Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Mengerjai Devano


__ADS_3

"Aishh..aku sangat membencinya dasar makhluk astral sialan!" Gerutu Devano pelan.


"Hey... Apa lagi yang kau tunggu ayo cepat kita pergi" ucap Pelik lagi.


Devano pun segera mengikuti dia dan pergi berjalan menuju supermarket yang ada di sekitar sana, meski dengan perasaan yang kesal dan tangan yang terus dia kepalkan untuk menahan emosinya di sepanjang perjalanan saat itu.


"Aishhh...awas saja kau, aku akan membalasmu nanti Pelik sialan!" Batin Devano yang masih saja tidak terima dengan semua perlakuan Pelik padanya.


Pelik terus saja merasa sangat puas karena dia pikir dirinya sudah berhasil mengelabui Devano, dan dia merasa sangat senang dengan hal itu bahkan Pelik kembali mengerjai Devano dengan sengaja pergi mengunjungi tempat super market yang jauh dengan banyak alasan yang dia berikan kepada Devano padahal di kenyataannya dia hanya tidak ingin Devano terlalu cepat pergi keluar dengannya saat itu dan hanya ingin mengerjai Devano sampai dia terlihat marah dan sangat kesal saat itu.


"Pelik berhenti....berhenti!" Ucap Devano dengan memegangi lututnya sendiri yang sudah kelelahan terus berjalan cukup jauh saat itu.


Padahal dia sudah melewati tiga supermarket di wilayah tersebut namun Pelik tetap juga tidak masuk ke dalam dan selalu mengatakan bahwa supermarket yang ingin dia datangi ada di depan sana dan terus saja menunjuk ke depan hingga tidak supermarket itu benar-benar sudah terlewati.


"Ada apa?" Tanya Pelik kepada Devano,


"Sebenarnya kau ini mau membawaku pergi ke supermarket yang mana sih, di sekitar sini kan sudah tidak ada supermarket lagi kecuali yang ini dan dia lainnya yang sudah kita lewati sebelumnya" balas Devano dengan wajah yang dia tekuk dengan kuat saking kesalnya kepada Pelik saat itu.


Dan sebenarnya Devano sendiri sudah menduga bahwa Pelik seperti tengah sengaja untuk mempermainkan dirinya hingga dia memberanikan untuk bertanya dengan lantang saat itu.


Mengetahui ternyata Devano jauh lebih paham wilayah itu di bandingkan dirinya Pelik pun langsung saja mengalihkan ucapannya di saat dia hendak mengatakan lagi bahwa supermarket yang dia maksud ada di depan.


Dia berpura-pura kaget dan seakan tidak mengetahui hal tersebut kepada Devano untuk membuatnya tidak marah kepada dirinya saat itu.


"Aaahh...benarkah, aku pikir di depan masih ada supermarket terakhir, karena hanya ada satu supermarket yang menjual makanan kesukaanku dan itu ada di supermarket terakhir di sekitar jalanan ini" balas Pelik yang berbohong dengan handal.


Bodohnya Devano yang sebelumnya sudah curiga dia justru malah langsung percaya kepada Pelik dengan begitu cepatnya sehingga hal tersebut membuat Pelik merasa sangat senang karena ternyata kelakuannya sama sekali tidak akan ketahuan oleh Devano dan dirinya akan aman.


"Hah.....aishhh...mungkin yang kau maksud supermarket ini kali" balas Devano begitu saja.


Pelik nampak menatap Devano dengan membuka matanya sangat lebar dia tidak mengira bahwa Devano bisa mempercayai ucapannya dengan sangat mudah seperti itu, bahkan dia sama sekali tidak membutuhkan waktu lama untuk mempercayai Pelik saat itu.


