
Ketika aku berbicara setegas itu kepadanya Vayu dan yang lain langsung terdiam mereka diam membisu dan memikirkan semua ucapan yang aku lontarkan kepada mereka saat itu.
Aku pun langsung menarik nafas yang dalam dan memegang tangan Vayu yang aku lihat saat itu masih merasa ragu untuk terjun ke bawah dengan aku dan yang lainnya.
"Vayu aku janji aku akan melindungi kamu dan yang lainnya, kau harus merasa yakin dan percaya kepadaku, bahkan di saat aku harus mengorbankan diriku aku akan melakukannya jika itu di perlukan" ucapku kepadanya dengan menatap lekat dan dalam.
Vayu langsung mengangguk menanggapi ucapanku itu dan dia segera mengubah ekspresi wajahnya, kini dia terlihat tersenyum kepadaku walau aku tahu senyumannya itu tidak sepenuhnya tulus.
"Baiklah Emely aku akan mencobanya" balas Vayu saat itu.
Aku merasa senang karena akhirnya Vayu sudah bisa mendengarkan aku dan kami pun segera bersiap-siap untuk segera melompat ke bawah sana dengan segera saat itu.
"Baiklah semuanya ayo kita bersiap, siapa yang akan turun ke sana lebih dulu?" Tanyaku kepada mereka semua,
Kami saling tatapan satu sama lain dan tidak ada yang mau turun ke bawah sana lebih dulu, hingga tidak lama Brox mengacungkan tangannya.
"Aku akan kesana lebih dulu" ucap Brox membuat semua orang merasa kaget,
"Brox apa kau yakin? Kau baru saja mengeluarkan banyak energi dari tubuhmu?" Tanyaku kepadanya karena aku mencemaskan keadaan dia.
"Eum... Aku yakin Emely aku akan turun lebih dulu dengan Devano" ujar Brox melanjutkan dan dia langsung menatap ke arah Devano.
Aku terperangah kaget dan membelalakkan mataku lebar, tidak pernah aku duga Brox akan mengatakan itu tanpa persetujuan dari Devano terlebih dahulu hingga membuat Devano yang merasa namanya di panggil dia langsung menatap tajam mengerutkan kedua alisnya kepada Brox.
"A.. apa? Kenapa kau malah membawa namaku? Kalau kau mau turun lebih dulu ya turunlah sendiri kenapa harus mengajak aku?" Ucap Devano menolaknya dengan cepat,
"Iya Brox kau ini kenapa sih, kalian berdua baru kehilangan banyak kekuatan dan sebaiknya kalian jangan bersama-sama itu akan bahaya Dika kalian bertemu sesuatu yang kuat atau menakutkan di bawah sana" tambah Avan memberi tahunya.
Aku menghembuskan nafas bingung dan saat itu juga aku pun memutuskan untuk aku sendiri yang terjun ke bawah sana lebih dulu, agar mereka semua tidak saling menyalahkan satu sama lain dan berhenti membuat aku kesal.
"Sudahlah aku akan ke bawah lebih dulu, ku tunggu kalian semua nanti, hiyaaaa" ucapku sambil langsung meloncat ke jembatan pelangi yang melengkung ke bawah sana.
Saat aku terjun ke jembatan pelangi itu aku langsung saja terperosok ke bawah jurang dengan posisi terduduk seperti menaiki seluncuran di duniaku, rasanya tidak terlalu menyakitkan karena aku berseluncur di atas pelangi yang cantik.
Hanya terdengar teriakkan dari teman-temanku yang lain dan mereka segera menyusul aku saat itu juga.
"Ahh.. Emely tidak tunggu kami!" Teriak Arshaka yang saat itu langsung ikut terjun pada perosotan pelangi tersebut.
Pelangi yang awalnya terlihat melengkung seperti sebuah jembatan perlahan mulai berubah menjadi cekung dan semakin mirip seperti sebuah perosotan air di duniaku saat itu.
Avan dan Devano langsung ikut menyusul setelah Arshaka kemudian Vayu dan Brox juga menyusul mereka dari belakang.
Aku tiba di dunia yang sangat gelap dan terasa cukup panas di tubuhku, semuanya sangat tandus dan tanah yang aku pijak seperti memiliki lahar api di dalamnya.
__ADS_1
Aku bisa merasakan kekuatanku semakin kuat dan meningkat pesan di sini, lalu saat aku melihat ke depan ada sebuah gunung merapi yang menjulang tinggi dan sangat besar, nampak dari bagian atasnya mengeluarkan lava panas yang mengalir keluar dan mulai menuju ke arahku dengan perlahan, aku kaget terperangah sampai tidak lama Arshaka dan yang lainnya tiba di tempat itu dan mereka meringis di belakang karena tidak semua mendarat dengan mulus.
"Aduhhh.... Pinggangku akan benar-benar patah jika kita terus berpetualang seperti ini, apa tidak ada pesawat atau bus disini, sangat menjengkelkan sekali" gerutu Devano sambil segera dibantu untuk segera berdiri oleh Avan saat itu.
