
"Ahaha.... Kau tidak bisa meremehkannya aku sudah melihat kemampuan dia, bahkan dia juga yang menyembuhkan ku dan mereka menyelamatkan aku ketika hampir mati" ucap Avan memberitahunya,
"CK... Kalau kau meremehkan aku aku bisa saja menunjukkannya langsung tapi aku tidak ingin membuang energi pada orang sepertimu" balas Devano yang sama keras kepalanya,
"Devano berhenti, jangan bicara seperti itu!" Bentakku kepadanya,
Pria dengan makhluk raksasa tanahnya itu berpikir sejenak dan menatap ke arah kami satu per satu seperti tengah memperhatikan sesuatu. Hingga tidak lama akhirnya dia bersikap lunak pada kami.
"Baiklah aku akan membebaskan kalian dari hutan ilusiku tapi kau harus bisa menyembuhkan ibuku, jika kau berhasil menyembuhkannya aku akan memberikan imbalan yang luar biasa" ucapnya membuat kesepakatan dengan kami,
"Baik aku setuju" balasku langsung menyetujuinya,
"Emely apa yang kau lakukan aku tidak ingin melakukan itu pada orang jahat sepertinya" balas Devano kepadaku,
"Devano kau tidak bisa menilai seseorang hanya dari luarnya saja, jika kau tidak mau melakukannya kau bisa keluar dari tim dan bersatu dengan Abaddon lalu menjadi musuhku" ucapku dengan keras kepadanya.
Seketika Devano terdiam dan akhirnya dia mau mengalah, pria itu pun mengajak kami untuk pergi dari sana dan dia menunjukkan jalan, namun sebelum itu dia memukulkan kedua tangannya satu sama lain hingga tiba-tiba monster tanah di belakangnya hilang begitu saja, lalu tangannya juga kembali terlihat normal seperti tanganku dan yang lainnya.
Dia mulai menunjukkan jalan kepada kami hingga sampai di depan sebuah pohon yang sangat besar bahkan bisa di bilang itu adalah pohon paling besar yang ada di hutan itu di bandingkan dengan banyak pohon lainnya yang kami lewati sebelumnya.
Sepanjang jalan aku terus memperhatikan pria dengan kekuatan aneh itu, dia terlihat sangat kuat dan memiliki sebuah monster dari tanah yang bisa mengikuti gerakannya seperti di kendalikan dengan tangan tanahnya itu, tapi ketika sampai di depan pohon besar dia hanya mengetuk bagian luar pohon itu sebanyak tiga kali hingga langsung muncul sebuah pintu dari sana.
"Wahhh... Bagaimana itu bisa terjadi?" Ucap Avan bertanya-tanya dengan penuh keheranan,
"Aku kan sudah bilang ini hutan ilusi semua aku yang kendalikan jadi tentu saja apapun bisa terjadi sesuatu kehendak ku" ucapnya sambil membukakan pintu itu kepada kami,
"Ayo masuk..." Ucap dia mempersilahkan,
__ADS_1
Avan masuk lebih dulu lalu di ikuti denganku juga Devano yang paling belakang dan ketika kami masuk ke dalam pohon itu disana terlihat begitu luas seperti sebuah bangunan yang mewah dan tersusun dengan rapih ada banyak hal hal melayang disekitarnya seperti ranjang teko tua dan beberapa barang aneh lainnya yang baru aku lihat kali ini.
"Emely apa dia benar orang baik?" Ucap Devano merasa ragu,
"Devano berhentilah berperasangka buruk seperti itu, dia adalah penguasa kekuatan spiritual sama dengan kita, tentu saja dia orang baik" ucapku kepadanya.
Dia terus membawa kami memasuki ruangan demi ruangan hingga tangannya mengangkat ke atas dan muncul sebuah akar dari tangannya itu lalu merambat ke atas dengan cepat hingga mengikat sebuah ranjang melayang di atas sana hingga ranjang itu turun ke bawah dan terlihat ada seorang wanita tua yang berbaring rapih diatasnya.
"Aahhh... Ada apa dengannya kenapa dia terlihat sangat buruk?" Ucapku mengkhawatirkanku wanita tua itu.
Penampilannya yang begitu kurus kering juga wajahnya yang pucat pasi, dengan rambut yang sepertinya rontok karena sesuatu hal.
Aku segera menghampiri wanita itu dan berusaha memeriksanya, wanita itu seperti hidup namun juga tidak bergerak dia seperti mati tapi juga hidup karena bisa merespon dan matanya menatapku dengan lekat.
"Bu, apa kau bisa melihatku, apa kau baik-baik saja, apa yang kau rasakan?" Tanyaku kepadanya.
Dia tidak menjawabku namun bibirnya tersenyum seperti merespon diriku, bahkan pria yang berpakaian seperti tarjan itu membelalakkan matanya kaget dia langsung mendekati ibunya.
