
Aku, Avan dan Vayu menatap heran terperangah dengan mulut terbuka juga mata yang terbelalak sangat lebar, melihat akar milik Arshaka yang menjalar ke luar namun tidak mendapatkan apapun yang dia tangkap, sampai Arshaka meminta bantuan kepada kami semua untuk menarik akar itu karena dia bilang dia menangkap sesuatu yang sangat kuat.
"Eughh.... Emely, teman....temen cepat bantu aku tarik akar ini, aku menangkap sesuatu yang kuat dan berat" ucap Arshaka sambil meringis kesakitan memegangi tangannya yang mengeluarkan akar menjalar tersebut.
Aku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan saat itu namun aku langsung saja membantu Arshaka untuk menarik akar tersebut menggunakan tanganku sendiri.
"A..ahh...iya..." Ucapku sambil langsung membantunya menarik akar tersebut dengan kuat,
Teman-teman yang lain justru masing diam terperangah dan aku langsung membentak mereka dengan keras agar mereka bisa segera membantuku karena aku sendiri juga merasa sangat kewalahan saat mencoba membantu Arshaka dalam menarik akar tersebut.
"Euhhh......aishhh.....apa yang sebenarnya kau tangkap ini, aku tidak......bisa...melihat apapun di dalam akar yang melingkar itu" ucapku sambil terus berusaha menariknya,
"Hey.....apa kalian bodoh! Cepat bantu aku dan Arshaka menariknya ini sangat berat!" Bentakku kepada mereka bertiga.
Avan, Devano dan Vayu pun segera menghampiriku dan mereka langsung membantu aku juga Arshaka untuk menarik akar tersebut dengan sekuat tenaga sampai lama kelamaan setelah kami terus tarik menarik dengan sesuatu yang tidak terlihat wujudnya itu, sesuatu mulai tampak dalam lingkaran akar tersebut dan itu seperti seorang manusia, aku mulai merasa kaget dan penasaran sehingga langsung menyuruh mereka semua untuk semakin cepat menariknya.
"Kalian semua kencangkan tarikkannya, aku mulai melihat wujud seseorang di dalam akar itu!" Teriakku kepada mereka semua.
Dengan cepat mereka mengangguk mengerti dan langsung memberikan aba-aba untuk menarik akar tersebut lebih kuat lagi.
"Baik.... Dalam hitungan ke tiga kita tarik akar ini bersama-sama" ucap Devano memberikan arahan,
"Satu.....dua... Tiga... Tarikkkk!" Teriak Devano yang membuat kami semua berteriak sambil menarik benda itu dengan sekuat tenaga hingga kami semua jatuh tersungkur ke belakang bersamaan.
"Aaarrkkkkhhhhh....brukk....aduhh....sakit sekali" teriakku dan jatuh ke tanah.
Aku melihat Avan, Arshaka, Devano dan Vayu juga sa terjatuh ke belakang dan mereka saling membantu satu sama lain untuk bangkit.
Aku juga segera bangkit dengan di bantu oleh Vayu yang saat itu berada di sampingku, sampai aku mulai melihat seorang pria dengan rambut yang berantakan jatuh terikat dengan akar menjalar yang tadi keluar dari tangan Arshaka sebelumnya, pria tersebut terlihat cantik dan dia meringis kesakitan juga mencoba berontak untuk melepaskan diri dari ikatan akar yang membelit tubuhnya tersebut.
"Aaaahh.....arghhhh....lepaskan aku!" Teriak pria tersebut yang membuat aku juga teman lainnya segera datang menghampiri dia lebih dekat.
Aku lihat sebagian tubuhnya terlihat menghilang dan transparan tidak terlihat sehingga aku mulai mengerti mengapa sebelumnya kami terlihat seperti menarik benda kosong di dalam lingkaran akar tersebut.
"Emely apa dia manusia? Kenapa tangannya menghilang begitu, aaahhh dia sangat menyeramkan" ucap Devano sambil mendekatiku,
"Aku juga tidak tahu dia sangat aneh dan memang terlihat cukup menakutkan walaupun wajahnya cantik" balasku sambil menelan salivaku dengan susah payah,
"Bukankah dia juga manusia, kenapa kalian harus takut padanya, mungkin saja dia adalah makhluk seperti kita dengan kekuatan elemen spiritual yang berbeda" balas Vayu mengingatkanku.
