Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Tersesat di hutan


__ADS_3

Avan mengangkat tangannya dan dia mulai memfokuskan dirinya hingga beberapa saat kemudian rasa dingin terasa menyeruak di sekitar sana dan tangan Avan mulai terlihat mengeluarkan sebuah es yang menjalar melalui telapak tangannya hingga ketika dia menyentuh lumpur hisap itu seketika berubah menjadi es hanya dalam hitungan detik saja.


Aku kaget dan kagum melihat kekuatan yang sangat besar yang dia miliki.


"Braaassshhhh......" Suara kekuatan yang Avan keluarkan dari tangannya hingga semua berubah menjadi es.


Aku dan Avan tidak merasa kedinginan meski kita seperti beku di dalam es sekarang namun saat melihat ke arah Devano dia sangat mengkhawatirkan karena wajahnya terlihat pucat pasi kedinginan.


Terlebih dia adalah orang yang tenggelamnya paling banyak diantara aku dan Avan, dia juga yang tidak memiliki kekuatan elemen pasti seperti aku dan Avan.


"Wahh... Avan kekuatanmu hebat juga" ucapku memujinya,


"E... Emely aku...aku... Tidak tahan dingin" ucap Devano terbata pada dan menggigit.


Aku dan Avan langsung melirik ke arahnya dan segera aku hembuskan aindari tanganku kepada Devano untuk mencairkan es di sekitar tubuhnya juga untuk memberikan kehangatan kepadanya agar dia bisa di selamatkan dengan cepat, begitu juga dengan diriku yang perlahan mulai bisa terbebas dari sana sedangkan Avan bisa menyelamatkan dirinya sendiri karena dia bisa mengembalikan wujud es menjadi air dengan cepat dan menghancurkannya sendiri.


Akhirnya kami bisa terbebas dari kesulitan pertama ini dan aku segera duduk bersandar di tepi pohon yang tidak jauh dari sana, aku benar-benar merasa lelah sekarang begitu juga dengan Avan dan Devano, ku lihat Devano masih sedikit syok karena kasian tadi dan dia terlihat masih mengigil juga, aku pun segera membuat api unggun karena hari semakin redup, mungkin saat kita tiba di sana itu sudah sangat larut sehingga sekarang malam mulai menyapa kami.


Aku segera menyuruh Avan yang masih memiliki kekuatan lebih untuk mencari kayu bakar sebanyak-banyaknya.


"Avan ayo cari kayu bakar aku akan mencari buah-buahan di sekitar sini, sebelum hari benar-benar menjadi malam" ucapku padanya dan dia segera mengangguk patuh,


Sedangkan disaat aku dan Avan hendak pergi Devano menahan tanganku dan dia meminta untuk ikut denganku namun aku melarangnya pergi sebab aku tahu kondisi badannya tidak sebaik aku dan Avan.


"Tunggu, tugasku apa? Aku juga ingin ikut dengan kalian" ucap Devano sambil berusaha berdiri.


Aku langsung menghampiri dia dan menghentikannya agar tidak memaksakan diri karena itu tidak baik untuk dirinya sendiri.


"Devano jangan paksakan dirimu kau pulihkan dulu dirimu baru boleh membantu kami, aku akan menanganinya dengan Avan dan kau tunggu saja disini, kita akan segera kembali sebelum malam" ucapku kepadanya,


"Tapi Emely aku juga ingin membantu aku tidak ingin diam saja seperti ini" ucapnya dengan lesu,


"Devano kau sudah banyak membantuku dan kau adalah yang paling berharga dalam tim kita nanti, jadi tolong dengarkan aku" ucapku memberikan pengertian padanya.


Akhirnya Devano bisa sedikit mengerti walaupun raut wajahnya masih memperlihatkan kesedihan aku dan Avan segera pergi mencari kayu bakar dan buah-buahan bersama-sama.


Meski awalnya Avan meminta untuk berpencar aku melarang itu karena aku takut kita tidak bisa bersama lagi jika berpencar, maka dari itu aku memutuskan untuk pergi bersama-sama karena kayu bakar bisa di temukan dimana saja sembari aku mencari buah-buahan juga di sekitar sana.


Sudah cukup lama aku berjalan menyusuri hutan dan Avan juga sudah mendapatkan cukup banyak kayu bakar namun sedari tadi tidak ada satu tumbuhan pun yang aku kenali atau yang memiliki buah untuk aku petik, hari sudah menjadi semakin redup dan aku memutuskan untuk kembali karena tidak tenang meninggalkan Devano seorang diri.


"Avan ayo kita kembali saja, lagi ula.masih ada perbekalan dari Baginda raja sebelumnya bukan?" Ucapku padanya,


"Baiklah, ayo kita berseluncur di es, agar bisa sampai ke sana lebih cepat" ucap Avan mengajakku,


"Tidak... Kita berjalan saja dan hemat energimu" ucapku menolaknya.


