Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Bayangan di permukaan


__ADS_3

Hingga tidak lama kemudian semua hewan yang terkena dengan kekuatan sihir dari Brox itu seketika mulai menjadi tenang dan mata mereka mulai menunjukkan warna merah menyala yang sama hingga akhirnya Brox berhenti dan kami semua langsung melepaskan kekuatan dan pemberian energi kepada Brox.


"Aahhh.... Hah... Hah...." Suara deru nafasku berusaha menahan dan memperbaiki nafasku dengan benar.


Sedangkan di sisi lain Brox terlihat sangat lemas dan semua hewan ini telah berada dalam kuasa hipnotis yang dilakukan oleh Brox sehingga mereka semua tidak menyerang kami dan hanya dan menurut.


Aku langsung berjalan mendekati Devano yang terlihat begitu lemah karena dialah yang paling banyak memberikan seluruh kekuatan yang dia miliki untuk membantu Brox, aku mengambil buah dari hutan ajaib milik kakek Kerto dimana buah itu hanya tinggal tiga biji lagi.


Aku membagi dua buah itu dan memberikannya kepada Brox juga pada Devano untuk memulihkan mereka kembali seperti semula.


Sedangkan aku dan yang lainnya masih bisa memulihkan diri sendiri seiring berjalannya waktu dan setelah beristirahat selama beberapa saat saja.


"Devano makan ini, aku tidak ingin melihatmu lemah seperti itu" ucapku kepadanya.


Dia malah tersenyum kepadaku dan membuka mulutnya begitu saja padahal aku berniat memberikan itu pada tangannya namun dia justru malah meminta aku untuk menyuapi buah itu ke dalam mulutnya secara langsung.


"Ehh... Ada apa denganmu, makan saja sendiri kau kan masih punya tangan" ucapku meninggikan suara,


"Emely aku ini sangat lemas aku tidak bisa menggerakkan tanganku, ayolah Emely lagi pula ini hanya terjadi saat aku lemah saja, tidak mungkin kau tidak merasa kasihan kepadaku bukan?" Ucap Devano sangat menguji kesabaranku.


Aku menarik nafas dalam dan langsung membuangnya perlahan segera aku arahkan buah itu ke dekat mulutnya yang sudah terbuka kala itu dan Devano juga sudah terlihat senang berseri-seri sayangnya di saat aku hendak menyuapi Devano dengan cepat Arshaka mengambil buah itu dan dia langsung saja memasukkan buah itu ke dalam mulut Devano dengan sekaligus hingga dia hampir tersedak di buatnya.


Bahkan aku dan yang lainnya juga kaget melihat Arshaka bereaksi secepat itu.


"Ah..ohok....ohok..ohok....aishh.. Arshaka apakah kau gila yah, aku hampir saja tersedak, bagaimana jika aku mati karenamu hah?" Bentak Devano sangat kesal.


Sedangkan aku dan yang lainnya terus asik tertawa dengan puas melihat ekspresi Devano yang langsung berubah kusut dan kesal sebab dia tidak jadi merasakan rasanya di suapi oleh Emely saat itu.


"Ahaha.... Devano sepertinya kau memang selalu tidak beruntung haha... Kasihan sekali" ucap Avan menertawakannya.


Devano yang kesal karena Avan tidak berhenti menertawakan dirinya dia langsung saja menepuk kepala Avan yang saat itu ada di sampingnya dengan cukup keras.


"Peletak.... Aduhhhh" ringis Avan sambil memegangi kepalanya yang sakit di tepuk oleh Devano,


"Aahhh... Devano tega sekali kau melakukan itu padaku, aku kan teman yang paling mendukungmu disini aahhh sakit sekali lagi" gerutu Avan tidak terima,


"Rasakan saja itu balasan karena kau malah menertawakan aku barusan" balas Devano yang membuat kita semua yang melihat kejadian itu seketika tertawa bersamaan.


