
Rasa sakit di dalam tubuhku dan aku yang tidak bisa merasakan kakiku sendiri, seakan tidak aku rasakan dan bisa aku tahan selama aku bisa melihat semua orang disana tertawa dengan senang dan gembira, walau hanya satu misi saja yang baru terselesaikan tetapi ini sudah membuat kami banyak sekali menemukan pembelajaran dalam hidup, dan sebuah pertemanan yang saling membantu dalam suka maupun duka.
Saat aku menyuruhnya untuk menanyakan langsung kepada Mbah Kerto, wajah Devano langsung saja terlihat murung dan tertunduk lesu dengan cepat, hingga teman-teman yang lain justru malah menertawakan ekspresi wajahnya saat itu, memang wajah Devano sangat lucu jika dia tengah kesal seperti itu sampai Mbah Kerto sendiri yang pada akhirnya memberitahu mereka semua termasuk aku sendiri tentang misi yang sebenarnya.
"Sudahlah anak-anak kalian sudah cukup menjalani perjalanan yang sangat panjang ini, misi akan selalu ada tetapi semoga tidak akan terjadi apapun lagi dalam negeri dan dunia tercinta kita ini, agar semua makhluk yang hidup bisa menikmati kehidupannya masing-masing dengan penuh kedamaian dan kebahagiaan" ujar Mbah Kerto yang langsung saja mendapatkan anggukan dari semu orang.
"Hmm...iya..iya..kakek kau ini memang yang paling tahu tentang segalanya aku sama sekali tidak pernah berharap misi berikutnya akan terjadi, aahhh aku tidak sanggup lagi melihat Emely terjatuh dan terluka sampai seperti ini" tambah Devano sambil melirik ke arahku.
Jujur saja ketika mendengar ucapan dari Devano seperti itu dan ketika ekspresi wajahnya terlihat sangat mengkhawatirkan diriku rasanya aku cukup senang karena bisa memelukku seseorang di sampingku lagi yang perduli padaku selain dari Pelik, mungkin aku juga akan mempertimbangkan untuk mulai akur dan menerima dia sebagai temanku ke depannya nanti.
"Aaahh ... sudah lah jangan membahas hal lain lagi ayo kita berpose dulu untuk yang terakhir kali, ayo Emely" ajak Devano dan semua orang langsung merapat lalu mulai berpose menunjukkan kedua jarinya pada kamera karena mengikuti apa yang di lakukan oleh Devano saat itu.
"Satu...dua...tida..ckrek....." Sebuah foto sudah berhasil di ambil dan Devano bahkan dengan sengaja menelan tombol di ponsel Emely beberapa kali hingga dia bisa melihat foto lainnya dimana terlihat teman-temannya tersebut tidak sedang dalam keadaan yang fokus dengan kameranya.
Setelah mengambil foto tersebut kakek tetua juga yang lainnya mulai berpamitan mereka masuk ke dalam sebuah dinding transparan yang di buat oleh Mbah Kerto saat itu, hingga satu per satu mulai masuk ke dalam lemari Emely sebab disanalah Mbah Kerto membuat dinding transparan untuk melewati garis waktu dan tempat menuju dunia lain tempat dimana mereka berasal sebelumnya.
Di awali dengan Arshaka dan ibunya yang pergi lebih dulu dan melambaikan tangan bentuk perpisahan kepada Emely juga yang lainnya saat itu, lalu sang putra mahkota juga Avan kemudian, sampai di lanjutkan hingga Vayu menjadi yang terakhir saat itu.
Sampai hanya tersisa dua orang yang masih berada di dalam kamar Emely saat itu, Mbah Kerto juga Erebus.
Devano menatap dengan heran mengapa Erebus terlihat begitu cemas dia seperti tidak ingin masuk ke dalam dinding transparan yang di buat oleh Mbah Kerto saat itu, bahkan wajahnya saja terlihat cukup ragu dan itu bisa jelas terlihat oleh Devano juga aku.
"Erebus apa yang kau lakukan semua orang sudah masuk kenapa kau masih tetap diam disini apa kau tidak ingin kembali ke tempat asalmu?" Tanya Devano kepadanya saat itu,
"Iya ..Erebus ada apa denganmu, ayo katakan pada kami, jangan memendamnya seorang diri" tambahku berbicara kepadanya.
Erebus terlihat kesulitan untuk mengatakan yang sebenarnya dia rasakan kala itu dia juga hanya menetap sekilas padaku lalu beralih kepada Devano sampai tidak lama kemudian setelah kami semua terus bertanya dan mendesak dia agar segera mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan saat itu, barulah Erebus mulai mau mengatakannya.
