
"Emely apa yang baru saja kau lakukan?" Tanya Vayu kepadakundan membuat semua orang menatap lekat ke arahku dengan alis mereka yang mengkerut bersamaan.
"Ehhh....kenapa kalian melihatku seperti itu, tadi aku hanya sedang memastikan kita berada di dunia ilusi atau bukan, namun ternyata tidak ini seperti dunia nyata namun aku juga tidak tahu mengapa pohon disini terlihat sangat aneh sekali" balasku kepada mereka semua.
Akhirnya mereka pun berhenti menatapku lekat seperti sebelumnya yang membuat aku sedikit tidak nyaman.
Hingga tidak lama seperti ada yang menepuk pundakku sekali dan aku pikir itu adalah Vayu karena dia yang berada di belakang tubuhku saat itu.
"Aduhh... Vayu ada apa kau menepuk pundakku?" Tanyaku kepadanya sambil menoleh heran,
"Ehh...apa aku tidak melakukan itu" balas dia dengan wajah yang kebingungan.
Pandanganku pun langsung beralih kepada Arshaka yang ada di sebelahku karena aku pikir mungkin dia yang menyentuh pundakku dengan iseng.
"Arshaka apa kau yang melakukan itu?" Tanyaku kepadanya dengan tatapan yang tajam,
"Tidak ...sedari tadi tanganku disini kau bisa tanya pada Avan" balas dia yang juga tidak mengaku.
Aku pun mulai merasa aneh dan sedikit merinding, aku merasa benar-benar ada yang aneh dengan hutan ini, sebab jelas sekali barusan aku merasakan ada tangan seseorang yang menepuk pundakku cukup keras dan aku merasakannya dengan sangat baik.
"Lalu jika bukan kalian berdua siapa lagi yang melakukannya?" Ucapku merasa bingung dan semakin cemas tidak karuan.
"Emely mungkin itu hanya perasaanmu saja, atau sebuah ranting yang jatuh mengenai pundakmu sehingga kau mengira itu sebuah tepukan dari seseorang" ujar Avan kepadaku,
"Apa mungkin begitu, tapi aku merasakannya dengan benar Avan itu seperti sebuah tangan" Ucapku tetap merasa.itu adalah sebuah tangan.
Sampai akhirnya aku pun mengesampingkan pikiran anehku dan segera kami pergi menelusuri hutan itu untuk mencari keberadaan makhluk penguasa elemen spiritual lainnya.
"Ya sudahlah, apapun itu aku juga tidak perduli, ayo kita pergi saja" ucapku kepada mereka semua.
Kami pun segera pergi masuk ke dalam hutan dan mencari keberadaan pemilik kekuatan elemen di sekitar sana, namun saat kami masuk ke dalam hutan suasana yang mencekam semakin terasa dan ini sangat menakutkan bagiku, sebab ketika masuk ke dalam hutan, yang tadinya cerah dan terang seketika menjadi redup dan remang-remang karena cahaya matahari terhalangi oleh pohon-pohon yang rindang di sekitar sana.
Ditambah pohon di dalam hutan itu sangatlah besar sekali, bahkan satu pohon saja bisa di pakai untuk bersembunyi dua sampai tiga orang sekaligus, aku dan yang lainnya terus berjalan semakin masuk ke dalam hutan dan hutan ini terasa seperti hutan yang sangat angker tidak terdengar suara binatang di dalam sana dan hanya ada beberapa kelinci yang terlihat bersembunyi di balik semak-semak yang ada di sekitar sana.
__ADS_1
"Ehh.... Emely lihat ada kelinci, apa kita menangkapnya saja, aku sudah sangat lapar, kita bisa memakannya nanti" ucap Devano sembarangan,
"Aishh ...jangan sembarangan kau, ini hutan yang aneh, lihat saja kelinci itu terlihat seperti mengawasi kita sedari tadi, aku rasa dia bukan kelinci biasa, jadi jangan kau coba-coba untuk menangkapnya!" Ucapku sambil membelalakkan mata kepadanya ya sangat lebar.
Aku harus memberikan peringatan yang keras seperti itu kepada Devano agar dia mau mendengarkan aku dan aku harus memberitahu dia dengan sekeras itu, karena jika tidak aku hanya takut Devano akan menangkap kelinci yang bermata merah menyala tersebut.
Aku bisa melihat mata kelinci itu dengan jelas dan setiap matanya bertemu denganku kelinci itu selalu langsung kabur bersembunyi aku merasa sangat aneh dengan kelinci itu yang matanya sungguh jelas sekali terlihat seperti memperhatikan gerak gerik kami semua.
"Arshaka apa kau merasakan apa yang aku rasakan, kau pemiliki kekuatan elemen bumi, apa kau merasakan hal yang sama denganku?" Tanyaku kepadanya dengan tatapan yang lekat,
"Iya Emely aku merasakan hal yang sama, dan aku rasa hutan ini seperti hidup, namun bukan di hidupkan karena kekuatan ataupun sihir seperti ilusi, ini seperti kekuatan yang aneh" ujar Arshaka membuat semua orang berpikir lama sekali.
Hingga tiba-tiba saja salah satu pohon disana terlihat bergerak sangat kencang seperti di guncangkan oleh seseorang dari belakang, hal itu membuat kami semua kaget dan terperanjat ke belakang sangat kaget.
"Gggrttrrr....." Suara pohon yang bergetar sangat kencang bahkan sampai dedaunannya berhamburan jatuh ke bawah sangat banyak,
"Ehh...lihat itu, pohonnya bergerak sendiri, astaga...apa hutan ini sungguh berhantu?" Ucap Devano yang langsung berlari ke belakang bersembunyi di belakang tubuh Arshaka.
