
Karena kakek sudah mengatakan itu dan meminta kami untuk beristirahat, aku pun segera menurutinya dan pergi ke sebuah kamar yang tiba-tiba saja muncul ketika aku menjentikkan jari, kamarku tepat bersampingan dengan kamar Devano dan aku masih menyimpan kekesalan karena dia sudah membuat tanganku terluka sebelumnya.
"CK .....apa kau lihat-lihat, sana masuk!" Bentakku kepadanya.
Bukannya masuk pada kamarnya Devano justru malah menghampiri aku dan dia meminta maaf kepadaku.
"Ma...maafkan aku Emely aku sungguh tidak bermaksud menjadikan kamu bahan percobaan, itu perbuatan kakek aku juga ketakutan saat melihatmu terluka seperti itu, tolong maafkan aku" ucapnya yang membuat aku sedikit tersentuh,
"Ya sudah iya aku memaafkanmu tapi awas saja jika kau sampai berani sekali lagi membuat tubuhku terluka, aku tidak akan segan membakar mu!" Ucapku memberinya peringatan.
Dia mengangguk sambil tersenyum senang sedangkan di belakang kami sudah ada kakek Karto yang tidak aku sadari kapan kedatangannya, dia langsung berteriak menyuruh kami untuk segera masuk ke dalam kamar.
"Aish....dasar anak-anak nakal! Cepat masuk kalian!" Bentak kakek dengan keras.
Aku kaget ketika mendengar teriakkannya itu dan saat itu juga langsung masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru dan menghilangkan pintunya dengan segera, begitu jug dengan Devano yang masuk ke dalam kamarnya.
"Wahhh.... lama-lama kakek Kerto lebih mirip makhluk halus, dia selalu muncul dan pergi dengan tiba-tiba, membuat aku tahu apa dia manusia atau bukan?" Gerutuku memikirkan.
Aku segera tidur di sebuah ranjang dengan kayu yang melengkung bak seperti sebuah ranting pohon yang besar juga terdapat ukiran tidak jelas di sampingnya.
Awal aku masuk ke dalam kamar ajaib ini, aku juga sempat terperangah dan kebingungan bagaimana cara tidurnya hingga sekarang aku sudah terbiasa dengan semua hal yang ada di dalam gua pengabulan itu, semua yang aku bayangkan dan yang aku harapkan akan terkabul di dalam gua itu asalkan kakek Kerto mengijinkannya dan aku hanya perlu memfokuskan pikiran pada hal yang aku harapkan itu.
Sayangnya hanya ada satu kelemahan dari gua pengabulan ini, aku tidak bisa meminta makhluk hidup untuk berada disana bahkan aku juga tidak bisa mengharapkan sosok Pelik hadir kepadaku, sekalipun di dalam mimpi, malam ini aku tidak bisa tertidur dan pikiranku terus saja tertuju pada Pelik.
"Bagaimana keadaan dia sekarang, apa dia sudah menjadi tahanan iblis jahat itu? Bagaimana jika Pelik menjadi ruh jahat karena sihir?" Gerutuku terus memikirkan.
Aku sudah berusaha berkali kali memfokuskan pikiranku dan berharap untuk bisa melihat Pelik dihadapanku, sekalipun hanya sebuah ilusi aku tidak papa, aku tetap akan senang ketika melihatnya, aku hanya menginginkan melihat wajah Pelik, aku sangat merindukan wajahnya.
Aku ingin memeluknya dan aku merasa gagal untuk membantu dia bertemu dengan keluarganya.
"Hiks....hiks.... Maafkan aku Pelik, aku akan segera menyelamatkanmu, aku janji Pelik!" Ucapku dengan penuh keteguhan.
Aku sudah meyakinkan diriku sendiri dan sudah membuat janji, bahwa aku akan menyelamatkan Pelik dan menemukan dia bagaimanapun caranya.
