
Aku benar-benar sudah kesal dan emosi, tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk menyadarkan manusia bodoh sepertinya, mana ada seorang raja iblis yang kuat dan kejam memiliki rambut panjang dan buah dada sepertiku, sudah jelas aku ini seorang perempuan dia masih saja menganggap aku ini seorang raja iblis yang akan menghancurkan dunia, asap sudah mulai keluar dari atas kepalaku menunjukkan emosi yang sudah memuncak di dalam diriku, sedangkan di sisi lain tameng tanah pelindung yang di buah oleh Arshaka sudah mulai retak sedikit demi sedikit.
Juga terdengar teriakkan Arshaka yang sepertinya masih berusaha menahan tameng tersebut dengan sekuat tenaganya.
"Aaaa.....aaarrkkkhhh.... Emely apa kau sudah selesai, aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi!" Teriak Arshaka kepadaku.
Aku tahu mereka sangat terdesak oleh kelinci sialan yang mengerumuninya.
Sekali lagi aku mencoba untuk berbicara kepada pria tersebut untuk terakhir kalinya sebelum aku akan benar benar-benar menghanguskan semua kelinci kecil yang cukup menjengkelkan itu.
"Kau! Aku tanya padamu sekali lagi, apakah kau akan menghentikan pasukan kelinciku atau aku yang akan menghanguskan mereka semua!" Bentakku dengan mengeratkan gigi menahan kekesalan kepadanya,
"TIDAK! sekali aku bilang tidak ya tidak, apa kau tuli?" Balas dia yang membuat aku melewati batas kesabaranku.
Seketika emosi mulai memuncak aku bisa merasakan sesuatu yang besar akan keluar dari tubuhku dan aku merasa seperti ada amarah yang akan meledak sekarang.
"Aaarrkkkhhh....boom!" Teriakkanku yang langsung aku pancarkan cahaya api kemerah-merahan membakar hampir sebagian hutan itu dan membuat semua kelinci yang banyak tadi langsung terbakar musnah menjadi abu dalam seketika.
Aku mulai mengatur nafasku yang menderu karena emosi masih menguasai diriku saat itu, aku berjalan terus mendesak pria tadi dan mulai mengangkat dia dengan satu tanganku dan langsung membakar akar yang mengikat tubuhnya itu.
"Aaahh.... Tidak...lepaskan aku...panas ahhh kau seorang iblis lepaskan aku!" Teriak pria itu meringis kepanasan.
__ADS_1
Aku tidak memperdulikannya sama sekali dan terus membiarkan dia terbakar dengan api yang aku buat, sedangkan dari belakang Arshaka dan yang lainnya berjalan menghampiriku dan mereka mencoba menghentikan aku, sampai Avan yang turun tangan dan melemparkan air dari sungai pada sekujur tubuh pria tersebut sampai akhirnya dia bisa kembali jatuh ke tanah dengan ikatan akarnya yang sudah terbakar hangus.
"Ahh... Emely cukup jangan lakukan hal seperti tadi lagi, kau hampir membunuh pria itu" ucap Devinka sambil menahan tanganku disaat aku hendak memberi pria itu pelajaran lainnya,
"Devano apa kau pikir dia memberikan ampun kepada kita disaat tadi kita semua hampir mati diserang kelinci itu?" Balasku kepada Devano dengan tatapan yang tajam.
Devano langsung terdiam disaat aku membalasnya seperti itu dan langsung aku hempaskan tangannya yang menggenggam tanganku sedari tadi.
"Lepaskan aku tahu apa yang aku lakukan dan orang sepertinya tetap harus diberikan pelajaran" balasku kepada Devano dan teman yang lain tidak ada yang berani menahanku lagi.
Hingga di saat aku sudah mengumpulkan kekuatan di tanganku dan bersiap menyerang pria yang tengah terkulai lemas di tanah, muncul seorang kakek tua yang memakai jubah berwarna putih bersih, dia melayang entah dari mana dan langsung berdiri di samping pria tersebut dan menghentikan aksiku.
