Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Gua Misterius


__ADS_3

Saat aku sudah meminta untuk pergi dari sana karena sudah mewujudkan keinginannya, akhirnya Baginda raja itu mau membiarkan kami untuk pergi dan dia bahkan memberikan kami sebuah pembekalan yang cukup banyak, bukan hanya itu saja bahkan Baginda raja memberikan kami sebuah pakaian yang sangat bagus, dia memberikan kami banyak sekali perbelakan untuk berkelana, namun aku menolaknya dengan halus sebab jika kami menerima semua perbekalan darinya itu justru akan membuat langkah kami pelan dan melambat itu juga akan mempersulit kami untuk bergerak dengan cepat.


Sedangkan waktu penyelamatan di dunia permukaan sudah tinggal beberapa waktu lagi tentu kami harus bergerak secepat mungkin.


Saat itu di perbatasan kawasan desa Kloasea dan hutan belantara, Baginda raja menyerahkan perbekalan pada kami.


"Terimalah semua perbekalan ini untuk menghidupi kalian selama perjalanan berkelana" ucap Baginda raja tersebut,


"Terimakasih atas kasih sayangmu pada kami Baginda, tetapi kami hanya membutuhkan beberapa makanan saja untuk mengisi perut kami, selebihnya kami tidak terlalu membutuhkannya karena pengembara seperti kami tidak seharusnya membawa banyak barang seperti itu" balasku sambil membungkuk.


Untungnya Baginda raja tersebut memahami maksudku dan dia tidak memaksa kami lagi untuk menerima semua barang-barang aneh tersebut yang aku sendiri pun tidak tahu bagaimana cara menggunakannya.


Baginda raja sudah pergi meninggalkan kami disana dan Devano juga pria es tersebut menatapku dengan tajam membuat aku merasa heran dengan maksud dari tatapan mereka.


"Ehh.. ada apa dengan kalian berdua ayo kita pergi dari sini, kita harus mengikuti arah dari peta ajab" ucapku kepada mereka dan berjalan lebih dulu.


Mereka mungkin masih kesal denganku karena aku menoleh semua pemberian dari Baginda raja dan hanya mengambil beberapa makanan saja yang bisa dimasukkan ke dalam kantong celana mereka.


"Aishh.... Emely kenapa sih kau malah menolak pemberian sang raja, padahal kan semua itu barang berharga dan antik, seandainya kita membawa barang itu kembali ke dunia kita pasti harganya sangat fantastis" ucap Devano mulai mengoceh,


"Devano semua itu hanya akan menghambat perjalanan kita dan itu mempersulit kita dalam melangkah, kau tidak akan mengerti" ucapku kepadanya.


Dia tetap saja menekuk wajahnya dan cemberut kesal padaku namun aku hanya bisa menghembuskan nafas kasar saat melihat sifatnya itu yang seperti anak-anak.


"Tapi Emely semua barang itu mungkin saja akan berguna bagi kita selama di perjalanan, kau tidak harus menolaknya seperti tadi" tambah pria es tersebut,


"Ayolah kenapa kalian terus mempermasalahkan barang-barang itu? Jika kalian menginginkannya silahkan ambil aku akan menunggu kalian disini, ayo ambil sana, kenapa kalian masih disini?" Ucapku yang sudah kesal kepada mereka berdua.


Ada alasan mengapa aku tidak menerima semua itu dan hanya mengambil makanan yang jelas sangat kami butuhkan untuk perbekalan, aku ingat nasehat yang pernah kakek Kerto berikan kepadaku, bahwa jika kita ingin selamat dalam misi ini, kita harus melakukan kebaikan dengan tulus dan tidak boleh sekarang, hanya mengambil apa yang di butuhkan dan harus secukupnya, yang terpenting adalah fokus dengan niat awal kita yakni mengumpulkan para pemilik elemen spiritual.