Sedangkan yang lainnya sudah melihat ke depan dimana lapa panas itu semakin mendekat ke arah kami dan tidak ada waktu lagi untuk kita melarikan diri dari sana saat itu.
"Ohh... Tidak Emely kenapa kau malah diam saja, lavanya itu akan segera menuju ke arah kami, ayo berpegangan padaku semuanya aku akan membawa kalian terbang" ucap Vayu yang sudah berjaga-jaga.
Mereka semua dengan cepat langsung memegangi tangan Vayu dan yang lainnya juga saling berpegangan satu sama lain.
Sedangkan aku masih saja dia mematung saat itu, aku sama sekali tidak merasa takut dengan lava panas tersebut, justru aku merasa haus ketika melihatnya dan aku seperti ingin menyentuh lava itu.
"Emely apa lagi yang kau tunggu? Cepat pegang tanganku Emely" ucap Arshaka yang saat itu sudah berpegangan dengan Vayu,
"Emely cepat pegang tangannya!" Teriak Devano menimpali.
Sedangkan lava itu terus mendekat dan Vayu juga tidak bisa menahan dirinya lebih lama lagi dia langsung membawa teman yang lainnya terbang dari tempat itu dengan cepat, sedangkan mereka semua menatap ke bawah dan langsung memarahi Vayu karena malah meninggalkan Emely seorang diri.
"Vayu apa-apaan kau ini, cepat turunkan aku, Emely sedang dalam bahaya sekarang!" Bentak Devano mencoba berontak dan berusaha melepaskan diri dari pegangan tangan Vayu,
"Jangan bodoh Devano kau akan langsung hancur jika terkena lava itu kita juga harus terbang lebih tinggi lagi, bersiaplah" ucap Vayu menahan tangan Devano dengan kuat.
Devano tetap ingin menyelamatkan Emely dan dia tetap berontak meski Avan dan Vayu terus menahan tubuhnya saat itu.
Semua orang sangat tegang saat itu karena lava dari gunung berapi tersebut semakin sangat dekat dengan Emely dan dia juga masih tidak bergerak saat itu sampai dengan cepat lava itu menghempaskan tubuh Emely dan dia tertutupi oleh lava yang sangat panas dan besar tersebut.
"Brusssssss...... Emely tidak!!!" Teriak Devano berteriak histeris.
Sahabat mana yang akan tega dan tetap diam disaat melihat sahabatnya sendiri tersapu oleh lava gunung berapi yang sangat panas dan bisa langsung menghancurkan tulang manusia, Devano sangat lemas saat itu dia menangis histeris melihat Emely benar benar lenyap tertelan lava yang panas tersebut.
"Emely, oohhh tidak hiks...hiks.. Emely kau sialan kenapa kau tidak kabur kenapa kau diam saja bodoh!" Teriak Devano terus menangis histeris tidak karuan.
Bukan hanya Devano yang merasakan kesedihan dengan hilangnya Emely saat itu tetap Avan, Vayundan yang lainnya juga merasakan hal yang sama, bahkan Brox yang baru mengenal Emely dia juga menangis tersedu-sedu melihat Emely lenyap tertelan lava panas di depan matanya sendiri.
Dia juga merasa sangat bersalah karena tidak berhasil menahan Emely untuk tidak mencoba turun ke dunia bawah itu.
"Hiks...hiks...hiks... Semua ini salahku, aku tidak berhasil menahan Emely untuk tidak turun ke dunia bawah ini, seharusnya aku bisa menahan dia tadi, jika saja aku berhasil menahannya semua ini tidak akan terjadi" ucap Brox di sela-sela tangisannya.
Saat itu Arshaka terus menatap dengan termenung pada tempat dimana Emely tertelan oleh lava panas gunung berapi tersebut dan sebuah buih api muncul disana itu membuat Arshaka merasa kaget dan aneh ketika melihat buih tersebut semakin banyak dan besar.
"Teman-teman tunggu lihat ke sana, lihatlah baik-baik ada buih api disana, mungkin Emely masih hidup, dia kan pengendali api" ucap Arshaka kepada teman temannya.
Semua orang menatap ke arah Arshaka dan mereka langsung melirik kembali ke tempat dimana terakhir kali mereka mihat Emely tertelan lava itu, dan apa yang dikatakan oleh Arshaka benar, mereka semua melihat banyak buih dalan gulungan lava tersebut hingga tidak lama tiba-tiba saja Emely kembali muncul dari dalam lava tersebut dan dia melesat terbang ke atas dengan lurus, rambutnya menjadi menyala dengan lava bercampur api yang membara.
__ADS_1
Seluruh badannya berubah total menjadi bara api dan Emely saat itu seperti memakai sebuah pakaian yang terbuat dari batuan lava yang membara.
"Aaaaarrkkkkk......" Teriakkan Emely yang sangat kencang saat dia keluar dari gumpalan lava itu dan melesat ke atas sangat tinggi dengan cahaya api yang membara menembus awan gelap di langit tersebut, bahkan cahaya tersebut juga menembus permukaan bumi paling bawah hingga membuat lava panas yang ada di bawah itu terpotong menjadi dua arah.
