
Aku juga sempat kaget dan tersentak kuat saat pertama kali mendapatkan perlakuan seperti itu, aku juga langsung saja mendekat ke arah Devano karena dia yang menarik tanganku cukup kuat sebelumnya.
"Aahh.... Devano apa yang kamu lakukan lepaskan tanganku!" Bentakku sambil menatapnya dengan tajam.
Hingga akhirnya Devano mau melepaskan genggaman tangannya dariku, aku pun membenarkan pakaianku yang sempat kusut dan rambutku yang berantakan karena ulahnya barusan, sedangkan pemuda itu hanya tersenyum saja menanggapi kejadian tersebut, aku pun mengajaknya lagi untuk melakukan rencana yang dikatakan oleh Avan sebelumnya, karena menurutku rencananya tersebut memang cukup bagus, dengan rencana yang di katakan oleh Avan itu memiliki sebuah peluang besar agar kita semua bisa secepatnya keluar dari sini, kita juga bisa memusnahkan para pengikut Abaddon itu jika kita menghancurkan ketuanya Abaddon terlebih dahulu, itulah yang aku pikirkan sedari tadi.
"Eumm....pemuda aneh bagaimana jadinya apakah kau sudah mau untuk mengikuti rencana kami dan pergi bersama kami ke dunia permukaan?" Tanyaku lagi untuk memastikan keputusan yang dia ambil saat itu.
Namun sayangnya dia masih saja terlihat murung dan dia hanya diam tertunduk lesu sambil terdengar tarikkan nafasnya yang sangat berat, aku mengerti mungkin ini adalah keputusan yang sulit untuknya sebab dia sudah tinggal cukup lama di dunia ini dan menjaga seluruh hal tentang klien bayangan dalam waktu yang cukup lama, tapi bagaimana pun itu aku rasa dia harus tetap ikut bersama kami sebab kami sangat membutuhkan dia.
Aku berjalan mendekatinya dan berusaha untuk membujuk dia lagi.
"Kau....siapapun kau aku hanya minta satu darimu, meski kau nantinya tidak bisa atau tidak ingin tinggal di dunia permukaan namun aku memohon sebagai sesama pemilik elemen spiritual, aku ingin kau ikut dengan kami dan membantu kami untuk melawan Abaddon, kau tahu seberapa kuat dia dan dengan kita semua bersatu barulah akan ada kemungkinan untuk kita mengalahkan jiwa oni yang jahat di dalam dirinya" ucapku kepada pemuda tersebut.
Sampai akhirnya perlahan dia mau melihat aku dan menatap mataku saat itu, aku langsung membalasnya dengan senyuman untuk memberikan keyakinan terhadap dirinya bahwa semua yang aku katakan terhadap dia adalah sebuah kebenaran dan aku sangat bersungguh-sungguh ketika memintanya ikut dan bergabung menjadi bagian dari tim kami semua.
"Baiklah aku akan ikut dengan kalian, tetapi aku hanya akan membantu kalian melawan Abaddon, bukan berarti aku setuju atas seluruh ajakan darimu terlebih untuk tinggal di dunia permukaan" balas dia kepadaku.
Walaupun keputusannya hanya itu saja, tapi aku sudah merasa sangat senang ketika mendengarnya karena walau hanya mau membantu kami tapi justru hanya itu yang benar-benar kami butuhkan saat ini, aku tersenyum lebar begitupun dengan teman-teman yang lainnya yang juga merasa puas karena akhirnya kami bisa genap bertujuh sekarang dan bisa segera datang ke dunia permukaan untuk melawan Abaddon dan menghentikan semua kekacauan yang dia perbuat selama ini.
"Baguslah, ayo kita bersiap-siap sekarang" ucapku memberikan aba-aba kepada mereka semua.
Kini pemuda yang memiliki kekuatan bayangan tersebut terlihat sangat bersemangat dan aku turut senang melihatnya.
"Aku Erebus sang penguasa bayangan dan memiliki naga bayang akan melawan iblis Abaddon dengan sekuat tenagaku sampai akhir!" Teriak pemuda tersebut yang ternyata memiliki sebuah nama.