"Begini Emely.... Devano, kalian tahu bukan dunia bawah tempat aku tinggal itu adalah tempat dimana Abaddon berasal, di dalam perut bumi yang paling dalam dan dasar, disanalah aku tinggal. Tetapi disana aku benar-benar seorang diri aku tidak mengenal siapapun dan tidak ada siapapun yang bisa menemani aku atau berbicara denganku, aku hanya punya naga bayanganku yang dengan setia terus menemani aku juga begitu jinak padaku, mungkin jika dulu ada makhluk lain seperti siluman keledai yang sebelumnya menyerang kita semua, sehingga mungkin aku tidak terlalu kesepian, tetapi sekarang mungkin aku akan benar-benar seorang diri jadi aku merasa sangat takut untuk kembali ke sana lagi" ujar Erebus yang mulai menjelaskan semua rasa kecemasan di dalam dirinya saat itu.
Aku dan Devano yang mendengar ucapannya itu langsung saja saling menatap satu sama lain dan kami refleks menaikkan kedua alis kami bersamaan sebab kami juga tidak tahu apa yang harus kami lakukan untuk Erebus dan membantunya agar tidak merasa kesepian lagi, sampai Mbah Kerto tiba-tiba saja berbicara membalas ucapan dari Erebus saat itu.
"Jika kau tidak mau kembali kau bisa tidak kembali ke sana tetapi kau mungkin akan menyesali hal itu, sebab tempat tinggal ternyaman adalah tempat dimana kau berasal Erebus" ujar Mbah Kerto memberitahunya saat itu.
Aku yang mendengar ucapan dari Mbah Kerto langsung saja mengangguk dan menyetujui apa yang di ucapkan oleh Mbah Kerto barusan.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan oleh Mbah Kerto memang benar, kau mungkin tidak akan benar-benar kesepian sebab aku rasa para heran dan yang lainnya akan mulai menampakkan diri jika makhluk menyeramkan itu sudah hancur bersamaan dengan hancurnya Abaddon sebelumnya" balasku menambahkan saat itu.
Devano juga mengangguk dan dia mulai ikut dalam meyakinkan Erebus lagi, agar dia tidak merasa takut dan kesepian seperti sebelumnya.
"Erebus tidakkah kamu memiliki sebuah tanggung jawab atas tempat itu, jika bukan kamu yang memimpin keseimbangan tujuh tempat ini, maka siapa lagi yang akan mengendalikannya? Jika kamu tidak ada disana apa yang akan terjadi dengan tempat itu, meski itu hanyalah sebuah dasar bumi tapi kakek tetua dan para penduduknya banyak sekali yang pernah jatuh ke tempatmu, jika sebelumnya mereka hancur karena terkena semburan lava panas gunung Merapi, atau di buru oleh siluman keledai itu, kini kamu bisa menjadi penjaganya menyelamatkan setiap orang yang jatuh dari atas dan mengembalikannya ke atas lagi, kau juga bisa pergi mengunjungi Brox aku yakin dia akan merasa sangat senang jika melihatmu nanti, kita bisa berkomunikasi dengan sihir kakek tetua kau tidak perlu merasa cemas" tambah Devano sambil memegangi sebelah pindah Erebus saat itu.
Sampai akhirnya berkat ucapan dari Devano Erebus mulai memperlihatkan sebuah senyum kecil di wajahnya yang perlahan melebar hingga dia mau menyetujui apa yang dikatakan oleh Devano sebelumnya.
"Baiklah aku mengerti maksud kalian semua, aku akan tetap pergi kembali ke tempat asalku" balas Erebus yang terlihat sudah yakin dengan pilihannya saat itu.
Aku merasa sangat senang akhirnya dia tidak terlihat cemas lagi, dan aku sangat yakin bahwa Erebus bisa menghidupkan kembali perut bumi yang terkenal dengan keangkerannya itu juga banyak rumor buruk tentang tempat tersebut, dengan apa yang dikatakan oleh Devano kepadanya dan jika Erebus melakukan apa yang Devano katakan, mungkin dia akan di percayai oleh masyarakat di tempat Brox tinggal mereka bisa hidup berdampingan selamanya dan bisa saling melengkapi.
Erebus sudah bersiap-siap untuk pergi ke tempat tersebut, namun dengan cepat aku menghentikannya dahulu saat itu dan aku berusaha memberikan dia sebuah kenang-kenangan agar dia tidak pernah lagi merasa kesepian saat hidup sendiri di dunianya tersebut.