Aku tidak suka menggunakan kekuatan sembarangan apalagi untuk hal-hal yang sekiranya masih bisa untuk dilakukan secara normal dan dengan kekuatan fisik yang kita miliki sehingga tidak perlu menggunakan kekuatan spiritual yang akan menguras energi inti dalam diri kita.


Avan menghembuskan nafas kasar dan aku tahu dia sedikit kesal padaku karena aku menolak ke inginannya namun aku melakukan itu demi kebaikan dirinya juga dan aku tidak ingin dia kelelahan atau drop seperti Devano.


Hingga akhirnya kami sampai dan Devano terlihat senang melihat aku kembali dan menepati janjiku untuk kembali sebelum malam tiba sehingga dia tidak akan sendirian dalam gelap.


"Emely, Avan. Akhirnya kalian kembali juga sedari tadi aku sudah sangat resah" ucap Devano pada aku dan Avan saat kami baru saja kembali.


Avan segera menata kayu bakar itu dan membuat dua tungku sekaligus, aku juga segera membuat apinya hanya dengan satu lemparan percikan kecil hingga api itu bisa langsung membawar tumpukan ranting kering disana.

__ADS_1


Selagi melakukan itu kami juga menanggapi ucapan dari Devano.


"Memangnya kenapa kau begitu senang saat kami kembali, apa kau merindukan aku yah?" Tanya Avan kepada Devinka,


"Aish... Apa-apaan kau ini, aku bukan merindukan kalian tapi aku merasa takut disini sendirian dasar bodoh!" Bentak Devano yang terlihat sudah bisa emosi.


Ketika melihat dia sudah bisa marah seperti itu ku kira dia pasti sudah menjadi jauh lebih baik dengan tubuhnya sehingga aku tidak terlalu mengkhawatirkan dia berlebihan lagi, sampai hari sepenuhnya telah berganti menjadi malam yang sangat gelap dan sepi, ini adalah yang kesekian kalinya aku merasakan harus tidur di bawah pohon rindang di tengah hutan dengan angin yang menusuk dan nyamuk yang terbang di sekitar kepala dan tubuhku.


Namun anehnya kali ini adalah, di hutan itu tidak terlihat satu ekorpun binatang melata atau suara hewan-hewan seperti katak, jangkrik, dan yang lainnya yang terbiasa muncul atau mengeluarkan suara ketika malam, hanya ada nyamuk saja yang berkelian di sekitar sana, entah kenapa ketika memperhatikan dan memikirkan tentang ke anehan ini aku mulai merasa sedikit cemas dengan hutan yang tidak aku ketahui tersebut.


Namun untungnya kecemasanku tersebut tidak menghasilkan apapun dan kita bisa tetap selamat hingga bangun di keesokan paginya.


Pagi itu aku bangun paling akhir mungkin karena semalam aku berjaga hampir lewat tengah malam jika seandainya memiliki jam atau kompas untuk melihat waktu saat itu namun sayang kamu tidak memiliki keduanya saat ini.


Hingga ketika aku bangun dua bocah sialan itu malah mengagetkan aku dan mereka langsung menyiapkan makanan yang kami miliki dari Baginda raja sebelumnya.


"TADA...." suara Avan dan Devano yang sangat keras membuat aku sedikit terperanjat kaget.


"Astaga... Kalian ini apa-apaan sih, membuat orang kaget saja" ucapku sambil membenarkan posisi dudukku.


Aku melihat ke depan Avan membawa makanan di tangannya begitu juga dengan Devano dan mereka menyerahkannya kepadaku tapi aku tidak menerima hingga akhirnya Devano malah menyuapi aku makan dengan paksa dan si bodoh Avan itu malah ikut-ikutan sehingga mulutku penuh sekali dengan makanan dan terpaksa aku harus melemparkan percikan api pada telinga mereka masing-masing untuk menghentikan aksinya itu.


"Emely ayo makan makanan dariku.... Aaa...." Ucap Avan terus menyuapiku,


"Ini makan juga dariku ini juga tidak kalah enak" tambah Devano yang juga menyuapi aku hingga aku mulai jengkel dan melepaskan percikan api dari tanganku.


"Aaawww.... Emely kenapa kau malah memberiku api itu ini sangat panas tahu" ucap Devano protes,


"Iya..... Aku juga merasakannya" tambah Avan,


"Bwahhh.... Itu pelajaran karena kalian seenaknya memaksaku untuk memakan semua makanan tadi, aishhh... Apa kalian ingin membunuh aku dengan memasukan semua makanan ke mulutku hingga aku tersedak iya?" Bentakku kepada mereka.


