Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Rencana


__ADS_3

Sampai tidak lama aku pun berusaha untuk memberitahu rekan-rekan ku yang lain mengenai ide yang aku pikirkan selama ini, aku mengajak mereka untuk berkumpul segera dan langsung membicarakannya.


"Teman-teman aku punya sedikit ide di kepalaku tapi aku tidak tahu ini akan berhasil atau tidak namun tidak ada salahnya jika kita membahasnya dahulu, jadi bisakah kalian berkumpul mendekat agar aku bisa membicarakannya pada kalian dengan jelas" ujarku kepada mereka.


Seketika Avan, Arshaka dan yang lainnya langsung mendekat ke arahku dan kami sudah melingkar sekarang.


"Ayo Emely katakan saja idemu itu" balas Devano kepadaku yang segera aku balas dengan anggukan saat itu juga.


"Begini... Bagaimana jika kita membuat pasukan hewan lagi untuk menggantikan kelinci itu, aku juga merasa bersalah pada kakek tetua karena sudah menghancurkan semua kelinci tersebut, dan kita bisa mencari hewan lain di hutan yang bisa kita gunakan atau kita latih hingga bisa sejinak kelinci itu" ucapku kepada mereka semua,


"Tapi Emely menjinakkan hewan butuh waktu yang tidak sebentar, apa kamu yakin semua itu akan cukup?" Balas Arshaka yang memang ada benarnya,


"Iya... Kau benar dengan hal itu, tetapi kita juga tidak memiliki pilihan lain, atau apakah kalian punya ide lain agar kita bisa secepatnya mencari satu lagi rekan kita?" Balasku kepada Arshaka dan kepada mereka semua.


Seketika semua teman-temanku menggelengkan kepala sambil menghembuskan nafas lesu, mereka semua juga tidak ada ide lain namun yang di katakan oleh Arshaka juga ada benarnya hingga tidak lama Brox mulai mengeluarkan suara.


"Emm.... Sebenarnya aku bisa saja menghipnotis hewan itu dengan cepat, namun energiku terbatas" ucap Brox membuat kami semua menatap ke arahnya dengan cepat.


Aku adalah yang paling antusias ketika mendengar bahwa Brox bisa mengendalikan hewan itu dengan hipnotis di dalam ruang bawah sadar mereka, seketika aku langsung mendekatinya dan menanyakan kepada dia lebih dalam lagi mengenai hipnotis yang bisa dia lakukan tersebut.


"Ahh.... Kenapa kau tidak bilang dari tadi jika kau bisa mengendalikan hewan dengan cara seperti itu, ini adalah kesempatan yang bagus kita ber lima akan mencari hewannya dan kau bisa mengendalikan hewan itu dengan kekuatan yang kau miliki, hingga ketika semuanya sudah terkumpul banyak kita bisa memberikannya pada kakek tetua dan kita bisa segera pergi dari sini" ungkapku mengatakannya.


Semua orang langsung menatap senang ketika mereka sudah memahami apa yang aku pikirkan sedari tadi.

__ADS_1


"Wahh.... Itu benar, kau memang cerdas Emely" ujar Avan menanggapi,


"Iya, kalo begitu ayo kita cari hewannya sekarang juga" balas Arshaka yang nampak paling antusias,


"Tunggu!" Kata Brox yang tiba-tiba saja menahan kami,


"Kenapa? Apa ada hal lain lagi?" Tanyaku kepada Brox dengan heran.


Dia terlihat cukup serius dan dia menatapku dengan lekat sampai dia berbicara ketika Vayu sudah mendesaknya.


"Hey cepat bicara, jangan membuang-buang waktu yang berharga!" Ujar Vayu mendesaknya.


"Begini semuanya, hewan di negeri pelangi ini tidak semudah yang kalian pikirkan untuk menangkapnya, mereka juga pandai bersembunyi dan mereka begitu lincah, kalian harus berhati-hati saat mencoba menangkap mereka, ada yang kita pikir hewan kecil dan tidak berbahaya namun itu justru lebih berbahaya daripada yang besar, aku harap kalian bisa selamat saat menangkap hewan di hutan pelangi ini" ungkapnya kepada kami,


"Aishh.... Tenang saja kita semua adalah pemilik kekuatan elemen, jadi tentu saja kami bisa menangani apapun dengan kekuatan yang kami miliki kau tidak perlu mencemaskan hal itu" balas Avan dengan penuh percaya diri.


Aku mengerti mungkin dia merasa minder karena merasa dirinya yang paling berbeda dengan mereka semua dan Devano justru merasa dirinya tidak berguna di tim itu, padahal dia lah yang paling berpengaruh diantara yang lainnya.


Sebab hanya dia lah yang bisa menyembuhkan penyakit apapun dalam tubuh kecuali jika itu sebuah kutukan seperti bulatan hitam yang memenuhi sekujur tubuh, tidak terkecuali dengan wajah dan kedua tanganku.