Tanpa Emely sadari disisi lain gua pengabulan itu, Mbah Kerto tengah mengawasinya, setiap saat Mbah Kerto memang selalu mengawasi Devano dan Emely jika mereka berada di belakangnya, dan kini Mbah Kerto tahu alasan Emely begitu bersungguh-sungguh dalam belajar kekuatan spiritual di dalam dirinya.
Sayangnya Mbah Kerto juga tidak bisa mengabulkan permintaan Emely, dia sendiri tidak bisa menarik Pelik untuk datang ke alam ini, sebab semua yang ada disini tersegel dari segala jenis makhluk gentayangan seperti itu begitupun dari manusia biasa.
Saat itu Mbah Kerto hanya bisa memperhatikan Emely yang terlihat begitu sedih, dia ingin menghiburnya dan membuat Emely berhenti memikirkan ruh gentayangan itu, namun Mbah Kerto juga tidak bisa melakukan lebih, hingga beberapa saat berlalu Emely masih belum bisa beristirahat dengan tenang dia terus tidur kemudian kembali terbangun dan Mbah Kerto yang mengetahui hal itu sangat terganggu karenanya sehingga dia langsung pergi menemui Emely di kamarnya.
Aku yang saat itu tengah duduk dalam ranjang kayu pohon tersebut kaget bukan kepalang karena melihat kedatangan Mbah Kerto yang secara tiba-tiba muncul di hadapanku begitu saja di tambah dengan raut wajahnya yang begitu menyeramkan dengan kedua alis yang mengerut dan tatapan mata yang tajam juga begitu menusuk pandanganku.
"Oh. Astaga! Kakek kenapa kau ada di kamarku jam segini?" Tanya aku dengan heran,
"CK ...kau adalah penyebabnya dasar anak nakal aku sudah menyuruhmu untuk tidur tapi kau tetap saja terjaga, apa kau ingin energimu tidak full besok, hah!" Bentak kakek Kerto secara tiba-tiba kepadaku.
Aku kaget dan menaikkan kedua alisku dengan cepat, aku tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh kakek saat itu sehingga aku hanya bisa menatapnya dengan heran dan terperangah.
"A...apa maksudmu kek, jika kau ingin tidur ya tidur saja aku masih belum bisa tidur sekarang" balasku dengan jujur,
"Aishh.....dasar kau anak keras kepala tidak ada bedanya dengan nenekmu itu, sudah kemari dan lihatlah ini" ucap kakek Kerto samping mengetuk tongkatnya ke lantai.
Tiba-tiba saja muncul sebuah bayangan di dinding kamar itu bak seperti sebuah layar refleksi yang cukup luas, aku terperangah kaget saat melihat ternyata di dalam layar ajaib tersebut ada Pelik, Angel dan Anita disana juga ada Alexa yang tengah berusaha menarik Angel untuk masuk ke dalam sebuah ruangan bawah tanah, sampai tiba-tiba saja penglihatan dalam layar itu menjadi pudah dan aku tidak bisa melihat mereka dengan jelas lagi.
__ADS_1
"Pe....Pelik, kek apa yang barusan terjadi dengan Pelik dan yang lainnya? Kemana mereka pergi sebenarnya kek?" Tanyaku dengan sangat cemas dan penasaran,
"Gadis dengan rambut pendek itu menyelamatkan mereka dari rumahmu di permukaan, dia membawa mereka bertiga masuk ke dalam ruangan bawah tanah yang ada di bawah gorong-gorong jalanan dekat dengan sekolah, dan aku rasa para warga lain juga bersembunyi disana, mereka akan aman selama mereka berada disana dan masyarakat lainnya akan menjadi patung karena efek dari kekuatan iblis jahat Abaddon" balas kakek Kerto menjelaskan keadaan di permukaan,
"Tapi kek bagaimana dengan nasib mereka semua nantinya?" Tanyaku lagi,
"Mereka akan musnah sesuai dengan waktu yang berjalan, namun jika Abaddon yang pertama kali di musnahkan mereka akan kembali seperti semula, kedamaian akan tercipta dan semua orang akan kembali pada waktu sebelum kedatangan Abaddon, mereka tidak akan mengingat apapun tentang semua kejadian yang di ciptakan oleh Abaddon" ujar kakek Kerto menambahkan.
