Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Pohon Aneh


__ADS_3

Brox langsung menenangkan Avan dan memeriksa keadaannya karena saat itu Avan terlihat pucat dan panik tidak karuan.


"Avan.. apa kau baik-baik saja? Tetaplah di belakangku, kita akan memergoki makhluk aneh itu" ucap Brox sambil menatap serius kepada Avan.


Dan langsung saja dengan cepat Avan mengangguk mengerti dan dia langsung saja bersembunyi di balik tubuh Brox sambil terengah-engah berusaha menormalkan nafasnya lagi.


"Ah...hah....hah...hah..hah.. iya, aku akan tetap disini sambil menenangkan diriku dulu aaahhh makhluk itu menakutkan sekali" ucap Avan yang sudah melihat makhluk itu dari dekat.


Namun walau begitu Avan juga masih belum bisa melihat bentuk dan wajah mahkluk itu secara jelas, sedangkan disisi lain aku sudah mulai turun dengan bergandengan tangan bersama Vayu aku mulai mendarat ke tanah dan langsung saja berjalan pelan untuk mendekati salah satu pohon yang sangat besar berwarna hitam sampai ke daunnya saat itu.


Aku, Brox, dan Vayu langsung saja melingkar untuk menyergap makhluk itu bersamaan dan segera Vayu mengatakan aba-aba kepada kami berdua untuk mulai menyergap makhluk yang kami pikir bersembunyi di balik pohon tersebut.


"Ayo kita tangkap dia bersama-sama, satu... Dua... Tiga tangkap!" Teriak Vayu mengatakannya.


Kami langsung berlari meloncat ke balik pohon itu sambil berusaha memergoki makhluk yang ada di balik pohon itu, namun sayangnya kami tidak menemukan apapun disana dan semuanya hanya kosong.


"Aahhh.... Ke kenapa tidak ada apapun disini? Kemana makhluk itu pergi?" Tanya Brox merasa heran dan bingung.


Aku juga membelalakkan mataku dengan heran sambil mengerutkan kedua alisku dan merasa sangat kesal saat itu, aku pikir makhluk itu sudah bisa kami tangkap namun nyatanya aku salah, kami sama sekali tidak bisa menemukan makhluk itu apalagi menangkapnya.


"Ini aneh padahal jelas sekali aku melihat makhluk itu seperti bersembunyi di balik pohon ini dan aku sama sekali tidak melihat ada apapun yang mencurigakan di pohon ini sampai kita menyergap makhluk itu dan tidak menemukan apapun sekarang" ucap Vayu menimpali.


Aku terus berpikir keras dan semakin mendekati pohon itu karena entah kenapa saat itu aku hanya merasa sangat penasaran dan ingin menyentuh pohon tersebut.


Hingga ketika aku menyentuh pohon itu, tiba-tiba saja tanganku menembus ke dalam dan aku juga yang lainnya langsung menatap kaget seketika.


"Wahh.... Pohon ini menembus, tanganku bisa menembus pohon ini, ini sangat aneh" ucapku merasa aneh dan terus mencoba memasukan dan menarik kembali tanganku pada pohon itu berulang kali.


Hingga Avan dan Brox mencobanya juga dan semua tangan mereka bisa menembus pohon tersebut sama seperti yang aku lakukan sebelumnya.


"Iya.. tanganku juga bisa menembusnya, apa jangan-jangan makhluk itu juga masuk ke dalam pohon ini?" Ucap Avan sambil menatapku tegang,


"Itu pasti kita harus mengejar makhluk itu, aku yakin dia tidak akan bisa pergi terlalu jauh dan tidak mungkin muncul ruangan besar di balik pohon ini bukan?" Ujarku kepada teman-teman,


"Tapi Emely kita harus memastikan dulu apakah aman jika kita masuk ke dalam atau tidak" ucap Brox yang merasa cemas.


