
Aku berpikir sejenak, aku sebenarnya tidak ingin menginap di tempat itu untuk ke tiga kalinya aku sudah banyak menghabiskan waktu di tempat itu dan peta sudah bergetar sejak beberapa saat yang lalu itu menandakan bahwa aku sudah harus segera bergerak dan pergi dari tempat itu namun karena melihat ibunya Arshaka yang memohon dan memintaku untuk tetap disana aku tidak bisa terus menolaknya dan aku pun memilih untuk menginap disana dengan menghembuskan nafas sedikit berat.
"Huuhhh.... Baiklah kita akan menginap semalam lagi di sini, namun kita akan mulai pergi esok pagi-pagi sekali, kita tidak bisa menunda perjalanan lagi, waktu kita tidak banyak" ucapku memutuskan dengan serius.
Untungnya ibunya Arshaka mengerti dengan perkataanku dan dia berterima kasih kepadaku lalu mempersilahkan kami untuk beristirahat di kamar yang sudah tersedia disana.
Namun disaat aku hendak beristirahat ibunya Arshaka datang ke kamarku dan dia mengajakku untuk pergi berjalan-jalan keluar, aku pun mengikutinya karena aku pikir dia seperti hendak membicarakan sesuatu kepadaku yang mungkin saja itu sangat penting.
"Berhenti.....ada apa kau mendatangiku di tengah malah seperti ini, aku yakin ada sesuatu yang hendak kau katakan padaku, maka katakanlah" ucapku menghentikan langkahnya.
Dia berhenti tepat di depan rumah pohon miliknya itu dan dia memperbaiki tameng transparan yang sempat aku rusak sebelumnya lalu dia menyuruh aku untuk mendekatinya.
"Kemarilah Emely ada yang ingin aku bicarakan padamu" ucapnya dengan lembut.
Aku masih merasa curiga dan terus berjaga-jaga dengan karena mau bagaimanapun aku tetap tidak tahu dengan benar apakah dia baik sepenuhnya atau tidak.
Aku berjalan menghampiri dia dengan perlahan dan berdiri di samping dia yang masih memperbaiki tameng transparan itu hingga dia akhirnya menyelesaikan nya dan mulai berbalik menatap ke arahku.
"Emely, tahukan kamu kenapa aku tiba-tiba berubah pikiran dan memilih untuk kembali bersatu dengan jiwaku ini?" Tanya dia mulai berbicara kepadaku,
"Ku pikir kau kembali demi putramu Arshaka bukan atau karena kau sudah tahu jika suamimu tidak ada di alam ruh" balasku sesuai dengan dugaan yang aku pikirkan sebelumnya,
"Tidak, kau salah. Aku berubah pikiran karena melihat api dalam jiwamu, api itu terlihat sangat merah dan berwarna menyala terang, itu mengingatkan aku kepada seorang sahabatku yang juga memiliki kekuatan elemen api yang sama denganmu, namun sayangnya dia memilih keluar dari sekte perguruan kala itu, dia memilih pergi dan menikah dengan manusia biasa dan mungkin sekarang dia sudah hidup di dunia permukaan, karena mengetahui itu dan aku yakin jika kau juga orang dari dunia permukaan aku langsung berubah pikiran karena ingin menanyakan tentang sahabatku itu kepadamu" balas ibunya Arshaka kepadaku sambil tersenyum haru.
Dari cara dia menceritakan sahabatnya itu kepadaku, aku bisa tahu bahwa mereka adalah sahabat sejati dan mereka saling menyayangi satu sama lain, sampai ibu Arshaka itu terus menceritakan mengenai sahabatnya kepadaku tanpa henti.