Sebuah sayap api berwarna merah menyala muncul dari belakang pundaknya dan burung berukuran kecil hinggap di atas sebelah bahunya burung itu berwarna merah keemasan dan mirip sekali seperti burung besar raksasa yang pernah membantu Emely saat melawan Mauren ketika di dunia permukaan sebelumnya.
"Wahhh.... Lihat itu Emely memiliki sayap dan lihat seekor burung yang hinggap di pundaknya, itu cantik sekali" ucap Avan yang memperhatikan dengan detail.
Devano pun menatap ke arah Emely dan saat itu juga Emely menatap matanya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Emely dia... Dia... Apakah dia sungguh Emely yang aku kenal?" Gerutu Devano.
Aku saat itu tidak bisa melihat dengan jelas dan langsung mendekati mereka karena aku belum sadar dengan kondisi diriku, saat keluar dari lava tersebut aku hanya merasa diriku seperti menyerap sebuah kekuatan yang sangat besar hingga aku langsung terpental ke atas sangat keras dan aku tidak sadar bahwa aku memiliki sayap saat itu, hingga ketika aku menatap mata Devano secara tidak sengaja aku langsung berniat untuk mendekatinya dan mendengar kepakan sayang dari belakang.
Sampai ketika aku menikah betapa kagetnya aku karena melihat sebuah sayap yang besar tumbuh di punggungku membuat aku kehilangan keseimbangan saat terbang kala itu.
"Aaaw..apa...sayap? Aku punya sayap a...a..aaahhhh tidakkkk" teriakku sangat kencang dan aku langsung jatuh terjun bebas ke bawah begitu saja.
Mihat itu Devano dan yang lainnya sangat kaget dan dia segera menyuruh Vayu untuk menyelamatkan Emely secepatnya sebelum dia kembali jatuh di lava yang panas itu lagi.
"Ohh... Tidak dia jatuh lagi, Vayu turunkan kami ke tempat yang aman dan cepat selamatkan Emely!" Ucap Devano mendesak,
Vayu mengangguk dan dia segera menghembuskan teman-temannya itu dengan angin yang keluar dari mulutnya hingga mereka bisa mendarat dan jatuh di pinggiran hutan yang tinggi nan gelap di sekitar sana, sedangkan Vayu langsung terbang mendekati Emely secepat yang dia bisa.
"Emely cobalah berusaha untuk raih tanganku" teriak Vayu sambil berusaha mengulurkan tangannya dan menggapai Emely.
Saat itu aku jatuh dalam posisi terlentang sedangkan Vayu terbang di atasku dan dia terus mengulurkan tangannya, aku berusaha meraih tangan Vayu hingga akhirnya tangan kami berhasil berpegangan dengan kuat dan Vayu langsung menarik tubuhku dalam pelukannya lalu dia langsung menguapkan anginnya dan membawaku mendarah di pulau aneh yang ada disana.
Setelah mendarat aku sungguh merasa kepalaku pusing karena dibawa terbang memutar dengan Vayu dan aku merasa sangat lemas saat itu padahal sebelumnya aku merasa tubuhku sangat kuat dan berenergi, sampai teman-teman yang lain datang menghampiri aku dan Devano langsung memelukku dengan erat.
"Emely aku sangat menyayangimu aku sangat mencemaskanmu, apa kau baik-baik saja?" Ucap Devano sambil memelukku berkali-kali.
Itu membuat aku sedikit kesal dengannya karena aku sulit bernafas dengan baik sebab dia terus memegangi wajahku dan memeluk aku seenaknya, untungnya Arshaka segera menghentikan Devano dan aku baru bisa bernafas dengan tenang dan lega.
"Devano hentikan, apa yang kau lakukan Emely baru saja selamat dari gumpalan lava dia butuh udara yang segar, kau tidak boleh mengguncangnya seperti itu!" Ucap Arshaka sambil segera mendorong pundak Devano agar dia menjauh.
"Hah.... Hah.... Hah... Hah Devano jangan marah dulu apa yang dikatakan oleh Arshaka memang benar aku butuh udara aku ingin bernafas dengan benar dahulu" ucapku menahan Devano karena aku tahu saat itu Devano hampir saja akan membalas Arshaka.
Devano pun terlihat mengurungkan niatnya dan dia kembali cemberut menatap tidak suka ke arah Arshaka sedangkan Arshaka dan Vayu segera membantu aku untuk membenarkan posisi dudukku lebih baik.
"Aahhh... Terimakasih Vayu, Arshaka dan kalian semua, terimakasih karena sudah menolongku dan maaf karena membuat kalian cemas padaku" ucapku kepada mereka,
"Emely sebenarnya apa yang terjadi denganmu dan bagaimana bisa kau lolos dari kematian seperti tadi?" Tanya Avan dengan heran dan matanya yang terbelalak lebar sedari tadi.
__ADS_1
Aku bahkan tidak tahan untuk tertawa melihat wajah Brox dan Avan yang sejak awal aku sampai di tempat itu, mereka terus menatap aku dengan mulut terbuka dan mata terbelalak lebar, apalagi Brox yang terus saja menatap aku seperti itu tanpa bicara sedikitpun.