Kakek tetua juga sudah melihat apa yang kamu lakukan dan dia mengetahui semua perjuangan kami untuk menangkap hewan-hewan tersebut, meskipun aku tahu hewan yang kami tangkap tentu saja tidak sebanyak kelinci yang sudah aku hancurkan, namun setidaknya aku tahu bahwa hewan yang kami tangkap memiliki setidaknya sedikit kekuatan campuran dari kami semua dan mereka juga hewan yang kuat pada dasarnya sehingga bisa menjadi penjaga negeri pelangi ini dari marabahaya.

__ADS_1


"Kakek tetua aku sudah mengusahakan yang terbaik dengan rekan-rekanku yang lainnya, aku harap kamu bisa mengijinkan aku untuk membawa Brox bersama kami sekarang" ucapku meminta izin kepadanya lagi,


"Emely sebenarnya tanpa kamu melakukan semua ini aku akan membiarkan Brox pergi dengan kalian, namun sebelum itu kalian harus melihat ini terlebih dahulu" ujar kakek tetua tersebut.


Aku merasa sedikit gugup dan cemas lalu dia mulai menunjukkan sebuah dinding gambaran di dunia permukaan tempat dimana aku berasal dan tempat para manusia biasa hidup dengan damai sebelumnya.


Aku melihat dari bayangan kakek tetua bahwa hampir seluruh manusia disana sudah berubah menjadi batu dan mereka tidak bergerak sedikitpun, adapun aku melihat Mauren yang sudah menjadi budak dari iblis Abaddon sehingga meski tubuhnya telah terpisah dengan ruh jahat yang menguasai jiwanya dia tetap berada di pihak Abaddon dan aku melihat dia terus menghancurkan apapun yang dia lewati dengan berteriak memanggil Devano.


"Aarrlkhhhh.... Devano kemana kau, DEVANO....." teriak Mauren dengan wajahnya yang sudah berubah total menjadi jahat.


Dia di kuasai dengan dendam, keserakahan dan kebencian yang sangat kuat dan luar biasa, aku sangat ngeri dan tidak menduga bahwa manusia biasa seperti Mauren bisa menjadi sekuat itu dan memiliki kekuatan jahat di dalam tubuhnya.


"Ke...kenapa manusia itu bisa memiliki cakar bayangan dan kenapa dia bisa mengendalikan kekuatan sihir?" Ucap Arshaka yang kaget melihat semua itu,


"Itu karena dia sudah menjadi pengikut Abaddon dimana kekuatan yang dia miliki di warisi dari Abaddon dan dia akan selamanya menjadi pengikut Abaddon, bahkan ketika ruh dan jiwanya telah terbagi" ucap kakek tetua menjelaskan,


"A..APA? tapi apakah dia masih bisa kita selamatkan?" Tanyaku kepada kakek tetua saat itu.


Aku sangat cemas dan kaget aku masih berharap kami bisa untuk menyelamatkan Mauren karena aku tahu pada dasarnya dia adalah seseorang manusia yang baik, dia hanya terlalu banyak menderita dan terluka sehingga jiwanya terguncang dan aku masih sangat yakin bahwa dia sebenarnya menyesali perbuatannya itu, dia tidak sejahat yang aku lihat saat ini, sebab saat di tribun kala itu aku masih bisa melihat sisi baik di dalam sorot matanya, dimana dia juga masih memiliki rasa kasihan dan perduli kepadaku sebagai temannya kala itu.


Kakek tetua lama terdiam ketika aku menanyakan tentang hal itu sehingga membuat semua orang menatapnya dengan cemas.


"Kakek tetua aku mohon padamu, aku masih bisa menyelamatkan dia bukan?" Tanyaku lagi mendesaknya untuk segera menjawab pertanyaanku itu,


Aku tidak bisa berkata-kata lagi ketika aku melihat betapa menyedihkannya Anita, Angel juga Pelik yang berusaha tetap bertahan di ruangan bawah tanah yang sempit dan pengap itu.