"Eh... Emely apa yang kau lakukan kenapa kau menghanguskan semua sisa kayunya dan kenapa menutupi mereka dengan dedaunan lagi?" Tanya Avan yang tidak mengerti apapun,


"Ini adalah strategi, agar tidak ada siapapun yang mengetahui bahwa kita pernah diam dan beristirahat di tempat ini, untuk berjaga-jaga jika ada manusia lain yang berniat jahat" ucapku menjelaskan.


Mereka berdua pun hanya mengangguk patuh dan baru memahami apa yang aku lakukan, jika yang tidak mengerti hanya Avan menurutku itu wajah saja karena dia berada dari jaman kuno dan dunia yang berbeda denganku, tapi si bodoh Devano ini juga tidak mengetahuinya dan itu membuat aku jengkel padahal hal semacam itu sering dilakukan bahkan dia ajarkan oleh sekolah ketika hendak melakukan kemping atau penjelajahan di hutan.


Aku benar-benar akan naik darah dan terus emosi ketika berada di sekitar mereka berdua, rasanya aku sudah sangat tidak tahan terus bersama orang-orang konyol seperti mereka berdua ini dan ingin segera menghadapi raja iblis Abaddon saja, namun aku tahu kekuatan kita saat ini masih jauh dari kata cukup atau setara untuk menghadapi lawan sekuat iblis itu, apalagi pengikutnya yang sangat banyak dan mereka juga sama kuatnya.


Mungkin aku harus sedikit lebih bersabar lagi dan selama perjalanan di hutan itu aku terus saja berharap orang yang aku temukan kali ini adalah orang yang memiliki otak dan karakter satu frekuensi denganku agar aku tidak terus merasakan naik darah dalam setiap detiknya.


Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan diantara kami bertiga dan kami juga masih belum menemukan apapun meski sudah berjalan sangat lama di hutan itu dan sampai sekarang kami masih belum menemukan jalan keluar dari hutan itu, padahal rasanya kami sudah berjalan cukup jauh dari tempat awal kita jatuh.


Bahkan aku sudah berjalan mengikuti arah terbitnya matahari untuk mencari jalan keluar dari hutan belantara tersebut.


Hingga kakiku sudah sangat lelah begitu juga dengan kedua pria di belakang yang sudah aku seret berjalannya karena mereka terlihat sudah sangat lelah.


"Hah... Hah.. hah.... Aishh... Berdirilah dengan tegak apa kalian tidak memiliki kaki?" Bentakku kepada mereka berdua,


"Maaf Emely kami sudah sangat lelah, kau lihat ke atas sana hari sudah hampir malam lagi tapi kita belum menemukan jalan keluar juga" ucap Devano kepadaku.


Dan memang apa yang dikatakan olehnya memang benar tapi walau begitu aku tetap tidak akan menyerah dan tidak akan menyia-nyiakan banyak waktu.


Aku terus menyeret mereka dengan sekuat tenagaku hingga akhirnya aku pun ambruk terjatuh juga.

__ADS_1


"Brukkk.....ahhhh... Ini sangat melahkan, tapi kita tidak mungkin jika harus bermalam di hutan tanpa kehidupan ini" ucapku kepada mereka berdua sambil tertunduk lemas.


Sungguh saat itu aku hampir berputus asa karena tidak menemukan jalan keluar juga namun Devano dan Avan menghampiriku dan mereka memberikan aku semangat juga ketenangan lagi.


"Emely kenapa kau terlihat putus asa seperti ini? Kita baru satu hari disini bukan berarti kita akan terjebak selamanya disini, ayo kita istirahat dahulu dan kumpulkan energi lagi, ayo yakin mungkin besok kita akan menemukan jalan keluar dari hutan aneh ini" ucap Devano sambil memegangi pundakku,


"Iya Emely kau seperti ini tidak seperti putri langit yang aku kenal, kita harus tetap semangat meski tubuh kita mungkin kelelahan, aku juga percaya kita akan segera keluar dari sini sama seperti apa yang dikatakan Devano, ayo semangatlag Emely!" Tambah Avan sambil tersenyum padaku dan dia menyentuh tanganku.


Sentuhan darinya selalu bisa membuat aku menjadi lebih tenang dan damai hingga saat itu aku bisa sedikit menerima kegagalan ini dan memutuskan untuk kembali beristirahat di hutan itu, kami mencari lagi kayu bakar dan membuat api unggun seperti sebelumnya.


Kami bertiga beristirahat di satu pohon yang sama disana dan mereka berdua sudah lebih dulu terlelap beristirahat karena memang sejak awal merekalah yang terlihat sangat lah dibandingkan diriku.


