
Aku berusaha berjalan pelan agar bisa memergoki siapa manusia yang menjerit barusan dan sampai sekarang terus saja terdengar sebuah erangan di balik semak-semak belukar yang tinggi menjalar di hutan tersebut, aku semakin penasaran dan semakin mendekati tempat tersebut dengan perlahan namun pasti, semakin aku berjalan dekat ke sana semakin erangan dan ringisan seseorang yang seperti tengah kesakitan parah terdengar semakin jelas dan dekat dari telingaku saat itu.
"Aaarrgghhhhkkkk....aaaaahhh...." Suara erangan seseorang tersebut yang semakin keras terdengar.
Walau perasaanku sebenarnya sangat takut dan cemas namun aku tetap memberanikan diri untuk melihatnya hingga saat aku rasa sudah sangat yakin bahwa suara erangan yang sangat keras itu ada di balik salah satu semak-semak yang ada di sampingku, langsung saja aku membuka semak tersebut sekaligus dengan kedua tanganku dan aku meloncat ke depannya melihat seorang pemuda duduk tertunduk sambil membelakangi aku dan dia terlihat seperti sangat kesakitan saat itu.
"Si...siapa dia?" Batinku bertanya-tanya.
Aku merasa sangat takut karena disaat aku datang memergokinya dengan keras dia justru sama sekali tidak terusik dengan kedatanganku dan dia masih saja sibuk seperti tengah memegangi bagian dadanya, sehingga aku perlahan berjalan mendekatinya dan berusaha untuk memegangi pundaknya saat itu, sambil terus berbicara pelan menyapanya.
"Hey...siapa kau, apakah kau baik-baik saja?" Ucapku sambil menyentuh pundaknya pelan,
Tiba-tiba saja disaat aku menyentuh pundaknya pemuda tersebut langsung saja jatuh tergeletak dengan darah yang keluar mengalirk dari dada sebelah kanannya, aku sangat kaget dan refleks langsung menutup kedua mulutku yang terbuka saking syok nya melihat pemuda itu berlumuran darah dan sebuah panah menancap di dadanya cukup dalam, hingga tidak lama sebuah suara keras terdengar di balik semak-semak yang tidak jauh dari tempat aku menemukannya.
Aku tidak tahu itu suara apa namun suaranya seperti seseorang yang tengah mengobrol kurang jelas dengan bahasa yang tidak aku mengerti, aku langsung semakin mendekati pria yang terluka tersebut dan aku segera menyeret dia dengan sekuat tenagaku untuk bersembunyi di balik pohon karena aku tahu seseorang pasti akan datang ke tempat itu, dengan begitu aku juga segera menghilangkan bekas darah pemuda itu di tanah dan membakarnya dengan apiku secepat kilat.
Hingga aku berhasil menyeret tubuh pemuda tersebut hingga kami bersembunyi di balik salah satu pohon yang cukup besar di tempat itu, sampai segerombolan orang yang terlihat membawa busur panah berjalan ke tempat pertama dimana aku menemukan pria itu terluka dan melingis kesakitan.
Aku juga membekap mulut pemuda tersebut dan menyuruhnya untuk diam agar kami tidak di ketahui oleh orang-orang aneh yang setengah dari tubuhnya berbentuk seperti manusia dari atas pinggang hingga ke kepala namun dari pinggang hingga ke bawah dia berbentuk seperti keledai, dan itu sangat mengerikan untuk di ceritakan atau aku lihat terlalu lama.
Mataku terbelalak lebar dan sangat kaget juga kaki yang mulai bergetar hebat saat pertama kali melihat sejenis makhluk yang aneh seperti itu, ini adalah pertama kalinya aku melihat ada makhluk setengah manusia dan setengah keledai seperti itu, wajah mereka juga mirip seperti kera dengan hidup yang besar dan wajah yang bengis membawa anak panah di punggung mereka juga berjalan sangat sangat cepat bak seekor keledai sungguhan, bahasa yang di gunakan oleh mereka untuk berkomunikasi satu sama lain juga sangat tidak aku mengerti sedikitpun dan aku tidak tahu itu makhluk jenis apa, hingga makhluk itu kembali melanjutkan jalannya dan pergi ke arah berlawanan dimana aku muncul sebelumnya.
__ADS_1
"Astaga, makhluk macam apa tadi, itu sangat menyeramkan aahhh aku benar-benar tidak ingin melihatnya lagi" gerutuku bicara pelan dan memegangi dadaku sendiri.
Jantungku terus berdetak kencang karena aku sangat ketakutan sebelumnya, mereka terlalu menyeramkan untukku sedang kini aku beralih ke pada pemuda yang masih terlihat menahan sakit di dalam dirinya, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan kepada pria itu tanpa Devano yang bisa menyembuhkan segala jenis penyakit dan luka pada seseorang.
"Ahhh... Iya pemuda ini, bagaimana caranya aku membantu dia?" Ucapku bicara kebingungan.
Hingga pria itu meminta tolong kepadaku untuk menarik busur panah itu dari dadanya dengan secepat yang aku bisa.
"Tolong... Siapapun kau tolong cabut busur panas ini dariku, cabut dengan sekaligus!" Ucapnya sambil memegangi tanganku dengan erat.
