
"Ohhh....tidak Abaddon bisa lebih menyeramkan dan lebih kuat jika Emely menantangnya seperti itu, kita harus bagaimana sekarang?" Ucap kakek tetua yang terlihat juga sudah sangat lemah karena dia bener kali mendapatkan serangan balasan dari Mauren sebelumnya.
Seketika Mauren langsung memperlihatkan sorot matanya yang sangat tajam dan begitu merah dia langsung saja mengangkat bagian tangannya yang terlihat banyak sekali terdapat darah segar saat itu, dia seperti tengah menarik didinya sendiri dengan kuat hingga suara erangan begitu keras saat itu.
"Aaarrrkkh......." Teriakkan Mauren yang suaranya sudah tiba-tiba saja berubah menjadi suaranya yang normal lagi saat itu.
Aku kaget melihat wajahnya yang sangat terlihat pucat pasi dan dia langsung saja terjatuh ke bawah begitu saja sedangkan aku juga mulai melihat sosok yang besar dan tinggi sangat menyeramkan dengan gigi taring yang hitam juga tajam serta dua tandu yang begitu besar di kepalanya.
Sorot mata yang merah dan tajam dengan tangan berkuku panjang juga mulutnya seperti sobek dari ujung telinga ke ujung telinga yang lainnya.
"Ohh ...tidak Mauren.....Avan... Tangkap dia!" Teriakku saat itu.
Untungnya Avan berhasil menangkap Mauren yang saat itu sudah terkulai lemas tidak sadarkan diri, entah dia masih hidup ataupun tidak aku sama sekali tidak mengetahuinya saat itu, karena konsentrasi diriku langsung beralih kepada makhluk menyeramkan yang semakin membesar di hadapanku saat itu.
Iya dia adalah iblis Abaddon sang raja iblis dari para iblis, dia adalah iblis terkuat dari yang lainnya, memiliki ekor yang cukup panjang dengan tubuhnya yang menyerupai manusia tanpa busana saat itu, wajahnya benar-benar sangat menyeramkan dan sekujur tubuhnya terlihat merah menyala, dia berteriak sangat kencang dan membuat bumi berguncang sangat cukup kuat sampai membuat semuanya menjadi jatuh saat itu.
"Aaarrkkkkkk......" Teriakkan iblis Abaddon yang sangat kencang dan menyeramkan saat itu.
Nafasnya yang begitu besar terdengar seperti hembusan angin yang besar sampai aku yang melihatnya langsung saja mundur menjauh darinya karena aku juga merasa sedikit gemetar ketika melihat iblis tersebut saat itu.
"Astaga....ini gawat, kalian semua cepat bersatu dengan Emely dan bantu dia, kalian harus menggabungkan kekuatan untuk mengalahkannya, cepat waktunya sudah tidak lama lagi" bentak Mbah Kerto kepada teman-temanku yang lain ya saat itu.
Mereka semua langsung pergi menghampiri aku yang masih berusaha tengah melawan Abaddon dengan kekuatan yang aku milikku, aku juga terus menangkis serangan darinya yang cukup menguras energi dalam tubuhku saat itu.
"Aaahhhh ...." Sebuah serangan dari Abaddon yang berhasil mengenai salah satu sayapku sampai aku sedikit kehilangan keseimbangan saat itu.
Namun untungnya Vayu datang tepat waktu dia memegangi pundakku dan membantu aku untuk kembali terbang dengan seimbang, aku terperangah kaget melihat semua teman-temanku sudah berdiri di sampingku dan tidak hanya itu bahkan Devano juga ada disana dia menunggangi naga bayangan milik Erebus saat itu.
"KA..KA...kalian...untuk apa kalian disini, kalian harus melindungi tetua dan menyelamatkan Mauren, dan kau Vayu bukankah kau baru sadar untuk apa kau kemari, cepat menjauh dari sini, ini sangat berbahaya" ucapku kepadanya dengan tegang,
"Karena ini sangat berbahaya kami semua harus membantumu, kau lihat ke bawah sana, kakek tetua, Mbah Kerto juga putra mahkota sang raja dan ibunya Arshaka juga mengalihkan fokus dari Abaddon ini saatnya kita menyatukan kekuatan agar bisa mengalahkan iblis jahat itu" ucap Vayu memberitahuku.