"Erebus tunggu, aku akan memberikanmu sesuatu yang sangat berharga" ucapku menghentikannya.
Erebus langsungeng menghentikan langkah kakinya dan dengan cepat aku meminta pada Devano agar mengambilkan sebuah gelang milikku yang selalu aku yakini sebagai gelang pembawa keberuntungan untukku selama ini.
"Devano tolong ambilkan gelang berwarna hitam di laci itu" ucapku sambil menunjuk ke arah laci di bawah meja belajarku saat itu.
"Erebus kemarilah, aku ingin memasangkan gelang ini pada lenganmu" ucapku kepadanya.
Erebus berjalan menghampiri aku dan dia langsung mengulurkan tangannya dengan segera sambil tersenyum melihat ke arahku.
"Erebus...gelang ini adalah gelang keberuntungan yang pernah di berikan oleh nenekku kepadaku dulu, tetapi karena aku merajuk padanya aku selalu menyimpannya dengan baik untuk mengingat nenekku, dan sekarang aku memberikannya kepadamu aku harap kau akan selalu mengingat aku di saat kau merasa sendiri, maka disitulah aku akan hadir, lihat aku memiliki pasangannya gelang ini adalah gelang pasangan aku memakai yang satunya dan kau memakai yang lainnya, jika kau merasa sepi atau tidak baik-baik saja tekan tombol ini sekali, aku akan mendapatkan sinyal darimu meski sejauh apapun kau terpisah dariku, sebab ini bukanlah gelang biasa, ini gelang dengan kekuatan komunikasi sihir di dalamnya, kau akan selalu terhubung denganku, jadi kau tidak perlu merasa cemas, dan jika kau dalam bahaya telat tiga tombolnya warna di gelangku akan menyala dan warnanya berubah menjadi merah jika kau menekannya tigak kali yang mana itu menunjukkan bahwa kau dalam bahaya, dan jika kau menekannya sekali warnanya akan terlihat kuning padaku, menandakan kau merindukan aku, dan jika kau menekannya dua kali itu artinya kau sedang sedih warnanya akan hijau, berjanjilah padaku kau harus mengingatnya, apa kau mengerti?" Ucapku kepadanya saat itu.
Erebus langsung mengangguk mengerti dan dia langsung memegangi gelang yang sudah mungkar di tangannya saat itu, terlihat sekali wajahnya kini jauh lebih tenang dan lebih baik dari pada sebelumnya.
"Emely terimakasih banyak aku akan selalu menghubungi dirimu lewat gelang ini, karena aku akan selalu merindukanmu" balas Erebus kepadaku saat itu.
Aku menganggukkan kepala membalasnya dan dia segera berpamitan melambaikan tangannya lalu langsung masuk ke dalam dinding transparan yang dibuat oleh Mbah Kerto sejak tadi.
Sampai ketika semua sudah pergi begitu pula dengan Mbah Kerto sendiri yang langsung menghilang bak seperti asap yang memudar terhempas oleh angin ketika Erebus sudah masuk ke dalam lubang transparan yang dia buat untuk terakhir kalinya.
Sekarang setelah sudah terasa sepi dan benar-benar sudah tidak ada siapapun lagi di dalam rumahku kecuali Pelik dan Devano, aku hanya bisa diam lalu membenarkan posisi tidurku di banting oleh Pelik saat itu.
__ADS_1
"Terimakasih Pelik" ucapku sambil tersenyum padanya.
Sedangkan di sisi lain saat aku tidak sengaja melirik ke arah Devano dia terlihat menatap ke arahku dengan tatapan yang sangat tajam juga kedua tangan yang dia lipatkan di depan dadanya, aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan saat itu, berdiri di sampingku menatap wajahku dengan tatapan tajam dan wajahnya yang di tekuk sangat buruk saat itu.
"Emely ada apa dengannya?" Tanya Pelik padaku yang bahkan aku sendiri juga tidak tahu apa yang terjadi pada Devano saat itu.
"Entahlah aku juga tidak tahu mungkin dia memang sedang tidak baik-baik saja, sebaiknya kita biarkan saja lah" balasku berbisik membalas ucapan Pelik.
Aku pikir saat itu Devano tidak akan mendengar bisikan antara aku dan Pelik karena saat itu aku rasa aku sudah berbicara sangat pelan bersama Pelik namun ternyata dugaanku salah Devano masih bisa mendengarnya dan dia langsung berteriak sangat keras memanggil namaku dengan wajahnya yang terlihat sangat kesal padaku saat itu.
