Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Menyembuhkan ibu Arshaka


__ADS_3

Pria itu langsung tertunduk lesu dan Avan mulai kembali bertanya kepadaku.


"Ja..jadi maksudmu kita tidak bisa melakukan apapun lagi untuk meyakinkan dia?" Tanya Avan kepadaku,


"Iya Avan memang rasa dan keinginan hidup seseorang tidak akan pernah bisa di ubah oleh siapapun kecuali jika dirinya sendiri yang menginginkan hal tersebut" balasku mengatakannya,


Semua orang tertunduk dengan lesu dan seakan kami juga ikut berputus asa menerima semua keadaan ini tanpa bisa melakukan apapun lagi hingga tiba-tiba saja Devano berteriak kepada kami cukup keras.


"Eh ..hey..coba lihat kesini, Emely cepat kemari tolong panaskan tubuhnya dia mulai merespon kekuatan dariku, dia akan sadar!" Ucap Devano membuat semua orang kaget dan membelalakkan mata tidak percaya.


Aku langsung berlari menghampirinya dengan cepat dan segera menyentuh bagian telapak kakinya untuk memanaskan seluruh tubuh wanita tua itu sedangkan Devano mulai mengobati beberapa kerusakan di tubuhnya hingga tidak lama kemudia wanita tua itu mulai merespon dengan menggerakkan tangannya perlahan dan aku langsung membelalakkan mata melihat itu dan segera menyuruh pria dengan pakaian tarjan agar segera memanggil nama ibunya itu untuk mempermudah sang ruh menyatu lagi dengan jiwanya yang telah lama terpisah.


"Kau... Cepat dekati ibumu dan panggil namanya dengan keras, cepat!" Ucapku berkata padanya dengan serius.


Pria itu langsung menghampiri ibunya dan memanggil ibunya sekeras yang dia bisa dia juga memegangi tangan ibunya dan terus mengusap lembut kepala bagian atas ibunya tersebut.


"Ibu.... Bangunlah ibu ini aku aku putra tercintamu, bangunlah ibu, aku mohon kembalilah hidup denganku, temani aku dan lindungi aku seperti dulu!" Ucap pria itu dengan mengeluarkan air mata dari pelupuk matanya.


Hingga tidak lama kemudian wanita itu mulai mengerjapkan matanya perlahan hingga suara nafasnya mulai terdengar dan dia langsung tersadar dengan cepat.


"Hah....hah....hah..... Sa..sayang, kau....putraku Arshaka?" Ucap wanita itu yang langsung di balas anggukan oleh putranya dengan cepat.


Aku dan Devano langsung menyingkir karena kami telah berhasil menyatukan kembali ruh dan jiwa yang hampir terpisah itu, kami juga kehilangan banyak energi terutama Devano yang sudah mengeluarkan dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mempertahankan kondisi jiwa wanita itu di menit-menit terakhir, Avan segera membantu Devano yang terlihat terkulai lemah dan aku segera memberikan buah yang aku bawa dari taman ilusi milik kakek Kerto sebelumnya lalu aku memberikannya pada Devano, karena dia terlihat sangat lemah sekali.


"Devano terimakasih, kau sudah berjuang sangat hebat, kau adalah pahlawan sesungguhnya, cepat kunyah itu dan telanlah agar kau jauh lebih baik" ucapku sambil memasukan buah itu ke dalam mulutnya.


Aku juga memakan sisa potongan buah itu untuk memulihkan energi di dalam diriku juga, hingga tidak butuh waktu lama akhirnya aku bisa kembali segar lagi begitu pula dengan Devano yang mulai bisa bangkit lagi terduduk dengan tegak.


"Emely apa kau tadi memujiku? Apa aku se keren itu di matamu tadi?" Tanya Devano yang sudah kembali menyebalkan.


Aku menatapnya dan terpaksa harus bersikap baik kepadanya karena mau bagaimanapun dia sudah menyelamatkan nyawa seseorang di depan mataku dan rela mengerahkan seluruh energi yang dia punya untuk membantu orang lain, meski dia sangat menyebalkan dengan karakternya itu.