Jika kita mengambil lebih maka akan ada yang kita korbankan lebih juga, dan aku tidak suka konsep seperti itu, maka dari itu aku selalu berjaga-jaga karena aku hanya bisa mencegah saja.


Setelah aku menyuruh mereka untuk mengambilnya mereka hanya terdiam dan tidak menjawab ucapanku lagi, lalu mereka mulai meminta maaf padaku setelah aku mencoba memberikan pengertian kepada mereka.


"Harus kalian tahu, aku melakukan itu karena aku tahu yang berlebihan itu tidak baik, dengan kita membawa semua itu dengan gerobak yang sangat besar itu akan membuat kita mudah lelah dan menguras energi di tubuh kita, terlebih jika kita terlempar ke dunia lain secara tiba-tiba, semua itu juga tidak akan berguna lagi, dan tidak akan bersama kita lagi, lalu apa yang bisa kita lakukan dengannya, ku harap kalian mengerti maksudku" ucapku memberikan pengertian,


"Maafkan aku Emely aku tidak berpikiran panjang" ucap Devano mulai menyadarinya,


"Maafkan aku juga, seharusnya aku tidak bicara seperti tadi padamu" tambah pria asing pemilik kekuatan es itu,


"Tidak masalah bagiku selama kalian sudah menyadarinya dan aku harap kalian jangan bersikap seperti tadi lagi, aku akan melakukan yang terbaik untuk kita semua, terutama untukmu, kau akan aku kembalikan ke tempat ini lagi jika tugas kita sudah selesai, dan aku mohon kerjasama darimu" ucapku pada pria dengan kekuatan es itu.


Dia hanya mengangguk dan tersenyum lagi padaku, aku juga merasa lega sekarang karena mereka sudah tidak merajuk lagi padaku, dan kami mulai melanjutkan perjalanan kami, mengikuti kemanapun arah cahaya yang merambat dari peta yang aku bawa, hingga cahaya yang memantul dari peta itu berhenti di depan sebuah gua yang sangat besar dan gelap juga cukup menyeramkan.


Tidak terdengar suara hewan apapun dari dalam sana dan hanya kesunyian yang mengelilingi tempat itu, aku juga tidak tahu sudah berapa lama kami berjalan memasuki hutan itu hingga berhenti di depan gua yang menyeramkan ini.


"Emely apa ini petunjuk yang benar, kenapa aku merasa kita malah tersesat yah?" Ucap Devano sambil berdiri ketakutan di samping kananku,


"Aku juga tidak tahu, sebelumnya kakek Kerto hanya menyuruhku mengikuti pantulan dari peta ini dan arahnya memang berhenti di sini, coba kau lihat sendiri" ucapku sambil memperlihatkan petanya kepada mereka berdua,


"Iya benar, ini adalah peta kuno dan sering di gunakan oleh anggota kerajaan, ibuku dulu juga pernah memiliki peta yang sama seperti ini di tangannya, jadi aku tahu bagaimana cara menggunakannya, ini memang arah yang benar" ucap pria dengan kekuatan es itu.


Mendengar ucapan pria es itu aku dan Devano langsung melirik ke arahnya dan melihat dia yang membaca peta dengan sangat serius, aku terperangah dan terlihat jelas bahwa dia sangat memahami isi dari peta tersebut.


"Apa kau sungguh memahami peta ini?" Tanyaku memastikan,


"Tidak... Aku hanya melihat arahnya saja, seberapa lama kita akan menjelajah" ucapnya membuat aku sangat kesal.

__ADS_1


Aku dan Devano yang tadinya mengira dia mengerti dengan peta itu langsung saja menghembuskan nafas kasar.


"Haaa! Aku pikir kau mengerti, karena menatapnya sangat serius dan lama dan kau bilang ibumu juga memiliki peta ini di tangannya, eh ternyata kau juga tidak mengerti" gerutu Devano yang terlihat kesal.


