
Aku hanya mengangguk patuh karena paham barusan aku hampir saja membuat kekacauan hanya karena rasa kepenasaran di dalam diriku ini, tali setiap kali aku penasaran aku selalu tidak bisa menahannya hanya kalo ini dia saja yang bisa dan berani menahanku seperti itu, bahkan aku juga menuruti ucapannya itu.
Aku hanya bisa diam mematung dan memegangi tanganku sendiri yang baru saja di pegang olehnya, rasanya aku merasa aneh dan sedikit keheranan, akunsama sekali tidak marah dan tidak ada niatan untuk membentaknya padahal dia sudah memegangi tanganku.
Namun aku merasa dia hampir sama seperti Avan aku tidak bisa marah ketika di dekat mereka, entah karena dia terlihat begitu dewasa dan pendiam sehingga aku merasa sedikit canggung dengannya atau memang karena dia memiliki sesuatu kekuatan seperti Avan yang mempengaruhi diriku.
Aku segera mendekati dia untuk menanyakan lebih dekat dan lebih dalam lagi mengenai tempat tinggal ini yang menurutku sangat aneh.
Meski sebenarnya aku merasa sangat canggung untuk memulai percakapan dengannya namun aku tetap harus memulai hal itu karena jika tidak aku tidak bisa diam saja dalam kepenasaranan seperti ini.
"E...ehkmm...ekhmm...." Suaraku yang berdehem sambil bergeser berjalan mendekatinya.
Aku terus saja bergeser sedikit demi sedikit dan mendekati dia sambil beberapa kali berdehem untuk memulai pembicaraan kepadanya.
Tapi sialnya dia sama sekali tidak paham dengan maksud kode dari suaraku itu, dia justru malah tetap terlihat sibuk dengan beberapa teh dan cairan yang ada di sana, entah itu cairan apap aku juga tidak mengetahuinya dan sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya dia lakukan.
Aku sudah bersuara dan batuk beberapa kali untuk membuat dia memperhatikanku dan bertanya kepadaku namun sialnya dia tetap saja bersikap dingin denganku dan itu membuat aku sangat kesal di buatnya sampai aku tidak bisa menahan diriku lagi.
"Aishh....hey apa kau itu tulis aku sedari tadi terbatuk dan berdehem kepadamu!" Bentakku sudah sangat kesal.
Bahkan asap sudah keluar dari ubun-ubunku karena aku terus menahan api emosi di dalam tubuhku dalam waktu yang cukup lama sebelumnya.
Setelah aku berteriak dan membentak seperti itu kepadanya, barulah dia menoleh kepadaku dengan tatapan yang datar dan santai, tatapannya itu sangat membuat aku jengkel dan semakin kesal hingga aku langsung berjalan mendekatinya.
"Hey kau siapapun kau aku minta kepadaku tolong lihat aku dan dengarkan aku baik-baik, aku ingin berbicara kepadamu, apa kau mengerti?" Ucapku dengan tegas dan aku meninggikan suaraku kepadanya.
__ADS_1
Ku lihat dia hanya menarik nafas sesaat lalu membuangnya perlahan dan dia segera menaruh gelas kecil yang sedari tadi dia pegang dan mulai mengalengkan tangannya ke belakang lalu mendekatiku.
"Silahkan katakan saja aku akan mendengarkanmu" balas dia kepadaku dengan santai dan penuh wibawa.
Pembawaan dan cara bicaranya sangat berkarisma dan itu membuat aku sedikit gugup karenanya dan aku bahkan segera memundurkan diri beberapa langkah ke belakang.
"E....e..eh....diam kau sudah berhenti di situ! Jangan coba-coba melangkahkan kakimu lagi ke arahku, kita akan bicara dalam jarak seperti ini saja, mengerti?" Ucapku sambil mengacungkan tangan ke arahnya.
Dia pun berhenti dan mengangguk patuh kepadaku, untungnya dia menurut sehingga aku bisa merasa sedikit lebih tenang karena kini jarak antara aku dan dia bisa sedikit menjauh dan aku mulai menarik nafasku dalam beberapa kali hingga aku membuangnya lagi perlahan.
"Huuuhhh..... Haaaaaaa.... Huuuuuuu... Hhaaaaa" suaraku yang terus menarik dan membungkan nafas perlahan untuk menenangkan diriku dan mengontrol detak jantungku sendiri.
Dia sungguh membuat aku tidak bisa tenang dan selalu gugup ketika dindekatnya, dia terlalu misterius bahkan lebih misterius daripada aku, kini aku merasa dia adalah rival bagiku karena dia mirip seperti sifat aku ketika kecil, aku seperti melihat cerminan diriku sendiri di hadapanku saat ini.
"Oh ..hanya itu saja yang ingin kau tanyakan ternyata" balas dia dengan santai,
"I..iya itu, cepat kau jawab jangan membuat aku kesal" ujarku kepadanya.