Aku berpikir sejenak dan melihat ke arah teman-teman yang lain sampai mereka langsung mengangguk menyetujuinya dan aku pun segera mengikuti apa yang ingin mereka lakukan, mereka berdiri di belakangku dan terus saja mulai mengeluarkan kekuatan mereka hingga menyalurkannya ke belakang punggungku saat itu.
Di mulai dari Devano, Avan, lalu Arshaka, Vayu, Brox dan di akhirat dengan Erebus, semua kekuatan itu terlihat berbentuk seperti sebuah pelangi yang menembus ke dalam belakang tubuhku tepat mengenai sayapku saat itu.
Berbagai kekuatan masuk ke dalam tubuhku dan berusaha aku serap semuanya juga aku kumpulkan dengan baik.
Sedangkan disisi lain kakek tetua yang terlihat sudah sangat lemah dia masih berusaha menyerang Abaddon untuk mengalihkan perhatian iblis itu dariku dan teman-teman yang lain, Mbah Kerto juga sudah berkali kali terjatuh dengan kencang hingga dia kesulitan berdiri saat ini, bahkan sang putra mahkota saja sudah terpental cukup jauh menghantam salah satu bangunan tinggi dan kuat disana hingga bangunan itu terlihat hancur dan rusak.
"Aaaahhh ...brukkk...." Suara teriakkan sang putra mahkota yang pernah aku lihat.
Melihat semua orang berjuang untuk mengalahkan sang iblis terkuat Abaddon, aku benar-benar merasa kesal dan marah terutama ketika melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri bahwa orang-orang yang membantuku mulai berjatuhan satu per satu saat itu.
__ADS_1
Aku sungguh tidak bisa benar-benar berfokus pada kekuatan dalam diriku juga apa yang teman-teman berikan kepadaku saat itu karena aku masih bisa melihat semua kekacauan dan rasa sakit dari teriakkan mereka yang berkali-kali di kalahkan oleh Abaddon dengan mudah.
"Emely....jangan cemaskan kami, tutup matamu dan fokuslah Emely!" Teriak Mbah Kerto kepadaku.
Aku tidak bisa menutup mataku di saat situasi seperti ini, dan semuanya sungguh terasa sangat tegang juga begitu menakutkan untukku, sebelumnya aku belum pernah merasakan rasa takut sebesar ini.
"Tidak...aku tidak bisa, aku harus menolong kalian, aku tidak bisa menyatukan kekuatan kami seperti ini, aku tidak bisa fokus" balasku kepadanya,
"Emely kau harus bisa kau harus mencobanya hanya itu satu-satunya cara agar Abaddon bisa di musnahkan, ayo Emely kenapa kau diam saja tutup matamu dan fokuslah!" Bentak Devano kepadaku saat itu.
Aku tahu dan aku bisa merasakan bahwa semua teman-teman tim ku merasakan energi mereka yang mulai menurun, aku tahu seberapa banyak serangan yang Abaddon lontarkan kepada mereka sebelumnya di tambah semua anak buah Abaddon begitu banyak mengelilingi kami dan mengepung kami semua saat itu.
Aku berusaha menarik nafas dengan dalam dan mulai menutup mataku agar bisa fokus saat itu, namun sayangnya aku sama sekali tetap tidak bisa berfokus dengan benar hingga aku justru malah kembali membuka mataku dengan nafas terengah-engah sebab suara teriakkan dan rasa sakit dari kakek tetua juga ibunya Arshaka terdengar begitu jelas olehku saat itu.
"Ahh...hah...hah...aku sungguh tidak bisa berfokus dalam keadaan seperti ini, aku harus bagaimana sekarang?" Ucapku merasa sangat payah dan tidak berguna saat itu.
"Emely kenapa kau melakukan ini, sampai kapan kau akan menyiksa kami semua, jika kau tetap tidak bisa melakukannya kakek tetua, Mbah Kerto dan yang lainnya pasti akan benar-benar berhasil di kalahkan oleh Abaddon, dan kita juga tidak memiliki waktu lagi" ucap Arshaka kepadaku.
Aku hanya bisa menunduk dengan lesu tanpa tahu harus melakukan apa.
Hingga tidak lama kemudian aku melihat Pelik terbang ke arahku dan dia tersenyum padaku dengan cepat, aku sangat merindukannya setelah sekian lama sudah berpisah dengan dia.