Mungkin wajar saja jika Brox merasa cemas sebab kejadian sebelumnya sangat di luar nalar dan tidak bisa kita pecahkan, di tambah sekarang sudah muncul keanehan lainnya yang membuat kami semua semakin kebingungan, namun memang tidak ada cara lain yang bisa di lakukan saat ini selain mengejar makhluk itu ke dalam dan menangkapnya dengan cepat untuk menemukan Arshaka juga Devano secepatnya.


"Tidak papa Brox seperti apapun yang akan kita hadapi di dalam sana kita harus tetap masuk ke sana dan menangkap makhluk misterius itu, jika tidak, kita mungkin tidak akan memiliki kesempatan lain lagi" ucapku meyakinkan Brox sambil memegang dengan kuat kedua pundaknya itu.


Brox pun menyetujui aku meski wajahnya tetap terlihat ragu, aku menggenggam tangannya dan segera masuk lebih dulu ke dalam pohon itu sampai di ikuti oleh Avan dan Vayu dari belakang.


Hingga ketika aku masuk ke dalam suasana di dalam sana sangat jauh berbeda dengan suasana yang ada di luar pohon itu dimana di dalam pohon itu terlihat ada kehidupan yang nyata dimana disana ada pohon yang memiliki daun berwarna hijau yang normal juga ada sungai kecil yang mengalir dengan deras, serta beberapa hewan yang berkeliaran di sekitar sana, namun aku melihat tempat itu seperti terbatas dengan sesuatu ini terlalu aneh jika ada tempat seluas itu di balik sebuah pohon saja dan semuanya yang ada di dalam pohon itu terlihat asri juga memiliki pemandangan normal layaknya kita berada di tengah hutan dengan rumput yang tidak terlalu tinggi, tidak terlalu banyak pohon di sekitar sana namun tanah yang kami injak bak seperti lapangan bola yang hijau dengan rumput pendek yang hidup diatasnya.

__ADS_1


"Wahhh.... Emely kau bilang di dalam sini tidak akan seluas itu, namun ini bak seperti sebuah negeri dongeng" ujar Avan kepadaku saat itu,


"Aku juga mana tahu bisa ada tempat seperti ini di dalam sebuah pohon" balasku kepadanya.


Kami semua terus melihat ke sekitar dan semuanya begitu indah juga hijau di sekitar sana sangat bertolak belakang dengan hutan yang ada di luar pohon tersebut dimana disana semuanya berwarna hitam dan panas juga tandus, namun saat aku berbalik untuk melihat dari mana sebenarnya kita masuk tiba-tiba saja dinding aneh yang transparan itu terlihat seperti riakan air di belakang kami, sehingga aku langsung memberitahu teman-teman yang lain untuk melihatnya juga.


"Avan...Brox... Vayu... Lihatlah ke belakang kalian" ucapku kepada mereka bertiga.


Mereka pun langsung membalikkan badan dan melihat ke belakang hingga mereka kembali kaget saat melihat sebuah dinding aneh seperti itu, itu mirip sekali seperti dinding transparan yang pernah aku lihat di hutan ilusi milik Arshaka sebelumnya namun dinding yang ini bisa di tembus oleh tubuh kita tanpa merasakan sakit sedikitpun.


"Wahh... Jadi pohon yang sebelumnya kita masuki itu hanya sebuah pintu menuju tempat ini?" Ucap Vayu yang mengerti dengan apa yang tengah aku pikirkan saat itu.


"Benar, sepertinya ada seseorang yang dengan sengaja membangun tempat seperti ini, dan pohon itu hanyalah sebuah pintu, bukan pohon nyata" balasku memperjelas semuanya.


"Tapi jika benar begitu, siapa orang yang membangun tempat seperti ini? Dan untuk apa dia membuatnya?" Tambah Brox bertanya,


"Aku juga tidak tahu, tapi yang pasti dia sangatlah keren dan hebat bisa membangun dunia yang indah dan hijau seperti ini bak seperti dunia nyata yang ada di permukaan ataupun di dunia atas lainnya" balasku menanggapi ucapan Brox.


Kami berhenti untuk terus melihat dinding aneh tersebut dan kami kembali mulai berjalan semakin masuk ke tempat aneh itu untuk mencari keberadaan makhluk yang tengah berada dalam kejaran kami saat ini.