"Iya kau sangat keren tapi masih tetap lebih keren pria itu" ucapku sambil menunjuk ke arah Arshaka yang berpelukan dengan ibunya dengan menangis melimpahkan kerinduan mereka selama ini.


Melihat seorang anak yang bisa kembali berkumpul dengan ibunya itu mengingatkan aku dengan ibu kandungku, sejak kecil aku tidak pernah bisa melihat wajahnya, meski dia sempat melihat wajahku namun aku tetap tidak bisa melihatnya dan tidak mengingat wajahnya karena saat itu aku masih sangat bayi, rasanya aku merindukan sosok nenek ketika melihat mereka berdua yang bercengkrama begitu dekat.


"Bu aku sangat menyayangimu, tolong jangan tinggalkan aku lagi, aku tidak bisa hidup sendirian di hutan ini, aku juga tidak ingin melihatmu menderita seperti sebelumnya" ucap Arshaka kepada ibunya,


"Iya Saka maafkan ibu, ibu terlalu gelap mata maafkan ibu nak, ibu menyesali semuanya, ibu berjanji tidak akan meninggalkan kamu lagi, tolong maafkan ibu nak" balas ibunya sambil terus menciumi wajah putranya tersebut.


Setelah mereka saling menebarkan kasih sayang di hadapan kami bertiga dan setelah mereka sudah jauh lebih tenang, merekapun mulai menjamu kami dan aku melihat ibu Arshaka itu bisa mengeluarkan akar dari tangannya dan dia menciptakan sesuatu yang luar biasa di ruangan itu hingga semuanya menjadi jauh lebih berwarna dan lebih indah dari sebelumnya, aku sangat kagum melihat banyak akar dan ranting yang muncul secara alami dan semuanya terlihat mengagumkan hanya dengan jentikan tangan dari ibu Arshaka tersebut semuanya bisa tumbuh dengan subur dengan waktu yang cepat.


Bukan hanya aku yang terpukau dengan semua keajaiban yang luar biasa itu tetapi Devano dan Avan juga terlihat sama kagumnya, mereka melihat semua keajaiban itu dengan tatapan yang terperangah dan matanya yang terbuka lebar.


"Waahhhh... Ini luar biasa, ini terlalu hebat, aku tidak menyangka seseorang yang baru sadar dari koma yang cukup lama bisa memiliki kekuatan yang sehebat ini" ucap Devano terkagum melihatnya.


Aku bahkan tidak mampu berkata-kata apapun lagi dan hanya bisa melihat semua yang dia lakukan dengan mulut dan mata terbuka tanpa berkedip, sampai mereka langsung mempersilahkan aku untuk duduk di sebuah kursi dari dahan pohon yang bisa merendahkan dirinya sendiri menyesuaikan dengan tinggi tubuh kita masing-masing.


Mejanya juga terlihat datar dan sangat bagus terbuat dari kayu asli hingga semua barang-barang yang ada disana semuanya berbahan kayu tidak ada bahan lain lagi yang dipakai disana dan semua itu sangat cantik dan mengagumkan.


"Silahkan minum ramuan sari bunga itu, kalian akan menjadi lebih kuat dua kali lipat daripada sebelumnya setelah memakan ramuan tersebut" ucap ibu Arshaka kepada kami.

__ADS_1


Bunga yang bergantungan diatas ranting pohon itu menjaran mendekati gelas yang di susun oleh Arshaka di hadapan kami kemudian bunga-bunga tersebut seperti memeras dirinya sendiri hingga keluar sedikit air dari dalam diri bunga itu kemudian bunganya layu dan jatuh sendiri ke dalam gelas dan berubah menjadi ukuran yang sangat kecil bahkan terlihat seperti seekor semut saja.


Lagi-lagi aku di buat terperangah melihat keanehan yang setinggi ini, Devano bahkan langsung mengambil gelas yang ada di hadapannya dan memeriksa isinya, hanya ada air yang berwarna sedikit pink dan berbau sangat harus, layaknya bau bunga yang menangkan.