Aku langsung mengerti dengan apa yang di katakan oleh Vayu dan memang ketika melihat dia sebelumnya aku sudah menduga bahwa dia mungkin saja pemilik kekuatan spiritual, namun dia terlihat cukup aneh dan ngeri rasanya melihat tubuhnya hilang muncul seperti itu, sehingga aku memutuskan untuk tidak melepaskan pria itu terlebih dahulu karena takut kita akan kehilangan dia jika melepaskannya.
"Hey....lepaskan aku dasar makhluk asing!" Bentak pria itu menatap ke arahku,
"A...apa..yang kau bicarakan makhluk asing itu kami?" Tanyaku kepadanya karena dia menatap ke arahku,
"Tentu saja tidak, mereka semua sama seperti orang-orang yang lain tapi kau, lihat seluruh tubuhmu yang aneh itu kau lah makhluk asing yang akan menghancurkan dunia itu kan? Pasti kau yang sudah di ramalkan oleh tetua bahwa kau akan membawaku pergi dari negeri ini!" Bentak pria itu kepadaku dengan tatapan mata yang tajam.
__ADS_1
Seketika aku membuka mataku lebar dan kaget tidak mengerti dengan apa yang pria tersebut katakan, bahkan Vayu juga yang lainnya refleks menatap ke arahku begitu saja dengan menaikkan alis mereka bersamaan.
Sehingga aku merasa sangat risih dan tidak nyaman dengan tatapan mereka semua kepadaku.
"Aishh....kenapa kalian malah menatapku seperti itu, kaliankan tahu semua tanda hitam ini bukan permanen dan aku juga bukan makhluk jahat, apa yang kalian lihat, jangan menatapku begitu!" Bentakku kepada mereka semua.
Aku berjalan menghampiri pria tersebut yang membuat aku cukup kesal dan sudah bicara sembarangan tentang aku sampai membuat teman-temanku sendiri mencurigai aku.
"Hey...jaga ucapanmu aku hanya manusia biasa sepertimu, bagaimana bisa kau mengatakan bahwa aku yang akan menghancurkan seluruh dunia, akunjustru akan menyelamatkan dunia ini" balasku kepadanya dengan menatap tajam dan mengerutkan kedua alisku.
Dia berdecak kecil lalu menatapku dengan tatapan yang seperti menyepelekan aku, hingga Devano juga mulai kesal dengan pria tersebut yang sangat sombong dan sombong padaku.
"Ckk....sudah jelas kau adalah iblis itu" balas dia yang justru melewati batas dengan mengatakan aku sebagai seorang iblis,
"Aishh.....kau buta dan kurang ajar, bagaimana bisa kau mengira Emely sebagai iblis dia adalah penakluk makhluk dasar bodoh!" Bentak Devano mendekati pria itu,
"Ahaha..... penakluk makhluk? Mana mungkin ada orang seperti itu di dunia ini, jangan bercanda aku tidak akan mempercayai kalian sedikitpun" balas pria itu yang justru malah menertawakan perkataan dari Devano.
Aku sangat geram hingga tidak bisa menahan emosi di dalam diriku lagi, langsung saja aku hembuskan api pada rambutnya tersebut hingga membuat rambut panjangnya terpotong dan berubah menjadi pendek sekali.
"Arghh.....rasakan ini syrettt...." Ucapku langsung memotong rambutnya dengan secepat kilat menggunakan tangan apiku yang bisa membakar rambut itu hingga memotongnya acar.
Dia itu langsung membelalakkan matanya sangat lebar dan dia langsung berteriak kepadaku sangat kencang hingga membuat seisi hutan rasanya bergetar karena teriakannya itu.
"Aaarrkkkhhh....rambut kesayanganku!" Teriak pria itu begitu kencang sampai Avan dan Devano refleks menutup telinga mereka saling kerasnya.
