka langsung jatuh ambruk ke dalam kamar Emely saling bertumpuk satu sama lain.


"Cklik....aaaaaahhh...brukkkk" suara mereka yang langsung jatuh tepat di bawah kaki Emely,


"Aduh....kakiku" ucap Anita meringis kesakitan,


"Tanganku....hey....cepat bangkit aku tidak bisa menahannya lagi ini menyakitkan" timpal Angel yang tangannya tertekan tubuh Devano,


"Aishhh....kau pikir kau saja yang sakit lihat ini sikutku juga sakit" balas Devano yang juga meringis kesakitan.


Bukannya berdiri mereka malah saling menyalahkan satu sama lain dan pemandangan jatuh bertumpuk seperti itu memicu gelak tawa dari Pelik yang juga menyaksikannya, sedangkan aku yang sudah menduga semua ini pasti akan terjadi hanya bisa menggelengkan kepala dengan kelakuan mereka yang lebih menjengkelkan daripada para makhluk gentayangan yang pernah aku taklukkan.


"Aishh...merepotkan sekali" gerutuku pelan,


"Hey, sampai kapan kalian akan seperti itu cepat bangun!" Ucapku sambil segera berjalan pergi menuju dapur dan mengambil minum lalu meneguknya dengan santai.


Anita dan Angel berjalan pelan sambil memegangi pinggang dan kaki mereka sambil terus menggerutu kesakitan, sedangkan Devano sibuk bertengkar dengan Pelik karena dia merasa tidak terima terus ditertawakan dengan sangat puas dan menerima ledekan dari Pelik.

__ADS_1


"Ahahaha....kau ini benar-benar pria bodoh, pantas saja Emely tidak menyukaimu ahaha...dasar konyol, lemah..ahaha" ucap Pelik terus meledekku Devano,


"Heh, kau dasar makhluk tidak berjiwa, sialan kau beraninya menghinaku, setidaknya aku bisa menjaga dia secara nyata, bisa menyentuhnya dan bisa terus hidup dengannya, bukan sepertimu yang hanya bisa melayang tanpa arah dan tidak bisa sampai ke alam baka!" Bentak Devano sangat keras.


__ADS_2