"Pelik.....kamu...kamu...apakah kamu baik-baik saja" ucapku menanyakan kabarnya.
"Emely.....kau harus fokus, ayo tutup matamu aku akan menutup kedua telinganya juga" ujar Pelik padaku saat itu.
Aku bisa merasa jauh lebih tenang ketika Pelik sudah berada di sampingku saat itu, segera aku mengangguk dengannya dan dia langsung saja menempelkan kedua lengan dinginnya itu pada kedua telingaku, aku juga segera menutup mataku secara perlahan lalu Pelik mulai meminta ke enam temanku yang ada di belakang untuk kembali menyalurkan kekuatannya kepadaku.
"Teman-teman ayo lakukan sekarang" ujar Pelik memberikan aba-aba saat itu.
Sementara tidak jauh dari sana kakek tetua kembali mendapatkan serangan yang sangat kuat dari ekor Abaddon dan dia langsung terhempas bermeter-meter jauhnya dari tempat mereka bertarung sebelumnya.
"Ohok....ohok.....aaaahhkkkk...aku sudah tidak tahan lagi....ahhkkk" ucap sang kakek tetu saat itu.
Ibunya Arshaka segera mendekati sang kakek tetua dan berusaha untuk membantunya dengan kembali memberikan bunga energi ke dalam mulutnya secepat yang dia bisa namun sayangnya bunga energi itu juga masih memerlukan waktu untuk menyembuhkan semua luka dalam yang parah pada kakek tetua.
Saat itu ibunya Arshaka tidak melihat ke belakang bahwa Abaddon mulai bersiap menyerang ke arah dirinya lagi dan hal tersebut di ketahui oleh kakek Kerto juga sang putra mahkota kerajaan, dengan cepat kakek Kerto berusaha menahan serangan dari Abaddon yang hampir saja mengenai ibunya Arshaka saat itu, tapi meski dia berhasil menangkis serangan itu, kini dirinyalah yang langsung jatuh tersungkur dan tidak memiliki energi lagi untuk terbang.
"Awas!" Teriakkan Mbah Kerto saat itu, sambil menghadang serangan dari Abaddon yang sangat kuat.
"Bruk.......prakkk......aaaakkkkkk...." Teriak Mbah Kerto yang meringis kesakitan saat itu.
Dia orang yang paling hebat sudah jatuh terkulai lemas dan mereka tidak bisa melakukan apapun lagi sampai Abaddon mulai mendekati kakak tetua yang sudah tidak sadarkan diri saat itu, juga Mbah Kerto yang terlihat masih meringis kesakitan memegangi dadanya yang terasa sakit juga darah yang kembali keluar dari mulutnya saat itu.
__ADS_1
"Ahahah.....kalian para manusia tua yang tidak berguna, kalian tidak akan bisa mengalahkan aku yang perkasa hahaha!" Gelegaran tawa Abaddon yang terlihat sangat puas karena dia berhasil menumbangkan dia sang pengendali elemen kekuatan saat itu.
Kemudian dia langsung beralih menatap ke arah Emely dan ke enam temannya yang tengah menggabungkan kekuatan saat itu, Abaddon langsung saja terlihat marah dan taringnya semakin memanjang saat dia marah.
"Aaaarkkkkk....sialan kalian telah membohongiku, rasakan serangan ku ini, hiaaaaaaaa......brusssss" Ucap Abaddon dengan suaranya yang berat dan begitu menakutkan.
Iblis itu langsung saja menyerang ke arah Emely saat itu namun untungnya ada Pelik yang masih setiap menutup telinga Emely, dia langsung saja memasangkan tameng pelindung yang di wariskan oleh nenek Emely kepada dirinya yang selalu dia pakai untuk melindungi Emely dari berbagai hal yang akan melukainya sejak Emely kecil.
Dia membuat tameng sekuat yang dia bisa namun sayangnya kekuatan itu tentu saja tidak sebanding dengan kekuatan Abaddon yang sangat dahsyat.
Saat kekuatan Abaddon mengenai tameng pelindung yang di buat oleh Pelik langsung saja dengan perlahan tameng itu mulai retak dan Abaddon sudah tertawa dengan puas karenanya.
