
Kami tiba-tiba saja terjatuh di dalam rumahku yang tidak terlalu besar itu dan aku merasa sangat heran juga terperangah kaget, begitu juga dengan Devano yang baru menyadari tempat tersebut juga teman-teman yang lain yang merasa aneh dengan suasana baru yang mereka lihat saat itu.
Aku benar-benar sangat kaget dan tidak mengerti saat membuka mataku tiba-tiba saja sudah berada di dalam rumah sewaanku yang tidak jauh jaraknya dari sekolah tempat aku menempuh pendidikan sebelumnya.
"Ahhhh.... Devano kenapa kita bisa tiba-tiba saja muncul disini, dan petanya dimana peta yang di berikan oleh kakak Kerto sebelumnya?" Tanyaku merasa kebingungan dan terus saja sibuk mencari dimana aku meletakkan peta tersebut.
Bukan hanya aku saja yang kaget melihat tiba-tiba saja muncul di tempat asing seperti ini, semua teman yang lainnya juga segera berdiri melihat ke sana kemari dimana di rumahku terdapat banyak sekali barang yang mungkin cukup asing bagi mereka semua karena mereka tidak berasal dari dunia ini.
"Emely gawat apa jangan-jangan kita benar-benar sudah melewati dunia paralel itu, dan sekarang adalah waktunya" ucap Devano menatap ke padaku dengan wajahnya yang terlihat begitu panik juga sangat serius saat itu.
Aku juga mulai terpikirkan dengan semua itu dan aku langsung saja membelalakkan kedua mataku dengan lebar ketika mengingat apa yang sudah di katakan oleh Mbah Kerto sebelumnya.
"Ma..ma.. maksudmu ini adalah saatnya kita melawan raja iblis Abaddon itu?" Tanyaku kepada Devano dengan menatap penuh ketegangan.
Devano langsung mengangguk menandakan bahwa semuanya memang benar, kita benar-benar telah sampai menembus waktu dan semua dunia paralel yang ada di dasar bumi hingga kembali lagi ke dunia permukaan ini.
Aku dan Devano langsung saling menatap satu sama lain dengan kedua mata yang terbelalak lebar dan sangat panik juga ketakutan saat itu.
Sampai tidak lama suara dentuman yang sangat besar di iringi dengan gelegaran tawa Mauren yang masih aku kenali suaranya terdengar begitu menggelegar dan sangat keras.
"Boom!....huahahahaha..... rasakan itu kau kakek tua, kau sama sekali tidak akan bisa mengalahkan aku dan raja iblis ahahaha" ucap Mauren di luar sana.
Mendengar suaran dentuman yang sangat keras dan begitu dahsyat bahkan sampai membuat rumah tempat kami semua berada bergetar, aku dan Devinka langsung berlari menuju jendela rumahku dan diikuti oleh teman-teman yang lainnya.
Saat aku membuka tirai rumahku aku bisa langsung melihat ke luar dengan jelas dan disana nampak terlihat kakek Kerto melawan iblis itu sendirian di bantu dengan kakek tetua juga ada ibunya Arshaka yang turun membantu mereka bahkan putra mahkota sang raja juga hadir disana membantu mereka melawan iblis Abaddon secara bersamaan.
Aku sangat kaget dan refleks langsung saja membuka mulutku dengan terbuka lebar dan mata yang terbelalak lebar melihat pemandangan yang sangat mengerikan di luar sana.
"Astaga...Ibu kenapa dia bisa berada disini?" Tanya Arshaka saat pertama kali mihat ibunya,
"Iya...kenapa mereka semua berada disini, dan kakek Kerto kenapa dia melawan Abaddon bukankah dia sendiri yang bilang bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan Abaddon selain dari kita bertujuh?" Tanya Devano penuh kebingungan.
Aku juga sama sekali tidak mengerti dengan semua yang aku lihat saat ini, namun sungguh tidak ada waktu lagi untuk memikirkan semua kejanggalannya dan kita semua tidak bisa terus diam saja disaat melihat para orangtua terdesak oleh Mauren dan Abaddon yang terlihat sudah semakin menyatu dengan jiwa jahat pada diri Mauren.
