Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Ruangan Rahasia


__ADS_3

Kami pun mulai melakukan tos karena anggota tim kami sudah ada lima orang sekarang, aku hanya tinggal mencari dua orang pemilik kekuatan elemen spiritual lagi dan setelah itu aku bisa segera menyusun rencana dengan mereka semua untuk bisa kembali ke dunia permukaan lalunsegera menyelamatkan bumi ini dan kembali menjaga semua dunia paralel agar tetap seimbang dan semua orang yang ada dimanapun bisa segera merasakan kedamaian lagi, bukan di hantui dengan rasa takut seperti yang terjadi di dunia permukaan.


Aku tahu Abaddon sengaja mengincar dunia permukaan terlebih dahulu karena di sanalah terdapat banyak kebencian terjadi dan juga dia bisa memasuki jiwa seorang siswi yang sebenarnya sudah hampir meninggal itu, bahkan aku rasa mungkin Mauren sudah akan menjadi mayat hidup jika kamu tidak kunjung menyelamatkan jiwanya dari tangan Abaddon sebab jiwa dan ruh tidak bisa terpisah dalam waktu yang sangat lama seperti itu.


Vayu langsung terbelalak menatap ke arahku dan dia langsung melarang aku untuk melawan Abaddon, dia berbicara seakan dia sudah mengetahui siapa Abaddon sebenarnya dan aku sungguh kaget melihat dia mengetahui sangat banyak mengenai Abaddon.


"Tunggu jadi kalian ingin menghentikan Abaddon?" Tanya dia kepadaku dengan matanya yang terbelalak lebar,


"Iya, sejak awal kan aku juga sudah mengatakan bahwa kita memang akan menghadapi Abaddon" balasku kepadanya,


"Tidak bisa, dia adalah raja iblis dia yang paling kuat diantara makhluk jahat lainnya bahkan dia bisa dikatakan yang jahat diantara yang paling jahat, apa kalian bercanda akan melawan dia hanya dengan kekuatan yang kita miliki saat ini?" Bentak dia kepadaku,


"Kenapa tidak bisa buka kah jika ke tuju penguasaan elemen spiritual bersatu maka itu akan ada kemungkinan untuk mengalahkan dia?" Balasku kepadanya.


"Kau salah besar Emely, kita tidak mungkin mengalahkannya, nenek moyangku sudah pernah melakukan hal yang sama namun dia hanya bisa menahan inti ruh nya saja dan kau lihat dia kembali lagi sekarang itu artinya tidak ada kemungkinan untuk kita memusnahkan dia seutuhnya" balas Vayu kepadaku dengan wajahnya yang terlihat sangat serius.


Memang apa yang dikatakan oleh Vayu adalah sebuah kebenaran, bahkan kakek Kerto sendiri mengatakan hal yang sama tidak hanya itu raja di negeri Kolasea juga mengatakan itu padaku bahkan ibunya Arshaka juga berkata hal yang sama dan kini Vayu juga mengatakannya lagi. Namun walau begitu aku tetap harus mencobanya, setidaknya agar kami bisa menghentikan dia untuk saat ini dan bisa memikirkan cara lain lagi untuk memusnahkan dia di kemudiannya.


Karena melihat aku yang dia tertunduk lesu Devano langsung menyentuh pundakku dan dia memberikan semangat lagi kepadaku begitu juga dengan Avan dan Arshaka yang ikut memberikan aku semangat juga.


"Emely jangan putus asa seperti ini, kita belum mencobanya, setidaknya kita tidak akan menyesal karena hanya diam saja di saat tahu bahwa dunia tengah berada di ambang kehancuran, ayo kita lakukan semuanya sesuai dengan yang kakekku katakan" ujar Devano kepadaku,


"Devano tapi...." Balasku kepadanya dengan lesu,


"Emely aku sudah mengikutimu bahkan meninggalkan ibuku, apa kau akan mengecewakan aku dan ibu?" Balas Arshaka kepadaku,


"Iya Emely aku juga akan ada di pihakmu, kita harus terus maju ini sudah setengah jalan, aku akan mengerahkan semua kekuatanku untuk melawan Abaddon" tambah Avan membuatku semakin bersemangat.