Sehingga mereka berdua pun segera masuk ke dalam supermarket tersebut, dan Pelik terus saja mengajak Devano untuk berkeliling juga membeli banyak makanan ringan juga belanja untuk Emely saat itu, dia bahkan memilih semua makanan secara acak dan sembarangan, sampai membuat Devano yang merasa sangat kesal sebab dia di perlakukan seperti seorang pelayan oleh Pelik membuat dirinya sangat marah dan kesal sampai Devano membentak Pelik di dalam supermarket tersebut cukup keras hingga membuat beberapa orang yang juga tengah berbelanja disana menatap ke arahnya dengan tatapan yang heran dan kebingungan.


Sebab yang mereka lihat saat itu Devano hanya berdiri dan membeli banyak makanan seorang diri saja, tetapi dia berteriak seperti tengah memarahi orang lain di depan badannya saat itu.


"Heh...Pelik apa kau sengaja mengerjai aku yah, kau mana bisa menyantap semua makanan ini, apa kau mau membuat aku bangkrut hah!" Bentak Devano dengan mata yang membelalak sangat lebar.


Semua orang langsung menatap ke arahnya dan banyak sekali yang berbicara membicarakan keanehan yang dia lakukan di sana dengan begitu sinis dan langsung menjauh dari dirinya dengan cepat.


Devano yang menyadari hal itu dia segera membungkuk kepada pengunjung lainnya dan merasa bersalah dengan semua yang sudah dia lakukan, Devano saat itu benar-benar sangat lupa jika Pelik adalah seorang makhluk yang tidak terlihat oleh mata biasa, pehingga jelas sekali dia akan di kira semua orang bahwa dirinya bicara seorang diri saat itu.


"AA..ahhhh..maafkan aku...maafkan aku, aku hanya sedang latihan akting saja, silahkan lanjutkan aktivitas kalian" ucap Devano menunduk meminta maaf dengan perasaan yang sangat malu dan tidak karuan saat itu.


Dia sungguh tidak bisa lagi menganggat kepalanya untuk mihat banyak orang di sekitar sana sebab dia pikir dia sudah di anggap gila dan sebagainya oleh banyak orang disana, hingga dia memutuskan untuk mengabaikan Pelik yang masih terus saja memaksa dirinya untuk mengambil banyak cemilan lainnya lagi saat itu.


"Aaahh...sudahlah persetan denganmu Pelik aku tidak perduli ini sudah sangat banyak kau tidak bisa mengambil apapun lagi" ucap Devano kepada Pelik pelan dengan mengeratkan giginya.


Dia segera pergi ke bagian kasih sambil mendorong troli di tangannya yang cukup berat karena Pelik sendir bahkan dia membeli beras juga perlengkapan makanan lainnya yang sangat banyak sudah seperti belanja sembako saja saat itu.


Sampai ketika Devano sudah membayar semuanya kini Devano benar-benar kehilangan banyak uang tabungannya yang dia simpa dalam waktu yang lama sekali sebelumnya, ya walaupun dia adalah keturunan dari orang kaya dan rumah yang dia tinggali sekarang sangat besar tetapi Devano adalah seorang pria yang mandiri dimana dia selalu mendapatkan uang dengan caranya sendiri tanpa melibatkan ibunya sendiri, sebab ayahnya sudah meninggal dunia dan ibunya jarang berada di rumah karena sibuk bekerja.


Mereka juga jarang bertemu karena Devano terkadang tidur di mana saja secara acak, dia selalu tidak suka untuk pulang ke rumahnya namun karena Pelik yang membuat Devano kehilangan banyak tabungannya sehingga kini Devano terpaksa harus pulang untuk mengambil uang lagi sebagai biaya hidupnya di jalanan.


Devano benar-benar terlihat menangis kesal ketika melihat saldo di ATM nya saat itu yang hanya tinggal beberapa juta saja padahal sebelumnya cukup banyak, Pelik menghabiskan uang satu juta lebih hanya dengan sekali berbelanja dengannya tentu saja Devano menatapnya dengan tajam sekarang dan terus saja merasa kesal tiada henti.