"Ahhh... Maafkan aku Emely karena aku sudah banyak bicara dan menghabiskan waktumu" ucap ibu Arshaka kepadaku,
"Tidak masalah kau bisa bercerita kepadaku kapan saja dan aku akan selalu mendengarkannya hingga kau berhenti" balasku dengan wajah yang masih datar dan hanya tersenyum kecil saja,
"Emely kau sangat mirip dengannya ketika masih muda, apa aku boleh tahu siapa nama ibumu itu?" Tanya dia kepadaku,
"Maaf tapi aku tidak tahu sama sekali siapa nama ibuku dan bagaimana wajahnya, aku tinggal dengan nenekku dan nenek bilang hanya ada satu orang yang mengetahui nama ibuku dan bisa memperlihatkan wajahnya kepadaku, tapi orang itu justru malah memberikan aku tanggung jawab dan misi yang sangat berat seperti saat ini, bahkan aku belum sempat mengatakan mengenai ibuku kepadanya" balasku kepada ibu Arshaka.
Dia langsung memelukku dengan erat di saat aku tertunduk dengan lesu, dia mengusap kepalaku dengan lembut dan dia berkata menenangkan aku juga memberikan aku sebuah kekuatan.
"Emely kau adalah yang paling kuat, apimu selalu membara bahkan disaat kamu tertidur dan tameng transparan apimu ini sangat luar biasa bahkan kekuatanmu sudah bisa menghancurkan tameng terbaik buatanku, aku yakin siapapun orang yang memberikan tanggung jawab ini kepadamu, karena dia tahu potensimu, kau harus menyelamatkan keseimbangan dunia ini, dan kau harus menemui ibumu secepatnya, aku akan mendukungmu dan aku menunggumu disini untuk kembali mengantarkan putraku" ucap dia sambil terus menggenggam kedua tanganku.
Aku hanya bisa mengangguk kepadanya dan aku merasakan kehangatan yang selama ini belum pernah aku rasakan, kehangatan dari pelukan seorang ibu yang penuh dengan cinta dan kasih sayang di hatinya, dan aku baru saja mendapatkan hal itu hingga membuat air mata tiba-tiba saja jatuh dari sebelah mataku dan aku sendiri tidak tahu mengapa itu bisa terjadi kepadaku.
Aku merasa ibunya Arshaka terlalu baik kepadaku dia juga begitu lembut hingga aku merasa dan menginginkan dia sebagai ibuku.
"Aku berharap ibuku sama lembutnya denganmu" balasku kepadanya.
"Semua ibu akan bersikap lembut dengan putra putri mereka, ini bawa bunga ini kemanapun kamu pergi, itu akan menambah energimu dan yang lainnya jika suatu saat terjadi sesuatu kepada kalian, dan ingat jika kau butuh bantuan minta saja Arshaka untuk memanggilku maka aku akan datang karena dia tahu bagaimana cara memanggilku meski dalam jarak yang sangat jauh" ucap dia sambil menaruh bunga itu ke samping telingaku dan menyisipkan nya disana.
Namun tiba-tiba bunga itu hilang membuat aku kaget saat meraba bunga itu tidak ada di samping telingaku.
"Ehh... Kemana bunganya?" Ucapku bertanya dengan kaget dan kebingungan,
"Bunganya masih ada di telingamu dan kau terlihat sangat cantik mengenakannya, hanya Arshaka yang bisa melihatnya dan biarkan dia yang mengambilnya nanti, ayo beristirahat besok kau harus memulai petualangannya lagi, dan aku titip putraku padamu" ucap dia sambil mengusap kepalaku dengan lembut.
__ADS_1
Aku mengangguk patuh dan segera pergi beristirahat, sialnya baru juga aku tertidur hanya beberapa saat namun suara kokokan ayam yang sangat keras sudah bersuara dan membuat aku harus terbangun rasanya aku sangat malas dan masih mengantuk karena tidak cukup tidur semalaman sebab ibunya Arshaka yang mengajakku mengobrol cukup lama, aku juga tidak bisa menghindarinya atau mengentikan dia yang terlihat begitu asik bercerita tentang temannya kepadaku sehingga mau tidak mau aku harus mendengarkannya hingga dia selesai berbicara.
Devano sudah Dangan menghampiriku dan dia menarik tanganku meminta aku untuk segera bersiap-siap karena mereka sudah sangat siap.