"Wahh....siapa dia? Tubuhnya terlihat begitu bercahaya dan lihat hutan ini terasa lebih cerah dari sebelumnya semenjak kakek itu tiba" ucap Avan menatap ke sekeliling.
Di ikuti dengan teman-teman lainnya yang ikut memeriksa ke sekeliling hutan itu dengan segera dan mereka melihat perubahan yang sama dimana bunga-bunga dan tumbuhan liar lainnya yang tadinya mati hangus terbakar kini mulai tumbuh kembali dengan sendirinya dan semua kelinci yang berbuah menjadi abu itu hilang sehingga menjadikan hutan itu kembali bersih seperti keadaan semula dan tidak meninggalkan bekas kekacauan sedikitpun.
Aku menghentikan aksiku karena mendengar perkataan dari kakek tua itu yang mengatakan bahwa aku akan kehilangan satu rekanku, namun meski aku menghentikan penyerangan ku itu tidak berarti aku akan meloloskan pria tersebut begitu saja.
"Kakek siapa kau di tempat ini, aku sangat menghormatimu tetapi aku tidak akan bisa memaafkan seseorang yang mencoba membunuhku dan melenyapkan seluruh rekanku, aku lebih senang membunuh satu rekan daripada mengorbankan seluruh rekan terbaikku hanya karena kecerobohan satu orang sepertinya" ucapku sambil langsung melemparkan tatapan tajam dan menyipitkan mataku pada pria tersebut,
"Tidakkah kau lihat bahwa dia sudah tidak berdaya? Seorang pemilik kekuatan spiritual tidak akan menyerang lawan yang sudah tidak berdaya bukan?" Balas kakek itu lagi,
__ADS_1
"Aku tidak akan menyerangnya hingga dia mati, aku hanya akan memberikan dia pelajaran, bagaimana rasanya berada dalam situasi terdesak antara hidup dan mati!" Balasku dengan tegas.
Aku tetap tidak ingin mengalah dari kakek itu sebab bagaimana pun, apa yang telah dilakukan oleh pria tersebut sangatlah berbahaya bagi keselamatan semua rekanku, dimana aku sudah susah payah mengajak mereka bergabung dan ikut denganku untuk melawan Abaddon nantinya.
Sedangkan pria itu juga tetap belum sadar bahwa semua yang telah dia lakukan adalah sebuah kesalahan besar karena menyerang orang lain tanpa mengetahui terlebih dahulu siapa mereka sebenarnya.
Dia justru malah mengadu kepada kakek tersebut di hadapan aku dan teman-temanku yang lainnya.
"Tetua tolong aku tetua, mereka akan membunuhku mereka semua adalah orang jahat dan wanita iblis itu telah menghanguskan seluruh pasukan kelinciku kau harus menghukumnya tetua" ucap pria itu yang juga menyulut emosi rekanku yang lain.
"Aishh.... Dasar kau tidak tahu terimakasih, kau masih mau menghukum kami atas kesalahanmu sendiri, aku menyesal menahan Emely tadi" gerutu Devano dengan jengkel,
"Tenang saja, jika bukan Emely yang memberinya pelajaran biarkan aku yang akan mencekiknya hingga dia menjadi pucat pasi dan tidak bernyawa" ujar Arshaka sambil memperlihatkan tangan tanahnya yang kuat dan perkasa,
"Aku juga bisa membekukan dia hingga menjadi patung es yang bagus, kita bisa menjadikannya sebagai hiasan nanti" tambah Avan dengan tangan esnya,
"Kenapa tidak kita beri pelajaran dia sekarang juga, aku sudah tidak sabar untuk menendang dia ke angkasa" balas Vayu yang melayang di sampingku dengan angin kecilnya saat ini.
Pria tersebut langsung menatap ngeri dan dia mundur bersembunyi di balik kakek tua itu, dengan wajahnya yang mulai ketakutan mendapatkan banyak ancaman dari teman-temankun yang lain.
Terlebih dia sendiri juga sudah melihat seberapa hebatnya kekuatan yang mereka miliki saat sebelumnya bertarung melawan pasukan kelincinya yang sudah bersama dengan dia selama bertahun tahun sebagai penjaga kawasan hutan ajaib ini.
__ADS_1