"Aishh.....uangku sudah langsung berkurang satu juta lebih karenanya, dia benar-benar membuat aku kehabisan uang untuk biaya hidupku" gerutu Devano merasa sangat kesal pada Pelik.


Namun walaupun dia merasa sangat kesal, dia tidak bisa melakukan apapun lagi selain dari pasrah menerima semuanya karena uangnya juga sudah benar-benar hilang dan tidak mungkin bisa kembali.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain Pelik justru terus menahan tawa sendirian melihat Devano yang benar-benar berhasil dia tipu, bahkan dia terus saja tertawa puas melihat Devano harus membawa banyak barang dan kelelahan sambil menggerutu tiada henti di sepanjang jalan saat itu.


"Eughh... Dasar kau sialan untuk apa semua makanan sebanyak ini, kau bilang hanya akan membeli cemilan untuk saat ini saja, tapi apa ini semua, kau benar-benar menjengkelkan saja aaaarrkkkk" teriak Devano sudah sangat kesal dan dia menaruh semua barang yang dia bawa dengan kasar di tanah.


Dia menatap sinis kepada Pelik yang melayang di sampingnya dengan wajah tanpa dosa sedikit pun saat itu.


"Apa? Kenapa kau menatapku begitu, aku kan bebas meminta apapun darimu kenapa kau harus marah, kau sendiri yang mengatakannya, jadi jangan menatapku begitu" balas Pelik saat itu.


Dia terus saja merasa puas dan tertawa sendiri di belakang Devano selama mereka berjalan menuju kediaman Emely kembali.


Bahkan ketika sampai di kediaman Emely dan dia melihat aku yang sudah bangun saat itu, Devano langsung saja melepaskan pegangannya pada dua kantong plastik yang sangat besar juga ada barang lain yang di bawa oleh Pelik di belakang, dia berlari menghampiri aku dan langsung saja memelukku dengan erat saat itu.


Aku hanya merasa heran dan langsung menepuk punggung Devano sambil menyuruh dia agar bisa melepaskan aku dengan cepat sebab pelukannya itu membuat aku kesulitan untuk bernafas karenanya.


"Eh...eh..ehhh.. Devano apa yang kamu lakukan lepaskan aku, hey....cepat lepaskan kau ini kenapa tiba-tiba memelukku hey....aku tercekik olehmu!" Teriakku sambil menepuk punggungnya cukup kuat beberapa kali sampai dia mau melepaskan pelukannya dariku saat itu.


"Ohok....ohok...ohok..., Devano kau ini kenapa sih? Jangan memelukku secara tiba-tiba seperti itu lagi, aaahhh aku hampir saja benar-benar tidak akan bernafas karena ulahmu itu" ucapku memperingati dia dengan tegas.


Devano langsung mengangguk dan meminta maaf sambil tertunduk lesu dengan wajahnya yang terlihat sangat kusut sekali saat itu.


"Baiklah Emely aku tidak akan melakukannya lagi, aku minta maaf kepadamu" balas Devano yang terlihat benar-benar sangat lemas.


Padahal aku tahu dengan jelas bagaimana sikap Devano sebenarnya, dia sama sekali tidak pernah bersikap lesu seperti itu dan memasang raut wajah yang lah dan kusut begitu, hingga hal tersebut membuat aku bertanya-tanya dengannya.


Apalagi ketika melihat ke belakang mereka Pelik juga baru tiba dengan membawa banyak sekali belanjaan pada mereka saat itu, aku langsung saja menanyakan semua hal tersebut kepada Pelik dan Devano.


"Heh...apa yang kalian bawa ini, dan darimana saja kalian saat aku tidur sebelumnya?" Tanyaku sangat penasaran kepada mereka berdua.