Aku tidak bisa berpikir lama lagi saat itu karena aku melihat pemuda itu terlihat sangat kesakitan, jadi aku langsung mengangguk patuh kepadanya dan segera memegangi busur panah itu lalu memberikan aba-aba kepadanya untuk segera menarik busur panah yang menancap pada dadanya sekaligus.
"Baik....satu...dua...tiga!" Ucapku memberikan aba-aba dan aku langsung menarik busur panah itu sekaligus dari dadanya dan teriakkan pemuda itu sangatlah keras sampai membuat burung-burung yang hingga di atas pohon tersebut berterbangan kabur dari sana sekaligus.
Aku langsung membakar hangus busur panah itu dengan tanganku dan aku segera memegangi pemuda itu aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk bisa menyembuhkan dia.
"Ahh... Apakah itu sangat sakit, maafkan aku, aku tidak bermaksud melakukannya dengan kasar aku minta maaf" ucapku merasa bersalah kepadanya,
"Tolong... Aahhh ini sakit tolong aku" ucap pria itu memegangi tanganku dengan erat.
Aku sungguh sangat bingung hingga tidak lama Vayu dan Brox datang menghampiriku dan aku tidak tahu bagaimana mereka bisa menemukan aku disana.
__ADS_1
"Emely rupanya kau disini aku tadi mendengar suara teriakkan seseorang yang sangat keras aku pikir itu kau" ucap Vayu dengan matanya yang terlihat cemas kepadaku,
"Astaga... Emely siapa itu?" Ucap Brox sambil menunjuk ke arah pemuda yang masih terlihat kesakitan dengan memegangi dadanya yang berlumuran darah dan terluka cukup parah.
Vayu langsung menarik tanganku hingga membuat aku menjauh dari pria tersebut yang tengah kesakitan dia mencemaskan aku dan menyuruh aku untuk berjaga-jaga darinya, namun aku segera menjelaskan kepada mereka berdua bahwa pria tersebut bukanlah seseorang yang berbahaya sama sekali.
"Kemarilah Emely kau tidak boleh berada dekat darinya, kita tidak tahu apakah dia jahat atau tidak" ucap Vayu yang langsung menarik tanganku dengan kuat ke sampingnya,
"Ahhh .... Vayu Brox kalian jangan khawatir pemuda ini bukanlah orang jahat aku yakin dengan hal itu karena aku menemukannya saat dia di kejar oleh segerombolan makhluk aneh yang sangat menyeramkan, bisa saja dia sama seperti kita, seseorang yang jatuh dari atas dan terjebak disini, kita harus membantunya dia sangat kesakitan sekarang" ucapku menjelaskannya kepada Brox dan Vayu.
"Tapi Emely bagaimana cara kita menolongnya luka di dadanya ini cukup parah kita tidak memiliki apapun di tempat ini bahkan tidak ada tumbuhan yang bisa kita temukan untuk mengobati lukanya, aku sudah berkeliling cukup lama di sekitar hutan ini sebelumnya tidak pernah aku temukan tanaman obat satu pun" balas Vayu kepadaku.
Aku dan Brox hanya bisa menghembuskan nafas dengan lesu hingga aku mulai teringat dengan sesuatu ketika aku mengibaskan rambutku ke belakang telinga dan aku merasakan bunga pemberian dari ibunda Arshaka saat itu.
Aku pun segera mengambil bunga yang hanya bisa di lihat oleh aku dan Arshaka saja saat itu, aku memegangi bunga itu dan berpikir keras untuk memberikannya atau tidak kepada pemuda tersebut, karena bunga itu adalah bunga obat yang sangat ajaib bahkan lebih baik dari buah ajaib yang bisa mengisi energi dari hutan milik mbah Kerto sebelumnya.
"Apakah aku boleh menggunakan bunga ini untuk orang lain?" Batinku memikirkan.
Aku sungguh dilema saat itu, memang ibunya Arshaka tidak pernah mengatakan kepadaku bahwa bunga itu hanya perlu dipakai oleh siapapun tetapi aku hanya menghargai pemberian dan amanat darinya, sekali lagi aku melihat ke arah pria yang meringis kesakitan sambil memegangi dadanya yang terus mengeluarkan darah segar, bibir dan wajahnya sudah terlihat pucat saat itu dan aku sudah sangat terdesak untuk menolongnya.
Akhirnya terpaksa aku harus mengambil satu kelopak bunga tersebut untuk pertama kalinya agar bisa menyembuhkan dan menyelamatkan nyawa pemuda tersebut, meski aku tidak mengenali dia tetapi aku tahu dia manusia sama sepertiku yang pantas untuk hidup.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku harus melakukan ini demi nyawa seseorang yang harus aku selamatkan" batinku memutuskan.
Aku segera mengambil satu kelopak bunga tersebut dan kembali sisanya aku pakai di sela-sela telingaku lagi sedangkan kelopak bungan yang aku cabut itu, tiba-tiba saja bisa di lihat oleh Brox dan Vayu sehingga mereka kaget melihat sebuah kelopak bunga yang berwarna pink dan sedikit bercahaya di tanganku saat itu.