Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Amukan Mauren


__ADS_3

Aku tidak bisa berhenti mencemaskannya, aku tertunduk dengan lesu dan terus memikirkan Pelik, dia makhluk yang baik dan aku sudah sangat mengenal dia dengan baik, aku yakin dia tidak akan melukai siapapun di luar sana meskipun dia tengah dikuasai oleh emosi, tetapi justru yang aku takutkan adalah.


Aku takut dia melukai perasaannya sendiri, aku tidak menyerah sampai disana dan kembali berusaha untuk memanggil Pelik lagi tapi baru saja aku menangkupkan kedua lenganku bersiap untuk memanggilnya, untunglah Pelik tiba lebih dulu di hadapanku sebelum aku memanggilnya dengan paksa.


"Pelik... akhirnya kau kembali, aku sangat menyayangimu Pelik, tolong jangan menghilang seperti tadi lagi" ucapku sambil langsung memeluknya dengan erat.


Dia tidak membalas ucapanku dia hanya mengusap lembut kepalaku pelan lalu mendorong tubuhku perlahan dan wajahnya terlihat cukup cemas, hanya saja aku tidak tahu apa yang membuat dia cemas sampai seperti itu.


"Pelik, ada apa denganmu?, Apa kamu merasa tidak baik, atau kau mencemaskan sesuatu di belakangku?" Tanyaku mencemaskan kondisinya,


"Bukan Emely tapi Mauren" ucapnya tertahan dengan raut wajah yang membuatku semakin penasaran.


"Ada apa dengan Mauren?" Tanyaku lagi,


Dan aku mulai memiliki firasat buruk ketika Pelik mengatakan nama Mauren kepadaku, aku langsung merasa cemas dan semakin penasaran.


"Aku rasa dia telah benar-benar dikendalikan oleh makhluk jahat, ataupun ruh jahat yang ada di tubuhnya" balas Pelik membuatku terperangah sangat kaget.


Aku masih tidak mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Pelik tapi belum sempat aku memintanya menjelaskan lebih banyak, tiba-tiba saja Devano membuka pintu kamarku dengan kasar dan wajahnya juga terlihat panik tidak karuan.


"Brakk....Emely gawat!" Ucap Devano terlihat panik.


Melihat Devano, Anita dan Angel memasang wajah panik yang sama, aku langsung mengerutkan kedua alisku, di tambah Pelik yang tadi juga menatapku dengan sama paniknya, aku sungguh heran dengan apa yang membuat mereka seperti itu, hingga Devano mulai menjelaskan semuanya kepadaku.


"Ada apa Devano, beraninya kau masuk ke kamarku seperti itu!" ucapku menatapnya tajam.


"Emely gawat ini mengenai Mauren, dia benar-benar menjadi ruh jahat dia sudah lepas kendali dan melakukan banyak kekacauan di kota" ungkap Devano membuatku langsung terperangah sangat kaget.


"APA?" Bentakku saking kagetnya.


Sedetik dari aku mengatakan kalimat tersebut dengan kaget, suara ledakkan di luar terdengar begitu kencang dan membuat semua orang langsung kaget dengan menutup telinga rapat-rapat.


"BOOM!..." Suara ledakkan yang sangat kencang diiringi dengan jeritan banyak orang.


"aaakkkhh...monster, tolong ada monster di tengah jalan, aaaa" teriakkan orang-orang begitu riuh di luar sana,


"Suara apa itu?" Tanya Devano dengan membuka matanya lebar.


Aku langsung berlari bergegas menuju jendela kamarku dan saat ku lihat kebawah rupanya itu adalah ledakkan kendaraan yang di lempar dan dihancurkan oleh Mauren, serta kabut hitam yang menutupi jalanan disekitar kota.

__ADS_1


Aku melihatnya dengan jelas monster bayangan itu sungguh sangat mengerikan dan lebih parahnya manusia biasa bisa melihat wujud tersebut, banyak orang-orang yang menjadi korban dan semua terlihat begitu kacau berantakkan, sedangkan aku lihat Mauren melayang di udara dengan tubuhnya yang memakai peralatan besi di sekujur tubuhnya tidak lupa dia juga berdiri dengan kabut hitam yang menyelimuti setengah tubuhnya.