Aku hanya bisa memijat keningku pelan melihat kelakuan dua orang ini yang sama idiot nya.


"Kemarikan peta nya, nanti ini akan berubah menjadi es jika kau terus memeganginya!" Ucapku mendominasi dan merebut peta itu dengan cepat,


Dia hanya tersenyum menunjukkan giginya yang tertata rapih sambil menggaruk belakang kepalanya.


"Hey... Siapa namamu, aku belum tahu namamu meski sudah menyelamatkanmu" ucapku bertanya padanya,


"Aahh.. kenalkan namaku Avan kalian bisa memanggilku apa saja dan arti dari Avan adalah air, ibuku yang memberikan nama itu" ucapnya memperkenalkan diri dengan menyebut ibunya lagi.


Dia juga mengulurkan tangannya mengajakku bersalaman dan di saat aku mau menerima salamannya Devano dengan cepat menerobos hingga akhirnyanmalah Devano yang bersalaman dengan Avan hingga dia merasa kedinginan di tangannya.


"Ah... Kenalkan aku Devano..a..ahh... Tanganmu dingin sial!" Ucap Devano langsung menarik tangannya lagi.


Dan Avan malah menahan tawa aku juga hanya bisa menertawakan Devano karena dia sudah masuk jebakan Avan.


Aku menyudahi masalah itu dan mengajak mereka untuk segera masuk ke dalam gua yang gelap ini untuk memeriksa ke dalam.


"Sudah ayo kita coba masuk saja dan cari tahu ada apa di dalam gua ini, siapa tahu kita akan mendapatkan petunjuk di dalam sana" ucapku kepada mereka berdua.


Meski aku tahu Devano sangat takut, aku langsung menarik tangannya dan tangan yang satunya lagi ku nyalakan api yang cukup besar di telapak tangan sebagai sumber cahaya bagi kita semua.


Gua itu benar-benar besar dan jalanan di sana sangat lembam ada juga sisa-sisa air rembesan yang entah dari mana asalnya hingga ada di atap gua itu dan jatuh mengenai tubuh kami semua, hingga kami sudah berjalan cukup jauh dan kaki kami bertiga sudah merasa lelah, gua itu masih tidak terlihat ujungnya dan terasa sangat panjang sekali.


"Hah... Hah... Hah... Emely sepertinya gua ini bukan gua sembarangan, sedari tadi kita masih belum mencapai ujungnya, apa tidak sebaiknya kita beristirahat dahulu?" Ucap Devano sambil duduk mengistirahatkan kakinya.


"Baiklah kita akan istirahat dulu disini untuk beberapa saat" ucapku memutuskan.


Saat aku sudah memutuskan untuk beristirahat disana Avan langsung saja merebahkan tubuhnya di lantai gua itu yang lembap dan sedikit basah, dia bahkan membuat air yang ada disana menjadi es dan menggunakannya untuk alas tidur dirinya, hal tersebut membuat Devano sangat kesal dan iri dengan kekuatan yang dimiliki oleh Avan.


"CK... Andai saja aku memiliki kekuatan sepertinya, pasti akan sangat menyenangkan" gerutu Devano yang bisa aku dengan sekilas.


Aku mengerti apa yang dia rasakan, saat di sekolah sebelumnya dia terlihat seperti berandal yang tidak taat dengan aturan, namun setelah aku lebih mengenal dia lebih dalam ternyata dia seseorang yang lemah dan dia memiliki hati yang baik, mungkin itulah kenapa dia bisa melihat makhluk, dan semakin aku mengenalnya lagi ternyata dia memiliki ke istimewa yang luas biasa, kekuatan penyembuhan yang bisa miliki sangatlah luar biasa dan kekuatan itu bisa menyembuhkan segala macam luka dan penyakit bahkan untuk menetralkan racun, bagiku kekuatan dia justru yang paling bagus dan memiliki banyak manfaat juga kegunaan untuk dirinya maupun untuk semua orang.


