Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Pergi ke alam bawah sadar


__ADS_3

Pria tersebut terlihat merenung cukup lama hingga ketika kami tengah menunggu di luar pohon itu, akhirnya dia pun datang menghampiri kami dan mulai mengatakan sesuatu.


"Aku... Aku akan memberikan tahu kalian sesuatu yang membuat ibuku seperti itu" ucap pria itu terlihat lesu kepadaku,


"Katakanlah jika itu bisa membantu untuk menyembuhkan ibumu" balasku kepadanya mempersilahkan,


Dia mengangguk dan terlihat menarik nafas panjang dan membuangnya dengan berat lalu dia duduk di hadapan kami dan mulai menceritakan kisahnya.


"Dahulu ibuku adalah wanita yang paling kuat, dia adalah penguasa hutan ini dan tidak ada siapapun yang bisa mengalahkannya, dia juga yang mengajari aku mengenai kekuatan yang aku miliki saat ini, bahkan tameng transparan yang kalian hancurkan adalah satu satunya jejak kekuatan dia yang begitu luar biasa" ucap dia dengan begitu serius walau wajahnya terlihat lesu,


"Ja..jadi ibumu itu yang membuat tameng sekuat itu?" Ucap Avan memotong ceritanya,


"Iya itu adalah buatan ibuku dari beberapa tahun yang lalu, dia sengaja membuat tameng itu untuk melindungi aku karena penduduk di bawah gunung ini selalu memburuku dan mencari keberadaanku, mereka mengira aku adalah anak pembawa sial bahkan mereka menghukum mati ayahku yang hanya seorang pendeta biasa dan ibu tidak berhasil menyelamatkannya sehingga dia mulai sakit-sakitan seperti ini hingga berada di titip sekarang, aku pikir mungkin ibu tidak memiliki keinginan hidup karena kepergian ayahku" ucap dia mengakhiri ceritanya.


Setelah mendengar cerita dia aku juga mengerti, dan sangat paham mengapa ibunya bisa seperti itu, dia terlihat seperti pohon dengan bagian tubuhnya yang mati dan hanya akarnya saja yang tersisa.


Aku mendekati dia dan menepuk pundaknya sebanyak tiga kali dengan perlahan untuk memberikan kekuatan dan semangat kepada dia.


"Tenang saja kami akan membantumu tapi bisakah kau juga membantuku ketika aku berhasil menyembuhkan ibumu?" Ucapku kepadanya,


"Apapun permintaanmu aku akan mengabulkannya" balas pria itu dengan penuh keyakinan,

__ADS_1


"Baiklah, Devano ayo kita sembuhkan dia aku tahu apa yang bisa kita lakukan padanya" ucapku sambil menarik tangan Devano dan membawa dia masuk kembali kedalam rumah pohon itu lebih dulu.


Aku duduk di samping ranjang tersebut lalu mulai menyuruh Devano untuk menyalurkan kekuatannya kepada tangan wanita tua tersebut terlebih dahulu dan aku mengajak wanita itu untuk berbicara dan berkomunikasi denganku di alam lain.


Aku bisa berbicara dengan inti ruh nya meski aku harus membuat fokus yang sangat kuat.


"Avan aku akan berusaha berkomunikasi dengan ruh wanita ini kau bangunkan aku jika tubuhku atau tubuh wanita ini berubah menjadi dingin, ingat jangan sampai terlambat membangunkan aku atau dia, jika tidak salah satu dari kami tidak akan bisa kembali pada raga kami, atau keduanya akan pergi" ucapku kepada Avan dengan berbisik,


"CK... Emely jaga jarakmu dengan pria es itu!" Bentak Devano kepadaku.


Aku sengaja mengatakan hal itu dengan cara membisik dan memberikan isyarat kepada Avan untuk tutup mulut, karena aku tidak ingin Devano mengetahui rencana yang akan aku lakukan, karena jika dia mengetahuinya sudah jelas sekali dia pasti akan melarangku dan dia tidak akan mengijinkan aku melakukan hal dengan resiko tinggi seperti itu.


Namun meski seandainya dia melarangku aku akan tetap melakukannya hanya saja fokusku yang nantinya akan terganggu dan aku tidak mau itu terjadi sehingga lebih baik bagiku untuk membisikkannya pada Avan dan pria asing penguasa elemen alam itu.