"Emely cepat bangun, kau ini bagaimana sih, kau sendiri yang meminta kita untuk kumpul sangat pagi bahkan sebelum Pajar terbit tapi kau sendiri yang sekarang sulit dibangunkan bagaimana sih" gerutu Devano sambil terus menarik tanganku,
"Aaahhh Devano aku sangat mengantuk ijinkan aku tidur sebentar lagi saja ini tidak bisa, mataku terus terpejam" ucapku sambil berjalan dengan mata yang setengah terpejam.
Devano langsung mencubit pipiku dengan keras membuat aku segera tersadar dan langsung pergi dengannya keluar dari rumah itu, meski pipiku merah dan terasa sakit karena cubitan dari Devano aku tetap berterima kasih kepadanya karena dia sudah membangunkan aku dengan cara yang lebih baik daripada sebelumnya.
Kami segera berpamitan kepada ibunya Arshaka dan segera pergi dari sana mengikuti langkah Arshaka yang berjalan lebih dulu di depan karena hanya dia yang mengetahui jalan untuk keluar dari hutan ilusi yang dibuat oleh ibunya sendiri dan kini sudah memakai tameng transparan pelindung lagi sehingga membuat kami semua semakin tidak bisa melihat jalan keluarnya.
"Arshaka apa ini masih jauh, hoaaammm aku sudah mengantuk sekali" ucapku sambil berjalan lesu dan paling belakang.
Aku yang biasanya memimpin di depan kini justru mengantuk di belakang dan aku tidak bisa menahannya karena sudah tidak tidur selama dua malam sehingga sulit untuk aku menahan kantuknya sekarang.
Devano juga terus memapah aku dan mengalengkan tanganku ke pundaknya, dia dan Avan juga terus bergantian memapah aku karena aku sungguh sangat mengantuk hingga mereka berdua kelelahan juga.
"Hah.... Hah..... Hah, Devano sekarang sudah giliranmu, cepat bantu aku memapah Emely" ucap Avan meminta bantuan,
"Tidak....tidak... Aku menyerah, kali ini aku bahkan tidak bisa melangkahkan kakiku juga, aku sudah sangat lelah kita sudah berjalan sangat jauh, kau saja yang memapahnya atau buat saja dia agar cepat tersadar dan tidak mengantuk lagi" balas Devano yang masih bisa aku dengar.
"Aishh..... Devano apa kau gila hah, lihat kedua pipiku yang sudah habis kau cubit sedari tadi kau ingin membuatku bangun tapi tetap tidak berhasil, aku menjaga kalian berdua selama dua malah tidak tidur dan mengerahkan semua kekuatanku tapi ini balasan dari kalian, CK sangat menyebalkan!" Bentakku kepada mereka dan aku langsung mendorong Avan menjauh.
Aku berusaha berdiri dengan tegak sendiri dan berjalan menghampiri Arshaka yang sudah menunggu kami di depan san. Aku terus berjalan dengan sempoyongan sampai terjatuh beberapa kali dan Devano juga Avan hanya diam melihatku saja karena aku melarang mereka untuk membantuku sebab aku masih sangat marah dan kesal kepada mereka berdua.
"Kekuatanku masih sangat bagus tapi buah dan sari bunga energi itu tetap tidak bisa menghalau rasa kantukku, huaaa aku ingin tidur" ucapku merasa kesal dengan diriku sendiri.
"Ayo raih tanganku dan berdirilah dengan tegak, aku tahu bunga itu dari ibuku bukan" ucap Arshaka kepadaku dan aku langsung mengangguk.
Aku menerima uluran tangannya dan segera berdiri.
Lalu dia tiba-tiba saja berjongkok di depanku dan menepuk pundaknya menyuruh aku untuk naik ke pundaknya di hadapan Avan juga Devano yang terperangah melihat itu.
"Ayo naik, aku akan menggendongmu dan kau bisa tidur untuk beberapa saat" ucap dia kepadaku.
"KA..kau sungguh tidak papa, kau bisa lelah jika menggendongku" ucapku kepadanya,
"Tidak masalah, ayo naik saja aku pemilik elemen bumi, alam menyatu dalam diriku, aku bisa menahanmu di punggungku, tenang saja" ucap dia sambil tersenyum kecil membuat aku meleleh di buatnya.
