Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Ujian Akhir


__ADS_3

Berlatih bersama dengan banyak pembelajaran dan ajaran baru yang kakek Kerto berikan kepada aku juga pada Devano selama sekitar satu Minggu ini, akhirnya kami berdua sudah tumbuh menjadi lebih kuat dan bisa mengendalikan kekuatan spiritual yang kami miliki, bahkan kakek Kerto mengatakan kami sudah bisa di sebut sebagai pengendali elemen spiritual sesungguhnya sekarang.


Aku sangat senang karena usaha kami dan kerja keras yang aku lakukan beberapa hari ini sudah membuahkan hasil sedikit demi sedikit, meski cukup melelahkan dan membutuhkan kesabaran ekstra namun semua didikan dari kakek Kerto benar-benar memberikan pengaruh besar padaku begitu pula pada Devano.


Aku yang sebelumnya tidak bisa memunculkan atau menghilangkan api di tanganku sesuai keinginan kini sudah bisa mengendalikannya dengan baik, bahkan aku bisa membuat pedang dari api serta bisa memanggil hewan spiritual ku yang tidak lain adalah burung phoenix yang berkobar dalam api.


Meski aku belum bisa mengendalikan burung phoenix itu tetapi setidaknya kini aku bisa mengendalikan kekuatan api yang menjalar dalam tubuhku.


Devano juga sudah bisa mengendalikan kekuatannya dia bisa merasakan kerusakan pada setiap tanaman yang dia jadikan bahan percobaan, bahkan kini mata batinnya sudah bisa melihat cukup jelas kerusakan di dalam tumbuhan tersebut sehingga lebih mudah dan lebih cepat untuk dia memulihkan sel-sel bermasalah di dalamnya.


Bukan hanya itu bahkan tubuh Devano jauh jadi lebih kuat, dia bisa berlari dua puluh putaran hanya dalam beberapa jam, padahal sebelumnya berlari tiga putaran saja dia sudah terjungkal lesu dan kehausan hingga aku harus memberikan dia buah energi itu.


Hari ini hari ujian akhir bagi aku dan Devano untuk melihat seberapa hebat kami setelah pembelajaran yang diberikan oleh kakek Kerto selama ini.


Aku sudah sangat tidak sabar untuk menunjukkan kekuatan api serta pedang api yang sudah dapat aku kendalikan dengan mudah, sedangkan disisi lain Devano juga sudah siap untuk melukai dirinya sendiri dan mengobatinya dalam waktu yang sangat cepat, dia bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri sebagai bahan percobaan dari kekuatan yang dia miliki.


Hingga akhirnya kakek Kerto tiba dan dia lebih dulu menghampiri aku lalu mengujiku untuk melemparkan kekuatan apiku hingga harus mengalahkan sebuah pohon jadi-jadian yang dia ciptakan dengan ilusi.


"Emely, karena kau yang paling kuat dan kau juga yang paling tanggap selama berlatih, maka kau akan aku berikan ujian level tinggi, lihat ke sana, itu adalah tongkatku yang akan menyamar menjadi tumbuhan jadi-jadian dan dia akan melakukan tehnik ilusi, tugasmu adalah kau harus bisa memusnahkan sihir di dalam tongkat itu hanya dalam satu serangan, ingat! Kuncinya adalah fokus dan kau harus bisa menemukan dahulu mana tongkat yang asli yang menyamar menjadi tumbuhan atau ilusi tumbuhannya yang kosong" ucap kakek memberitahuku dan menjelaskan peraturannya.


Aku langsung mengangguk paham dan kakek Kerto segera menyuruh aku untuk memasang kuda-kuda dan bersiap untuk melakukan tes kekuatan terakhir ini.

__ADS_1


"Baik kek aku mengerti" balasku penuh keyakinan,


"Bagus, ayo siapkan kuda-kuda dan fokuskan pikiranmu ke depan, ujiannya dimulai dari......sekarang!" Ucap kakek yang tiba-tiba langsung memulainya.


Aku melihat tongkat itu sekejap berubah menjadi sebuah pohon kecil yang melayang di udara dan tidak tinggal diam, hingga pohon itu semakin bertambah, dia mulai membelah dirinya dan menciptakan ilusi yang lebih banyak lagi.


Aku tetap berusaha fokus dan merasakan asal dari energi sihir ini yang paling kuat, perlahan aku menutup mataku dan merasakannya dengan benar hingga aku sudah menemukan letaknya, barulah aku membuka mata dengan langsung tertuju pada salah satu pohon yang ada di samping kanan.


Aku sudah merasa sangat yakin setelah memperhatikannya beberapa saat lagi.


Hingga aku langsung melemparkan bola apiku pada pohon itu, dan dugaanku ternyata sangat tepat, ketika bola apiku mengenai pohon tersebut seketika ilusi di sekitarnya musnah begitu saja dan pohon itu juga langsung kembali menjadi sebuah tongkat.