"EMELY!" Teriak Devano sangat kencang sampai membuat aku sedikit kaget mendengar teriakkan nya.
"Heh... Devano apa yang kamu lakukan kenapa kau malah berteriak memanggil aku seperti itu, aku kan ada di hadapanmu, apa kau gila yah?" Ucapku sedikit kesal dengannya karena tingkah dia sungguh sulit untuk aku mengerti saat itu.
Dia selalu saja marah secara tiba-tiba dan dengan alasan yang tidak jelas, aku sendiri tidak bisa selalu memahaminya sedangkan dia sendiri juga tidak pernah bisa memahami posisiku sebagai seorang Emely, dia selalu saja bersikap kekanak-kanakan dan selalu berbuat semaunya aku tidak bisa menahan dia aku berbicara untuk menahan tingkahnya tersebut.
"Emely kenapa kau malah memberikan gelang pasangan kepada Erebus?" Tanya Devano dengan nada bicara yang terdengar seperti orang cemburu begitu jelas pada telingaku juga Pelik.
Ketika mendengar pertanyaan seperti itu dari Devano barulah aku dan Pelik mengerti apa yang menyebabkan dia sampai seperti ini, dan bersikap aneh sampai berteriak memanggil namaku tidak jelas seperti tadi, aku dan Pelik refleks saling tatap satu sama lain dan kami berdua sungguh tidak tahan untuk menahan tawa kami saat itu.
"Fffttt hahahaha...... Devano apa yang membuat pikiranmu sekonyol ini sih, kenapa kau terlihat marah dan kesal kepadaku hanya karena aku memberikan sebuah gelang seperti itu pada Erebus, lagi pula dia kan sangat membutuhkannya, kenapa kau mempermasalahkan itu denganku?" Balasku merasa tidak habis pikir sambil menggelengkan kepala berbicara dengannya.
Pelik juga terus menahan tawanya dan cekikikan sendiri mendengar Devano yang terlihat jelas bahwa saat itu dia tengah cemburu kepadaku tetapi aku sama sekali tidak terlalu menghiraukan kelakuannya karena hal seperti ini bukan terjadi untuk pertama kalinya, melainkan aku sudah mulai terbiasa dengan sikapnya itu.
Meski aku sudah membalas ucapannya tadi dia .asih tetap saja terlihat tidak terima dan menatap kesal merajuk kepadaku dia terus berdebat denganku mempermasalahkan hal tersebut yang sama sekali tidak penting untuk di perdebatkan oleh kami saat itu.
"Tapi Emely tetap saja, aku kan orang yang lebih lama denganmu dan aku juga orang pertama yang mengenalmu kenapa kau malah memberikan itu pada Erebus dan kenapa kau tidak memberikannya kepadaku!" Ucap Devano sambil memalingkan pandangannya ke arah lain.
Aku benar-benar sangat jengkel ketika mihat dia dengan sikapnya yang selalu saja membuat aku naik darah setiap saat, tidak tahu lagi bagaimana mau memberikan pengertian kepadanya dia selalu saja dengan pemikirannya sendiri yang sulit menerima kenyataan juga penjelasan yang aku berikan, sampai aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi menghadapinya dan memilih untuk tidur beristirahat saja darinya.
"Aishhh...sudahlah terserah denganmu aku kan sudah mengatakannya bahwa gelang itu hanya sebagai alat komunikasi saja antara dia dan aku, dia sendirian disana benar-benar seorang diri tentu saja aku mencemaskannya, sedangkan kau? Kau kan tinggal di dunia yang sama denganku setiap hari kita akan bertemu dan kau bisa datang kapan saja jika sesuatu terjadi padaku, kau akan terus ada di dekatku kenapa aku harus memberikan gelang itu padamu, apa kau gila yah?" Balasku dengan kesal dan masih berusaha menahan emosi kepadanya agar tidak berbicara lebih kasar lagi.
Dia sama sekali tidak membalas ucapanku saat itu dan aku sendiri hanya bisa menghembuskan nafas dengan berat untuk mengontrol emosi di dalam diriku sendiri saat itu.
"Aahhh...sudahlah aku ingin tidur dan istirahat untuk memulihkan diriku, awas saja jika kau mengganggu aku lagi, kakiku sudah mati rasa" ucapku kepadanya dan sengaja memperingatinya dengan keras.
__ADS_1