
"Wahhh.... Devano sepertinya kita harus memeriksa kemampuan dirimu lagi" ucapku masih kagum melihatnya.
Aku mencari beberapa benda tajam di sekitar sana hingga melihat sebuah ranting yang lumayan tajam lalu segera aku goreskan pada tanganku dalam sekejap hingga keluar darah segar dan membuat Devano kaget saat melihatnya.
"Astaga! Emely apa kau benar-benar sudah gila, kau melukai tanganmu sendiri!" Bentaknya kaget dan panik.
Aku tetap tenang dan segera menyuruh dia untuk memegangi luka di tanganku.
"Tenang saja ini akan baik-baik saja meskipun kau gagal menyembuhkannya" ucapku membalas dia,
"Apa yang kau bicarakan, bagaimana caraku mengobati luka di tanganku itu, apa aku harus pergi mencari tumbuhan herbal? Atau harus menghisap darahmu dengan mulutku?" Balasnya membuatku ingin menghajarnya dengan keras.
Dia sungguh menjengkelkan dan sangat merepotkan diriku, tapi aku tetap berusaha sabar dalam menghadapinya.
"Sudahlah ayo cepat pegang lukanya, cepat pegang!" Bentakku karena dia terlihat linglung tidak jelas.
Dia mulai memegangi lukaku dengan penuh keraguan dan secar perlahan luka goresan tersebut mulai membaik bahkan tanganku berubah seperti semul, tidak ada bekas luka atau darah yang ada disana setelah Devano menyentuhnya dan aku sudah menduga semua itu akan terjadi, sedangkan Devano langsung terperangah kaget dengan matanya yang terbuka lebar dan dia yang langsung menutupi mulutnya refleks.
"Wahh..... Emely kenapa lukamu tiba-tiba saja jadi sembuh?, Apa itu tadi sihir?" Ucapnya bertanya-tanya.
"Tidak tahu, mungkin saja itu keahlian yang ada di dalam dirimu seperti semacam kekuatan spiritual yang aku miliki" balasku kepadanya.
Aku belum bisa memastikan dan menjelaskan dengan pasti tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya dan apa yang dia miliki selama ini, karena aku sendiri juga baru mengetahui hal itu dan baru melihat ada orang yang bisa mengobati luka hanya dalam beberapa detik dan tidak meninggalkan efek atau bekas sedikitpun.
Sebelumnya aku bisa merasakan dengan jelas rasa sakit di tanganku dan itu begitu perih tapi ketika Devano mulai menyentuhnya rasa sakit itu perlahan menghilang seiring sembuhnya luka tersebut.
Aku bersandar di pohon tepat bersampingan dengan Devano dan dia terlihat masih cukup syok dengan terus memegangi tangannya dan membolak balikkan telapak tangannya itu.
__ADS_1
"CK....dasar si bodoh ini!" Gerutuku memperhatikannya diam-diam.
Aku sudah mulai lelah dan memutuskan untuk beristirahat, namun sebelum benar-benar tertidur lelap aku memperingati Devano terlebih dahulu untuk tidak ikut tertidur denganku sebab salah satu diantara kita harus menjaga keamanan disini, berjaga jaga jika terjadi sesuatu yang aneh atau kedatangan hewan buat di sekitar sana.
"Heh, Devano! Jangan coba-coba kau kembali tidur, berjaga! sekarang giliranku yang beristirahat, pastikan semua keadaan disekitar aman! apa kau mengerti?" Ucapku memperingati dia,
"Iya, sudah sana kau tidur aku juga sudah tidak mengantuk sejak melihat keanehan barusan" balasnya membuatku yakin.
Aku tidak banyak berpikir lagi dan langsung percaya kepadanya begitu saja, mataku mulai terasa sangat berat dan sedikit demi sedikit mulai tertutup rapat lalu tidur dengan lelap, saat tertidur semua beban dan rasa aneh juga kejadian di luar nalar yang menimpa diriku seakan menghilang, aku baru bisa merasakan ketenangan untuk pertama kalinya sejak jatuh ke hutan antah berantah tersebut.
Ternyata memang benar dengan apa yang sering dikatakan oleh orang bijak, bahwa tidur adalah obat paling ampuh untuk merehatkan pikiran dan melupakan sejenak semua beban dalam pikiran kita.
Disisi lain Devano sungguh tidak bisa menepati ucapannya sendiri, hanya selang beberapa menit sejak Emely terlelap dia justru malah itu merebahkan dirinya dan dia menggunakan paham Emely sebagai bantalan kepalanya, dia tidur dengan nyenyak dan tanpa rasa cemas sedikitpun.
