Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Bertemu Devano


__ADS_3

Aku terus berusaha menahan rasa sakit di dalam hatiku, tapi aku juga paham bahwa Pelik juga harus kembali ke alam baka, alam tempat dimana dia seharusnya berada saat ini, aku segera menghapus air mataku dan mencuci wajahku lalu mulai berusaha menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan untuk menetralkan perasaanku.


Beberapa saat kemudian setelah aku rasa sudah jauh lebih baik, aku pun segera keluar dan kembali menghampiri Pelik.


"Pelik, ayo antar aku keluar sebentar, aku mau membeli obat tidur" ucapku kepadanya,


"Emely tunggu, untuk apa kamu membeli obat tidur kau kan tukang tidur?" Tanya Pelik dengan heran dan mengikutiku dari belakang,


"Untuk jaga-jaga saja siapa tahu nanti aku tidak akan bisa tidur setelah kamu pergi" ucapku sambil tersenyum menahan haru,


"Emely aku tidak akan pergi jika kamu tidak mengijinkanku, kau juga tidak perlu mencaritahu soal keluargaku jika kamu takut aku akan pergi dari sampingmu" balas Pelik yang membuatku berhenti berjalan.


Aku berbalik dan menatapnya dengan lekat.


"Pelik aku hanya bercanda obat ini bukan untukku tapi untuk pria yang duduk di sampingku, dia selalu menggangguku makanya aku mau memberinya sedikit pelajaran" ucapku mengatakan yang sebenarnya.


Pelik langsung kembali ceria dan dia tertawa sangat riang.


"Ahaha...apa?, Jadi ternyata untuk si pria ingusan itu yah haha Emely lain kali jangan bercanda begitu lagi yah, aku hampir saja salah paham" balas Pelik di sela-sela tawanya.


Kami pun segera pergi bersama menuju toko swalayan terdekat yang tidak jauh dari rumah sewaanku, dan aku terus bercanda sambil berlari-lari kecil bersama Pelik saling mengejar.


"Ahaha....Pelik berhenti jangan mengikutiku...haha" ucapku sambil terus tertawa dan berlari sekencang yang aku bisa untuk menghindarinya,


Hingga tiba-tiba saja di persimpangan aku malah menabrak orang lain cukup keras hingga tubuhku sendiri terpental jatuh ke belakangan tak kalah keras.


"Brukkk....aaahhh...awww.." ringis ku yang jatuh terduduk di lantai.

__ADS_1


Aku membersihkan tanganku yang sempat ku pakai untuk menumpu tubuhku ketika jatuh barusan.


"Hey ..apa kamu baik-baik saja?" Tanya orang yang tadi aku tabrak,


"Ehhh....kau?, Aishh.....aku selalu sial ketika bertemu denganmu" bentakku merasa kesal karena ternyata orang yang aku tabrak adalah Devano.


Iya dia Devano teman satu kelasku yang duduk tepat di samping mejaku ketika di dalam kelas, aku sangat kesal dan mood ku langsung hancur ketika melihat wajahnya yang sangat menyebalkan, setelah aku membentaknya aku langsung menyenggol bahunya dengan keras dan menatap dia dengan sinis melalui ujung mataku.


Lalu aku segera melanjutkan jalanku meninggalkan dia begitu saja, tapi ada sesuatu yang aneh, Pelik tidak ada disekitarku dan aku tidak tahu kapan dia menghilang sehingga aku kelimpungan sendiri.


"Ehh...dimana Pelik?, Pelik.....Pelik....dimana kau?" Teriakku sambil terus mencari kesana kemari.


Bukannya Pelik yang aku temui justru Devano yang menepuk pundakku dari belakang secara tiba-tiba.


"Heh, siapa yang sedang kau cari?" Tanya dia kepadaku dengan wajah menyebalkan ya itu,


Dia hanya menatapku dengan sekilas lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam kedua saku celana yang dia kenakan, sedangkan aku masih terus mencari keberadaan Pelik yang tidak kunjung aku temukan.


