
Aku pun hanya bisa bergaul dengan Vayu saja saat ini karena yang lainnya nampak masing menghindariku, tapi walau begitu aku juga tidak menyalahkan mereka atas semua itu karena aku tahu itu juga karena aku yang tidak sepemikiran dengan mereka namun aku juga tidak mungkin harus terus menyerang pria itu disaat dia sudah tidak berdaya seperti sebelumnya dan ketika mendengar ucapan dari sang kakek aku merasa semua perkataannya memang benar jadi aku mengurungkan niatku itu.
Hingga tidak lama pria tersebut datang menghampiriku dan dia mulai mengajak aku untuk bicara.
"Hey... Gadis api, aku minta maaf karena sudah membuatmu di jauhi oleh rekanmu sendiri, dan terimakasih karena sudah memberikan aku kesempatan meski aku terus membuatmu kesal sebelumnya" ujar pria tersebut kepadaku dengan sedikit tertunduk.
Aku langsung menatapnya dengan leka dan perasaan yang senang ketika mendengar dia mau meminta maaf dan mengajakku berbicara seperti itu, setidaknya sekarang dia bisa mengetahui dan menyadari di mana letak kesalahannya itu hingga aku tidak bisa menahan diri untuk memusnahkan pasukan kelincinya tersebut.
"Iya tidak masalah, kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu, aku sudah melupakan semuanya, bagaimana pun kau akan menjadi bagian dari kami dan kita semua adalah tim, sebuah tim yang sukses tentu harus kompak" balasku sambil menepuk sebelah bahunya.
Hingga dia mulai berani menatapku dengan tegak dan dia tersenyum perlahan padaku hingga tidak lama sang kakek tetua datang dengan membawa ramuan penyembuhan untuk pria tersebut.
"Brox minumlah ramuan ini, kau akan membaik setelah meminumnya" ujar sang kakek tersebut.
Aku baru tahu jika namanya adalah Brox dan nama itu terdengar cukup keren untuk pria yang keras kepala sepertinya, dia langsung mengambil ramuan dari tangan kakek tetua tersebut dan segera meminumnya sekaligus namun tiba-tiba saja setelah pria bernama Brox itu meminum ramuannya dia tiba-tiba saja menghilang begitu saja dan hanya sebuah batok kelapa yang melayang di udara membuat Avan dan Devano terperanjat takut melihatnya.
"Ohh... Astaga... Apa yang terjadi dengannya, kenapa di pergi dan kenapa benda itu melayang di udara begitu saja?" Ujar Avan dengan matanya yang terbelalak lebar,
"Apa jangan-jangan dia makhluk halus yang?" Tambah Devano berpikiran aneh.
Aku yang sudah tahu bahwa pria itu bisa menghilang hanya diam saja dan berusaha untuk menahan tawa melihat kelakuan dari Devano dan Avan yang terus terlihat panik dan mereka mundur ke belakang disaat benda tersebut mendekati diri mereka.
__ADS_1
"E...e..ehhh.... Kenapa benda itu mendekatiku, aishhh menjauhlah aaahhh" teriak Devano sedikit ketakutan,
"Aishh.... Devano tenang saja itu adalah Brox, dia memang bisa menghilang itulah kenapa sebelumnya kita tidak melihat apapun dari akar yang terikat pada tubuhnya saat di hutan" ungkapku memberi tahu mereka.
Seketika Devano dan Avan menjadi lebih tenang dan mereka langsung menghembuskan nafas yang sangat lega.
"Fyuhhh... Aku pikir dia sungguh hantu beneran, ahhh Brox kau mengagetkan aku saja" balas Avan sambil mengelus dadanya.
Kakek tua itu mulai menjelaskan dan dia membuat kami paham dengan apa yang dimiliki oleh Brox dan alasan mengapa dia menyerang kami secara tiba-tiba sebelumnya.
"Apa yang dikatakan oleh gadis api tersebut memang benar, Brox adalah manusia transparan atau bisa di sebut dia adalah pengendali hipnotis hewan dan bisa menghilang kapanpun dia kehendaki, jika dia merasa terancam dan dia merasa semakin bahagia maka kekuatan dalam dirinya akan semakin meningkat dia bisa menghilang dalam waktu yang lebih lama dari yang dia kehendaki, dia juga bisa membuat tameng transparan untuk melindungi orang lain atau jika salah satu dari kalian menyentuh bagian tubuhnya, kalian juga bisa ikut menghilang seandainya Brox menghendaki, kekuatannya ini sangatlah istimewa dan dia adalah keturunan bangsawan di negeri ini" ujar sang kakek menjelaskan.
