Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Pohon Ajaib


__ADS_3

Karena pohonnya sangat besar, sulit sekali untuk aku memanjatnya, di tambah tidak ada ranting yang bisa aku gunakan sebagai pijakan atau pegangan untuk pertama memanjat, aku beberapa kali berusaha memanjatnya namun malah terjatuh lagi dan lagi ke tanah dengan terjungkal ke belakang dan merasakan pinggangku yang sangat sakit juga tanganku yang baret.


"Bruk....aduhh.... sakit sekali, aishh.... Devano tolong bertahanlah, aku akan mencari sesuatu untuk bisa mendapatkan buah di pohon itu" ucapku sambil terus berusaha.


Aku tidak patah semangat dan mengambil batu juga beberapa ranting pohon di sekitar sana lalu melemparkannya pada buah yang sedikit ranting berwarna merah diatas pohon itu, namun anehnya disaat batu yang aku lemparkan akan mengenai salah satu buah di pohon tersebut, tiba-tiba saja ranting dan buahnya seperti bergerak sendiri menghindari lemparan batu dariku.


"Hah?....apa aku salah lihat barusan? Kenapa pohonnya seperti bergerak dengan aneh?" Gerutuku sambil menggosok mataku memastikan.


Aku masih tidak bisa mempercayai apa yang aku lihat sebelumnya sehingga aku mulai mencobanya lagi untuk yang ke dua kalinya aku lempar menggunakan sebuah batu yang cukup besar dan segera meleparnya dengan sekuat tenaga.


Dan hasilnya tetap sama disaat batu itu sudah hampir mengenai buah di pohon tersebut, ranting dan buahnya seperti bergerak sendiri dan hidup, bahkan saking kagetnya aku langsung terjatuh.


"Aaa.... Ahh.... Ini nyata, pohonnya hidup" ucapku semakin ketakutan.


Aku menelan salivaku susah payah dan segera bangkit lalu berjalan perlahan mendekati pohon itu, aku sangat yakin bahwa pohon itu bukanlah pohon biasa aku sudah melihat sebanyak dua kali dimana pohon itu bisa hidup dengan gerakkan yang aneh, sebab tidak mungkin angin bisa menggerakkan dahan pohon sebesar itu di tambah gerakannya yang tidak searah dengan arah angin saat itu.


"PO..PO...pohon, aku.... Aku mohon jika kau benar-benar hidup, tolong selamatkan temanku ini, meskipun dia menjengkelkan tapi dia baik padaku, pohon dengarkan aku, aku Emely dan aku meminta bantuanmu" ucapku berbicara sambil menyentuh pohon itu penuh dengan harapan.


Bagiku tidak ada cara lain untuk bisa mendapatkan buah dari pohon tersebut sehingga aku pikir jika aku meminta kepada pohon itu secara langsung mungkin dia akan memberikannya.


Dan ternyata dugaanku itu benar, tiba-tiba saja buah berjatuhan dari pohon tersebut menimpa kepalaku, memang sedikit sakit tapi aku berterimakasih kepada pohon itu karena seakan dia benar-benar bisa mendengarkan permintaanku dan mengabulkannya dengan segera.

__ADS_1


"Ah...aduh....aduhh....wah...buahnya banyak sekali, terimakasih pohon baik, terimakasih banyak sudah memberikan buahmu pada kami" ucapku sambil memeluk pohon itu dengan senang.


Aku segera memunguti buah-buahan yang jatuh di tanah dan segera memberikan satu buah yang sudah aku gosok dan bersihkan kepada Devano, aku berusaha membantu dia agar terduduk dengan benar dan menyuruhnya segera memakan buah itu, Devano perlahan mengunyahnya dan hanya dengan memakan satu buah itu saja Devano langsung sembuh seperti sedia kala bahkan dia terlihat jauh lebih berenergi dari sebelumnya, aku juga merasa aneh dan senang ketika melihat dia sudah kembali cerah.


"Emely buah apa yang kau berikan kepadaku, kenapa aku merasa tubuhku sangat kuat sekarang, dan perutku terasa kenyang seketika" ucap Devano kepadaku.


Aku hanya membuka mata lebar karena aku sendiri juga tidak mengetahui buah apa itu sebenarnya tapi karena penasaran aku pun mulai mencoba buah itu juga dan rasanya sangat enak, sungguh rasa manis dan segar yang bercampur sangat sempurna, rasanya lebih mirip seperti buah jambu tapi ini sangat manis dan memiliki banyak kandungan air, bentuknya mirip seperti buah apel namun kecil dan warnanya merah menyala, ada juga yang berwarna merah muda dan rasanya sedikit masam namun tetap segar.