"Ja...jadi ini rencana yang sebenarnya kau sedang jalankan, kau meminta aku dan Devano melawan Abaddon agar semuanya kembali seperti sediakala?" Tanyaku memastikannya lagi.
Kakek Kerto membalasnya dengan anggukan lalu dia memberikan sebuah pesta yang tiba-tiba muncul dari tangannya kepadaku.
"Ini ikuti arah dari peta ini, kalian tidak akan sanggup melawan Abaddon seorang diri, kalian harus menyatukan kekuatan dan meminta bantuan pada penguasaan elemen spiritual lainnya, dan mereka berada di lima tempat yang ada di peta ini" ucap kakek Kerto menjelaskan kepadaku,
"Tapi kek bagaimana aku bisa menemukan mereka nanti, apa kau tidak mau memberitahuku ciri-cirinya sedikit saja?" Tanyaku meminta petunjuk,
"Kau akan mengetahui jika bertemu langsung dengan mereka, ingat jangan menilai dari wujud, karakter atau apapun mereka bisa menjadi apa saja ketika menyatu dengan elemen yang mereka kuasai, dan kau harus pergi besok bersama Devano, kau tidak akan bisa bertemu denganku sebelum berkumpul dengan lima penguasa elemen lainnya, aku akan menunggumu ketika kalian sudah berkumpul" ucap kakek Kerto lalu menghilang seperti asap begitu saja.
Aku bahkan belum sempat meminta dia menjelaskan hal lainnya namun dia sudah lebih dulu tiba-tiba pergi dari hadapanku.
"Eh..... Kakek tunggu, kakek kemana kau?" Teriakku mencari keberadaannya.
Sayangnya sekeras apapun aku berteriak aku tetap tidak bisa menemukan keberadaan kakek Kerto dan tiba-tiba saja gua pengabulan ini bergetar hingga aku merasa diriku ditarik sesuatu dan aku tidak sadarkan diri setelah itu.
"Aaaarrkkkkkk......" Suara teriakkan terakhirku.
Hingga ketika aku sadar tiba-tiba saja aku sudah berada di hutan yang sebelumnya, berada tepat di bawah pohon ajaib yang selama ini aku pakai untuk berlatih bersama kakek Kerto dan ada sebuah pesta yang tergulung di tanganku dan aku sadar bahwa apa yang aku alami malam tadi adalah sebuah kenyataan karena peta dari kakek Kerto berada di tanganku.
"Hah....peta ini kenapa bisa ada di tanganku, berarti kakek?" Ucapku memikirkan dan segera bangkit berdiri.
"Eh....kenapa aku tidur disini? Bukannya tadi malah kita di dalam gua pengabulan ya?" Tanya Devano bangkit menghampiriku.
Aku diam membisu dan sudah sangat lemas, aku tidak bisa menemukan kakek Kerto di sekitar sana.
Dan aku langsung berlari menuju arah dimana aku pernah menemukan sebuah tebing sebagai jalan masuk menuju gua pengabulan namun setelah aku kembali tidak ada apapun disana yang ada hanyalah lahan gambling yang tidak terurus dan aku sangat kaget ketika melihat semuanya sudah berubah di hutan ini.
"Ehh....bukankah sebelumnya disini adalah tebing? Kenapa malah menjadi lahan kosong seperti ini?" Gerutu Devano sambil berjalan di sekitar lahan kosong tersebut.
"Emely ayo lihat kesini, ini aneh sekali kenapa tidak ada tebing disini, dimana tebing yang sebelumnya dan kemana kakekku?" Ucap Devano kebingungan.