"Astaga..... apa-apaan ini?" Ucap Devano sangat kaget ketika melihat sosok Mauren yang luar biasa dengan semua kekuatan di dalam tubuhnya.


Aku hanya bisa tertegun melihat makhluk sebesar itu dan memiliki kekuatan yang begitu jahat dan sangat mencekam, dia terlihat lebih daripada seorang makhluk ataupun ruh jahat dia lebih mirip seorang monster bagiku, sampai tidak lama Pelik langsung menarikku dan dia menutup jendela kamar dengan cepat juga berteriak memintaku juga Devano untuk menutup segala lubang udara dan tingkap di rumah tersebut.


"Emely tidak ada waktu untuk menjelaskan kita harus menyelamatkan diri kita sendiri, cepat tutup semua lubang yang ada disekitar rumah ini, jangan sampai ada sesuatu yang mencolok dan tutup semua jendelanya!" Ucap Pelik yang segera di lakukan oleh Devano.


Aku mulai sadar disaat Angel menarik tanganku dan segera membawaku menjauh dari jendela, Pelik juga langsung membuat membawa kami semua ketengah rumah dan dia langsung membuat lingkaran hitam yang dengan tangannya sendiri.


"Kita harus berkumpul disini dan pastikan kalian jangan sampai keluar dari lingkaran hitam yang sudah aku buat, jika tidak Mauren akan melihat keberadaan kalian dan mungkin dia akan membunuh kalian saat itu juga" ucap Pelik memberitahuku.


Aku segera menyampaikan apa yang dikatakan oleh Pelik kepada semua orang, Angel dan Anita saling berpelukkan dengan gemetar hebat dan mereka ketakutan, sedangkan Devano juga terlihat sangat cemas.


Dan aku masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja aku lihat dan apa yang tengah terjadi saat ini.


"Ada apa ini, kenapa Mauren bisa berubah semarah itu, aku yakin dia bukan manusia biasa" gerutuku terus memikirkan.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan dan pada siapa kita harus menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Mauren, aku sendiri sungguh tidak bisa memahaminya" gerutuku merasa sangat cemas dan kebingungan.


Tiba-tiba saja Devano menyahuti ucapanku begitu saja.


"Kakek, apa kakekmu sama denganmu?" Tanyaku penasaran,


"Tentu saja bahkan dia lebih hebat dariku dan mungkin dia sama denganmu Emely" balasnya dengan serius,


"Kalau begitu kita harus menemuinya" ucapku begitu saja.


Aku pikir jika semua orang-orang sepertiku bersatu mungkin kita bisa bekerja sama dan mencari solusi untuk mengalahkan Mauren atau meredakan dia dan membuat dia kembali seperti semula.


Tapi disaat aku meminta agar Devano membawa kami ke tempat kakeknya tersebut, Pelik langsung menahanku, dia tidak mengijinkan aku untuk pergi dari lingkarannya.


"Emely apa yang kamu lakukan, apa kau ingin mati! Jika kau keluar dari lingkaran ghaib yang aku buat, Mauren akan dengan cepat menemukanmu, dan aku takut kau tidak akan bisa lari apalagi melawannya saat ini" ucap Pelik berusaha menahanku.


"Tapi kita tidak bisa diam saja seperti ini Pelik, tenagamu juga ada batasnya, aku tahu itu, bagaimana jika Mauren terus seperti itu dan tenagamu sudah habis, apa yang akan terjadi pada kita semua?" Ucapku mengatakannya.


Aku berusaha untuk memberikan pengertian kepada Pelik, namun walau begitu dia tetap tidak mengijinkan aku untuk pergi dari sana, dan aku segera memeluknya dengan lembut.


"Pelik percayalah padaku, aku tidak pergi sendirian aku bersama Devano dan aku akan baik-baik saja, kau tinggallah disini dan jaga Angel serta Anita, aku akan segera kembali" ucapku meyakinkan dia.