Aku berusaha untuk memegangi wajah Pelik dan aku sangat merindukan dirinya, namun gambaran itu perlahan mulai menghilang dan aku tidak bisa menyentuhnya lagi, aku menangis tanpa suara dan air mata mulai mengalir membasahi pipiku, aku segera tertunduk karena aku tidak ingin mereka melihat seorang pengendali elemen api menangis dengan lemah dihadapan mereka semua.


Devano berjalan menghampiriku dan dia langsung memelukku sambil mengusap kepalaku dengan lembut.


"Menangislah Emely aku tahu kau merindukan Pelik dan aku juga merindukan duniaku, kau harus menangis jika kau ingin" ucap Devano yang membuat aku semakin tidak bisa menahan air mataku,


"Tutupi aku Devano aku sangat malu" ujarku sambil menangis terisak dan membelakangi teman teman yang lainnya.


Setelah aku merasa jauh lebih baik aku duduk termenung seorang diri melihat Brox dan yang lainnya menurunkan hewan-hewan tadi ke perbatasan hutan dan mulai melatih mereka untuk menyerang dan menjinakkan mereka seutuhnya, aku juga melihat Devano yang selalu menjadi seorang penakut karena dia selalu bersembunyi di balik tubuhku atau tubuh Avan, yang dia tahu bahwa dirinya akan selalu aman ketika di belakangku.


Sedangkan aku kini tidak memiliki semangat untuk menghampiri mereka, aku sungguh merasa sedih dan sakit karena tidak bisa menolong Pelik.


"Pelik maafkan aku, aku telah meninggalkanmu, maafkan aku Pelik hiks..hiks...hiks..." Ucapku kembali menangis setiap kali aku mengingat Pelik.

__ADS_1


Tidak lama kakek tetua datang menghampiri aku dan dia berdiri di sampingku sambil mengajakku untuk bicara saat itu.


"Emely tidakkah kamu akan bergerak, kau semakin membuang banyak waktu jika kau bersedih seperti ini, dan meski temanmu itu seorang makhluk halus, dia tetap tidak akan bertahan lama, selamatkan dia sebelum dia bergabung dengan makhluk halus lainnya yang terkena sihir dari Abaddon" ucap kakek tetua kepadaku,


Aku langsung membalikkan wajahku dan menatap ke arahnya dengan sendu.


"Tapi tetua... Bagaimana aku bisa mengalahkannya sedangkan dia sangatlah kuat, dan kau sendiri tidak tahu bagaimana cara mengalahkannya, lalu bagaimana dengan aku yang tidak mengetahui apapun saat ini" ujarku kepadanya dengan wajah yang kebingungan,


"Emely aku sudah tahu bahwa sahabatku Kerto akan mendatangkan mu kesini untuk menjemput muridku Brox dan aku tahu bahwa temanku tidak mungkin salah dalam memilih lawan untuk menghentikan Abaddon, kau hanya perlu percaya dengan kekuatan yang kau dan temanmu miliki, sentuh hati teman manusiamu itu, bagaimana pun caranya aku rasa kau cukup terkenang di hatinya, dan aku yakin Abaddon akan kalah jika kebencian hilang dari jiwa orang tersebut, sebab dia adalah kuncinya dia manusia yang menginginkan dunianya hancur, namun jika keinginan itu hilang maka Abaddon juga akan pergi" ucap kakek tetua sambil menepuk bahuku membuatku sedikit merasa yakin dan kembali bersemangat.


"Kau benar kakek, aku harus membuat Mauren sadar dengan dirinya dan mengingatkan dia akan orang-orang yang perduli dan mencintainya, aku juga harus menyelamatkan duniaku karena aku belum menunaikan janjiku kepada Pelik dan belum menemukan ibuku. Aku Emely sang penakluk aku bisa menaklukan segalanya!" Ucapku dengan penuh keteguhan.