Melihat dia bicara selembut itu dan mempersilahkan aku, tentu saja aku tidak bisa menolaknya lagi meski sedikit malu dan tersipu aku segera naik ke atas pundaknya dan melingkarkan tanganku ke lehernya hingga dia mulai mengangkat ku dan berdiri dengan kokoh dan tegak, sedangkan Devano yang melihat itu dia mulai kesal dan terbakar api emosi di dalam dirinya sendiri hingga membuat dia seketika menjadi lebih kuat.
"Eh..eh... Emely tunggu aku, Avan ayo cepat kita susul mereka dan hentikan si Arshaka itu, dia akan merebut Emely dariku ini tidak bisa dibiarkan!" Ucap Devano sambil berlari mengejar aku dan Arshaka yang sudah di depan sejak tadi.
Devano berlari sambil menarik Avan dan menyusul aku juga Arshaka hingga kami akhirnya sampai di perbatasan hutan itu dan dunia luar, Arshaka mulai menyentuh dinding tameng transparan tersebut hingga dinding tameng itu mulai mudah sedikit demi sedikit dan mbuat lubang sendiri hingga membesar, lalu dia segera masuk ke dalam lubang itu dan mengajak Avan juga Devano segera keluar juga sebelum lubangnya mengecil kembali dan hilang.
"Ayo cepat ikuti aku, lubangnya tidak akan bertahan lama" ucap Arshaka kepada mereka berdua yang mengangguk juga segera mengikuti langkah Arshaka.
Saat keluar dari lubang itu tiba-tiba saja Devano kaget melihat dia yang berada di puncak gunung yang sangat tinggi bahkan terlihat ada awan di sekitar mereka dimana mereka berada di puncak yang paling atas hingga menembus awan.
"Waahhh....astaga ja..jadi selama ini kita tersesat di atas gunung yang menembus awan?" Ucap Devano dengan wajahnya yang terperangah dan dia saling berpegangan dengan Avan,
__ADS_1
"Ya ampun untung saja kita tidak sampai melangkah ke tempat yang salah, jika saja saat itu kita salah melangkah sedikit saja, mungkin kita akan jatuh ke dasar tanpa kita sadari" ujar Avan sambil menatap ke bawah yang tidak terlihat dasar olehnya.
"Kalian tidak akan jatuh sebab ibuku sudah membuat tameng transparan lagi sehingga tameng itu berguna untuk menopang apapun yang jatuh di dunia ilusi" balas Arshaka menjelaskan,
"Ahh... Begitu rupanya, aku baru tahu ternyata itu fungsinya tameng tersebut, ibumu sangat hebat Arshaka" balas Avan dengan menatap kagum,
"Aishh..... Kau jangan memuji dia lagi, sekarang kita harus kemana, si bodoh Emely itu malah masih asik tertidur di punggung pria menyebalkan itu!" Ucap Devano dengan perasaan yang sangat kesal.
Di tambah saat itu dia melihat Emely membalikan wajahnya mengarah ke wajah Arshaka di mana bibirnya hampir menyentuh leher Arshaka saat itu dan dia segera menghalanginya dengan tangan secapat mungkin.
"E..e..ehhh...aish, hampir saja Emely mencium lehermu itu" bentak Devano sambil membalikkan lagi kepala Emely ke arah berlawanan.
Avan hanya menahan tawa melihat Devano yang sedari tadi terus uring-uringan tidak jelas dan dia selalu merutuki Arshaka dengan tiasa habisnya, bahkan dia juga berani merutuki Emely disaat dia tertidur.
Mungkin jika Emely bangun Devano sudah habis di bakar olehnya hingga berubah menjadi abu gosong.
Melihat Devano yang terus terbakar api cemburu dia pun segera menenangkan Devano dengan cepat agar tidak memperkeruh suasana diantara mereka.