Aku dan yang lainnya sedikit kaget mendengar namanya yang terdengar cukup asing juga sangat aneh di telingaku namun nama teman-teman yang lainnya juga tidak kalah aneh sehingga aku bisa menahan diri untuk tidak menertawakan dia, namun berbeda dengan Devano saat mendengar Erebus yang berbicara dengan sangat lantang menyebutkan namanya sendiri juga terlihat begitu penuh semangat, Devano langsung saja tertawa melihatnya karena bagi dia itu sangatlah lucu, terlebih peragaan kedua tangannya saat itu.
"Ahahaha.... Siapa tadi kau bilang hah? Siapa namamu tadi ahaha" ucap Devano yang malah bertanya lagi di sela-sela tawanya saat itu,
"Erebus ingat itu, namaku adalah Erebus sang penguasa elemen bayang, aku bisa mencekikmu dan menghajarmu meski dalam jarak yang sangat jauh hanya dengan tangan bayang yang akan muncul begitu saja dan tiba-tiba, jadi kau harus berhenti menertawakan namaku, atau aku akan mengambil bayangan dirimu!" Ancam Erebus yang terlihat sangat serius kepada Devano.
Devano sendiri langsung saja terdiam dan dia meminta maaf dengan segera sebab dia tahu bahwa tanggapan darinya barusan cukup berlebihan kepada Erebus.
"Aaahh ... Iya...iya aku minta maaf ya, aku tadi hanya merasa namamu cukup lucu dan asing di telingaku makanya aku tertawa, saat mendengar nama Brox aku juga menahan tawa kok" balas Devano sambil membawa nama Brox yang saat itu langsung memalingkan pandangan dari Devano karena merasa sama kesalnya dengan Erebus.
__ADS_1
Aku harus kembali menengahkan mereka semua dan semua itu selalu terjadi karena Devano yang cukup menjengkelkan, terkadang aku bersyukur dia bisa ikut bersamaku dan menjadi bagian dari tim ini, namun terkadang aku juga merasa benci dan kesal kepadanya karena dia seperti biang kerok yang selalu saja menimbulkan banyak masalah dan pertengkaran dalam tim ini, hal tersebut sering membuat aku kesal dan jengkel dalam menghadapinya namun karena mau bagaimanapun dia adalah tim ku, sehingga aku masih harus tetap bersabar dalam menghadapi mereka.
"Aishh.... Sudah-sudah jangan saling menatap tajam seperti itu, aaahh sangat menyebalkan sekali melihat rekan tim sendiri haru berdebat terus seperti itu, Devano kau sudah hentikan semua kelakuan menjengkelkan itu, kita akan segera pergi keluar setelah para makhluk itu lengah, ayo bersiap-siap" ucapku dengan tegas kepada mereka semua yang langsung di anggukkan oleh mereka semua.
Ku lihat Brox mulai memegangi tangan Avan, sedangkan Devano ikut bersama Arshaka masuk kembali ke dalam mulut naga bayangan yang di buat oleh Erebus saat itu, Aku juga sudah menyiapkan sayap besar milikku begitu juga dengan Vayu yang sudah bersiap dengan kekuatan angin di bawah pinggangnya saat itu.
Kita semua saling tatap satu sama lain ketika sudah membagi orang menjadi tiga tim saat itu.
"Emely siapa yang akan keluar lebih dulu?" Tanya Brox kepadaku,
"Kau pergi lebih dulu Brox kau akan lebih aman kare aku tidak terlihat setelah itu baru aku akan terbang dengan cepat bersama Vayu dan terakhir adalah kau Erebus, kau bisa terbang dengan nagamu dan mereka tidak akan mencium bau kekuatan milik kalian semua jadi kau bisa pergi secara diam-diam disaat makhluk itu mungkin akan kebingungan dan mereka bisa saja mengejar aku dan Vayu, tapi aku akan pastikan kita akan terbang sangat tinggi dan berusaha agar tidak terlihat oleh mereka semua" balasku membagi urutan kepada mereka semua,
"Baik Emely kami mengerti, ayo Avan kita pergi" ucap Brox yang langsung saja berjalan sambil perlahan seluruh tubuh Avan dan Brox tidak terlihat.