Aku berjalan menghampirinya dengan perasaan yang tidak menentu.dan semua ini masih terlalu aneh bagiku, aku kaget karena tidak bisa menerima kebenaran ini, aku masih belum mengerti apa yang di katakan oleh kakek Kerto semalam, sehingga aku merasa sangat takut dan gugup.
Hingga tiba-tiba saja Devano terperosok ke dalam sebuah lubang yang mungkin tidak sengaja dia injak saat mencari keberadaan tebing tersebut dan aku.segera berlari ke arah lubangnitu ketika melihat Devano berteriak terperosok masuk ke sana.
"Aaahhh..... Emely tolong!" Teriak Devano yang kemudian lenyap terjatuh kedalam lubang itu.
Saat aku menghampirinya dan berniat menolong Devano justru aku tidak melihat sebuah dasar dari lubang tersebut, semuanya terlihat gelap dan aku tidak bisa mendengar suara Devano lagi meski aku sudah memanggilnya berkali-kali kali.
"Ahh....lubang macam apa ini? Kenapa aku tidak bisa melihat dasarnya?, Devano...... Devano apa kau baik-baik saja?" Teriak aku memanggilnya.
Tidak ada sahutan dari Devano dan aku terpaksa harus ikut masuk ke dalam lubang itu karena sangat mengkhawatirkannya.
"Aishh....Sial, Devano tunggu aku!" Teriakku sambil meloncat ke dalam lubang hitam tanpa dasar tersebut.
__ADS_1
Aku merasakan diriku jatuh begitu dalam dan lama, aku merasakan tekanan gravitasi yang begitu kuat sehingga membuat proses jatuh aku sangat cepat namun juga terasa cukup lama.
"Aaaarrrkkkkkkk......" Teriakku terus terjatuh.
Ini sudah beberapa menit berlalu sejak aku pertama kali meloncat ke dalam lubang tanpa dasar tersebut hingga akhirnya aku melihat sebuah cahaya dari bawah dan aku pikir itu adalah bagian dasarnya namun ternyata tidak aku tiba-tiba saja menembus awan dan seperti terjatuh dari lubang hitam di langit yang kemudian lubang hitam itu menutup sedikit demi sedikit.
"A..ah.. ohhh...tidak, lubangnya.... Aaaaarkkkkkhhh" teriakku terus jatuh hingga aku merasakan terjatuh pada sesuatu yang empuk.
"Ehh....ini empuk, bagaimana bisa aku jatuh di tempat empuk begini padahal jatuh dari tepat yang cukup tinggi?" gerutuku memikirkan. Dengan merasa sangat aneh.
Saat aku melihat ke bawah rupanya aku jatuh pada sebuah tumbuhan raksasa yang terlihat seperti bunga teratai yang mengambang di air.
Dan aku dengan susah payah menelan salivaku melihat ada burung raksasa yang terbang melewati aku tepat diatas kepalaku.
Burung itu cukup besar dan memiliki sayap yang pipih juga moncong yang panjang dan setelah aku perhatikan burung itu mirip sekali dengan sebuah burung purba di duniaku.
"AA..apa itu, apa itu burung Pteranodon?" Ucapku sambil menatapnya dengan wajah heran dan mulut yang terbuka kaget.
Hingga terdengar suara Devano dari belakang yang menanggapi ucapanku barusan.
"Iya itu memang burung purba di jaman dinosaurus yang tidak lain adalah burung Pteranodon yang dikenal pemakan ikan, dan kita dalam bahaya sekarang" ucap Devano membuatku sedikit senang ketika melihatnya.
"Ahh.... Devano akhirnya aku menemukanmu, syukurlah jika kau juga baik-baik saja, tapi tunggu apa kau bilang barusan kita dalam bahaya, maksudmu apa?" Ucapku senang dan bertanya kepada dia,
"Lihatlah ke bawahmu, banyak ikan berukuran besar di bawah kita dan bisa menyantap kita kapan saja" tambah Devano membuat aku segera memeriksa ke bawah.