"Hey... Kenapa kau terlihat begitu marah dan berteriak seakan-akan kau mau menghancurkan hutan ini, apa kau marah karena aku menghukummu dengan memotong rambut indah itu?" Tanyaku kepadanya dengan menatap santai,
Untuk beberapa saat memang tidak ada yang terjadi bahkan hutan itu tetap terasa sepi dan sunyi sampai hal tersebut membuat Avan juga Devano tertawa senang tidak ada yang terjadi setelah pria itu berteriak sangat keras memanggil kelincinya.
"Ehh.....kenapa tidak ada yang terjadi? Aku pikir akan bermunculan kelinci setelah kau berteriak seperti itu, dan aku bisa menangkan salah satu untuk menjadikannya sarapan, ahahaha....." Ucap Devano menertawakannya,
"Iya juga ya, pasti kelinci panggang rasanya sangat enak, ahahaha...." Balas Avan menanggapi.
Mereka berdua memang sama konyolnya sedangkan aku mulai merasa tidak enak hati hingga tidak satu per satu kelinci keliar dari semak-semak di sekitar sana dan jumlah mereka semakin banyak, terus bertambah dengan cepat hingga membentuk seperti sebuah pasukan kelinci yang sangat besar dan semua kelinci itu terlihat memiliki mata merah menyala yang sama sehingga aku mulai mencurigai ada yang tidak beres dengan hutan tersebut dan semua kelinci tersebut.
"Wah.....kelincinya semakin banyak, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Ucap Arshaka yang mulai kaget dan panik melihat betapa banyaknya kelinci yang keluar dari dalam hutan tersebut,
Aku juga mulai merasa cemas dimana semua kelinci itu mulai mengelilingi kami berlima termasuk pria aneh yang masih terikat akar pohon tersebut.
"Berhati-hatilah teman-teman aku rasa semua kelinci ini bukanlah kelinci biasa, mata mereka memiliki warna yang sama dan aku merasa mereka di pengaruhi oleh sesuatu yang jahat, seperti terhipnotis atau terpengaruh sebuah sihir jahat" ujarku memberikan perhatian kepada teman-temanku untuk berjaga-jaga,
"Aahhh....aku menyesal sudah menertawakan pria itu, sekarang aku harus bagaimana?" Tambah Devano yang mulai ketakutan juga.
Aku berusaha menenangkan teman-temanku agar mereka tidak panik lebih dulu.
"Tenang teman-teman, kita pasti bisa melawan semua kelinci ini, kita akan baik-baik saja" ucapku kepada mereka.
__ADS_1
Sampai tiba-tiba saja pria itu langsung berteriak menyuruh semua kelincinya tersebut untuk menyerang kami saat itu juga bahkan tanpa aba-aba terlebih dahulu.
"Pasukan kelinciku, serang mereka!" Teriak pria itu membuat aku kaget.
Ku lihat semua kelinci itu langsung meloncat ke arah kami dan mereka menyerang kami secara bersamaan, meski tubuh mereka kecil dan mungil namun jika jumlah mereka sebanyak itu tentu saja kami juga kesulitan untuk melawannya, aku sudah melemparkan apinke arah kelinci itu agar menjauh dari kami dan Avan juga sudah melemparkan kekuatan es dari tangannya sampai membuat banyak kelinci menjadi patung es di sekitar sana begitu pula dengan Vayu yang menggunakan kekuatan anginnya untuk menyingkirkan semua kelinci itu dengan sekali kibasan yang dia lakukan, bukan hanya itu Arshaka juga berperan banyak dalam hal ini dimana dia juga membuat tanah muncul ke atas atau membuat tanah menjadi longsor ke bawah membuat banyak kelinci terkubur ke dalam tanah atau jatuh ke sembarangan arah.
Kami terus saja bertarung melawan para kelinci bermata merah itu dengan sekuat tenaga, bahkan Devano juga mengeluarkan tenaganya dengan mengambil ranting pohon yang ada di dekat sana dan dia memukul kelinci yang mendekatinya dengan sekuat tenaga.
Aku juga berusaha membantu dia dan menarik dia masuk dalam tameng api pelindung yang sudah aku gunakan sejak tadi sebab terdesak dengan para kelinci itu yang semakin bermunculan lebih banyak lagi daripada sebelumnya.