Aku sungguh terharus dan tersentuh memiliki rekan satu tim yang sangat mendukungku dan mereka begitu kompak saling menolong satu sama lain meski kami hanya bertemu dalam beberapa saat saja.


Tapi mereka sudah seperti keluarga untukku, kebaikan yang mereka berikan kepadaku sungguh membuat aku merasa sangat di perhatikan dan di lindungi oleh tiga pria penguasa kekuatan elemen, dan di tambah satu orang lagi.


"Baiklah jika kalian semua merasa yakin aku juga akan berusaha semampuku" balas Vayu yang membuatku merasa senang.


Kami pun segera kembali melanjutkan perjalanan kami, aku terus berjalan di gurun yang panas dan terik itu mengikuti cahaya yang merambat dari peta aneh tersebut sampai kami tiba di sebuah buki pasir yang cukup tinggi dan mungkin bukit pasir itu adalah tempat yang paling tinggi di gurun tersebut.


Ku lihat ke sekeliling tempat itu semuanya hanya di tutupi dengan pasir yang sangat luas dan sejauh mata memandang disana semuanya adalah gurun pasir, tidak ada tanaman atau air sedikit pun hanya hamparan pasir yang membentuk gundukan besar atau berbentuk seperti gunung yang menjulang tinggi dan ada juga yang rendah dan tepat aku berdiri saat ini adalah gunung pasir yang paling tinggi sehingga kami semua bisa melihat wilayah gurun pasir itu dari atas sana, Avan dan Devano sudah sangat lelah karena mereka sudah mendaki gunung pasir itu tanpa henti sedikitpun dan terlihat sekali mereka sangat kehausan.


"Huh....huh...huh....aishh.... Emely aku sangat lelah kapan petunjuknya akan berakhir?" Ucap Devano mengeluh kepadaku.


"Aku juga tidak tahu Devano petunjuknya hanya berhenti disini dan aku tidak melihat apapun yang bisa di jadikan petunjuk" balasku kepadanya dengan kebingungan sendiri,


Sampai tiba-tiba saja Arshaka berteriak ke arahku dan dia melihat sebuah batu yang cukup besar dan terkubur oleh pasir disana.


"Emely kemari, lihat ini.... Ada sebuah batu yang aneh disini" ucap Arshaka berteriak kepadaku.


Aku pun langsung menghampirinya begitu juga dengan Vayu dan Avan kecuali Devano yang masih duduk dengan lemas disana.


"Batu? Selama aku tinggal disini aku tidak pernah melihat sebuah batu di wilayah ini, mana mungkin ada batu di gunung pasir luas seperti ini?" Ucap Vayu dengan wajah yang kebingungan.


Aku juga merasa sangat aneh dan karena aku penasaran aku mulai menyentuh batu tersebut namun disaat aku menyentuhnya batu itu ternyata tertekan seperti sebuah tombol yang bisa di tekan dengan sangat mudah oleh tanganku hingga tiba-tiba saja sebuah ruangan terbuka dari gunung itu dan membentuk sebuah tangga yang masuk ke dalam tanah tersebut.


"Brass..tak...tak...tak..tak...tak..." suara ruangan rahasia yang tiba-tiba saja terbuka begitu saja.


Sebuah lubang tiba-tiba saja terbuka dan ada sebuah tangga yang muncul tiba-tiba terlihat menurun kebawah ruangan yang sangat gelap.

__ADS_1


Aku terperangah kaget melihatnya dan begitu juga dengan yang lainnya.


"Wahhh.....ada apa ini, apa ini semacam ruangan rahasia?" Tanya Vayu terkejut,


"Emely mungkin saja ini jalan selanjutnya, ayo kita masuk dan periksa" tam ah Avan kepadaku.


Aku pun langsung mengangguk dan kami semua mulai masuk ke dalam sana dengan perlahan, aku segera mengeluarkan api di tanganku dan aku segera memperbesar api di tanganku agar bisa membuat cahaya dan penerangan di dalam tempat itu.