"Teman-teman tidak perduli apapun yang terjadi kita harus datang membantu mereka, membantu ibumu Arshaka, membantu kakekmu Devano dan juga membantu sang putra mahkota dan kakek tetua, kita harus bersatu untuk mengalahkan iblis Abaddon dan para anak buahnya tersebut.
Aku kira kira bisa menyusun rencana selama masih ada sedikit waktu yang kita punya" ujarku kepada mereka.
Kami semua segera berkumpul dan aku mulai memimpin mengatakan rencana penyerangan yang akan kita semua lakukan untuk melawan Abaddon saat itu, pertama aku memerintahkan Arshaka untuk membantu ibunya dari belakang, menahan tubuh iblis Abaddon yang masuk ke dalam jiwa Mauren menggunakan akarnya yang kuat juga memasang tameng pelindung tanahnya untuk membuat Mauren jatuh nantinya, juga aku meminta Avan untuk membekukan seluruh anak buah Abaddon yang terlihat terhipnotis seperti jombi, jika perlu aku juga meminta Avan untuk mengubah para manusia yang terinfeksi oleh kekuatan Abaddon agar di bekukan dahulu olehnya, supaya bisa setidaknya mengulur waktu karena kita semua tidak mungkin menghancurkan orang-orang yang tidak bersalah di muka bumi ini.
Lalu aku juga meminta Vayu untuk mengalihkan pandangannjuga fokus dari Mauren, aku memintanya untuk terbang di sekitar wajah Mauren untuk mengganggu pandangannya, dengan begitu aku bisa menyerang Mauren dengan seluruh kekuatan yang aku miliki dengan di bantu naga bayang milik Erebus serta kekuatan tidak terlihat dan kecepatan yang dimiliki oleh Brox, dia bisa menyelamatkan Vayu atau siapapun jika seandainya dalam bahaya, namun tugas utama Brox adalah menyelamatkan sahabatku Pelik juga teman-teman yang lainnya yang saat itu masih terperangkap di ruang bawah tanah, aku yakin Brox bisa membawa mereka dengan cepat tanpa terlihat oleh Mauren hingga mereka bisa bersembunyi dan masuk ke dalam rumahku, sebab disana aku sudah membuat tameng transparan dari api yang sangat kuat hingga bisa melindungi mereka dari apapun.
__ADS_1
Setelah mengatakan semuanya dan kami sudah menyusun semua rencana dengan sangat baik, kami mengulurkan tangan dan menumpuknya satu per satu demi memberikan semangat satu sama lain.
"Oke teman-teman kita selamatkan bumi ini, semangat!" Teriakku begitu keras dan mereka semua mengangguk penuh dengan semangat.
Yang akan pertama keluar adalah Vayu dia segera terbang dengan cepat mendekati Mauren dan sesuai dengan apa yang aku katakan dia mulai terbang mengelabui Mauren hingga membuat Mauren terlihat bisa kesal dan jengkel sebab Vayu mengganggu penglihatannya saat itu.
Sedangkan aku dan yang lainnya mulai keluar aku terus berusaha mencari titik kelemahan Abaddon dalam diri Mauren agar iblis itu bisa keluar dari jiwa Mauren yang tidak bersah.
Ku lihat dari atas sana, Arshaka benar-benar mengikatkan akar yang sangat kuat pada tubuh Mauren sampai membuat Mauren yang saat itu hampir menyerang sang putra mahkota kini tertahan akibat dari serangan akar bertubi-tubi yang di lontarkan oleh Arshaka dari bawah sana di bantu dengan ibunya sendiri.
"Ibu aku akan membantumu, mari kita tahan iblis ini bersama-sama" ujar Arshaka sambil menatap ke arah sang ibu yang ada di sampingnya.
Nampak saat itu ibunya terlihat memberikan tatapan yang cerah karena dia sudah bisa melihat putranya sampai di waktu yang tepat sebab mereka sudah tidak sanggup lagi mengulur waktu dan menahan iblis tersebut.
Aku bertemu dengan kakek Kerto dan tetua yang saat itu tengah terus mengeluarkan sihirnya untuk menyerang Mauren.
"Emely cepat bantu kami mengalahkannya, kita harus melumpuhkan dia dengan cepat!" Ucap sang kakek tetua kepadaku.
Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu kepada Mauren, sejak kami ber tujuh tiba disana dan membantu mereka, nampak sekali wajah Mauren langsung berubah seperti sedih dan ketakutan, aku tidak berfokus kepada makhluk aneh yang menempel di belakang tubuhnya karena aku sudah tahu bahwa itu adalah iblis Abaddon yang sesungguhnya.
Namun aku bisa melihat dengan jelas sorot mata dari Mauren yang seperti meminta pertolongan kepadaku, dan aku yang tadinya hendak membantu kakek tetua juga Mbah Kerto segera aku urungkan niatku.
Aku tahu dadanya adalah inti dari jantung milik Mauren dan jika aku menyerah tempat itu bisa di pastikan bahwa Mauren akan meninggal, dia juga akan benar-benar terpisah dengan ruh dirinya, dan aku tidak bisa melakukan semua itu.
"Kakek aku memiliki cara lain untuk mengalahkan Abaddon, Mauren hanya manusia biasa dia hanyalah sebuah perantara, dan aku akan menyelamatkan dia dulu" ucapku dengan penuh keyakinan dan segera aku terbang mendekati wajah Mauren lebih dekat lagi.
"Tidak.... Emely jangan lakukan itu, kau telah tertipu, Emely dia sudah bukan temanmu, Emely kembalilah!" Teriak Mbah Kerto yang aku abaikan saat itu.
Meski Mbah Kerto sudah memperingatiku dan berteriak sangat kencang kepadaku tetapi aku tetap saja melakukan semua yang aku anggap benar, hingga setelah aku berada dekat dengan Mauren dia menatap jahat kepadaku dan tatapannya yang sebelumnya sangat menyedihkan juga seperti meminta belas kasih dariku langsung saja berubah dia hampir saja akan menyerangku dari jarak yang sangat dekat saat itu, namun untungnya Vayu yang berada paling dekat denganku, dia berhasil menangkis serangan dari Mauren menggunakan anginnya yang begitu kencang.
Namun walaupun Vayu berhasil menangkisnya tetapi itu sama sekali tidak membuatnya aman atau selamat, Vayu dan aku langsung saja terhempas jatuh ke tanah dengan sangat kuat hingga aku melihat Vayu yang terkulai dengan lemah.
"Emely kau benar-benar bodoh, rasakan ini hahahah....hiyaaaa" ucap Mauren yang mulai mengeluarkan kekuatan iblis dari matanya.
Aku sangat kaget sehingga saat itu tidak sempat menghindar, dan alhasil itu membuat Vayu menjadi korban sebab dia yang melindungi aku.
"Tidak.... Emely awas!" Teriak Vayu yang langsung memeluk aku untuk melindungiku dan dia menangkis serangan dari Maurena menggunakan angin besar yang terus berada menyelimuti tubuhnya saat itu.
Walau begitu kekuatan dari Mauren jelas bukan tandingannya sebab Mauren di kuasai oleh iblis paling kuat dari para iblis lainnya, sang raja Abaddon saat itu.
"Aaaakkkkhhh...." Teriakkan aku dan Vayu yang terhempas cukup jauh dan sangat keras ke tanah.
__ADS_1
Aku selamat karena tubuhku menimpa Vayu, tetapi Vayu terlihat terluka cukup parah, darah keluar dari mulutnya cukup banyak saat itu dan dia terlihat begitu pucat juga sangat lemah.
"Tidak....Vayu apa kau baik-baik saja, Vayu kau harus bertahan aku tidak ingin sesuatu terjadi kepadamu" ucapku sambil memegangi kepala Vayu saat itu.
Dan aku berusaha membuat agar darah tidak terus keluar dari mulutnya tersebut.
Aku berteriak dengan sangat kencang meminta Devano agar segera datang ke tempat itu dan membantu aku menyembuhkan Vayu secepatnya, namun tentu saja Devano yang tidak memiliki kekuatan apapun dia cukup membutuhkan waktu untuk sampai di tempat tersebut, sedangkan teman-teman yang lainnya masih berjuang untuk melawan Abaddon dan anak buahnya yang justru terlihat semakin banyak dan kuat saat itu.