Aku pun segera menyuruh Devano untuk memeriksa wanita itu agar dia bisa mengetahui apa sebenarnya yang terjadi dengan wanita tua tersebut dan bisa dengan cepat mengobatinya.
"Devano bisakah kau kemari, tolong periksa dia" ucapku meminta bantuan Devano,
"Aku tidak mau!" Ucap Devano yang masih saja keras kepala dan tidak mendengar ucapanku sebelumnya.
Aku menghembuskan nafas berat dan segera menghampiri Devano.
"Devano kau seperti bukan orang yang aku kenali jika kau seperti ini, apa kau ingin memperlambat urusan kita disini? Apa kau ingin terus luntang lantung tersesat seperti ini? Apa kau tidak ingin kembali ke dunia permukaan?" Ucapku kepadanya,
__ADS_1
"Aku tidak ingin, disana ada Pelik yang bisa merebutmu dariku, aku lebih suka terus tersesat asal bisa terus denganmu, aku tidak butuh yang lainnya" balas Devano membuatku sangat kesal saat mendengarnya.
Aku ingin sekali menghajar dia dengan seluruh kekuatan yang aku miliki saat itu namun aku tahu dia adalah pria yang keras kepala dan tidak akan luluh jika aku melawannya dengan kekerasan juga, sehingga aku berusaha menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan aku kembali menghampiri dia yang sempat menjauh dariku aku duduk di sampingnya yang tidak jauh dari tempat dimana Avan dan pria aneh itu berada.
"Devano kau tahu bukan Pelik hanyalah makhluk pelindungku, aku memiliki misi dengannya untuk mengantarkan dia ke alam baka dan aku juga masih harus mencari keberadaan ibuku, jika aku terus tersesat disini dan membiarkan dunia di permukaan hancur begitu saja, mungkin aku tidak akan pernah bisa bertemu ibuku lagi, aku akan putus asa dan bunuh diri, kau juga tidak akan bisa mengobatiku atau menyelamatkan aku karena aku akan terus berusaha membunuh diriku sendiri hanya karena sebuah keputus asaan, tolong Devano jangan keras kepala seperti ini" ucapku sambil menggenggam tangannya perlahan.
Akhirnya dia mau menatap ke arahku dan aku tersenyum padanya, hingga dia tiba-tiba memelukku dengan erat dan meminta aku untuk berjanji padanya.
"Emely apa kau mau berjanji tidak akan meninggalkanku selamanya? Jika kau mau berjanji aku akan berusaha mengobati wanita itu" ucap dia sambil memelukku.
Aku sudah sangat jengkel dan rasanya emosiku sudah akan meledak saat itu juga, namun karena mengingat kembali misi yang harus dijalani dan besarnya tanggung jawab yang aku miliki aku pun harus bisa menahan kekesalan ini.
"Baiklah aku berjanji padamu, ayo kita selamatkan wanita itu bersama-sama" ucapku kepadanya sambil membalas pelukannya dengan menahan rasa kesal.
Bahkan asap sudah mulai muncul dari atas kepalaku menandakan bahwa aku sudah hampir meledak dengan emosi.
"Devano jika kau tidak bergerak juga aku akan membunuhmu sekarang!" Gumamku merasa tidak tahan lagi.
Akhirnya Devano melepaskan pelukannya dariku dan dia langsung menarik tanganku membawa aku mendekati wanita tua itu dan dia segera memeriksanya di hadapan aku dan yang lain, dia terlihat terus meraba beberapa bagian tubuh wanita itu mulai dari jidat, leher tangan dan kaki serta bagian dadanya hingga Devano menatap padaku dan mengangguk.
"Bagaimana? Apa kau sudah mengetahui penyakitnya?" Tanyaku kepada Devano,
"Iya aku tahu, tapi Emely sepertinya dia sudah kehilangan banyak energi dan tidak memiliki keinginan untuk hidup sehingga percuma saja jika aku mengobatinya hingga sembuh dia akan tetap menjadi seperti ini karena keinginan hidupnya hampir hilang" ucap Devano menjelaskan pada kami semua,
"Lalu bagaimana kita harus membuatnya untuk memiliki keinginan agar tetap hidup?" Tanyaku berpikir,
"Mungkin kau yang lebih tahu tentang itu karena dia adalah ibumu" balas Devano sambil menatap pada pria tersebut.
__ADS_1
Pria itu terlihat langsung tertunduk lesu dan dia sama sekali tidak memiliki kekasaran dan keberingasan seperti sebelumnya, dia terlihat lemah dan begitu mengkhawatirkan ketika melihat keadaan ibunya sendiri seperti itu.
Bahkan ketika Devano bertanya padanya dia tidak bisa menjawab apapun dan aku memutuskan untuk menyuruh dia memikirkannya dahulu dan kami memberikan ruang untuk anak dan ibu tersebut.