Keadaan alam bawah sadarnya tergantung dengan suasan hari dan apa yang orang itu harapkan untuk terjadi pada dirinya, mungkin wanita itu sudah tidak memiliki semangat atau rasa untuk bertahan hidup lagi sehingga suasana alam bawah sadarnya begitu suram dan gelap.


Aku terus berjalan mencarinya hingga melihat seorang wanita duduk di bangku yang hitam tanpa kehidupan seorang diri, aku yakin itu dia karena hanya akan ada satu sosok di dalam alam bawah sadar seseorang, yakni ruh dia sendiri.


Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Kenapa kau diam disini, apa kau tidak ingin kembali pada jiwamu?" Ucapku mengajaknya untuk berkomunikasi,

__ADS_1


"Harus ya aku yang bertanya itu kepadamu wanita muda, aku sudah pernah melihatmu sebelumnya dan aku tahu kau akan menemuiku di tempat ini" ucap wanita itu.


Aku tahu dia muncul ketika dia menatapku dengan senyuman aneh sebelumnya, tapi walau dia berkata dingin dan datar padaku aku tidak menyerah dan terus berbicara padanya.


"Aku tahu tentang suamiku dan mengenai putramu yang sangat kuat, aku membutuhkan dirinya untuk menyelamatkan dunia permukaan, karena Abaddon telah kembali, tapi karena kau seperti ini itu membuat putramu tidak bisa membantuku" ucapku kepadanya dengan jujur,


"Itu tidak ada hubungannya denganku, aku akan tetap disini menunggu suamiku, kembalilah kau kesana sebelum waktumu habis atau kau akan berakhir di sini denganku selamanya" balas wanita itu tanpa melihat ke arahku sedikitpun,


"Mungkin aku pernah ada posisimu, ketika nenekku meninggal dunia dan aku tiba-tiba saja harus jatuh ke dunia antah berantah lalu harus menyelesaikan misi dari seorang kakek yang aku anggap sangat aneh dan menyebalkan, tapi ketika mengingat seseorang yang aku cintai ternyata masih hidup aku memiliki semangat lagi untuk bisa menemuinya, tidakkah kau merindukan putramu yang sangat menyayangimu dan selalu menunggumu untuk kembali sejak lama?" Ucapku mencoba membuatnya sadar.


Sayangnya dia tidak membalas ucapan dariku dan dia hanya tertunduk lesu tali aku bisa merasakan kesedihan yang dia alami ketika aku mengungkit masalah putranya itu.


"Harus kau tahu sebuah penyesalan tidak akan hadir di awal, tetapi putramu masih hidup di dunia nyata dan selalu menunggumu untuk kembali, aku yakin dia akan sedih jika mengetahui tentang keadaanmu yang seburuk ini, dan harus kau tahu juga, aku adalah Emely, aku seorang penakluk makhluk dan aku tahu segalanya hal-hal di luar nalar sebab aku juga seorang penyihir, aku sudah mencari tentang ruh suamimu dan dia tidak ada di alam ruh, itu berarti dia masih hidup, kau akan sia-sia terus menunggunya disini" ucapku untuk terakhir kalinya.


Dia tetap diam tidak berkutik dan cahaya tempat aku masuk sebelumnya sudah mulai redup menandakan bahwa waktuku sudah hampir habis, sehingga aku memutuskan untuk pergi darinya.


"Aku akan pergi, jika kau ingin kembali, maka kembalilah sekarang selagi sahabatku bisa membuatmu pulih dan menjaga jiwamu agar tidak membusuk, tapi jika kau tetap tidak kembali terpaksa aku harus meninggalkanmu dan tidak bisa membantu apapun lagi" ucapku lalu bangkit dari kursi itu lalu segera masuk ke dalam cahaya di sana hingga akhirnya aku kembali tersadar.


"Hah... Hah.... Hah..." Deru nafasku yang bak seperti orang habis berlari jauh.


Keringat juga bercucuran di dahiku dan itu membuat Devano menatap curiga padaku begitu juga dengan Avan dan pria tersebut yang sudah penasaran menunggu ucapan dariku.

__ADS_1


Aku menatap pada pria yang memakai pakaian seperti tarjan itu, dengan berat hati aku harus mengatakan semua yang aku lihat tentang ibunya.


"Aku baru saja menemui dia, dan aku sudah mengatakan semuanya sebisaku, semua tergantung dari keputusannya" ucapku kepada pria tersebut.


__ADS_2