Devano mungkin merasa tersinggung sehingga dia langsung menyingkir dari sana dan sedikit menjauh sedangkan aku segera menahan tangannya untuk membuat dia tidak menghindar dari kami semua yang tengah membahas hal penting seperti ini.


"Avan benar, kau tidak perlu mencemaskan kami, Devano akan membantu menyembuhkan luka di tubuhnya dan membuat energi di dalam tubuhnya menjadi lebih kuat, biar aku dan yang lain pergi menangkap hewan di hutan tersebut" ujarku membagi tugas dengan mereka semua.

__ADS_1


Setelah mendengarkan ucapanku mereka semua mengangguk mengerti begitu pula dengan Brox yang akhirnya dia setuju melakukan semua itu, aku, Arshaka, Avan dan Vayu bersiap untuk pergi ke hutan, namun Devano tiba-tiba saja menahan tanganku dan dia menatap dengan tatapan sedih kepadaku, melihat itu aku meras tidak enak hati dengannya dan segera aku menghampirinya dengan cepat juga memegangi tangannya itu.


"Devano kau adalah yang terbaik, kau istimewa aku tidak akan bisa sehebat ini jika bukan karenamu yang mempertemukan aku dengan Mbah Kerto, lakukan apa yang sudah di rencanakan, aku yakin kau bisa melakukan yang terbaik" ujarku sambil memegangi tangannya dan meyakinkan dia saat itu,


"Tapi Emely aku..." Balas Devano yang masih saja merasa tidak percaya diri dengan kemampuan dirinya sendiri,


"Devano lihat mataku baik-baik, kau dan aku adalah manusia, makhluk yang paling kuat dan hebat, kita juga berasal dari dunia permukaan kita bisa melakukan segalanya, aku percaya pada dirimu jadi tidak ada alasan untuk kau merasa ragu apalagi minder dengan yang lainnya, kau yang menyelamatkan aku dan Avan, kau juga yang menyelamatkan ibunya Arshaka dan kau juga yang saat ini akan membantu kita semua, tolong sembuhkan Brox, dia sangat membutuhkan dirimu" ucapku kepadanya sambil memegangi kedua bahunya.


Aku segera pergi dari sana dan melambaikan tangan kepada Devano juga memberikan semangat kepadanya, lalu Vayu mulai memegangi pinggangku dan dia langsung membawa aku terbang sedangkan Arshaka turun menggunakan akarnya begitu juga dengan Avan yang berseluncur dengan es yang dia keluarkan.


"Wahhh.... Mereka ber empat sangat hebat, aku kagum melihat kekuatan luar biasa yang mereka miliki, akankah aku bisa membantu mereka?" Ucap Brox melihat mereka semua mulai masuk ke dalam hutan.


Devano mendekatinya dan segera meminta Brox untuk mengulurkan tangan kepadanya, agar dia bisa memeriksa dahulu seberapa parah luka yang di alami tubuh Brox saat ini.


"Brox ulurkan tanganmu biar aku memeriksanya" ujar Devano kepada Brox dengan serius.


Brox menatap dengan membuka matanya lebar dan menaikkan kedua alisnya merasa heran sebab dia sama sekali belum mengetahui kekuatan apa yang di miliki oleh Devano sebenarnya karena sejak awal dia juga tidak pernah melihat Devano mengeluarkan api, es, ataupun tanah dari tubuhnya tersebut.


"Ehh.. apa yang mau kau lakukan kepadaku, apa kau mau membalas dendam?" Tanya Brox merasa sedikit takut,


"Tidak akan aku hanya akan menyembuhkan mu, sudah ulurkan tanganmu dan percayakan saja padaku, aku akan membuatmu memiliki energi yang lebih kuat dari sebelumnya" balas Devano sambil berusaha meraih tangan Brox.


Meski sedikit ragu dan takut namun Brox tetap mengulurkan tangannya menuruti ucapan dari Devano hingga ketika Devano menyentuh telapak tangannya muncul sebuah cahaya kecil dari sana dan Devano terus menutup matanya berubah untuk memfokuskan diri sampai dia berhasil menemukan titik lemah di dalam tubuh Brox yang membuat dia menjadi lemah dan energinya tidak sekuat sebelumnya.

__ADS_1


"Wahh... Kau seorang tabib sihir yah?" Ujar Brox merasa kagum dengan kekuatan yang di keluarkan oleh Devano, padahal saat itu hanyalah sebuah permulaan saja.


Devano juga hanya menganggukkan kepala dan dia segera menyuruh Brox untuk duduk menghadap ke depan jendela agar tubuhnya terkena paparan sinar matahari secara langsung sedangkan dirinya duduk melipatkan kedua kalinya menghadap ke arah punggung Brox dan dia mulai memberikan aba-aba kepada Brox.


__ADS_2