Selain rasanya yang enak aku juga merasakan diriku lebih segar dan kuat dari sebelumnya, pinggangku yang sakit seketika terasa nyaman dan aku yang merasa lelah sudah kembali sangat bugar, ini pengalaman aneh yang kesekian kalinya aku rasakan sejak datang ke hutan ini.


"Wahh...kenapa buah ini sangat luar biasa, Devano sudah jangan bertanya lagi, kita harus memunguti semua buah-buahan ini" ucapku sambil segera memunguti ya dengan senang hati,


"Untuk apa Emely?" Tanya Devano sambil membantuku memungutinya.


"Dasar bodoh! Tentu saja buah ini untuk pembekalan makanan kita, kau merasakannya juga kan, kita merasa kenyang dan sangat baik ketika memakan buah ini saja, maka dari itu kita mungkin tidak akan kelaparan dan bisa bertahan hidup di hutan aneh ini selama kita membawa buah ini" ucapku menjelaskan.


Devano baru memahaminya dan dia terlihat sama senang dan antusiasnya denganku saat memunguti buah itu, hingga tidak lama ketika kami tengah memungutinya kakek tua yang tidak lain adalah kakek Devano muncul di dekat aku dan Devano secara tiba-tiba hingga membuat aku kaget begitu juga dengan Devano yang terperanjat ke sampingku.


"Aaa.. astaga! Kakek kenapa kau muncul tiba-tiba seperti itu, mengagetkan aku saja" ucap Devano sambil ku bantu berdiri.


Kami berdua berdiri sbil membawa buah-buahan dari pohon itu di saku pakaian kami dan di tangan kami.

__ADS_1


Kakek menatap kami dengan tajam dan dia langsung melirik ke arah pohon itu.


"Kalian.... bagaimana kalian bisa memetiknya?" Tanya kakek itu membuat aku sedikit bingung untuk beberapa saat.


Devano juga melemparkan tatapannya kepadaku dan mengatakan kepada kakeknya bahwa aku yang melakukan semua itu.


"Aku tidak tahu, tapi Emely yang mengambilnya" balas Devano sambil menatap ke arahku.


Kakek itu menjadi fokus dan menatap aku semakin lekat dia berjalan ke arahku menjadi jauh lebih dekat dan segera menanyakan mengenai buah tersebut dengan sorot mata yang sangat serius.


"Emely jawab kakek dengan jujur, bagaimana kamu bisa mengambil buah ini sementara pohonnya menjulang tinggi?" Tanya kakek membuat aku sedikit gugup,


"Eh..iya juga yah, aku baru sadar jika buah ini adalah buah dari pohon yang aku pakai sebagai sandaran sedari tadi, Emely bagaimana kau bisa mengambilnya?" Tanya Devano yang juga terlihat penasaran dan mendesakku,


"Begini aku awalnya melempari buah ini dengan batu dan beberapa ranting yang aku temui di sekitar sini, namun aku tidak bisa mendapatkannya, sebelumnya itu aku juga berusaha memanjatnya tapi tetap tidak mampu dan malah jatuh berkali-kali, sampai akhirnya aku menyerah dan meminta kepada pohon ini dengan memohon sambil mengusap pohonnya seperti ini" ucapku sambil mempraktikkannya,


"Lalu tiba-tiba saja buah ini berjatuhan ke atas kepalaku, sedikit sakit tapi aku senang dan berterima kasih pada pohonnya, karena aku pikir pohon ini hidup sama seperti kita, hanya saja dia mungkin tidak bicara" tambahku melanjutkan.


Kakek menghembuskan nafas yang lega dan Devano hanya mengangguk merasa kaget dan aneh ketika mendengar ceritaku yang sedikit tidak masuk akal.


"Baguslah jika begitu, kakek pikir kau menggunakan kekuatan apimu untuk mendapatkannya" ucap kakek tersebut,

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa menggunakan kekuatanku, aku belum bisa mengendalikannya" balasku kepada kakek tersebut.


Dia akhirnya membawa kami kembali ke gua pengabulan dengan cara yang sama seperti sebelumnya, melewati sebuah lorong cahaya dan tiba-tiba muncul di tempat gelap hingga masuk melewati sebuah pintu dan kembali tiba di ruangan yang penuh dengan buku berjejer rapi serta ada yang berterbangan di atas kepala kami juga di sekitar sana.


__ADS_2