Saat aku menatap ke air, rupanya apa yang dikatakan oleh Devano sungguh benar, banyak ikan-ikan yang berenang di bawah tanaman teratai yang kami duduki itu, dan ukurannya itu sangatlah besar bahkan aku tidak tahu dari jenis apa ikan-ikan tersebut.
"Wahhh....apa barusan kita jatuh ke masa lalu dan kita berada di jaman purba sekarang?" Ucapku merasa aneh dan menelan salivaku dengan susah payah.
"Ya sepertinya begitu, tapi kita berdoa saja semoga tidak bertemu dengan T-Rex karena jika kita bertemu dengannya aku yakin kita akan berakhir menjadi santapannya hanya dengan satu kali telan" ucap Devano membuat aku semakin merinding ngeri.
Aku berusaha berpikir untuk melarikan diri dari danau yang besar ini dan mencari daratan yang dekat dari sana, namun sayangnya kami sungguh jatuh di tengah-tengah danau itu sehingga sulit untuk bisa menjangkau daratan.
"Aduuhh...kenapa daratan jauh sekali, sekarang bagaimana kita akan menyelamatkan diri dan pergi dari tempat menyeramkan ini?" Ucapku bertanya-tanya pada Devano,
"Tidak tahu, mungkin kita harus pasrah saja" balas Devano yang benar-benar sudah tidak memiliki semangat hidup lagi.
Sampai tiba-tiba ketika aku tengah berusaha berdiri dan memarahi Devano pakaianku di gigit oleh seekor burung Pteranodon itu secara tiba-tiba dan aku berteriak ketakutan.
"Devano kau ini memang sialan yah" ucapku membentaknya cukup keras,
"E..E.... Emely di belakangku awas!" Teriak Devano yang memberitahuku sangat terlambat,
"Aaaaa.... Devano..... Tolong aku....aaarkkk ini tinggi sekali tolong!" Teriakku sangat ketakutan.
Sialnya aku lupa bahwa Devano tidak bisa membantuku dia saja tidak bisa menolong dirinya sendiri, bahkan di tempat yang lebih aman dari sekarang, dan aku sungguh berusaha berontak untuk melepaskan diri dari burung sialan ini namun aku tidak bisa hingga tidak lama setelah burung itu membawaku terbang dia membawaku ke sebuah perkampungan yang tidak jauh dari sana dan burung itu perlahan terbang dengan rendah lalu menurunkan aku di depan banyak orang yang berkumpul di tempat seperti lapangan kerajaan.
"Aaahh.....huh syukurlah burung itu menurunkanku, terimakasih burung baik" ucapku sambil mengelus lembut moncong burung tersebut.
Saat itu aku masih belum sadar bahwa aku diturunkan oleh burung itu dihadapan banyak orang yang melingkari lapangan besar tersebut, sehingga aku mengelus burung itu dengan pelan dan penuh kasih sayang meskipun aku sendiri sebenarnya sangat takut hingga membuat tanganku bergetar.
Namun ternyata burung itu jinak dan dia sama sekali tidak berniat memakanku hingga tiba-tiba seseorang memanggil dan burung itu kembali terbang ke atas.
__ADS_1
"KAU.....SIAPA KAU?" ucap seseorang dengan suara yang mendominasi dan membuat aku kaget.
Saat berbalik aku benar-benar merasa kaget melihat di hadapanku ada sebuah mimbar tempat duduk yang berjajar rapih dan orang-orang yang mengelilingi lapangan itu, serta disisi lain aku melihat ada seorang pemuda yang tengah diikat diatas sebuah kayu besar serta ada sebuah tali berbentuk lingkaran di depannya, kedua tangan dan kaki pria tersebut di ikat dengan kuat menggunakan sebuah tali yang besar dan aku sangat panik melihat dia terus di dorong oleh dua orang di belakangnya yang memakai pakaian sangat aneh seperti di jaman kerajaan kuno.