Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Menangkap Ular


__ADS_3

"Brox tahan dirimu aku akan mulai menyembuhkan dirimu" ucap Devano memberikan aba-aba kepada Brox.


Dia langsung mengangguk dan Devano langsung saja menempelkan kedua tangannya itu lurus ke depan mengenai punggung Brox yang duduk di hadapannya saat itu.


Sebuah cahaya terlihat keluar dari telapak tangan Devano terus menerus dan Brox juga menjerik merasakan badannya yang tengah dalam pemulihan saat itu.


Sedangkan disisi lain aku dan teman-teman yang lain baru saja sampai di dasar hutan, kami mulai membagi tim untuk menangkap dan melakukan pemburuan hewan di hutan itu.


"Oke teman-teman sekarang kita harus membagi tim, aku dan Vayu akan ke sebelah barat, dan Arshaka dengan Avan ke sebelah timur, ingat kita harus berkumpul kembali di istana kakek tetua itu, jika kalian sudah mendapatkan hewannya langsung saja berikan hewan itu pada Brox di atas istana itu, apa kalian mengerti?" Ucapku memberikan penjelasan pada Avan dan Arshaka,


"Iya kami mengerti Emely" ujar Arshaka.


Aku sangat mengandalkan Arshaka saat itu, karena aku tahu bagaimana Avan, dia hampir sama dengan Devano, ceroboh itulah mengapa aku memilih dia bersama Arshaka karena aku tahu Arshaka adalah orang yang bijaksana dan tegas, aku mempercayai dia sepenuhnya.


"Arshaka aku titip Avan yah, dia mungkin sedikit menyebalkan tapi dia adalah orang baik yang selalu bisa menurunkan emosiku, aku sangat memperdulikan dia, dan aku sangat mempercayaimu" ujarku kepada Arshaka sambil memegangi sebelah pundaknya,


"Tenang saja Emely kita ini sebuah tim, aku akan menjaganya dengan baik" balas Arshaka kepadaku.


Dan terlihat Avan sedikit cemberut menatap ke arahku, aku hanya tersenyum saja melihatnya dan segera pergi dari sana bersama Vayu karena kita tidak bisa membuang buang waktu lagi.


"Baiklah ayo kita berpencar disini, Vayu ayo bawa aku terbang, kita akan mencarinya dari atas itu akan lebih cepat" ucapku pada Vayu dan dia segera memeluk pinggangku lalu segera membawa aku terbang sedikit lebih tinggi.


Ku lihat di bawah sana Avan dan Arshaka juga sudah mulai bergerak ke arah yang berlawanan dengan aku dan Vayu, hutan ini terlihat begitu besar dan luas, dari atas aku bisa melihat ada beberapa hewan di bawah sana yang bersembunyi di semak-semak juga di dalam air, aku juga tidak pernah menduga bahwa di hutan pelangi yang memiliki pohon berwarna warni dalam segala jenis tumbuhan itu bisa memiliki keragaman hewan yang begitu banyak jenisnya di bawah sana.


"Emely hewan apa yang akan kita tangkap sekarang?" Tanya Vayu bertanya kepadaku,


"Menurutmu hewan apa yang paling kuat?" Balasku balik bertanya kepadanya,


"Setahuku ular adalah yang paling kuat dengan bisanya dan ular juga bisa menyerang dengan sembunyi-sembunyi tanpa di ketahui oleh musuh" balas Vayu memberikan usulannya,


Aku sedikit berpikir apakah ular benar hewan yang paling kuat dan bisa menjaga seluruh bagian negeri pelangi ini dari bahaya yang melanda nantinya.


"Hhm... Vayu kita coba saja tangkap ular berbisa itu lebih dulu, namun kau tahu sendiri kan, kekuatan aku ini hanya akan menghancurkan ular itu, bisakah kau menggunakan kekuatanmu saja, dan kita akan berjalan di bawah sana, menangkapnya dengan tangan kosong" ujarku memberikan ide kepadanya.