"Buk....buk...buk...syerrrttt.....geerrrr" suara serangan kami yang menjalar kesana kemari untuk melumpuhkan semua kelinci itu.
Namun anehnya disini semakin kami memusnahkan kelinci itu semakin banyak pula kelinci baru yang bermunculan kelaur dari dalam semak-semak yanga da di hutan itu sehingga energi kami semakin berkurang dan tenaga kami satu per satu mulai berkurang dan lemas.
Orang pertama yang merasakan dampaknya adalah Vayu karena dia sudah menggunakan kekuatan spiritualnya untuk menyelamatkan kami saat hanyut di sungai sebelumnya, dia terlihat begitu pucat dan beberapa kali aku lihat dia terdesak ke belakang.
"Hah...hah....hah...aaahhh" suara Vayu yang terkena serangan dari cakaran kelinci itu,
Aku langsung menebas kelinci yang menyerangnya dan langsung menarik dia ke dalam lingkaran tameng api pelindungku juga.
"Vayu apakah kau baik-baik saja?" Ucapku menanyakan keadaannya,
"Aku baik Emely terimakasih sudah membantuku tadi" balas dia sambil meringis sedikit.
Aku tahu mungkin rasanya akan sakit walaupun hanya terkena goresan oleh gigi kelinci itu sedikit, Devano juga dengan cepat mengobati luka di tangan Vayu hingga lukanya hilang dan tidak meninggalkan bekas lagi.
Setelah itu kelincinya semakin banyak dan terus berhamburan keluar dan menyerang kami hingga kami semua benar-benar terdesak karenanya.
"Hah...hah.... Emely bagaimana ini, kita sudah terdesak, Avan terlihat sudah lemas" teriak Arshaka dari sampingku dimana dia sudah membuat dinding pelindung dari tanah,
"Aku juga merasa heran dan bingung mengapa kelinci itu semakin bermunculan banyak ketika kita mengalahkan mereka semua" balasku dengan heran dan terus memikirkan.
Hingga sesuatu mulai terpikir olehku, aku pun memiliki ide untuk mencoba hal yang ada di dalam kepalaku saat itu.
"Ahhh.... Arshaka bisakah kau mendekat sedikit kepadaku, tolong lindungi Devano dan Vayu juga, aku akan mendekati pria transparan itu dan akan mengalahkan semua kelinci sialan ini" ucapku kepada Arshaka,
"Aku bisa saja melindungi mereka tapi bagaimana denganmu? Apa kau akan baik-baik saja mendekat kesana sendirian?" Ujar Arshaka kepadaku,
"Tenang saja aku bisa menghadapinya itulah kenapa aku membuat keputusan ini, tolong jaga mereka aku akan segera menyelesaikan kekacauan ini" balasku sambil segera mendorong Vayu juga Devano ke arah Arshaka hingga dia kembali membuat dinding tanah yang tinggi di sekeliling mereka.
Aku terus berjalan mendekati pria itu dengan membakar dan menghanguskan semua kelinci yang baru saja hendak mendekatiku.
Amarahku sedikit memuncak dan ketika level emosiku semakin tinggi maka disitulah aku semakin kuat.
"Kau....hentikan semua kelinci sialan mu itu dan aku akan melepaskanmu" ucapku kepadanya,
"Tidak, jika aku ingin lepas aku bisa saja melepaskan diriku sendiri dengan menyuruh kelinciku untuk melepaskan akar aneh ini" balas dia yang masih saja keras kepala dan menyulitkan aku,
__ADS_1
"Jika kau melakukan ini pada kami hanya karena mengira aku seorang iblis yang akan menghancurkan dunia, kau salah besar karena seharusnya yang kau musnahkan adalah Abaddon bukan aku karena aku adalah Emely" ungkapku memberitahunya,
"Haha....kau pikir aku akan tertipu, aku tahu jelas bagaimana ciri-ciri iblis itu dan semua ciri-cirinya ada pada dirimu, sudah pasti itu adalah kau" balas dia masih saja dengan pemikirannya yang bodoh dan keliru itu.