"Devano dimana kau ..cepat kemari Devano!" Teriakku memanggil dia dengan suara yang sangat keras.
Saat itu aku melihat Devano berlari dari kejauhan menuju ke arahku, tetapi dia di kejar oleh beberapa makhluk yang cukup menyeramkan dengan tanduk besar di kepala mereka dan membawa sebuah pedang di tangannya.
Aku tahu itu akan menghambat larinya Devano dan aku langsung saja terbang melesat melawan para makhluk sialan itu hanya dengan sekali kibasan api yang aku keluarkan sampai mereka semua langsung saja berubah hancur menjadi debu yang berterbangan.
"Brush....rasakan itu" ucapku menghancurkan mereka semua hanya dengan satu serangan saat itu.
Aku menggenggam tangan Devano dan langsung membawanya terbang dengan cepat kembali menghampiri Vayu, aku juga melepaskan bunga yang ada di telingaku itu lalu memberikannya kepada Devano agar dia bisa menyembuhkan Vayu lebih cepat.
"Devano diamlah disini dan jaga Vayu selamatkan dia, dan gunakan bunga ini jika di perlukan aku harus membantu yang lainnya lebih cepat" ujarku kepadanya dengan wajah yang mulai memerah.
Devano hanya mengangguk saja membalas ucapan dariku, mungkin karena dia takut aku sedikit marah saat itu karena salah satu temanku terluka karena kecerobohan diriku.
Saat itu aku benar-benar lupa bahwa iblis Abaddon memang sudah mengambil seluruh wujud dari Mauren, aku terbang melesat dengan tinggi dan melihat kakek Kerto yang jatuh karena mendapatkan serangan dari Mauren, di sebelah kanan aku lihat ibunya Arshaka juga sudah tersungkur karena Abaddon justru malah semakin kuat saat itu.
Aku tidak bisa melihat satu per satu temanku jatuh di kalahkan oleh Abaddon hingga aku mulai menutup mata dan membuat dinding perlindungan untuk diriku saat itu dengan setebal dan sekuat yang aku bisa, lalu aku mulai membulatkan fokus di pikiranku dan membuat sebuah bola api yang sangat besar hingga membuat tanganku berubah memperlihatkan urat-urat menjalar seperti akar dengan cahaya yang merah menyala bak seperti lahar gunung Merapi.
Tubuhku semakin panas dan aku semakin marah, terutama disaat Mauren yang saat itu hendak menyerang Devano yang tengah berusaha keras menyembuhkan kakek Kerto juga ibunya Arshaka di bawah sana.
"Kau tidak akan bisa mengalahkan ku bocah api hahaha....lihatlah ini lihatlah sahabat kesayanganmu yang lemah akan aku hancurkan langsung menjadi debu yang berhamburan" ucap Mauren yang suaranya sudah berubah menjadi suara berat yang menyeramkan.
Aku sungguh tidak bisa menahan diriku lagi, amarah mulai bergejolak dalam diriku dan aku semakin kuat dalam merasakannya.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh teman-temanku atau aku sendiri yang akan menghancurkan dirimu dalam satu kali serangan!" Balasku dengan menatap tajam ke arah Mauren yang tubuhnya semakin membesar dan dia membentuk seperti makhluk setengah iblis saat itu.
Aku melontarkan kekuatanku kepadanya hingga dia mulai kehilangan keseimbangan dan meringis kesakitan merasakan serangan dariku yang tepat mengenai jantung Mauren saat itu.
"Bagaimana apakah itu sakit, itu hanya sebagai kecil dari kekuatan yang aku miliki untuk memperingatiku Mauren, keluarga dari sana dan berhentilah bergabung dengan iblis jahat itu, aku ingin melihat secara nyata wujud sang raja iblis itu dengan mata kepalaku sendiri!" Teriakku sangat kencang.
Semua teman-teman ku menatap kaget ke arahku yang dengan sengaja menantang Abaddon saat itu.
"Ohhh....tidak Abaddon bisa lebih menyeramkan dan lebih kuat jika Emely menantangnya seperti itu, kita harus bagaimana sekarang?" Ucap kakek tetua yang terlihat juga sudah sangat lemah karena dia bener kali mendapatkan serangan balasan dari Mauren sebelumnya.
__ADS_1