Berbeda dengan kekuatan yang aku miliki ataupun kekuatan lain yang tengah kita cari pemiliknya.


Melihat dia yang justru malah iri dan mengharapkan memiliki kekuatan seperti Avan itu membuat aku kasihan padanya karena dia tidak bisa melihat potensi yang sangat besar di dalam dirinya itu, aku segera mendekatinya dan duduk di sampingnya.


"Devano ada apa denganmu? Apa kau tidak senang dengan kejutan penyembuhan mu?" Ucapku padanya sambil menyenggol bahunya pelan,


"Aish... Apaan sih, aku ini lemah dan aku tidak bisa bertarung, padahal aku seorang pria, itu sangat menyebalkan karena aku seorang pria" balas Devano dengan wajahnya yang kusut,


"Ayolah Devano, kekuatan spiritualmun itu sangat bagus bahkan aku ingin memilikinya jika aku bisa, dengan memiliki kekuatan penyembuhan kami bisa menyelamatkan semua orang, kau adalah yang paling penting dari misi ini, masalah dari kamu bisa bertarung atau tidak, kamu bisa mempelajarinya dariku, aku akan dengan senang hati mengajarimu, bagaimana apa kau mau mencobanya?" Ucapku berusaha membujuk dia.


Aku sengaja mengatakan itu karena tidak ingin melihat dia menjadi murung seperti itu, dan ternyata setelah aku menawarkan untuk mengajarinya dia langsung kembali ceria seperti sebelumnya dan sangat bersemangat untuk belajar bertarung denganku.


"Benarkah?, Aku mau Emely tolong ajarkan aku" ucapnya sangat penuh dengan semangat yang membara.


Aku juga merasa senang dan segera mengajarkan kuda-kuda pertama kepadanya dan mulai mengajari dia jurus pertama sedikit demi sedikit, sejauh ini setelah berlatih beberapa saat mulai dari dasar cara memukul, meninju dan juga cara menendang yang benar, Devano sudah bisa melakukannya dengan baik meskipun belum sempurna, namun dia mampu belajar dengan cepat dan tanggap.


Aku bahkan tidak menyangka ternyata dia bisa memahami pelajaran yang aku berikan dengan cepat dan ku lihat Avan masih berbaring di ranjang es nya, karena kesal melihat dia terus bersantai dengan sejuk di tempat itu seorang diri tanpa memperdulikan aku dan Devano aku pun melemparkan bola api dari tanganku mengenai kakinya hingga dia kepanasan dan seketika es yang dia buat juga mencari dengan cepat.


"Aduh... Emely kau kenapa? Aahh.. ini panas sekali" ucapnya sambil mendinginkan kakinya dengan segera,

__ADS_1


"CK... Rasakan saja itu, dasar manusia es kau memang benar-benar pantas memiliki kekuatan es, sikapmu juga sama dinginnya, sudah cepat bangkit kita harus melanjutkan perjalanan" ucapku sambil lanjut berjalan ke depan sambil memunculkan api di kedua tanganku untuk penerangan.


Devano terlihat jauh lebih bersemangat dari sebelumnya dan kini justru malah Avan yang terlihat lemas, dia berjalan dengan loyo dan tidak memiliki energi sedikitpun hingga kami akhirnya tiba di depan sebuah cagak yang ada di dalam gua itu, aku langsung menghentikan jalanku dan menatap ke depan dengan bingung karena ada tiga jalan di sana.


Acan yang berjalan lesu dengan kepala tertunduk di belakang dia tidak melihat ke depan bahwa aku dan Devano sudah berhenti karena bingung harus memilih jalan yang mana, tapi Avan malah menabrak tubuh Devano hingga dia terpeleset dan langsung masuk ke dalam jalan yang sebelah kiri.