"Sudahlah Devano lagian itu bukan ciuman juga, dan kau juga sudah mencegahnya terjadi jadi santai saja, ayo kita turun dahulu dari bukit ini sambil menunggu tuan putri kita terbangun oke" ucap Avan sambil mengalengkan tangannya pada pundak Devano dan menggeser tubuh Devano agar sedikit menjauh dari Arshaka.
Walau begitu Devano tetap saja merasa sangat kesal namun karena kekuatan es yang dimiliki oleh Avan sehingga itu bisa menenangkan sedikit amarah di dala diri Devano sehingga dia menuruti ucapan Avan dan mereka segera menuruni gunung yang tinggi itu.
Dengan jalanan bebatuan yang setapak dan begitu tipis membuat Devano berkali-kali ketakutan bahkan terus saja memegangi tangan Avan dengan erat dan terus berkeliling menuruni bukit itu sedikit demi sedikit hingga mereka akhirnya sampai di bawah dengan selamat dan melihat pedesaan yang begitu indah dan hidup disana, banyak juga orang-orang yang memakai pakaian cukup simpel di bandingkan saat datang ke jaman kerajaan ketika bertemu Avan.
"Wah... Apa ini jaman modern, pakainnmereka.sudah seperti itu bagus sekali" ucap Avan membuat Devano tertawa keras mendengarnya.
"Ahahaha... Bodoh ini jaman kuno bukan jaman modern, jaman modern adalah jaman dimana aku tinggal bukan pakaian kumuh seperti itu, tapi ini lebih baik daripada jaman kerajaan di tempatmu sebelumnya, aishh itu sangat mengerikan" balas Devano yang untungnya tidak membuat Avan marah.
Mungkin karena Avan memiliki elemen es dan air sehingga dia seperti tidak memiliki kemarahan di dalam dirinya sedikitpun dia selalu terlihat tenang dan santai dia juga selalu menyejukkan setiap orang yang melihatnya apalagi ketika menyentuh tangannya.
Bahkan Emely yang memang dasarnya adalah api, bisa sejuk dan menjadi tenang ketika menyentuhnya, memang sehebat itulah kekuatan yang di miliki oleh Avan.
"Ayo kita turun ke sana dan membeli sehelai pakaian kita harus terlihat sama seperti warga kota jika tidak kita akan dianggap penyusup" ujar Arshaka memberitahu.
Merekapun segera pergi ke toko dan membeli pakaian yang sama dengan warga kota disana termasuk Arshaka juga membangunkan ku dan dia membangunkan aku dengan cara yang lembut disaat kedua pria yang menyebalkan itu tengah sibuk memilih pakaian untuk diri mereka sendiri.
"Emely.... bangunlah.... Emely kita sudah sampai" ucap dia sambil menggosok hidungku membuat aku geli dan aku segera terbangun.
"Hacimm.... Aduh Arshaka ada apa?" Ucapku sambil segera bangun dan aku merasa lebih segar dari sebelumnya.
Rasa kantukku juga sudah hilang sangat banyak sehingga aku bisa langsung tersadar dengan cepat.
"Kau harus memakai pakaian ini, kita harus menyamar sebagai warga kota, ayo ganti pakaianmu" ucap dia sambil memberikan sehelai pakaian kepadaku.
Aku mengangguk dan segera memakainya dengan cepat begitu juga dengan Arshaka yang sudah berganti lebih dulu.
"Bagaimana apa ini cocok untukku?" Tanyaku kepadanya sambil.memutar memperlihatkan pakaian itu,
"Bagus kau selalu cantik memakai apapun" balas Arshaka sambil tersenyum lembut padaku,
"Hehe... terimakasih Arshaka kau juga terlihat lebih baik dan lebih lembut setelah ibumu kembali, pasti selama ini kau sudah sangat kesepian bukan?, Tapi tenang saja sekarang ada aku dan dia bocah nakal itu, setidaknya kau tidak akan kesepian sekarang" ucapku sambil mengalengkan tanganku ke pundaknya meski dia lebih tinggi dariku dan membuatku sedikit sulit untuk mencapai pundaknya.
__ADS_1
Namun dia justru membungkuk dan memudahkan aku untuk menyentuh pundaknya itu.