"A..apa ini aman jika kita meminumnya?" Tanya Devano sambil menatap pada ibu Arshaka yang duduk di hadapannya dan beralih pandang pada Arshaka juga,


"Tentu saja itu sangat aman, silahkan kau coba" ucap ibu Arshaka mempersilahkan,


"Heh jangan mencurigai ibuku dia itu orang baik" tambah Arshaka dengan tatapan datarnya kepada Devano,


Devano pun hanya berdecak kesal sedikit lalu dia mulai meneguk air itu dengan segera dan saat dia meneguknya wajah Devano langsung berubah seperti lebih bercahaya dan dia terlihat benar-benar lebih segar daripada sebelumnya.


"Aaahhh... Ini luar biasa, Emely kau harus mencobanya ini membuat aku merasa sangat bugar lebih daripada memakan buah itu" ucap Devano kepadaku.


Melihat dia yang seperti itu aku menjadi sangat penasaran bahkan Avan sudah langsung meminumnya dan dia juga mendapatkan reaksi yang sama bahkan kepulan asap dingin keluar dari hidup, mulut dan telinganya, itu menandakan dia menjadi sangat segar dan kuat dari sebelumnya.


"Emely ayo minum, itu sebuah kehormatan untukku karena kau sudah menyelamatkan aku dan menyadarkan aku dari kebutaan diri dan mata hatiku selama ini" ucap ibu Arshaka sambil memegangi tanganku dengan lembut.


Untuk menghormatinya aku pun segera mengambil gelas yang terbuat dari bambu itu dan segera meneguk air yang ada di dalamnya.


Tapi kali ini reaksinya berbeda ketika aku yang meminumnya, aku merasa seluruh tubuhku bergetar hebat dan aku tidak tahu kenapa bisa seperti itu hingga tiba-tiba saja wajah dan seluruh tubuhku mengeluarkan cahaya, dan cahayanya sangat menyilaukan mata, aku juga mulai merasakan beberapa rasa sakit seperti cubitan-cubitan kecil di seluruh tubuhku terutama di bagian wajahku.


Aku ingin menyentuhnya tapi tidak bisa karena ini terasa cukup banyak untukku.


"A...AA..aaarhkkkkkk...." Teriakku dengan mengeluarkan kobaran api dari mulut dan kedua telingaku sangat besar.


Bahkan itu membuat semua orang yang ada disana seketika menjauh dariku dan mereka terlihat kaget juga panik terutama Devano dan Avan.


"Tenanglah dia adalah yang paling kuat, dan dia sedang menambah kekuatan dalam dirinya, dia akan menjadi lebih kuat lagi setelah saat ini, lihat apinyang keluar dari tubuhnya menjadi lebih merah sekarang, itu menandakan bahkan dia hampir mencapai titik tertinggi kekuatan miliknya, dia adalah pemilik elemen api jadi wajar baginya merasakan hal yang sedikit berbeda" ucap ibu Arshaka menjelaskan.


Walau sudah mendengar penjelasan dari ibunya Arshaka, Devano tetap saja mengkhawatirkan aku dan dia langsung saja berteriak memarahi mereka.


"Tetap saja kalian sudah membuat Emely ku kesakitan, apa yang kalian lakukan kalian hanya diam saja dan tidak berbuat apapun, ini terlalu menyakitkan untukku melihat dia seperti itu, cepat hentikan!" Bentak Devano kepada Arshaka dan ibunya,


"Devano sabar, tenangkan dirimu tidak akan ada yang bisa menahan Emely dia sedang dalam proses kenaikan elemen apinya kita tidak boleh menahan dia, biarkan saja" ucap Avan menahan Devano.


"Aaarrkkhhhhhh....hah..hah...hah" teriakkan terakhirku hingga akhirnya aku kembali lagi seperti semula dengan nafas yang ngos-ngosan.


Dan kini aku merasa lebih bugar dari sebelumnya aku merasakan api menjalar di seluruh tubuhku dan sekilas aku melihat api mulai memudar dari seluruh tubuhku dan kembali tidak menampakkannya.