"Tentu saja kami berbelanja dan membeli semua perlengkapan bahan makanan untuk satu bulan, lihatlah Emely, Devano yang dengan baik hati memberikan semua ini kepadaku dan kau, dia sangat baik bukan" ucap Pelik dengan sengaja mengatakan seperti itu agar Devano semakin tidak berani untuk melawannya lagi suatu saat nanti.


Devano sendiri hanya bisa menahan kekesalan dalam dirinya sendiri tanpa bisa mengatakan hal yang sebenarnya kepada Emely saat itu, sehingga ketika aku menatap ke arah Devano dan menanyakan yang sebenarnya Devano hanya terlihat tersenyum dengan wajah tertekan juga langsung mengangguk menjawab ucapanku saat itu, sampai tidak lama dia langsung pergi dari rumahku.


"Iya ..tentu saja, tapi aku harus segera pulang sekarang aku lelah dan ingin istirahat juga" balas Devano kepadaku secara tiba-tiba.


Biasanya dia selalu sulit untuk aku usir tetapi kali ini justru malah dia sendiri yang berpamitan untuk pulang, sehingga aku merasa sedikit heran dengan perubahan sikapnya tersebut di tambah wajah dan senyuman yang dia perlihatkan kepadaku terlihat sangat tidak tulus berbeda sekali dengan yang bias dia lakukan, aku merataneh tapi gagal untuk bisa menanyakan langsung kepadanya saat itu, dan tidak tahu lagi harus berbuat apa selain dari membiarkan Devano untuk pulang saja saat itu.


"Aahhh..begitu ya, aku pikir kau selalu tidak ingin pulang saat berkunjung ke rumahku, kau sangat aneh saat ini Devano tapi kalau kau sudah mau pulang, aku tidak masalah kau bisa pergi dan datang kapan saja kesini sama dengan apa yang aku katakan kepadamu sebelumnya" balasku mengatakan semua rasa anehku padanya.


Devano hanya tersenyum saja untuk sesaat lalu segera pergi keluar dari rumahku saa itu, aku terus menatap kepergiannya dengan heran dan benar-benar merasa bahwa Devano sangat terlihat berbeda saat itu.


Sehingga aku pun memutuskan untuk menanyakan hal tersebut kepada Pelik karena dia adalah orang terakhir yang pergi dengan Devano saat itu jadi ku pikir dia mungkin akan tahu mengapa Devano terlihat murung dan lemas seperti itu.


"Ehh...Pelik ada apa dengannya, kenapa dia terlihat murung seperti itu, apa kamu mempermainkan dia atau menipunya ya?" Tanyaku yang menduga-duga kepadanya.


Pelik langsung saja terlihat gugup menatap ke arahku bahkan dia memalingkan pandangannya untuk beberapa saat ke arah lain dan sejak itu aku sudah tahu jawaban apa darinya, bahwa dia memang mempermainkan Devano sehingga aku langsung saja menghembuskan nafas dengan perlahan melihat Pelik tidak berani menjawab ucapanku sama sekali saat itu.


"Huuuhh....Pelik ayo katakan padaku apa yang sudah kau lakukan kepadanya sampai Devano terlihat seperti itu?" Ucapku mendesak Pelik untuk mengatakannya.


"Tidak....aku sama sekali tidak melakukan apapun kepadanya Emely kita hanya bermain sedikit saja dan dia kalah makanya dia seperti itu, mungkin dia tidak terima dengan kekalahannya" bas Pelik sambil menjauhi tatapan dariku.


Aku sudah tahu dia berbohong kepadamu dan aku sudah paham dengan alasan Devano yang terlihat seperti sebelumnya.


Mereka berdua memang sulit untuk di sampaikan dan aku juga tidak bisa mendesak Pelik lagi supaya membuat dia mau mengatakan hal yang sebenarnya terjadi kepadaku.


"Apapun masalahnya dan apapun yang kamu lakukan kepada Devano, aku memang tidak terlalu perduli dan aku percaya kepadamu Pelik kamu tidak akan mempermainkan orang lain sampai membuat ya kesulitan, jadi aku mohon kepadamu agar kamu bisa menjaga kepercayaan yang aku milikku untukmu" balasku kepadanya.