Vayu mengangguk mengerti dan dia segera menurunkan kami menyentuh tanah, disana aku lihat ada beberapa ulah yang melingkar di dahan pohon dan aku segera menumbangkan dahan pohon itu menggunakan kekuatan apiku sampai dahan itu jatuh ke bawah beserta ulahnya juga, Vayu segera berusaha menangkap ular tersebut dan memasukkan ulah itu ke dalam sebuah wadah besar yang dia milikku, sialnya ular itu sulit sekali untuk di tangkap, disaat Vayu sudah berhasil menangkap ular tersebut dan hendak memasukkannya ke dalam wadah justru ular itu malah balik menghadap ke arahnya dan hampir menyerang dia.


Aku terpaksa mengeluarkan kekuatanku dan langsung mengikat ulah itu dengan lingkaran api dan memasukkannya ke dalam wadah tersebut dengan cepat.


"Sssssttttttt....." Suara ular tersebut berontak di dalam keranjang berwarna cream itu.


Aku menghembuskan nafas lega karena Vayu baik-baik saja, sedangkan Vayu sendiri masih diam mematung karena dia masih kaget bahwa baru saja dia hampir di patuk oleh ulah di dunia asing.


"Vayu... Vayu apa kau baik-baik saja? Atau kau terkena ular itu?" Tanyaku kepadanya.

__ADS_1


Aku sangat mencemaskan keadaannya saat itu karena dia diam tanpa bergerak sedikitpun dan saat aku menanyakan keadaannya dia justru malah langsung ambruk terduduk ke bawah dengan lemas hingga menjatuhkan wadah berisi ular yang baru saja kami tangkap untuk pertama kalinya saat itu.


Karena wadah tersebut jatuh ularnya menjadi kabur dengan cepat begitu saja dan aku tidak berhasil menangkapnya lagi karena ular itu terlalu cepat.


"Brukkk....." Suara Vayu yang jatuh terduduk dan menjatuhkan wadah berisi ular itu,


"E..e..ehh... Ularnya aaaahh... Hey... Ular jangan pergi, aishhh....kita malah kehilangan ularnya, padahalnya sulit sekali untuk menangkap ular itu aaahhh" gerutuku merasa kesal dan lesu.


Aku berbalik menatap ke arah Vayu yang menunduk dengan lesu, dan segera aku datang mendekatinya.


"Vayu ada apa denganmu? Kenapa kau membiarkan wadahnya jatuh begitu saja? Kau kan bisa menangkap wajah itu dengan angin mu?" Tanyaku kepadanya protes,


"A...aku.... sebenarnya aku takut ular" balas dia yang membuat aku kaget terperangah mendengarnya.


Aku langsung mengacak rambutku dengan kasar dan berteriak cukup keras merasa sangat frustasi di buatnya.


"A..apa? Aaarkkhhhh...." Teriakku sambil mengacak rambutku kasar, bahkan hewan yang bersembunyi di balik semak-semak berhamburan keluar dan lari menjauh dari kami karena aku berteriak begitu menyeramkan saat itu.


"Vayu... Kau ini bodoh sekali sih, jika kau takut dengan ular kenapa kau malah memberikan ide kepadaku untuk menangkap ular, aishhh!" Ucapku begitu gemas kepadanya.


Rasanya saat itu aku ingin sekali menghajar Vayu, namun aku dengan cepat menenangkan diriku dan mengatur nafasku dengan benar agar tidak terpancing emosi kepadanya.


"Huuuuhh.... Sabar Emely sabar, kau tidak boleh marah dan melampiaskan emosimu kepadanya, dia adalah rekan tim.... Aahhhh" ucapku pelan sambil mengatur nafas dan mengusap dadaku sendiri berusaha.enyabarkan diri sendiri.