Sedangkan yang lainnya mengikuti di belakang dan si sialan Devano dia terus saja berteriak memanggil namaku dan menerobos ke depan lalu menyenggol Avan yang berdiri di sampingku saat itu.


"Emely jangan tinggalkan aku, aaaahh aku tidak ingin jadi yang paling belakang, awas...minggir....minggir aku mau bersama Emely ku" ucap Devano samb menyenggol yang lainnya dan dia langsung berdiri di sampingku sambil tersenyum kepadaku,


"Aishh.... Devano tidakkah kau bisa diam dan dewasa sedikit, aku tidak bisa fokus karena suaramu yang sangat mengganggu itu" ucapku dengan meninggikan suara kepadanya.


Devano pun sedikit menjauh dariku dan aku langsung menyenggolnya agar dia bisa sedikit menjauh lagi dariku, karena aku sangat kesal dengannya, aku pun langsung berjalan mempercepat langkahku ke depan lebih dulu hingga kakiku tidak sengaja menginjak dasarnya yang terasa sedikit lembab dan seperti ada air yang menggenang di bawah sana dan air itu cukup dingin.


Aku pun langsung menjulurkan tangan yang ada api itu ke bawah sana untuk melihat air apa itu sebenarnya dan ternyata itu air biasa dengan aliran kecil dari salah satu arah yang ada disana, aku menatap ke belakang ke arah yang lainnya dan Vayu mulai berkata kepadaku untuk mengikuti kemana air itu mengalir.


"Emely apa itu air?" Tanya Vayu kepadaku dan langsung aku balas dengan anggukan kepadanya.


"Iya ini air dan kemana sekarang kita harus pergi?" Tanyaku dengan bingung,


"Kita ikuti saja kemana air itu mengalir aku pernah dengar rumor dari warga gurun bahwa ada sebuah jalan menuju dunia paralel jika kita menemukan aliran air di bawah tanah, mungkin yang rumor itu maksudkan adalah tempat ini, ayo kita cari tahu kenapa air itu akan mengalir, mungkin saja kita akan menemukan jalannya" balas Vayu kepadaku.


Karena aku pikir apa yang dikatakan olehnya cukup masuk akal, akupun menuruti ucapannya itu dan segera menuntun mereka masuk terus mengikuti aliran air yang gemericik kecil itu sampa tiba-tiba saja disaat kami semua tengah berjalan pelan menyusuri tempat gelap tersebut terdengar suara gemuruh sesuatu di belakang kami yang sangat keras, hingga kami semua seketika berhenti berjalan.


"Gerrr.....gerrrr...guuuurtrghhh...." Suara gemuruh yang aku dan teman-teman lainnya dengar.


"Emely apa kau mendengar gemuruh itu?" Tanya Devano kepadaku dengan wajah yang terlihat cemas,


"Diam....aku sepertinya tahu itu gemuruh apa" tambah Arshaka bicara menyuruh kami semua untuk diam.


Setelah beberapa saat gemuruh itu semakin dekat dan wajah Arshaka terlihat sangat panik dan terbelalak sangat lebar, matanya bahkan hampir keluar seluruhnya.


"Astaga, gawat ini pasti gemuruh....air yang be.....aaaarkkkkk" ucap Arshaka yang tidak sempat selesai dan sebuah air yang besar seperti ombak muncul dari belakang begitu saja sampai menerpa tubuh kami semua.


Aku dan yang lainnya langsung jatuh tenggelam dalam air bahkan api di tanganku langsung padam seketika dan air itu menerpa ke wajahku sekaligus dalam waktu yang sangat cepat dan itu terasa sangat sakit di wajahku karena air nya begitu keras mengenai wajahku secara tiba-tiba.


"Aaaaa.....blubuk...blubuk....hah...hah....hah...hah" ucapku sambil terus berusaha berenang ke atas untuk bernafas.


Aku melihat ke sekeliling mencari keberadaan teman-temanku yang lainnya dan aku tidak bisa menemukan keberadaan mereka karena di sana begitu gelap sekali, aku mulai merasa sedikit panik dan segera berteriak memanggil mereka.