"Hahah....kau dasar makhluk gentayangan yang tidak tahu diri, kau bahkan tidak bisa bersanding berdampingan dengan manusia yang memiliki jiwa seperti itu, jika kau mau aku mengantarkanmu ke alam baka maka ikutlah denganku makhluk sialan!" Ucap Abaddon yang menatap tajam ke arah Pelik saat itu.
Pelik memang tidak bisa merasakan sakit di tubuhnya tapi dia masih memiliki hati dan perasaan layaknya manusia, dia sama sekali tidak memperdulikan apa yang dilontarkan oleh Abaddon saat itu dan dia masih dengan setia menunggu penyatuan kekuatan tersebut berada menuju puncaknya, sampai ketika Abaddon mulai memberikan dia serangan dengan cepat Devano yang melihat itu dan dia telah selesai memberikan kekuatan yang dia miliki kepada Emely, dia meloncat dari naga bayangan milik Erebus dan langsung saja menghadap kekuatan Erebus yang hampir mengenai Emely saat itu.
"Ohhh ...tidak Emely awas!" Teriak Devano yang justru kini malah dia yang terkena serangan Erebus tersebut sampai dia langsung jatuh dengan bebas ke bawah.
Emely bisa merasakan tubuh Devano yang menghantam tubuhnya dengan sangat keras sampai membuat proses pengumpulan kekuatan berhenti juga tangan Pelik yang sudah tidak menutupi telinga Emely lagi, sehingga Emely bisa melihat dan mendengar dengan jelas Devano yang mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan dia dan melindungi dirinya saat itu.
"Devano....." Teriakku sangat kencang dan langsung saja aku terbang turun ke bawah untuk menyelamatkan Devano yang baru saja memuncratkan darah dari mulutnya begitu banyak.
Tangannya terlihat menjulur ke arahku dan aku berusaha mempercepat terbangun untuk meraih tangannya hingga ketika kami sudah berada beberapa meter lagi dengan tanah aku berhasil meraih tangan Devano dan langsung saja menarik tubuhnya ke dalam dekapanku.
Aku tidak bisa membiarkan dia terluka seperti ini, aku akan melakukan apapun untuk membuatnya tetap sadar dan bangun.
Sedangkan kelima temanku juga Peluk terus saja melawan Abaddon di atas sana dengan semua kekuatan yang bisa mereka keluarkan sekuat tenaganya.
"Devano.... Devano bangunlah Devano kau harus menatapku kau harus baik-baik saja, bukankah kau pemilik kekuatan penyembuhan ayo sembuhkan dirimu bodoh!" Bentakku berbicara kepada Devano sambil terus mengguncang kepalanya saat itu.
Sampai Devano terlihat mulai membuka matanya perlahan kepadaku juga bibirnya yang masih bisa tersenyum di saat sebagian wajahnya habis dengan darah saat itu.
Perlahan dia mengangkat tangannya dan dia memegangi pipiku saat itu dengan mengusapnya lembut.
"Emely kau selalu cantik dimataku sejak aku pertama kali melihatmu, aku sangat menyukaimu Emely, kau harus tahu itu" ucap Devano kepadaku yang membuat aku semakin tidak bisa menahan tangisku di hadapannya.
"Aku tahu itu bodoh, sekarang ayo cepat sembuhkan dirimu, mau harus kembali sembuh dan kita bisa mengalahkan iblis sialan itu bersama" ucapku kepadanya, dengan air mata yang mulai keluar dari pelupuk mataku.
"Emely tahukan kamu bahwa seorang dokter saja terkadang tidak bisa menyembuhkan dirinya sendiri, begitu pula denganku...ohok...ohok...." Ucap Devano dengan terbatuk dan wajahnya terlihat semakin pucat.
Aku langsung menggelengkan kepala dengan kuat dan aku sangat yakin bahwa Devano tidak sama dengan seorang dokter, aku terus saja meyakinkan dia untuk bisa menyembuhkan dirinya sendiri saat itu.
"Kau bisa...kau tidak sama dengan dokter kau pemilik kekuatan penyembuhan kau harus bisa menyembuhkan dirimu" ucapku kepadanya,
__ADS_1
"Emely tolong jangan menangis, aku tidak akan meninggalkanmu, sekarang kau kembalilah ke atas sana bantu kelimat teman kita, lihatlah mereka sudah terdesak hanya kau yang bisa mengalahkan iblis itu, pergilah Emely" ucap Devano yang justru malah terus meminta aku untuk pergi.