
Saat sudah masuk disana kakek itu kembali mengambil sebuah buku yang melayang lalu menaruhnya diatas meja yang sama seperti sebelumnya dan buku itu terbuka sendiri pada halaman yang sepertinya sudah di temtukan oleh kakek tersebut, aku hanya diam menunggu kakek akan bicara apa, sampai aku tidak sengaja melihat sebuah ukiran di meja tersebut yang bertuliskan.
Mbah Kerto elemen alam, aku menyentuh ukiran itu dan mencoba untuk mengingat ingat nama Mbah Kerto tersebut yang terasa sangat tidak asing bagiku, ini adalah yang ke tiga kalinya aku mendengar nama Mbah Kerto, dan aku masih merasa bahwa nama tersebut tidak aneh untukku, hingga tidak lama kumudian aku mulai ingat jika nama Mbah Kerto itu sama dengan nama yang di sebutkan oleh nenekku saat dia masih hidup dahulu.
"Aahh.... iya, bukankah nama seorang kakek yang nenekku minta aku mencarinya adalah Mbah Kerto?, Atau jangan-jangan kakeknya Devano ini adalah...." Ucapku tertahan saat melihat Mbah Kerto di hadapanku yang terduduk dengan tenang tanpa bicara sepatah katapun.
Aku berusaha berbicara dan menanyakannya secara langsung kepada beliau.
"E..eumm...kek ada sesuatu yang mengganjal hatiku, boleh aku mengatakannya padamu?" Tanyaku meminta izinnya dahulu,
"Katakan" balasnya dengan tatapan santai namun dingin seperti biasa,
"Be..begini kek, bukankah nama kakek Mbah Kerto? Dan apa kakek mengenal Mbok Warni?" Ucapku menanyakannya,
Seketika tatapan Mbah Kerto menjadi lebih tajam dan matanya terbuka lebih lebar dari sebelumnya.
"Darimana kau mengetahui nama itu?" Tanya dia kepadaku seketika,
"Dia nenekku kek, dan dia mewasiatkan kepadaku untuk mencarimu" ucapku dengan jujur,
"Apa? Wasiat? Jadi Warni sudah tiada?" Ucap kakek tersebut terlihat kaget dan dia langsung berubah menjadi sedih.
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya itu.
__ADS_1
"Nenek memang sudah meninggal kek, tapi kamu mengenalnya dan berarti benar kan, kakeklah seorang Mbah Kerto yang nenekku maksud?" Tanyaku untuk memastikan,
"Benar...kakek adalah Mbah Kerto penguasa elemen alam dan bisa melihat masa depan, dan nenekmu Mbok Warni adalah sahabat terbaik kakek, dia wanita kuat yang memiliki kekuatan elemen air, dia bisa menggerakkan awan dan membuat hujan hanya dengan jentikan jarinya, alam memberikan dia kekuatan yang luar biasa sayangnya usia dia tidak lama, kakek sangat terpukul ketika mendengar dia telah tiada" ucap kakek dengan tertunduk lesu dan dia terlihat menitikan air mata.
Sosok kakek yang aku pikir galak dan begitu tegas ternyata dia bisa menangis seperti itu di hadapan aku dan cucukmu sendiri ketika mendengar sahabatnya telah pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya.
"Maafkan aku kek karena membuatmu sedih, tapi nenek pasti sudah mengambil jalan reinkarnasi, dia sudah tenang di alam lain" ucapku berusaha menenangkan,
"Kau benar, tapi jika kau adalah cucuknya dimana ibumu Melinda?" Tanya kakek itu langsung mengetahui tentang ibuku.
Aku langsung terdiam membisu dan tidak bisa menjawabnya aku hanya bisa menggelengkan kepala pelan setiap kali ada orang yang menanyakan tentang ibu kepadaku.
"Kenapa kau diam dan hanya menggeleng, apa ibumu juga sudah?" Ucap kakek tertahan,
"Bukan kek, tapi aku justru tidak tahu dimana keberadaan ibuku, aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah tiada, aku bahkan tidak tahu seperti apa wajah ibuku dan siapa namanya, aku baru tahu jika nama ibuku Melinda darimu barusan" balasku dengan jujur.
"Emely mulai sekarang kau juga cucukku, aku akan mengajarimu untuk menyetabilkan kekuatan spiritual milikmu, dan kau akan bisa mengendalikannya, begitu juga denganmu Devano, kalian berdua memiliki kekuatan spiritual yang sangat kuat dan istimewa, serta kalian mungkin akan memiliki kesempatan menghentikan iblis Abaddon sebelum semua terlampau jauh, kakek yakin Abaddon masih bisa dikalahkan jika seluruh penguasa elemen bersatu melawannya" ucap kakek tersebut menjelaskan,
"Terimakasih kek, aku akan belajar dengan sungguh-sungguh" balasku begitu juga dengan Devano.