Entah apa yang ada di dalam pikirannya dia selalu bertindak sembrono dan lebih mirip pria brandalan tapi otaknya lebih bodoh dari siapapun, dia mudah takut padahal dirinya menakutkan di sekolah.
"Peletak...." Suara tanganku yang menepuk jidatnya dengan kesal dan cukup keras,
"Aduhh... Emely kau ini wanita atau hewan buas sih, sudah berapa kali kau terus menyiksaku, aishhh....ini sakit" ucapnya menggerutu,
"Salah sendiri kau tidur seenaknya, pantas saja aku mati rasa dan sulit menggerakkan kakiku, ternyata kau tidur di atasnya dasar sialan!" Balasku menjawabnya dengan menohok.
Dia langsung terdiam meski menatapku sini sekilas.
Aku segera bangkit berdiri dan melihat matahari yang sudah terbit menyinari bumi, meski kelihatannya cahaya diatas sangat terang namun cahaya di bawah hutan ini begitu redup, sebab soto cahaya matahari yang tidak sepenuhnya masuk ke dalam hutan sebab terhalang pepohonan yang rindang dan besar, aku mulai berjalan dan meninggalkan Devano sendiri hingga dia berlari menyusulku.
"Eh....eh ... Emely tunggu! Kau mau kemana hey?" Tanya Devano dengan heran,
__ADS_1
"Ikut saja atau kau akan tertinggal sangat jauh sampai tersesat dan kehilangan aku" balasku tanpa menatap dia dan terus berjalan ke depan.
Aku sendiri juga tidak tahu akan pergi kemana, saat itu tidak ada tujuan sama sekali dan tidak tahu harus melakukan apa sehingga aku hanya mengikuti naluri dalam diriku yang terasa menuntun aku untuk terus berjalan ke depan.
Saat berjalan aku terus memikirkan masalah Pelik juga Anita dan Angel, mereka masih terjebak di dalam rumahku saat aku pergi secara tiba-tiba dengan kakek aneh itu, sekarang aku bahkan di usir oleh kakek tersebut dan tidak tahu harus melakukan apa.
Sudah cukup lama aku dan Devano terus berjalan sampai akhirnya kami justru malah kembali ke tempat awal dimana aku tidur dengan Devano disana malam tadi, aku sangat kesal dan kembali berjalan lagi lalu memilih jalur yang berbeda dari sebelumnya, tapi lagi-lagi kami tetap berakhir di tempat yang sama, hingga aku mulai lelah karena kami sudah mencoba semua jalur berbeda yang ada di sekitar sana tapi hasilnya tetap sama.
Kami tetap kembali ke pohon besar itu dan aku sudah yakin bahwa saat itu aku sudah tersesat.
"Aaahh.... Emely ini sudah yang ke sepuluh kalinya kita berakhir di tempat yang sama, sekarang harus bagaimana lagi?" Ucap Devano yang sudah kelelahan.
Jangankan Devano yang seorang pria aku saja sudah tidak sanggup jika harus berjalan lagi, tenggorokanku terasa sangat kering dan aku kehausan, tidak ada air di sekitar sana dan sejauh kami berjalan sedari tadi tidak pernah sekalipun kami temui sumber air atau sebuah sungai.
Aku kembali bersandar di pohon tersebut bersampingan dengan Devano dan kami berdua hanya bisa menggerutu kesal dan mengeluh bersama-sama.
"Hah....hah...hah... Sial kita bahkan tidak memiliki air sedikitpun, bagaimana kita akan bertahan hidup sekarang?" Ucapku merasa sedikit frustasi.
"Iya tenggorokanku sudah sangat sakit" balas Devano sambil memegangi lehernya.
Aku tahu dia juga merasakan hal yang sama denganku tapi kami tidak bisa melakukan apapun, kami hanya bisa menunggu hingga kakek aneh itu tiba menemui kami dan bisa menolong kami secepatnya.
Sudah berjam-jam berlalu dan Devano sudah terlihat sangat lemas, bibirnya terlihat begitu pucat pasi dan aku sangat tidak tega ketika melihat kondisinya tersebut.
Meski aku merasakan hal yang sama tapi aku tahu tubuhnya mungkin lebih lemah daripada tubuhku, sehingga aku berusaha untuk bangkit berdiri dan mencoba mencari air di sekitar, meski aku tahu mungkin itu terlihat mustahil tapi aku baru menyadari sesuatu ketika menengadahkan kepalaku ke atas, ternyata pohon yang aku pakai sebagai sandaran sejak lama itu rupanya sebuah pohon yang memiliki buah mirip seperti pohon jambu air.
Aku langsung berusaha memanjat pohon besar itu dengan sekuat tenaga dan sisa-sisa tenagaku yang sudah tidak seberapa ini.
__ADS_1