Batu disana kemudian perlahan terbuka hingga mereka bisa segera keluar dari sana dengan cepat.
Aku sangat mencemaskan mereka berdua sebab mereka adalah yang memiliki jalan paling bahaya karena berjalan menyusuri hutan, meski aku tahu Brox bisa membawa Avan dengan secepat kilat namun tetap saja aku juga tahu bahwa anak buah Abaddon yang setengah manusia dan setengah keledai itu juga memiliki kecepatan yang tidak bisa di ragukan.
Setelah mereka keluar dan sama sekali tidak terdengar suara para makhluk menyeramkan itu datang atau mengikuti langkah Brox dan Avan barulah aku segera pergi menyusul mereka.
Hingga Erebus mengangguk barulah aku segera keluar dari gue tersebut, melesat dengan cepat ke atas awan dan terbang dengan tinggi bersama Vayu, dari atas sana aku bisa melihat dengan jelas dimana letak gua itu dan aku sengaja menahan tangan Vayu terlebih dahulu sebelum dia benar-benar akan pergi saat itu juga.
"Emely ada apa?" Tanya Vayu kepadaku,
"Tunggu dulu kita harus mengikuti Erebus, aku takut dia tidak jujur kepada kita, dia bisa mengkhianati seorang Abaddon tidakkah kau berpikir apa dia akan semudah itu mau membantu kita?" Balasku kepada Vayu.
Sebenarnya sejak awal aku juga sedikit merasa curiga kepada Erebus jadi aku memilih untuk melihatnya dari atas sini hingga dia benar-benar keluar dari gua tersebut dan naganya mulai terbang melewati pepohonan di hutan dengan cepat begitu juga dengan dirinya saat itu, dia memang tidak terlihat melakukan sesuatu namun saat aku perhatikan dari atas dan aku mengikuti jejak dia, ku lihat dia justru malah pergi ke tempat yang bukan jalur menuju perbatasan sebenarnya.
"Emely lihat, dia sepertinya tidak akan ke perbatasan tapi ke arah lain" ucap Vayu yang juga sudah mengetahui apa yang aku pikirkan,
"Kau benar dan aku sudah mencurigai hal ini sejak awal, sekarang kita lihat saja dulu, kemana dia akan membawa dua teman kita dalam perut naganya tersebut" ucapku kepada Vayu.
Sebenarnya saat melihat ternyata Erebus tidak patuh dengan perkataan dariku sebelumnya, itu sangat membuat aku marah dan kesal kepadanya, namun aku tahu sekarang marah tidak akan menyelesaikan apapun dan aku juga tidak bisa membentak dia saat ini apalagi dalam keadaan yang sangat menegangkan seperti ini.
Aku ingin memergoki kelakuannya sampai akhirnya agar aku tidak melewatkan apapun yang coba dia lakukan di belakang aku saat itu, dan dia sudah benar-benar melanggar ucapanku.
__ADS_1
Tapi setelah aku perhatikan lagi dari atas aku lihat para hewan menyeramkan itu berada sangat dekat dengan Erebus dimana mereka terlihat seperti mengendus sesuatu dan Erebus justru mengendap-endap masuk ke dalam wilayah hutan yang dimana disana terdapat banyak iblis siluman keledai tersebut.
Aku dan Vayu yang melihat itu langsung memebalalakkan mata dengan lebar dan sangat kaget juga tidak menduga jika Erebus justru malah masuk ke kandang kematian.
"Aishhh.... Apa yang dia lakukan? Apa dia bodoh atau memang sengaja melakukan semua ini?" Gerutuku sangat kesal melihatnya dari atas sana,
"Emely itu sangat berbahaya bagi Arshaka dan Devano yang masih lemah, kita harus membawa mereka keatas sini, dan kita tidak bisa mempercayai Erebus untuk menjaga mereka" ucap Vayu kepadaku.
Aku mengangguk terhadapnya tapi aku juga bingung bagaimana cara mengeluarkan Devano dan Arshaka dari dalam perut naga bayangan milik Erebus tersebut.