Sedangkan aku hanya bisa menatap ke atas langit dengan tatapan yang tidak tahu harus melakukan apa, hingga tidak sengaja ketika cahaya bulan mulai menerangi langit malam itu aku seperti melihat sebuah dinding pelindung di atas sana, tepat tidak jauh dari ujung pohon yang menjulang tinggi di sekitar hutan itu.


Aku berusaha mengucek mataku beberapa kali dan memperhatikan langit lagi namun aku yakin aku bisa melihatnya dengan jelas itu seperti sebuah di Ding tameng transparan yang di buat dengan sihir seseorang.


"A..apa ini sungguh sebuah tameng transparan?" Ucapku menduga duga.


Aku berusaha untuk memastikannya dan aku lemparkan api ke atas sana lalu sebuah suara besar dan percakan apiku lenyap pada dinding tersebut, dimana itu mengartikan bahwa dinding tersebut memang nyata adanya dan aku mulai berpikir mungkin itulah penyebab dari tidak di temukannya jalan keluar dari hutan ini oleh kami bertiga.


Setelah memastikannya dan aku sangat yakin bahwa itu adalah sebuah tameng pelindung transparan aku langsung membangunkan Devano dan Avan dengan cepat.


"Devano..... Avan cepat bangun! Aku menemukan jalan keluar! Hey... Cepat bangunlah aishhh....apa kalian mau aku bakar hah!" Bentakku sambil menendang bagian belakang mereka berdua dengan sebutan tenaga.


Hingga akhirnya mereka pun mau bangun juga meskipun terlihat sangat malas dan mulai bangkit terduduk menghadap kepadaku.


"Hoaammm.... Ada apa sih Emely? Aku masih mengantuk nih" ucap Avan sambil menguap,


"Iya ada apaan sih, mengganggu saja" tambah Devano.


Aku kesal dengan mereka apalagi melihat mereka yang masih tertidur dan masih belum sadar sepenuhnya seperti itu sehingga aku langsung menampar mereka satu persatu dengan satu tamparan yang cukup membekas bagi keduanya hingga mereka langsung tersadar pulih sepenuhnya dari rasa kantuk yang melanda.


"Plak....plakkk....bangun kalian berdua!" Bentakku sambil melemparkan tamparan pada mereka berdua dengan cepat,


"Aduhhh.... Emely iya... Iya kita akan bangun ayo Devano cepat kau bangkit sebelum kau benar-benar akan di bakar olehnya" ucap Avan meringis kesakitan dan segera menarik tangan Devano untuk berdiri dengan tegak.


"Fokuskan diri kalian dan lihat ke atas sana dengan baik-baik" ucapku kepada mereka dengan serius,


"Memangnya ada apa sih paling hanya...." Ucapnya Devano tertahan karena aku langsung menjambak rambutnya dan membuat wajahnya langsung mengarah ke atas,


"Wahhh... Emely apa itu sebuah tameng transparan?" Ucap Avan yang mulai menyadarinya.


Devano yang mendengar itu dia langsung melihat dengan jelas dan dia pun bisa melihatnya juga tameng transparan yang sangat tebal dan begitu mengkilap setiap terkena sinar bulan di malam hari.


"Itu kenapa aku membangunkan kalian, saat siang hari tameng itu tidak akan terlihat namun ketika malam hari jika cahaya bulan berada di samping dan memantulkan cahayanya barulah tameng itu akan terlihat dengan jelas meski dengan mata yang kosong" ucapku menjelaskan kepada mereka,


"Jadi maksudmu, apa mungkin karena tameng itu kita tidak menemukan jalan keluar dan hanya berputar-putar saja di hutan ini?" Tanya Avan kepadaku lagi yang langsung aku balas dengan anggukan penuh,


"Jika benar begitu, kita harus menghancurkan tameng itu" ucap Devano menjadi yang paling bersemangat.


Aku langsung menepuk kepalanya lagi cukup keras karena sangat kesal dengan semua yang dia lakukan, sedari tadi dia yang paling sulit di bangunkan dan dia juga yang banyak bicara serta alasan ketika aku menyuruhnya menatap ke langit sekarang dia bicar bicara dengan mudah ketika aku dan Avan mengetahui penyebabnya.


"Peletak...." Suara tanganku yang mengenai belakang kepala Devano,


"Aduhh... Emely kenapa kau malah memukulku memangnya ucapanku salah?" Ucap Devano sambil memegangi kepalanya itu,

__ADS_1


"Tidak salah tapi kau sangat menjengkelkan!" Balasku dengan sinis.


"Sebelumnya aku sudah menguji ketahan perisai transparan tersebut namun bahkan bola apiku saja saat mengenainya langsung berubah menjadi percikan dan hancur begitu saja, aku rasa tameng itu sangat kuat dan tidak bisa kita pecahkan hanya dengan kekuatan" ucapku memberitahu mereka berdua.


__ADS_2