"Emely apa tidak sebaiknya kita berpencar saja di sini, dengan begitu kita bisa lebih cepat menemukan makhluk tersebut" ucap Avan memberikan solusi,


"Apa kau yakin akan aman jika kita berpencar, sebelumnya kita sudah kehilangan dia teman walaupun hanya lengah sedikit saja, apalagi jika kita berpencar" balasku kepadanya.


"Emely ayolah, kau harus mempercayai kita juga bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri, sekarang kekuatanku sudah penuh lagi aku bisa pergi dengan Avan atau Brox agar bisa mencarinya lebih cepat" tambah Vayu yang masih bersih keras membujukku,


"Baiklah jika kalian tetap ingin berpencar, kalian pergi berdua biar aku akan dengan Brox, jangan lupa kita harus berkumpul di tempat ini lagi setelah kalian menemukan Arshaka dan Devano, tapi jika tidak kalian juga tetap harus kembali ke tempat ini sebelum matahari tenggelam, apa kalian mengerti?" Ucapku memberikan pengertian kepada mereka berdua,


"Iya Emely kami mengerti, tenang saja jangan terlalu mengkhawatirkan kami, aku dan Vayu akan segera kembali" ujar Avan dengan tersenyum penuh percaya diri kepadaku,


"Aku mempercayaimu Avan, Kalian ke sana dan aku akan ke sana, ayo kita mulai mencari mereka" ucapku sambil segera pergi berjalan ke sebelah kiri dengan Brox sedangkan Avan dan Vayu berjalan ke sebelah kanan.


Aku terus berjalan sambil berteriak memanggil nama Devano dan Arshaka bersahutan dengan Brox yang juga berteriak memanggilnya saat itu.


"Devano.... Arshaka dimana kalian...." Teriakku memanggil nama mereka berdua dengan sekeras kerasnya.


"Devano.... Jawablah jika kalian mendengar teriakkan kamu!" Teriak Brox yang juga mencari mereka dengan teliti.


Aku dan Brox sudah berjalan cukup lama dan hari sudah petang, kami sudah berkeliling kesana kemari dan cukup jauh dari tempat awal kami berpencar dengan Avan dan Vayu, tapi kami masih belum bisa menemukan salah satu dari teman kami yang hilang, aku bahkan hampir putus asa dengan Brox karena tidak kunjung menemukannya.


Sampai tidak lama justru malah terdengar teriakkan Vayu dari atas yang memanggil namaku dan Brox dengan keras.


"Emely.... Brox dimana kalian!" Teriak Vayu yang terdengar dari atas.

__ADS_1


Aku segera membuka sayapku dan langsung saja terbang membawa Brox juga denganku hingga aku melihat Vayu terbang seorang diri menghampiri aku dengan wajah yang sangat ketakutan saat itu.


Aku sudah merasa cemas dan tidak menentu melihatnya seperti itu apalagi aku tidak melihat keberadaan Avan di sampingnya.


"Vayu ada apa denganmu, kenapa kau malah mencari aku dan Brox lalu dimana Avan kenapa dia tidak bersama mu?" Tanyaku kepadanya bertubi-tubi,


Vayu terlihat sangat gugup dan dia tertunduk lesu di hadapanku hingga aku dan Brox semakin mencurigai dia saat itu.


"Vayu cepat jawab pertanyaanku, dan jangan bilang kalau Avan juga di tangkap makhluk misterius itu" ucapku menatap tajam dan menahan emosi diriku sendiri saat itu.


"Maafkan aku Emely tapi apa yang kamu bilang barusan memang benar, Avan di tangkap makhluk itu dan tadi aku sempat menahan dia dan membantunya tapi aku tidak berhasil menahannya meski aku sempat menyerang makhluk itu" balas Vayu yang membuat aku sangat lemas dan begitu kesal mendengarnya.


Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri dan langsung saja membentak serta memarahi Vayu saat itu juga karena dia dan Avan tidak mau mendengarkan ucapanku sebelumnya.