"Emely apa kau baik-baik saja?" Tanya Devano yang langsung menghampiri aku dengan wajahnya yang panik,


"Devano aku baik-baik saja kenapa kau terlihat panik seperti itu? Memangnya aku ini kenapa, aku sangat sehat dan bugar bahkan aku merasa menjadi lebih kuat sekarang, lihat ini..." Ucapku sambil memperlihatkan api yang aku munculkan di tanganku menjadi lebih besar dari sebelumnya.


"Brusssss....." Suara api yang keluar dari telapak tanganku.


Bahkan Devano saja langsung terperangah melihatnya dan menutup mulutnya dengan segera.


"Wow.... Emely kau semakin hebat, ini pencapaian yang luar biasa" ujar Devano turut senang dengan pencapaianku.


"Setiap pemilik elemen akan mendapatkan reaksi yang berbeda-beda setelah meminum inti sari bunga itu karena mereka juga memiliki kekuatan dan sumber elemen spiritualnya masing-masing, jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, dan kau Emely kenapa wajahmu tidak sama dengan yang aku lihat ketika kita bertemu di alam ruh?" Tanya ibunya Arshaka kepadaku.

__ADS_1


Seketika semua orang menatap kepadaku dengan tatapan aneh dan mereka mengerutkan kedua alis mereka serempak, hingga aku merasa tertekan dengan tatapan semua orang yang tertuju kepada sekaligus seperti itu.


"A..ahh...itu ya, wujudku disini adalah wujud dari jiwaku, aku yang hidup di dunia ini mendapatkan kutukan dari nenekku karena dosa yang di buat oleh ibuku, dan untuk menghilangkannya aku harus menemukan ibuku, sedangkan wujudku ketika bertemu denganmu di alam ruh, itu adalah wajah asliku tanpa semua kutukan ini, maaf jika wujudku di sini mengagetkanku" ucapku sambil tertunduk,


"Tidak Emely kau terlihat sama hebatnya dan kau masih terlihat cantik dalam keduanya, entah di alam ruh atau dengan jiwamu yang luar biasa itu" ucap ibunya Arshaka membuat aku merasa senang.


Karena pada awalnya aku pikir dia kaget dan takut dengan wujud jiwaku yang seperti ini, namun ternyata dia tidak merasa seperti itu sama sekali. Sedangkan Devano yang mendengar itu dia langsung menatapku dengan tajam dan dia menggebrak meja dengan keras sambil menyebut namaku di hadapan semua orang dengan lantang.


"Brakk....." Suara meja yang di gebrak keras oleh Devano.


Awalnya aku bingung dan tidak mengerti kenapa Devano tiba-tiba saja menggebrak meja seperti itu dan melemparkan tatapan tajam kepadaku hingga dia mulai bicara dan aku mulai mengerti kemana arah pikirannya saat itu.


"EMELY KAU MEMBOHONGIKU!" ucapku sangat mendominasi dan membuat semua mata tertuju padanya.


Sedangkan aku hanya menatap dia dengan heran dan menaikkan kedua alisku dengan tatapan yang bingung.


"Aku? Apa yang aku bohongi padamu?" Balasku masih belum mengerti,


"Kau pergi ke alam ruh kan?" Tanya dia dan aku mulai mengingat hal itu.


Sebelumnya aku memang pergi diam-diam ke dalam alam ruh tanpa sepengetahuan Devano untuk membujuk ibunya Arshaka dan kini ibu Arshaka itu justru malah membahas masalah wujudku di alam ruh, sehingga pantas saja Devano mengetahui semua itu padahal aku sudah berusaha untuk menyembuhkan semuanya dengan sangat rapat dan baik darinya namun semua itu tetap saja ketahuan, dan aku kini tidak bisa membuat alasan lagi kepadanya dan hanya bisa tersenyum kecil dan mencoba untuk menahan dia agar tidak merah denganku.


"O...ohh...itu ahaha... Devano dengarkan penjelasanku dulu, aku tadi itu hanya...." Ucapku sedikit gugup dan Devano justru malah langsung menghampiriku.