"Avan.... Devano dimana kalian.... Arshaka.... Vayu aku tidak bisa berenang, oh ya ampun....ini airnya semakin deras...aaaahhhh" teriakku sangat keras dan aku kembali tenggelam ke dalam air.


Aku tidak bisa melakukan apapun lagi meski aku sudah berusaha untuk timbul dan mencoba berenang keatas namun aku tidak bisa, karena memang tidak tahu caranya yang benar harus seperti apa.


Aku terus berusaha namun kekuatanku tidak bisa aku gunakan karena energiku sudah terkuras cukup banyak, sampai tiba-tiba saja ku lihat remang-remang seseorang masuk ke dalam air dan dia menarik tanganku ke atas hingga aku bisa keluar dari air itu dan tiba-tiba saja aku berada di luar seperti sungai yang sangat besar dan lebar.


"Aaahhh.....hah...hah...hah....Vayu ternyata itu kau, ahh.... terimakasih sudah menyelamatkan aku" ucapku kepadanya.


Rupanya orang yang menyelamatkan aku barusan adalah Vayu untungnya dia bisa terbang dengan anginnya dan dia terus membawaku terbang lebih tinggi lagi untuk mencari keberadaan teman-temanku yang lainnya, kami menyusuri sungai yang sangat lebar itu dan memiliki arus yang cukup kuat sampai mataku mulai tertuju kepada Arshaka yang saat itu terlihat tengah berpegangan pada sebuah batu besar yang ada di tengah sungai tersebut.


"Vayu... Itu di bawah sana ada Arshaka, ayo selamatkan dia, dia pasti kesulitan karena terbawa arus" ucapku menunjuk kepadanya.


Vayu langsung mengangguk kepadaku dan dia menjulurkan tangannya ke depan dan mengangkat Arshaka dengan cepat menggunakan kekuatan angin yang dia miliki sehingga Arshaka langsung saja terbang ke atas seperti di guling oleh sebuah angin topan kecil di tubuhnya.

__ADS_1


"E..e...eh...ada apa denganku aaaahhh...aku terbang?" Ucap Arshaka terlihat kaget dan kebingungan.


Aku pun langsung berteriak memanggilnya.


"Arshaka jangan takut itu kekuatan dari Vayu dia menyelamatkanmu kau aman sekarang" ucapku berteriak memberitahunya.


Hingga terlihat Arshaka sudah tidak panik lagi dan dia bisa sedikit tenang dengan menunjukkan jempol tangannya kepadaku menandakan bahwa dia baik-baik saja.


Aku dan Vayu terus menatap ke arah yang lainnya lagi dan melihat ada Avan yang mengambang dengan kekuatan es nya bersama Devano membentuk seperti sebuah perahu di tengah-tengah sungai itu, dan mereka terbawa hanyut sampai menuju ke sebuah air terjun yang sangat tinggi di depan mereka dan itu membuat Devano dan Avan langsung berpelukan satu sama lain juga berteriak sangat kencang.


"Avan...lihat di depan kita, kita ada diatas air terjun dan akan jatuh, aaaahhh bagaimana ini, cepat ubah semua airnya menjadi es....cepat Avan!" Teriak Devano tidak karuan,


"Aku tidak bisa, sungai ini terlalu besar kekuatanku akan habis jika mengubah seluruhnya" balas Avan yang tidak bisa melakukan itu.


Untunglah dia waktu yang tepat Vayu melihat mereka dan segera menerbangkan es balok yang pipih dan di duduki oleh Devano dan Avan hingga mereka langsung melayang ke atas dan Devano masih saja menutup matanya sambil berteriak ketakutan tidak jelas sedangkan Avan sudah tahu bahwa itu di lakukan oleh Vayu karena dia melihatku sebelumnya.


"Aaahh....huhu Avan aku belum bisa mati hiks...hiks...aku tidak mau mati di tempat antah berantah seperti ini huaaa" teriak Devano menangis tidak jelas.


Dan aku sangat tidak bisa menahan tawaku ketika melihat dia menangis seperti anak kecil, rasanya aku ingin langsung menghajar dia saat itu juga untuk menyadarkannya bahwa dia sudah selamat.