"Kau.... Aishh... Aku kan sudah bilang pada kalian bahwa kita jangan berpencar, inilah yang aku takutkan dan sekarang sungguh terjadi bukan? Sekarang apa lagi yang harus kita lakukan ketiga teman kita sudah pergi dan menghilang begitu saja dan kita tidak punya petunjuk sedikitpun apa kau gila hah?" Bentakku marah besar pada Vayu saat itu.


Vayu hanya terdiam sambil menunduk dan aku langsung saja meninggalkannya aku langsung turun dan duduk di tanah dengan lemas dan merasa sangat sedih, aku tidak tahu lagi harus melakukan apa sekarang karena aku sudah kehilangan tiga rekanku sekaligus.


Vayu juga turun mengikutiku dan dia duduk di sampingku sambil meminta maaf padaku.


"Emely maafkan aku, ini semua salahku, aku tidak mendengarkan ucapanmu sebelumnya, aku sungguh minta maaf Emely, aku akan mencari mereka sendiri sekarang untuk menebus kesalahanku ini" ucap Vayu dengan wajah yang berkaca-kaca kepadaku.


Meski semarah apapun aku kepadanya, aku tetap saja tidak bisa marah lebih lama lagi, apalagi dalam situasi seperti sekarang ini, aku juga merasa tidak tega melihat wajah Bayi yang kelelahan dan wajah bersalahnya itu, aku pun memaafkan dia dan menahan tangannya di saat dia hendak pergi saat itu.


"Tunggu Vayu, aku sudah memaafkanmu tadi aku hanya kesal dan marah saja karena kamu tidak mendengarkan aku, tapi semua ini sudah terjadi, aku juga tidak ingin kehilangan dirimu juga, jadi tetaplah denganku dan Brox jangan pergi berpencar lagi" ucapku menahannya dengan kuat.


Vayu menatap ke arahku dan dia tersenyum lalu langsung saja memeluk aku dengan erat sambil menangis dalam pelukanku, aku juga berusaha menenangkan dia dan menghentikan dirinya yang terus saja menyalahkan dirinya sendiri saat itu.


"Emely... Maafkan aku hiks...hiks..hiks... Semua ini salahku, aku minta maaf padamu, aku salah Emely" ucap Vayu menyadari kesalahannya.


"Sudah... Vayu berhentilah seperti ini, aku sudah merasa senang melihat kau menyadari kesalahanmu agar kau tidak mengulangi kesalahan seperti itu lagi, aku melarang dan mengatakan semuanya demi kebaikan kita semua juga dan ini tidak sepenuhnya kesalahanmu, aku dan Brox juga salah karena kami tidak berhasil menahan kalian saat itu" balasku sambil mengusap punggungnya dengan lembut.


Akhirnya Vayu bisa berhenti mengeluarkan air mata dan dia kembali berdiri denganku, kami mulai melanjutkan pencarian bersama-sama hingga malam mulai tiba dan aku semakin merasa sedih mengingat ketiga temanku sudah di bawa makhluk misterius yang aneh itu.


Aku duduk melamun menatap langit tanpa bintang di atas sana, aku bingung harus berbuat apa lagi dan Vayu juga Brox sudah tidur lebih dulu di samping kanan dan kiriku, mereka terlihat sangat lelah malam itu dan aku juga merasakan hal yang sama.


"Siapa makhluk itu sebenarnya dan seperti apa wujud dia sesungguhnya, aku sangat ingin melihat wujud makhluk misterius itu" ucapku bicara sendiri.


Sampai tidak lama aku mendengar suara seseorang yang jatuh di sekitar sana dan terdengar teriakkan nya yang meringis kesakitan.


"Aaaa...brukk....aaaaawww..." Teriakkan seseorang yang tidak jauh dari tempat aku duduk.


Aku berusaha mendengarkan ringisan tersebut dan aku sangat yakin bahwa itu teriakkan manusia sehingga aku langsung saja bangkit berdiri dan mencari tahu ke tempat asal suara itu.

__ADS_1


__ADS_2