"Brukkk....aaaaaaahhhhhhhh....Emely!" Teriak Devano yang tergelincir di jalan itu,


Aku menatap pada Acan dan ingin memarahinya namun tidak ada waktu lagi saat itu, karena aku sangat mencemaskan Devano.


"Aishh... Avan kau benar-benar sialan" bentakku padanya dengan mata yang merah karena marah,


"Ma..maafkan aku" ucap Avan merasa bersalah,


"Tidak ada waktu lagi, kita tidak boleh terpisah apapun yang terjadi, ayo kita susul Devano, haaa" ucapku sambil langsung meloncat ke dalam lubang itu sambil menarik tangan Avan.


Alhasil kami pun meluncur dengan cepat menuruni gua yang gelap itu dan aku hanya bisa terus menyalakan api dari tangan dan tubuhku agar mereka berdua bisa mengetahui dimana aku berada.


"Aaaaaaa.......aaaaaaa....." Teriakkan Avan yang sangat kencang berada meluncur di belakangku.


Aku juga merasa takut dan kaget namun aku justru lebih mengkhawatirkanku Devano dan kapan kita akan mendaran dan berhenti meluncur saat itu, sehingga aku terus banyak berpikir, dan berteriak memanggil Devano.


"Devano.... Dimana kau? Jika kau mendengar aku... Tolong jawablah.... Devano!" Teriak aku sangat kencang.


Sayangnya tidak ada jawaban dari Devano dan itu membuat aku semakin mencemaskannya hingga tidak lama aku mulai melihat sebuah cahaya lagi dari bawah dan aku kembali merasakan jatuh lalu tercebur ke dalam sebuah lumpur yang kotor.


"Bluk....." Suaraku jatuh ke lumpur dan tidak bisa bergerak,


"Aishh... Sial sekali, kenapa harus mendarat di lumpur sih, menjijikan!" Gerutuku sangat kesal.


Aku berusaha untuk keluar dari lumpur itu namun sialnya aku justru malah semakin tenggelam, dan aku mulai panik dalam keadaan seperti itu.


"Eh...eh ..ada apa ini, kenapa lumpurnya malah terus membuat aku tenggelam, ada apa ini?" Ucapku merasa semakin panik,


"Emely, ini lumpur hisap jadi jangan bergerak, semakin kau bergerak semakin kau tenggelam" ucap Devano yang ternyata ada di sana tidak jauh dari tempatku tenggelam di lumpur itu.


Dan ku lihat lumpur itu sudah berada di dada Devano sedangkan aku hanya tenggelam hingga ke pinggang.


Sampai tidak lama terdengar teriakkan Avan dari atas dan dia juga jatuh ke tempat yang sama, tepat di hadapanku dia memuncratkan lumpur itu ke wajahku membuat aku sangat emosi.


"Aaaahhhh...blup" suara Avan yang jatuh tepat di hadapanku,


"AVAN!" teriakku hingga membuat hewan yang berada di hutan itu langsung berhamburan kabur.


"Ma..maafkan aku Emely itu kan tidak sengaja" ucap Avan dengan tersenyum kecil.


Aku sangat kesal dengannya namun aku tidak bisa melakukan apapun dalam keadaan seperti ini sedangkan disisi lain Devano sungguh tengah membutuhkan bantuan sebab dia sudah hampir tenggelam lumpur sudah mengenai lehernya.


"Kalian tolong aku!" Ucap Devano,


"Ahh ... Devano, kau....aaahh apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ucap Avan yang sama paniknya seperti ketika aku pertama kali melihatnya.


Aku berusaha berpikir dengan apa yang bisa kulakukan hingga aku memiliki sebuah ide.


"Avan... Kekuatanmu, ayo pakai kekuatanmu ubah lumpur ini menjadi es dan aku akan mencairkannya nanti" ucapku memberikan ide,


"Benar.... Aku akan melakukannya" balas Avan dan segera bersiap-siap.

__ADS_1


__ADS_2