"Maafkan aku Emely aku memang pada awalnya tidak se takut itu, namun disaat ular itu tadi hampir saja mematuk wajahku aku menjadi merasa sangat takut dan menjadi semakin takut dengan ular sekarang" balasnya kepadaku dengan wajahnya yang terlihat sekali bahwa dia masih ketakutan.


Aku menenangkan dirimu sendiri terlebih dahulu dan duduk di sampingnya dengan menatap dia tajam dan lekat.


"Vayu tenangkan dirimu dan aku akan segera kembali aku akan menangkap ular-ular sialan itu, kau tangkap saja hewan apapun yang bisa kau tangkap asalkan jangan semut ataupun kupu-kupu" ucapku kepadanya dan aku langsung saja meninggalkan dia disana.


Aku tidak bisa diam saja menunggui dia saat itu sedangkan aku tahu waktunya sudah tidak lama lagi, cahaya yang di tunjukkan oleh peta ajaib dari Mbah Kerto sudah hampir tidak terlihat, aku tahu pesan Mbah Kerto saat itu.


"Emely ingat kau harus kembali sebelum cahaya penunjuk jalan dari peta itu hilang, jika kau tidak kembali setelah petunjuknya hilang kau tidak akan bisa kembali lagi dan harus mencari jalan keluarnya sendiri" ucapan dari Mbah Kerto sebelumnya kepadaku.


Aku pergi meninggalkan Vayu dan langsung mengejar ular-ular itu dengan penuh keberanian, aku mengepung beberapa ekor ular di tengah kobaran api yang aku buat, lalu aku menangkap ular itu dengan tangan kosong secara hati-hati dan langsung memasukkannya ke dalam kantung, hingga setelah beberapa saat aku sudah terjatuh, berguling di tanah dan sudah hampir jatuh ke sungai karena mengejar ular-ular sialan itu, aku akhirnya bisa menangkap lima ekor ular di dalam kantung yang aku bawa.


Aku sudah sangat lelah saat itu dan duduk dahulu beristirahat sambil membersihkan wajah dan tanganku di tepi sungai, lalu aku tidak sengaja melihat seekor buruk diatas kepalaku dan aku melihat itu seperti burung aneh yang sangat besar dengan api berkobar di seluruh tubuhnya, aku merasa burung itu seperti burung yang pernah aku lihat ketika aku melawan Mauren di gang dekat sekolah saat itu.


"Hah?.... Burung itu...." Ucapku kaget dan segera berbalik menatap kebelakang.


Aku berusaha mencari kesana kemari untuk menemukan keberadaan burung besar tersebut namun aku tidak menemukannya juga, hingga aku kembali mendekati sungai dan bercermin lagi di air namun kali ini aku tidak melihat burung tersebut.


"Kemana burung itu pergi? Apa aku hanya salah lihat yah?" Gerutuku terus memikirkan.

__ADS_1


Aku terus berusaha mencari tahu sampai sebuah angin terasa turun di belakang tubuhku dan aku tahu itu pasti Vayu, aku segera berbalik lagi dan melihat Vayu yang menangkap banyak sekali burung di dalam lingkaran tameng yang dia buat menggunakan kekuatannya.


Aku tidak tahu itu burung apa saja tapi dia sungguh menangkap banyak sekali burung hingga aku tercengang melihatnya.


"Waahhh.... Vayu apakah kau tidak salah, kau menangkap banyak sekali burung, apa kau menangkap seluruh ekosistemnya juga?" Ucapku kepadanya sambil terperangah,


"Emely aku memang tidak bisa menangkap hewan yang kuat seperti kau tapi aku bisa menangkap semua burung ini dalam jumlah yang banyak, jika saja sebelumnya seekor kelinci bisa begitu kuat dan ganas aku rasa burung-burung ini juga bisa seperti itu" balas Vayu kepadaku.


Aku tahu mungkin dia tersinggung dengan ucapanku sebelumnya namun aku juga tidak memaksa dia untuk melakukan hal sebesar itu.