"Aish...dia kemana sih, perasaan tadi dia bersamaku deh, kenapa tiba-tiba menghilang?" Gerutuku kebingungan,


"Heh, panda siapa sih yang kau cari?" Tanya nya lagi mengejekku,


"Itu loh.....ahh sudahlah kau juga tidak perlu tahu karena dia bukan manusia, aishh.... sekarang bagaimana aku pulang?" Gerutuku merasa kebingungan sendiri.


Devano belum juga pergi dan dia tetap berdiri di depanku tanpa melakukan apapun sehingga membuat aku semakin geram dengan dirinya apalagi yang melihat dia menatapku sesantai itu.


"Heh, sedang apa kau masih disini, sana pergi aku juga akan pergi" ucapku sambil kembali ke jalan menuju rumahku.

__ADS_1


Aku terus berjalan meninggalkan dia dan sesekali menengok ke belakang tapi pria itu sama sekali tidak bergerak dan dia terus menatap kepadaku padahal jarak kami sudah lumayan jauh, aku mulai merasa takut dan aku memutuskan untuk berlari secepat yang aku bisa hingga sampai di depan rumah dan langsung masuk ke dalam lalu mengunci pintu dengan cepat.


"Hah....hah....hah...sial, kenapa juga aku harus berlari dengan ketakutan seperti ini?, Dia kan hanya Devano kenapa aku takut dengannya yah?" Gerutuku sendiri dengan nafas yang ngosngosan.


Aku hanya mengikuti keinginan yang muncul dari perasaanku sendiri, aku berlari tunggang langgang tanpa tahu kenapa aku harus merasa takut hanya dengan seorang Devano yang padahal kami juga sudah sering bertemu di sekolah setiap hari, bulu kudukku juga terasa merinding ketika melihat wajahnya dari kejauhan seperti tadi.


Aku sungguh tidak mau membayangkan keadaan tadi lagi dan memutuskan untuk kembali ke dalam kamar lalu mengistirahatkan tubuhku karena lelah setelah berlari.


Aku juga tidak terpikirkan untuk mencari Pelik karena saat itu aku langsung ketiduran hingga bangun di ke esokan paginya.


Saat aku bangun Pelik sudah berada duduk di samping ranjangku dan dia nampak sedikit murung, aku masih kesal kepadanya karena dia yang meninggalkan aku malam tadi secara tiba-tiba sehingga aku langsung menegurnya saat itu juga.


"Hey, Pelik kemana kau pergi tadi malam?" Tanyaku kepadanya secara langsung,


"Ohh...itu kemarin aku hanya pergi karena takut temanmu melihatmu sebagai orang aneh, makanya aku pergi" ucap Pelik menyembunyikan sesuatu.


Aku sedikit mencurigai Pelik tapi setelah di perhatikan aku pikir Pelik tidak membohongiku makanya aku menghempas jauh-jauh rasa kecurigaan ku itu dan aku segera bangkit berdiri untuk bersiap-siap segera pergi ke sekolah.


"Hmm...ya sudahlah kalau gitu aku mau bersiap-siap ke sekolah dulu, ingat pelik kau jangan pergi terlalu jauh saat aku sekolah takutnya nanti Mauren membalas dendam padaku" ucapku memperingatinya,


"Iya-iya tenang saja" balasnya dengan santai.


Aku pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan segera membersihkan sekujur tubuhku lalu aku segera memakai seragam sekolahku dan mulai bersiap siap pergi, saat aku lihat ke arah ranjang rupanya Pelik sudah pergi dia sudah tidak ada di sekitar kamarku juga.


Aku segera keluar dari kamar mengambil dua buah roti dan susu kotak yang sudah aku beli kemarin juga tidak lupa membawa uang untuk membayar utangku kepada Devano sebelumnya. Sama seperti sebelumnya aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki dan aku terus berjalan menunduk menggunakan hoodie yang kupluknya aku pakai di kepala untuk menutupi wajahku.


Hingga sesampainya di sekolah aku langsung masuk ke dalam kelas dan nampak di dalam kelas belum ada siapapun kecuali Devano juga Mauren, saat sudah berdiri di depan pintu ruang kelas aku langsung tersentak dan seakan kakiku tidak dapat aku gerakkan saking gugup dan kagetnya melihat Mauren yang duduk menatap ke arahku dengan tajam juga Devano yang tidur di dalam kelas dengan santai.

__ADS_1


__ADS_2