Namun jarak terbangun dengan Devano cukup jauh sehingga aku hanya bisa tertawa kecil sambil memeluk Vayu di atas, dan dia mulai mendaratkan kami semua ke samping telat mendarat di pinggiran sungai tersebut.


"Ahahah.... Devano dasar bodoh, hey...buka mataku kau sudah selama aishh...apa kau sungguh tidak membuka matamu sedari tadi?" Ucapku sambil mengetuk kepalanya cukup keras dengan tertawa puas.


Dia sangat menghiburku di saat aku juga kebingungan kini kita semua berada dimana dan tiba-tiba saja berada tenggelamg di tengah sungai yang luas di tengah hutan belantara seperti ini.


Devano baru tersadar dan dia mau membuka kedua tangan yang sedari tadi dia pakai untuk menutupi wajahnya sendiri.


"A...apa aku sungguh selamat?" Tanya dia sambil perlahan membuka tangannya dan dia langsung melihat wajah Avan yang menjulurkan lidah meledeki dia di hadapannya sangat dekat.


"ASTAGA! Aishh.... Avan sialan, berani sekali kau meledeki aku dan mengagetkan aku seperti itu, awas saja kau aku tidak akan melepaskan kau dengan mudah nanti!" Bentak Devano yang kaget dan dia terperanjat ke belakang.


Melihat Acan yang sudah berani bermain-main dengan Devano aku sungguh merasa sangat senang karena mereka bisa akur sekarang dan malah menjadi teman dekat yang tadinya selalu bertengkar juga selalu saja tidak bisa diam satu sama lain.


"Ahaha...Avan kau sangat lucu sekali tadi haha.....dasar kalian berdua sama-sama konyol" ucapku sambil terus tertawa puas.


Hingga ketika Arshaka mulai menyadarkan aku dengan bertanya keberadaan kami semua saat ini.


"Tunggu Emely dimana kita sekarang, kenapa hutan ini terlihat sangat aneh?" Tanya Arshaka kepadaku.


Aku langsung menatap ke sekeliling hutan itu, dan apa yang diucapkan oleh Arshaka memang memang benar, hutan itu terlihat sangat aneh, dedaunan di sekitar sana berwarna warni dan itu belum pernah aku lihat sebelumnya bahkan bentuk buah-buahan yang tumbuh di beberapa pohon yang ada disana juga sangat aneh, bentuknya seperti bentu acak yang sangat jelek dan tidak terlihat seperti sesuatu yang bisa dimakan oleh manusia.


"Ehh...iya kenapa semua tanaman disini berwarna warni seperti ini? Dan lihat buah-buahan di atas sana sangat aneh, bentuk macam apa itu?" Tambah Devano menimpali.


Aku melihatnya dan semua itu terlihat sangat aneh namun disaat aku memeriksa ke atas bagian langitnya untuk memeriksa apakah aku berada di hutan ilusi atau tidak, namun ketika aku melemparkan api keatas sana, apiku terus menembus awan dan tidak terlihat itu menunjukkan bahwa kami tidak sedang berada di dalam dunia ilusi ataupun terperangkap dalam sebuah tameng buatan.


"Emely apa yang baru saja kau lakukan?" Tanya Vayu kepadakundan membuat semua orang menatap lekat ke arahku dengan alis mereka yang mengkerut bersamaan.


"Ehhh....kenapa kalian melihatku seperti itu, tadi aku hanya sedang memastikan kita berada di dunia ilusi atau bukan, namun ternyata tidak ini seperti dunia nyata namun aku juga tidak tahu mengapa pohon disini terlihat sangat aneh sekali" balasku kepada mereka semua.


Akhirnya mereka pun berhenti menatapku lekat seperti sebelumnya yang membuat aku sedikit tidak nyaman.


Hingga tidak lama seperti ada yang menepuk pundakku sekali dan aku pikir itu adalah Vayu karena dia yang berada di belakang tubuhku saat itu.


"Aduhh... Vayu ada apa kau menepuk pundakku?" Tanyaku kepadanya sambil menoleh heran,

__ADS_1


"Ehh...apa? aku tidak melakukan itu" balas dia dengan wajah yang kebingungan.


__ADS_2