Kakek tetua tersenyum padaku dan aku segera memanggil teman-temanku untuk segera berkumpul dan melanjutkan perjalanan kami menemukan satu lagi rekan kami untuk menggenapi tujuh penguasa elemen spiritual.


Setelah kami berkumpul kami segera berpamitan kepada kakek tetua dan menyerahkan semua hewan tersebut yang sudah bisa di kendalikan oleh kakek tetua sepenuhnya.


Kami segera pergi mengikuti arah dari cahaya peta yang sudah semakin memudar tersebut, hingga kami masuk ke dunia perkampungan yang ada di negeri pelangi tersebut, dimana semua hal disana terlihat cantik dan berwarna warni, mulai dari rumah tempat penduduk itu tinggal dan jalanan yang terlihat cantik dengan warna pelangi yang indah dan cerah.


Aku terus menyusuri jalanan itu hingga berada di ujung jembatan desa.


"Wahhh... Jembatan apa ini?" Ujar Avan yang melihat sebuah jembatan di depan kami terlihat melengkung begitu tajam seperti sebuah pelangi yang indah namun jatuh ke jurang yang gelap dan dalam.


"Berhenti! jangan mendekati jembatan pembatas tersebut" ucap Brox disaat aku baru saja berniat untuk melangkahkan kaki pada jembatan pelangi tersebut,


Kami semua langsung berbalik dan menatap Brox dengan tatapan yang heran serta kebingungan sebab dia menahan kami seperti itu.


"Ada apa Brox, kenapa kau menahan kami untuk melintasi jembatan ini?" Tanyaku kepadanya dengan sangat penasaran,


"Jembatan itu adalah jembatan menuju dunia bawah, jika kau menginjak jembatan tersebut kau akan terpeleset dan langsung terjun ke dunia bawah yang sangat dalam, tidak pernah ada yang kembali dari sana, dan semua orang tidak berani menyentuh jembatan itu walau hanya sedikit saja" ucap Brox menjelaskan.


"Apa kau tahu apa yang ada di dunia bawah tersebut?" Tanyaku kepadanya lagi,


"Aku tidak tahu tapi romor yang orang lain bicarakan itu adalah dunia dimana para iblis dan makhluk dengan kekuatan bayangan yang jahat tinggal" ujar Brox menambahkan.


Aku ingin mempercayai ucapan dari Brox tetapi cahaya itu terus menunjuk ke arah jembatan pelangi tersebut dimana aku sangat yakin bahwa cahaya dari peta itu akan selalu mengantarkan aku kepada pemilik kekuatan elemen lainnya.


"Tapi Brox aku rasa kita harus pergi ke dunia itu, petunjuk peta tidak pernah salah, kita harus tetap ke sana" ucapku memutuskan,


"Emely sebaiknya jangan, itu terlalu berbahaya karena kita tidak pernah tahu apa yang ada di bahwa dasar itu" ucap Vayu kepadaku sambil memegangi tanganku saat itu.

__ADS_1


"Vayu apakah kau pikir aku tahu saat aku tiba-tiba masuk ke duniamu dari sebuah lemari yang aneh di toko ramalan dunia Arshaka yang penuh ilusi sebelumnya? Aku tidak pernah tahu apa yang akan aku temui di duniamu sampai akhirnya takdir lah yang menuntun aku menemuimu, dan kita juga harus mencoba percaya dengan petunjuk yang kakek Kerto berikan padaku" ucapku membalas ucapan Vayu yang terlihat resah saat itu.


Aku tahu mereka semua mencemaskan apa yang ada di bawah sana dan apa saja bisa kita temui di dasar sana, namun jika kita tidak pernah mencobanya maka kita tidak akan pernah tahu dengan apa yang ada di dasar tersebut, dan lagi pula aku pikir kita semua akan selalu aman sebab akan selalu saling melindungi satu sama lain, selama kita tidak terpisah.


__ADS_2