"Wa....prok....prok....prok....hebat Emely kau pantas di sebut penguasa elemen api sekarang. Ingat! Pertahankan kemampuanmu ini karena kau adalah orang yang paling kuat diantara pemilik elemen lainnya" ucap kakek memujiku sambil bertepuk tangan dan wajahnya terlihat senang serta cukup puas dengan hasil yang aku dapatkan di ujian akhir ini.


Aku juga merasa sangat lega setelah menyelesaikan tes akhir yang membuat aku tegang semalaman dan hampir tidak bisa tertidur malam tadi karena takut dengan hasilnya, kini kakek mulai beralih menatap pada Devano dan mulai mengujinya, rencana awal Devano untuk melukai dirinya sendiri dan membuat diri dia sebagai bahan percobaan tidak di izinkan oleh kakek Kerto dan kakek justru malah menunjuk aku sebagai bahan percobaan bagi ujian Devano saat ini.


"Emely kemari kau, cepat lukai dirimu atau kakek yang akan membuatnya" ucap kakek begitu saja,


"Kek, ada apa denganmu? Apa sungguh harus aku yang menjadi korbannya, kenapa tidak biarkan dia sendiri saja yang menjadi bahan percobaan bagi dirinya?" Ucapku merasa tidak terima,


"Dia akan kehilangan energi jika dia mengobati dirinya sendiri dengan keadaan dirinya terluka dan itu akan menurunkan keahliannya dalam penyembuhan, apa kau tidak mengingatnya hah!" Bentak kakek melotot kepadaku.

__ADS_1


Aku memang tahu mengenai hal itu tapi rasanya tetap saja aku kesal dan tidak bisa menerima keputusan kakek Kerto yang malah mengorbankan aku.


"Tapi kek, ada banyak tumbuhan ajaib di sekitar sini kenapa tidak mereka saja yang dijadikan bahan percobaan, bagaimana jika aku terluka dan dia gagal mengobatiku, aaahhh....aku pasti akan semakin cacat, aku tidak mau itu!" Ucapku yang masih enggan untuk melakukannya.


Kakek menatapku dengan tajam dan dia tiba-tiba saja mengangkat tongkatnya lalu menggores tanganku secara tiba-tiba hingga membuat tanganku langsung terluka sangat besar, bahkan darah keluar begitu banyak dan aku hanya bisa menatap syok melihat tanganku terluka cukup dalam seperti itu, aku juga langsung jatuh terduduk dengan lemas.


"Aaahh.....a...aahh...tanganku?" Ucapku merasa lemah dan rasanya sangat sakit yang tidak tertahankan.


Kakek Kerto langsung menyuruh Devano untuk melakukan tugasnya secepat mungkin sebelum aku akan kehabisan darah.


"Devano apa lagi yang kau tunggu, sekarang semua ada di tanganku, dia akan mati jika darahnya di biarkan keluar seperti itu dalam waktu yang lama" ucap kakek Kerto mengungkapkan.


Mendengarnya aku semakin panik dan merasa sangat lemas bahkan aku tidak berani melihat tanganku lagi yang terluka, hingga Devano langsung duduk di hadapanku dan dia memegangi luka di tanganku dengan kedua tangannya dan menutup mata memfokuskan dirinya, cahaya mulai terlihat dari sela-sela tangan Devano yang menyentuh luka di tanganku dan tidak membutuhkan waktu lama luka di tanganku mengecel dengan cepat dan sembuh seperti sedia kala tanpa ada bekas luka atau sebagainya.


Hanya terlihat sisa-sisa darah di tanah dan aku segera memeriksa tanganku lagi dengan jeli.


"Aahh.... Tanganku, tangan berharga ini? Huuuft....untung saja kau berhasil, jika tidak aku akan membakarmu hidup-hidup!" Bentakku sambil menatap Devano dengan tajam.


Aku sungguh erasa lega karena tanganku berhasil di selamatkan meski aku terasa sedikit lemas karena kehilangan darah yang cukup banyak, tapi Devano membantuku berdiri, dia mengulurkan tangannya dan memapahku hingga kembali ke gua pengabulan hingga kakek Kerto memberi kami makan buah energi yang langsung membuat tubuh kami berdua kembali bersemangat juga vit seperti baru bangun tidur dan tidak merasakan lapar sedikitpun.


"Aaahhh....untunglah ada buah ini, jika tidak aku pasti sudah harus di infus beberapa hari untuk memulihkan energi" gerutuku pelan.

__ADS_1


"Sudah jangan berlebihan, kalian cepat beristirahat dan jangan terlalu senang dengan apa yang sudah kalian kuasai, itu masih belum ada apa-apanya dibandingkan rasa iblis Abaddon" ucap kakek membuat aku segera mengangguk memahami ucapannya.


__ADS_2