Aku sengaja mengatakan semua itu agar dia bisa berpikir sendiri tentang apapun yang sudah dia lakukan kepada Devano, bukan karena aku tidak memperdulikan Devano tetapi aku memahami sifat keduanya dan aku tidak ingin menyinggung salah satunya apalagi dengan terus mendesak mereka untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepadaku.


Jika memang mereka tidak ingin mengatakannya aku juga tidak akan memaksa hal itu pada mereka hanya karena aku mempercayai mereka, jadi saat itu aku segera saja pergi masuk ke kamarku lagi dan mengambil ponsel milikku, mihat jam dan tanggal di hari itu.

__ADS_1


Di mana besok adalah hari di mana aku akan pergi ke sekolah menjadi seorang siswa baru lagi, karena semua orang pasti sudah melupakan aku akibat dari kekuatan Mbah Kerto sebelumnya yang sengaja memulihkan semua pikiran orang-orang dengan memundurkan waktu ke tanggal dan hari dimana aku pertama kali datang ke tempat itu.


Aku sudah mengalahkan raja iblis yang sangat kuat, dan sudah banyak sekali makhluk astral jahat yang aku taklukkan hingga aku hancurkan, tapi sampai di titik ini aku masih belum bisa membantu Pelik sedikit pun dan masih belum bisa menemukan petunjuk untuk dirinya.


Saat tengah di dalam kamar aku melihat Pelik yang duduk di depan makan dengan menikmati celiman disana, meski dia tahu itu tidak akan merubah apapun dalam dirinya dan dia tidak bisa merasakan rasanya.


Aku benar-benar merasa sedih ketika melihat Pelik seperti itu, aku ingin sekali cepat bertemu dengan keluarga dia dan ingin segera menyelesaikan semuanya secepat yang aku bisa.


Aku tahu Pelik ingin pergi bereinkarnasi seperti kebanyakan ruh lainnya, tapi dia tertahan dan melayang tidak karuan seperti itu, membuat dia pasti merasa sangat tidak karuan.


"Pelik aku akan berusaha keras untuk mencari identitas keluargamu" batinku sambil melihat ke arah Pelik dari jauh.


Aku sudah mengingat tempat dimana aku pernah bertemu dengan seorang perempuan yang sebelumnya di duga oleh Pelik seperti keluarganya, aku berniat untuk pergi menyelidiki tentang wanita tersebut ke esokan harinya.


Dan mulai menyusun rencana hari ini.


Hingga ke esokan paginya aku sudah bersiap untuk pergi ke sekolah dan aku melihat Pelik juga malah ingin ikut pergi ke sekolah denganku saat itu.


"Pelik kenapa kau tiba-tiba ingin ikut ke sekolah denganku, sebaiknya kau diam saja disini atau kau bisa pergi kemanapun kau mau, jangan mengikuti aku" ucapku melarangnya.


Tetapi saat itu Pelik yang takut Devano akan mengadukan semua kelakuan dia yang sudah mengerjai Devano sebelumnya, dia tentu saja harus ikut ke sekolah bersama Emely untuk menjaga agar Devano tidak berani membongkar masalah kemari kepada Emely.


"Tidak Emely aku ingin ikut denganmu karena aku makhluk penjagamu jadi aku tentu harus selalu berada di sampingmu untuk menjagamu dengan siap kapan saja kau membutuhkan aku" balas Pelik yang masih bersih keras untuk pergi denganku saat itu.


"Pelik kau kan tahu aku sudah memiliki kekuatan elemen api aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri kau tidak perlu khawatir" balasku kepadanya lagi.