"Kakek aku meminta izin kepadamu agar aku bisa membawa Brox bersama kami, aku tahu semua ini cukup berbahaya dan pasti akan menumpahkan darah, tetapi ini adalah satu-satunya cara agar kami bisa menyelamatkan dunia permukaan dan tetap menjaga keseimbangan seluruh dunia paralel, rakyatmu di negeri ini juga akan selamat jika kami berhasil melumpuhkan Abaddon" ucapku meminta izin kepadanya,
Kakek itu terlihat begitu serius dengan kedua alis yang dia kerutkan hingga hampir menyatu keduanya, dan kedua tangan yang dia katakan ke belakang sambil berjalan ke sisi jendela tempat tersebut dan melihat ke arah luar dimana bisa di lihat dari sana banyak para penduduk di hutan sebrang yang terlihat beraktivitas layaknya manusia yang hidup dengan pertanian.
"Hmm.... Aku juga sudah memprediksi bahwa kalian akan datang ke tempat ini dan meminta hal itu dariku, tetapi kami juga tidak bisa kehilangan seorang bangsawan sekaligus penjaga hutan terkuat di negeri kami sepertinya" balas kakek tersebut.
Aku mengerti apa yang dikatakan olehnya tetapi kami sungguh harus membawa Brox untuk ikut dengan kami jika tidak maka kemungkinan kami untuk mengalahkan Abaddon akan berkurang.
Sedangkan Abaddon pasti sudah menyerap banyak rasa benci dan kekecewaan dari manusia yang ada di bumi saat ini dan pasti dia telah menjadikan budak para manusia itu di alam bawah sadar mereka.
__ADS_1
Aku dekati kakek itu dan memohon kepadanya untuk mengijinkan Brox Ituk bersama kami.
"Kakek tetua, aku mengerti apa yang menjadi kecemasan dirimu, tetapi jika kau tetap menahannya disini, itu juga tidak akan membuat negeri ini tetap aman, cepat atau lambat Abaddon juga akan mendatangi negeri ini, dan Brox juga kau tidak mungkin bisa melawannya hanya berdua saja" balasku sambil terus berusaha membujuknya hingga sang kakek tetua tersebut berbalik ke arahku dan menatap aku dengan lekat.
"Jika sebelumnya kau tidak menghancurkan pasukan kelinci yang sudah di persiapkan oleh aku dan Brox untuk saat ini, mungkin kau bisa membawanya pergi sekarang, namun kini kau sendiri yang telah menghancurkan pasukan kelinci terlatih itu, kita tidak memiliki satu pasukan hewan pun yang bisa menjadi benteng pertahanan hutan ini, sedangkan kita tidak tahu benda dan makhluk apa yang bisa saja keluar dari terowongan besar yang ada di hulu sungai itu" ucap kakek tetua menjelaskannya.
Aku teringat dengan terowongan yang membuat kami masuk ke dalam dunia ini, itu adalah terowongan masuk dari dunia paralel dan aku juga mengerti apa saja bisa keluar dari sana, apalagi di dunia pasir juga masih banyak monster dan hewan buas yang sangat kuat, mungkin jika salah satu dari mereka memasuki dunia ini itu akan bisa menghancurkan dunia negeri pelangi ini dengan mudah.
Aku berusaha berpikir keras dan mencari jalan keluarnya hingga aku mulai terpikirkan dengan sesuatu rencana di kepalaku, namun walau begitu aku masih merasa sedikit ragu untuk mengutarakannya kepada kakek tetua, sehingga aku hanya menyimpannya untuk sendiri terlebih dahulu.
Kakek tetua sendiri langsung berjalan masuk ke dalam dan dia meninggalkan kami semua di ruangan tersebut begitu saja.
"Kalian pikirkan saja solusi untuk masalah ini, aku akan mencari tahu tentang apa yang sudah di lakukan oleh Abaddon sekarang" ujar sang kakek tersebut dan pergi meninggalkan kami.
Aku terduduk dengan lesu dan bingung harus melakukan apa, begitu juga dengan Avan, Devano dan Arshaka yang duduk di hadapanku, sedangkan Vayu dan Brox duduk di belahanku.
"Maafkan aku, semua ini karena kecerobohan yang aku lakukan karena mengira Emely sebagai iblis, aku malah menyerang kalian dan memaksa Emely untuk memusnahkan pasukan itu" ujar Brox dengan wajah yang penuh rasa bersalah.
"Yah.... Ini semua memang salahmu, kau tidak melihat dengan benar siapa kami sebenarnya padahal kau tahu bahwa kami akan datang ke tempat ini, aishh.... Kau sangat menjengkelkan!" Bentak Devano yang sangat marah.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas lesu dan tidak tahu harus melakukan apapun lagi.
__ADS_1