Hingga aku mulai melihat Erebus yang tengah sibuk mengambil sebuah buah berwarna emas dari salah satu pohon disana, dia memasukkan beberapa biji buah tersebut ke dalam kantong yang dia bawa namun tiba-tiba saja dia menginjak ranting disana cukup kuat hingga patas dan menimbulkan suara yang cukup keras hingga membuat para makhluk siluman itu langsung berjalan mendekatinya, aku bisa melihat Erebus yang sangat kaget dan dia langsung bersembunyi di sebalik pohon besar yang ada disana.
Hingga ketika para makhluk itu menyadari bahwa buah mereka hilang, mereka langsung saja mengeluarkan suara yang sangat keras dan begitu menyeramkan mereka seperti berkomunikasi satu sama lain dan berpencar dari tempat itu dengan perasaan marah dan suara teriakkan hewan setengah manusia itu sangatlah keras.
"Emely ini menjadi sangat kacau kita harus segera menyelamatkan mereka sebelum siluman keledai itu menangkapnya, dan itu akan sangat berbahaya" ucap Vayu yang sudah sangat panik.
Tanpa pikir panjang lagi, aku dan Vayu langsung turun ke bawah dan langsung saja ku tarik Erebus dan membawanya terbang ke atas disaat salah satu makhluk menyeramkan itu hampir saja mengetahui keberadaan persembunyiannya saat itu.
Vayu juga hendak membantu aku untuk membuat angin yang besar agar bisa mengalihkan perhatian para makhluk itu ke tempat lain, sehingga kini justru malah Vayu yang mungkin akan di kejar oleh makhluk yang menyeramkan itu, sedangkan aku langsung saja membawa terbang Erebus lebih tinggi bersama naganya tersebut yang memang selalu berada di belakang Erebus kemanapun dia pergi sama dengan burung phoenix yang selalu hinggap di atas bahu sebelah kananku.
"Emely kau...." Ucap Erebus yang kaget saat pertama kali melihatku menyelamatkan dia,
"Diam!" Ucapku sambil membelalakkan mata terhadap dirinya.
Aku langsung membawa dia terbang dan pergi cukup jauh dari tempat itu, aku segera menyuruh Erebus untuk pergi dari tempat berbahaya tersebut secepatnya ke perbatasan sebab aku yakin Brox dan Avan sudah menunggu disana sejak lama.
"Erebus pergilah dari tempat ini, aku akan mengejar Vayu, dia dalam bahaya sekarang, dan ingat jangan beritahu teman-teman yang lain tentang hal ini, kau harus segera keluar dari hutan ini secepatnya setelah kalian bertemu dengan Brox juga Avan" ucapku kepadanya dengan sangat serius,
"Tapi Emely bagaimana dengan kau dan Vayu?" Tanya Erebus yang terlihat mencemaskan kami saat itu,
"Jangan cemaskan itu aku dan Vayu akan segera menyusul, kau harus mendengarkan perkataanku kali ini Erebus, ingat jangan pergi kemanapun lagi, jika kau benar-benar ingin selamat kau harus mendengarkan ucapanku, ini peringatan terakhir Erebus!" Ucapku sangat tajam menatapnya dan aku segera pergi dari sana untuk mengejar Vayu yang dalam bahaya.
Erebus juga langsung mengangguk dan pergi bersama ketika aku mengejar Vayu yang saat itu sudah cukup jauh.
Aku bisa melihat dari atas bagaimana Vayu harus terbang melewati pepohonan dengan berkelok-kelok sebab para makhluk itu mengejarnya dengan brutal bahkan mereka terus melemparkan bebatuan serta mengarahkan anak panah kepad Vayu saat itu, sedangkan aku sudah melarang Vayu untuk tidak mengeluarkan kekuatannya.
__ADS_1
Sebab jika dia mengeluarkan kekuatan dia di hadapan para makhluk itu maka identitas nya sebagai penguasa elemen akan di ketahui oleh mereka, itu akan menjadi lebih berbahaya lagi nantinya.