__ADS_1


Akhirnya Pelik bisa mengijinkanku dan aku segera pergi dari sana untuk menuju kediaman kakek Devano.


Sebelum benar-benar keluar dari lingkaran ghaib, aku langsung membuat tameng pelindung transparan dan aku segera menggandeng tangan Devano.


"Jangan sampai kau melepaskan pegangan ini, aku akan melindungimu" ucapku menatapnya dengan serius dan kami mengangguk satu sama lain.


"Hati-hati Emely" ucap Anita menatapku dengan sayu.


Untuk pertama kalinya aku melemparkan senyum kepada seseorang selain dari Pelik dan nenekku, dan Anita adalah yang ketiga, dia satu-satunya teman wanita pertama yang aku berikan senyuman.


Aku keluar dari lingkaran yang dibuat oleh Pelik dan segera keluar dari rumah, kami berjalan mengendap-endap dengan perlahan dan terus memeriksa situasi di depan, untunglah saat itu diluar sudah lebih damai dari sebelumnya dan kami tidak melihat keberadaan Mauren di sekitar sana, Devano merasa lega karena dia bisa berjalan dengan leluasa sebab Mauren sudah tidak ada disana.


Dan dia baru saja hampir melepaskan genggamannya dariku, tapi aku langsung menggenggam tangannya lebih kuat, aku tidak bisa membuat dia melepaskan pegangannya dari tanganku.


"Devano apa yang kau lakukan, jangan coba-coba untuk melepaskan tanganmu dariku" ucapku dengan menatap tajam padanya.


Dia sama sekali tidak terlihat panik atau ketakutan dalam kondisi seperti itu dia masih bisa terlihat begitu santai bahkan menggodaku dengan mudahnya.


"Kenapa? Apa kau menyukaiku sampai ingin terus bergandengan tangan denganku?" Balasnya membuatku sangat kesal,


"Aishh...jika aku melepaskannya kau akan mudah ditebak oleh Mauren, apa kau gila malah berpikiran begitu dalam situasi seperti ini?" Bentakku sangat kesal,


"Lihat Mauren tidak ada dan kekacauan di kota sudah kembali seperti semula" ucapnya sambil menunjuk ke arah jalanan.


Aku langsung menoleh dan melihat dengan jelas oleh kedua mata kepalaku sendiri dimana semua orang bergerak sendiri dan mereka kembali pada aktivitas awal yang mereka lakukan, semuanya seperti sebuah waktu yang diputar ulang dan aku tidak melihat keberadaan Mauren disekitar sana.


"Hah...a...apa... apa-apaan ini?, Kenapa mereka semua mundur seperti itu?" Ucapku dengan heran dan refleks melepaskan genggaman tangan pada Devano.


"Ini pasti karena kakekku" ucap Devano menyeletuk begitu saja.


Aku merasa aneh dan heran kepadanya sehingga aku menatap dia dengan dongkol dan langsung ku tepuk kepalanya dari belakang cukup keras.


"Buk...." Suaraku yang menepuk belakang kepala Devano dengan kuat,


"Aaaw....heh, apa yang kau lakukan, kau menyakitiku!" Bentaknya meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya,


"Dasar kau brandal, bagaimana bisa kakekmu yang tidak tahu dimana bisa melakukan sihir semacam mengulang waktu seperti tadi, kita saja baru mau mencarinya bukan?" Ucapku dengan menatap sinis kepadanya,


"Siapa bilang kakekku tidak tahu dimana, itu dia aku baru saja melihatnya pergi ke dalam gedung itu, ayo ikut aku kita harus mengejarnya sebelum terlambat" ucap Devano yang tiba-tiba saja langsung menarik tanganku dengan kuat.

__ADS_1


Dia membawaku menyebrang begitu saja tepat saat lampu lalu lintas baru saja berubah menjadi merah, dia tidak mendengarkan teriakan dariku yang berontak untuk melepaskan pegangan tangannya dari pergelangan tanganku.


__ADS_2