"Itu memang buatanku dan aku tidak terlalu pandai membuatnya, ayahku yang dulu mengajariku dan itu bertahan sampai sekarang, dan cara aku menarikmu ke dalam sini, aku sendiri juga tidak tahu, perasaan aku hanya menyelamatkan ketiga pria yang tersesat di tengah gurun pasir tepat ketika aku tengah mengambil air ini, dan tiba-tiba saja saat aku sampai di sini aku melihat kaki seseorang menggantung di atas sana jadi aku menariknya karena penasaran namun yang muncul malah kau, seorang manusia yang berpakaian sama dengan ketiga pria yang sebelumnya aku selamatkan dan kau bahkan menjerit sangat berisik, maka dari itu aku tahu kau Tan mereka karena pakaian kalian sama persis" balas dia dengan santai dan menjelaskan semuanya.
Aku hanya mengangguk patuh dan berusaha memahami semuanya, tapi otakku ini masih belum bisa mengerti sepenuhnya sebab, dinding yang melapisinya tempat ini dan melindungi kami dari badai pasir di luar sana sangat rapih menurutnya bahkan disaat aku tadi hendak menyentuh dinding itu dia langsung menahan tanganku, tapi bagaimana bisa aku menginjaknya dan menerobos kesini secara tidak sengaja dan dindingnya tetap utuh.
"E...eumm...apa kau membenarkan dinding ini setelah aku jatuh sebelumnya?" Tanyaku kepadanya,
"Aku yakin kau berpikiran yang sama denganku, tapi hal itu juga sangat aneh bagiku, awalnya aku sangat panik melihat sebuah kaki bisa menerobos dinding ini dan saat aku menarikmu dindingnya kembali berubah seperti semua sehingga aku membuat penelitian baru saat ini untuk mengetahui sebabnya" balas dia menjawab keheranan ku.
__ADS_1
Aku terperangah sambil kembali menatap ke atas dinding itu dan dinding pelapis itu sungguh terlihat baik-baik saja, tidak ada retakan atau lubang sekecil jarum pun disana sehingga membuat aku menggelengkan kepala dan menggaruk belakang kepalaku saking merasa anehnya melihat semua ini.
"Aishh... bagaimana bisa itu terjadi, ini sangat aneh" ujarku berbicara sendiri,
"Memang ini sangat aneh" balas dia menyahut.
Hal tersebut membuat aku semakin penasaran dengan benda bening yang terlihat bagian luar dari dalam namun tidak bisa terlihat benda di dalam dari luar ini, aku ingin sekali menyentuhnya untuk mengetahui benda macam apa itu sebenarnya namun, aku tahu pria kalem itu pasti akan menghentikan aku lagi sama seperti sebelumnya.
Memang dia terlihat sedikit menjengkelkan bahkan ketika di lihat sinis dari bagian sudut mataku.
Aku berusaha berpaling darinya dan mengamati dia secara diam-diam, juga berusaha mengambil kesempatan untuk menyentuh benda aneh seperti kaca bening di atas kepala kami yang menjadi atap tempat sembunyi itu, hingga ketika dia tengah fokus dengan ramuan-ramuan aneh di tangannya aku langsung saja menyentuh bagian atap itu dengan cepat dan tanganku sungguh bisa menembusnya hingga aku bisa merasakan pasir di atas sana yang membanting mengenai tanganku dengan keras sampai aku merasa tanganku tergores sesuatu.
"Atrkhhh" teriakku sambil langsung menarik tanganku ke bawah dan pria itu mengetahui apa yang aku lakukan pada akhirnya.
"Bodoh! Kenapa kau menyentuhnya, aku sudah bilang jangan coba-coba menyentuhnya, inilah akibat yang akan kau dapatkan" bentak dia seperti panik dan segera membalut luka di tanganku.
Aku tidak menyangka pria itu akan sangat panik ketika melihat tanganku yang tergores dan mengeluarkan darah, dia segera meneteskan sesuatu ke luka ku dan dia segera membalutnya dengan sebuah kain yang aku tidak tahu itu untuk apa sebenarnya.
"Diam...dan kau tidak boleh membuka ikatannya hingga lukamu sebelum dan tidak terasa sakit lagi, apa kau mengerti?" Ucap dia menatapku dengan lekat,
"Iya....iya aku kan tidak tuli, sekali juga aku dengar kok" balasku kepadanya sambil memalingkan pandangan.
"Kau memang tidak tuli, tali kau keras kepala dan tidak mendengarkan ucapanku, itu membuatku mengkhawatirkan dirimu, jangan melakukan hal bodoh lagi!" Ucap dia membuat jantungku berdetak kencang.
Bayangkan saja wanita mana yang tidak akan terbawa perasaan di dalam suasana semacam ini dan di hadapan seorang pria yang tampan di tambah dia sangat keren sekali, dia mengkhawatirkan aku dan mengatakannya secara lantang, tentu saja aku meleleh karena aku juga seorang perempuan.
__ADS_1