Aku sudah tahu apa yang akan dia lakukan padaku aku takut dia akan memelukku dengan erat seperti yang biasa dia lakukan ketika dia marah atau terlalu mengkhawatirkanku, untuk mencegah hal itu aku pun segera menjauh darinya dan langsung berlari menghindar dia yang terus mengejarku hingga aku harus mengelilingi semua orang yang masih duduk di hadapan meja tersebut.


"Ahh... Devano tolong jangan kekanakan seperti itu, aku juga selamat jadi tolong bersikap dewasalah sekali ini" ucapku sambil bersiap-siap untung kabur darinya,


"Emely kau ini" ucapnya dengan mendekatiku perlahan.


Aku sudah tahu apa yang dia akan lakukan sehingga langsung berlari menjauh darinya sekuat tenagaku.


"Aaaaarrkkkhhh... Devano berhenti kau, jangan mengejarku!" Teriakku tidak ingin dia dekat-dekat denganku,


"Emely aku sangat mencemaskanmu aku harus memeriksamu apakah ada yang tertinggal di alam ruh atau tidak, kemari kau Emely!" Teriak Devano terus mengejar aku.


Aku berusaha menghindarinya dan mengumpat di belakang tubuh Arshaka dan menjadikan dia sebagai tameng agar Devano tidak berhasil menangkap aku atau memelukku secara tiba-tiba, hingga ketika Devano berlari ke arahku dengan merentangkan kedua tangannya aku terpaksa harus mendorong Arshaka hingga mereka bertabrakan dan Devano justru malah memeluk Arshaka bukannya aku, hingga kejadian itu mengundang gelak tawa dari kami semua yang melihat tingkah konyol Devano.


"Ahahaha.... Devano kau salah sasaran, ahaha... Kalian cocok sekali, ayo berpelukan lagi" ucap Avan yang paling puas melihat kejadian itu.


"Avan... Sialan kau, apa kau sudah lupa siapa yang telah menyembuhkan mu!" Bentak Devano menatapnya dengan tajam dan dia langsung berjalan menghampiri Avan lalu menjewer telinganya dengan kuat,


"AA...aaa...aahhh Devano iya maaf, maafkan aku, aku hanya tidak sengaja menertawakan kamu, lepaskan telingaku" ucap Avan memohon hingga Devano akhirnya bisa melepaskan telinganya tersebut,


"CK.... Awas saja kau jika berani menertawakan aku lagi, kau tahu akibatnya nanti!" Ancam Devano kepadanya.


Aku menahan tawa melihat tingkah Devano yang memang cukup menghibur selama kami dalam perjalanan yang menegangkan dan penuh dengan bahaya ini juga selalu menemukan banyak hal-hal di luar nalar.


Saat itu ibunya Arshaka meminta kami untuk menginap sehari di kediamannya sebelum kami akan kembali pergi berkelana melanjutkan misi dan akan membawa Arshaka putranya itu bersama kami.


Sebelumnya aku sudah menjelaskan semua niat kedatangan kami kesana dan perjanjian diantara aku dan Arshaka, kami juga menjelaskan kembali mengenai iblis Abaddon yang akan kami hadapi nantinya, termasuk apa yang tengah Abaddon lakukan di dunia permukaan, jika dunia permukaan telah berhasil dia taklukan otomatis semua alam dan dunia paralel yang ada juga akan berada di dalam genggamannya sehingga semua makhluk di seluruh alam harus tunduk dan patuh kepadanya, sehingga setelah menjelaskan semua itu, akhirnya ibunya Arshaka mengijinkan putranya itu untuk ikut bersama kami, walaupun mereka baru saja bertemu tapi untungnya ibu Arshaka juga mengetahui mengenai Abaddon dia terlihat merubah ekspresi wajahnya dengan cepat ketika mendengar nama Abaddon aku sebutkan.

__ADS_1


"Setidaknya tolong menginaplah disini satu malam lagi, aku masih merindukan putraku dan aku tahu Abaddon adalah iblis yang paling kuat diantara yang lainnya, bahkan dulu aku juga sudah pernah melihat iblis itu dengan langsung dan dia sangat menyeramkan, kalian benar-benar harus melatih diri dengan sungguh-sungguh jika ingin melawannya" ucap ibunya Arshaka kepada kami.


__ADS_2