Mungkin kakek Kerto sudah mengetahui apa tujuan nenek menyuruhku menemuinya yang tidak lain adalah untuk mengajari aku cara menguasai kekuatan elemen yang aku miliki, tapi misiku bukan hanya itu saat ini, sebab aku masih harus menyematkan dunia permukaan serta menyeimbangkan bumi juga setiap makhluk penghuninya, bukan hanya belajar pengendali elemen dan menyelamatkan temen-temenku saja, melainkan aku harus berjuang melawan iblis terkuat Abaddon.
Sejak saat itu aku sudah mulai berlatih mengendalikan kekuatan elemen api yang ada di tubuhku, hari demi hari sudah aku lewati dengan padatnya jadwal berlatih, begitu juga dengan Devano dia yang ternyata memiliki kekuatan penyembuhan dan terus menguji ketahanannya, hitam itu akan menjadi saksi betapa sulitnya aku belajar dan menerima banyak kesulitan dalam mengendalikan apiku.
__ADS_1
Begitu juga dengan Devano dan semua pohon yang ada disana bukanlah pohon biasa, Mbah Kerto yang ternyata pengendali tumbuhan dia tentu bisa mengetahui semua hal yang di harapkan pohon hutan tersebut dan hutan ini adalah satu-satunya hutan ajaib yang tidak terlihat oleh mata manusia maupun makhluk lainnya kecuali oleh para penguasa elemen sihir.
Pantas saja saat pertama sampai ke sana kakek memarahiku aku karena mematahkan ranting sembarangan, dan pohon yang memiliki buah aneh serta membuatku sangat kuat, setelah mengetahui semua kebenarannya aku menjadi tidak heran lagi ketika menemui keanehan lain di hutan itu selama proses meningkatkan kekuatan.
Meski Mbah Kerto terlihat kejam dan sangat keras saat melatih kami namun semua proses latihannya begitu efektif hanya dengan beberapa hari saja aku sudah bisa mengatur suhu api di tubuhku dan bisa memunculkan juga menghilangkan api itu sesuai dengan keinginanku dan aku perlahan mulai mempelajari tentang pengendalian burung phoenix yang lahir dari dalam diriku.
Saat ini adalah hari terakhir kakek mengajari kami sebab, kakek memberikan kami tugas pertama untuk mengumpulkan para pemilik kekuatan spiritual atau penguasa elemen agar bersatu denganku juga Devano dalam melawan Abaddon.
"Ayo lebih kuat lagi besarkan apimu Emely!" Bentak kakek sambil menepuk punggungku dengan tongkatnya,
"Aaw...iya kek, aduhh kau ini kasar sekali aku bisa kehilangan fokus jika kau terus menyiksaku begini" gerutuku mulai berontak dan mengeluh.
Selama ini kakek memang selalu mengajari kami dan memberikan beberapa tekanan fisik maupun batin, dia selalu berteriak kencang, menepuk keras atau bahkan memberikan hukuman dengan tidak mengijinkan kami untuk tidak makan seharian sehingga tubuh kami terasa sangat lemah.
Bahkan dengan Devano yang jelas adalah cucuk kandungnya, kakek tetap tidak bersikap lembut dan terus menekan Devano lebih keras dariku karena dia belajar lebih lamban dari pada aku.
"Plak...plak...plak....yang kuat DEVANO! Kau ini pria atau bukan, pemilik kekuatan penyembuhan harus lebih kuat dari pemilik elemen lainnya, kenapa kau malah sangat lemah begini, bagaimana kau bisa menyembuhkan orang lain jika dirimu saja sangat lemah hah!" Bentak kakek sambil menepuk kaki Devano beberapa kali.
Ku lihat kakinya sudah bergetar dan merah terlihat bekas tongkat yang menggurat sangat jelas, aku tidak tahan menahan tawa ketika melihat dia menderita seperti itu, rasanya sangat puas sekali.
"Fffttt....rasakan itu haha...kau memang lemah, ayo Devano keluarkan ototmu sedikit, haha" ucapku meledeki dia dengan cara yang berkelas.
"Aishh....kau, berani-beraninya menertawakan aku, awas saja jika kau terluka aku tidak akan menyembuhkan mu!" Balasnya dengan kesal.
__ADS_1
Aku tidak perduli karena kakek juga tidak akan mengijinkan dia menyembuhkan siapapun dalam masa pelatihan seperti saat ini, bahkan dia tidak bisa menggunakan kekuatannya sendiri untuk dirinya, bagaimana denganku.
"Haha....aku tidak butuh, kau bersikaplah lebih kuat agar kakek sedikit lembut padamu haha, dasar lemah!" Balasku masih menertawakan dia dengan puas.