"Aaahh.... Vayu kau masih terganggu dengan ucapanku yah? Tadi aku hanya kesal dan terbawa emosi saja, sudah jangan pikirkan lagi ucapanku, kau cepat berikan burung itu kepada Brox dan Devano aku juga akan segera kesana setelah menemukan lebih banyak ular atau hewan lainnya" ucapku kepadanya,


"Baiklah Emely, jaga dirimu baik-baik" balas Vayu padaku dan aku hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


Vayu segera pergi terbang ke atas sana dan aku mulai kembali mencari hewan lain yang bisa aku temukan, ku lihat disana ada banyak sekali musang yang berkeliaran aku merasa musang juga hewan yang cukup kuat dalam pertahanan hidupnya, sehingga tanpa pikir panjang lagi aku langsung menangkap semua musang yang aku lihat saat itu juga hingga setelah aku mendapatkan banyak barulah aku pergi menuju istana kakek tetua yang berada cukup jauh dari tempat aku mencari hewan saat ini.


Walau begitu karena aku pemilik elemen api tentu aku memiliki kekuatan dan energi yang lebih daripada yang lainnya sehingga aku bisa sampai disana dengan tepat waktu dan tidak sengaja aku bertemu dengan kakek tetua disaat hendak masuk membawa semua hewan tangkapanku saat itu.


"Gadis api apa yang akan kau lakukan dengan hewan-hewan itu?" Tanya kakek tetua kepadaku,


"Aahhh.. kakek aku akan berusaha membuat pasukan baru untuk menjaga negeri pelangi ini, kau tidak perlu kahwatir aku akan membuat pasukan yang lebih kuat daripada para kelinci itu sebelumnya" balasku kepada kakek tetua.


"Apakah kau yakin bisa melakukan itu Emely?" Tanya kakek tetua itu padaku,


"Aku yakin kakek, kau bisa ikut denganku dan melihat seberapa hebatnya Brox dengan kekuatan yang dia milikku" balasku dengan penuh percaya diri padanya.


Kakek tetua pun mengangguk dan dia langsung mengikuti ke dalam aku lihat di dalam ruangan itu sudah ada banyak hewan yang di tangkap oleh Arshaka juga Avan dan semua orang sudah berkumpul di sana, para hewan juga sudah di kumpulkan dan kini giliran Brox yang akan melakukan tugasnya.


Aku berjalan mendekatinya tepat setelah mengeluarkan semua hewan tangkapanku barusan.


"Brox aku mempercayaimu dan aku sangat mengandalkan kamu saat ini, kami akan mentransfer energi padamu jika nanti kau kehabisan energi dalam tubuhmu" ujarku kepadanya.


Aku berusaha meyakinkan dia agar dia juga bisa mempercayai kekuatan yang ada di dalam diri dia sepenuhnya, sampai akhirnya Brox mengangguk kepadaku dan dia langsung mulai menguatkan energi di dalam tubuhnya.


Memfokuskan diri dengan menutup kedua matanya rapat dan langsung mengarahkan tangannya ke depan lara hewan yang sudah kami kumpulkan saat itu, nampak sebuah kekuatan berwarna putih keluar dari tangannya dan dia terlihat mulai mengubah warna bola mata hewan-hewan tersebut menjadi merah menyala.


Dan kini aku mengetahui kenapa para kelinci itu mempunya mata yang sama.


"Rupanya itu perbuatan dia, pantas saja kelinci itu sangat kuat" gerutu pelan.


Lalu tiba-tiba saja Brox mulai mengerutkan dahinya dan aku tahu dia mulai memelankan proses hipnotisnya tersebut, aku pun segera menyalurkan energiku ke pada Brox.


Setelah itu Avan juga ikut membantuku, begitu juga dengan Devano dan Vayu yang langsung turut turun tangan saat itu, sedangkan Arshaka menjaga hewan-hewan di sana dengan menguatkan dinding tanah yang dia buat.

__ADS_1


__ADS_2