Aku sungguh tidak ingin membawa Pelik ke sekolah karena aku tahu dia akan membuat hal-hal jahil seperti yang sering dia lakukan untuk menakut-nakuti anak-anak nakal di sekolah seperti biasanya, itulah mengapa aku tidak ingin membawa dia ke sekolah.


Tetapi dia terus saja bersih keras untuk ikut denganku, sehingga aku tidak bisa memaksanya lagi, dan pasrah saja membawanya bersama denganku, namun sebelum itu tentu saja aku memberikan peraturan terlebih dahulu kepada Pelik agar nantinya dia tidak membuat keributan yang akan mengganggu aku dalam belajar nantinya.


"huuuhh...baiklah jika kau ingin ikut, tapi ingat kau harus bersikap baik dan jangan menjahili siapapun, kau hanya perlu diam di sampingku dan jangan melakukan apapun apa kau mengerti?" ucapku memperingati dia terlebih dahulu saat itu.


Pelik pun akhirnya mengangguk menyetujui ucapan dariku.


"Aku mengerti Emely" balasnya menyetujui ucapanku.


Karena dia sudah menyetujuinya aku pun baru bisa sedikit tenang walau aku tahu dia bisa saja melanggar janji dengan ku kapan saja di saat aku tidak memperhatikan dirinya, tetapi memang tidak ada pilihan lain lagi meski aku melarangnya, aku juga tahu bahwa dia pasti akan tetap datang ke sekolah menemui aku nantinya.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita pergi" ucapku sambil segera membuka pintu dan pergi dari sana dengan cepat saat itu.


Di perjalanan saat aku menuju ke sekolah aku bertemu dengan Devano yang saat itu justru malah berjalan dari arah yang berlawanan dari lokasi sekolah dan dia malah berlari ke arahku sambil menyapa aku dengan sikapnya yang selalu membuat aku jengkel seperti biasanya.


"Emely....." teriak Devano memanggil aku sambil berlari ke arahku dengan cepat.


Aku hanya menatapnya dengan wajah yang kesal dan bosan sambil menghembuskan nafas dengan lesu, dia selalu saja berteriak se kencang itu hanya membuat banyak orang menatap ke arah kami dan lagi-lagi membuat aku menjadi pusat perhatian.


Padahal dia tahu sendiri bahwa aku sangat benci menjadi pusat perhatian sebab tanpa itu pun aku memang sering di tatap oleh orang asing dengan tatapan mereka yang menyelidik ke arahku hanya karena melihat bentuk wajahku yang tidak senormal orang pada umumnya.


"Astaga...apa yang dia lakukan kenapa malah berteriak memanggil namaku seperti itu, asihhh...dasar si bodoh ini" gerutuku sangat kesal padanya.


Hingga ketika dia sampai di hadapan wajahku aku terus saja menunduk sambil menarik tapi yang aku pakai lebih ke bawah lagi agar tidak ada orang yang bisa melihat wajahku yang buruk rupa ini, aku hanya takut orang takut melihat wajahku jadi lebih baik aku menutupinya saja saat itu.


"Emely kenapa kau memakai topi?" tanya Devano padaku.


"Heh...apa kau bodoh atau idiot, kau lupa wajahku seperti apa hah? Mana mungkin aku pergi ke sekolah dalam keadaan seperti ini, semua orang akan takut dan sebagian pasti penasaran dengan wajahku, aku tidak ingin banyak orang mempertanyakan fisikku dan kau baru saja membuat aku malu!" balasku sambil menaikkan nada suaraku kepadanya.


Juga tidak lupa aku memberikan dia tatapan tajam yang menusuk sampai membuat Devano langsung menunduk dan meminta maaf.


"Ahhh...maafkan aku Emely aku terlalu terbawa suasana sebelumnya dan aku memang lupa masalah hal itu, kau jangan marah lagi ya" ucapnya kepadaku.

__ADS_1


Dan pada Akhirnya aku hanya bisa bersabar lagi dalam menghadapi pria menjengkelkan ini.


__ADS_2