Aku menatap ke arah sana dan berusaha melihat dengan mata batinku sendiri, namun aku tidak bisa menemukan makhluk halus apapun yang ada di balik pohon itu, sehingga aku merasa itu bukanlah ulah makhluk.
Aku berjalan mendekatinya dengan perlahan dan berniat untuk memegangi pohon itu, namun saat aku hampir menyentuh pohon tersebut tiba-tiba saja sebuah bayangan hitam muncul dengan cepat di balik pohon tersebut dan mengenai badanku hingga aku tersentak ke belakang cukup jauh.
"Aaaahhh .. brukk" suaraku berteriak dan jatuh tersungkur ke belakang sangat keras,
"Aduhh...b*kongku sakit sekali, haduhh....hiks..hiks.." ucapku menangis merasakan bok*ngaku sungguh terasa sakit sekali,
Arshaka langsung berlari ke arahku dan dia langsung membantuku berdiri begitu juga dengan Avan dan Devano yang ikut membantuku juga.
Sedangkan Vayu dia malah berjalan mendekati pohon itu lagi dan aku langsung menghentikan dia dengan cepat.
"Vayu berhenti jangan dekati pohon itu, disana ada...." Teriakku sudah terlambat karena Vayu juga langsung terhempas ke belakang sangat keras.
"Aaaahh....brukkk" suara Vayu yang jatuh tersungkur.
__ADS_1
Dia segera di bantu oleh Devano dan aku segera berdiri di papah oleh Arshaka.
Pohon itu sangat aneh sekali dan setelah aku dan Vayu jatuh terhempas ke belakang tiba-tiba saja pohon yang tadinya bergetar sangat kuat langsung berhenti dan sekilas aku melihat sebuah bayangan hitam yang terlihat melewati pohon itu dan pergi ke pohon yang lainnya lalu pohon itu juga kembali bergetar seperti yang sebelumnya membuat kami semua sangat panik.
Namun karena mereka semua malah fokus dengan getaran pohonnya sehingga mereka tidak menyadari dengan bayangan yang terus berpindah dari pohon yang satu ke yang lain hingga membuat pohon itu bergetar hebat.
"Ahh ..lihat pohon itu juga bergerak sendiri, aahhh ini pasti ulah makhluk, Emely cepat tangkap makhluk itu huhu ini bahaya Emely" ucap Devano yang sudah ketakutan tidak karuan,
Aku sama sekali tidak mendengarkan ucapa Devano dan Avan yang menyuruh aku untuk menangkap makhluk itu padahal aku sangat tahu jelas bahwa makhluk di balik terjadinya hal tersebut bukanlah ulah makhluk yang tidak kasatata melainkan ulah seseorang seperti kita, aku sangat yakin sekali bisa melihat bayangan seseorang di balik pohon itu namun karena dia sangat cepat bayangan itu sulit untuk di temukan apalagi dalam tempat yang gelap dan memiliki cahaya yang samar-samar seperti ini.
Itu akan membuat bayangannya menyatu dengan gelapnya hutan sehingga sulit untuk melihatnya, aku pun langsung membisikan soal hal itu kepada Arshaka dan meminta dia untuk menangkap bayangan tersebut.
"Arshaka perhatikan dalam bayangan pepohonan disana kau akan menemukan bayang seseorang di balik pohon itu jika cahaya matarymenyinaringa, aku ingin kau menangkap bayangan itu karena aku yakin itu pasti bayangan dari seseorang" bisikku kepadanya.
Arshaka mengangguk mengerti dan dia terlihat mulai memasang kuda-kuda untuk bersiap siap mengumpulkan fokusnya.
"Ehh... Arshaka apa yang mau kau lakukan, aishh jangan macam-macam kau atau makhluk disana akan marah dan Emely akan semakin sulit menangkapnya" ucap Devano yang masih saja keras kepala dan mengira hal tersebut adalah perbuatan makhluk halus tak kasat mata.
Aku menghampiri Devano dan mengetuk kepalany dengan keras saking jengkel dalam menghadapinya selama ini sebab dia selalu saja membuat aku kesal dan tidak pernah bisa diam serta membuat ketenangan sebentar saja padahal saat itu aku tahu Arshaka butuh ke fokusnya yang sangat tinggi untuk menangkap seseorang yang sangat cepat tersebut.
"Peletak....aduhh.... Emely sakit kau ini kenapa suka sekali menjitak kepalaku sih" gerutu Devano sambil mengusap kepalanya yang nyeri,
"Diam kau dasar bibir mu itu aishh aku ingin mengguntingnya hingga kau tidak bisa bicara lagi, dan dunia ini akannterasa nyaman jika orang sepertinya sedikit berkurang dalam populasi makhluk hidup di dunia.
"Ishh ... Emely kau sangat tega sekali kepadaku, aku sakit hati karena ucapanmu itu" balas dia kepadaku dengan wajahnya yang langsung marah dan di tekuk cemberut begitu saja.
Aku hanya bisa menggelengkan kepala dan langsung memalingkan pandangan darinya karena tidak habis pikir mengapa aku harus memiliki teman sepertinya, dia lebih banyak membuat kepalaku pusing dan membuatku sakit kepala di bandingkan dengan pekerjaan yang menumpuk saat dikejar deadline seperti saat ini.
Hingga aku pun mulai kembali fokus dan memperhatikan bayangan itu dan ketika dia mulai berpindah lagi ke pohon yang lain dengan Cepat Arshaka mengeluarkan akar yang menjalar dari tangannya dan akar itu ternyata berhasil menangkap sesuatu di balik pohon yang terdapat bayangan ersebut.
"Emely aku berhasil aku menangkapnya" ucap Arshaka berteriak senang,
"Ohh ..bagus...bagus ayo cepat tarik dia dan lihat seperti apa wujud aslinya,.ayo cepa Arshaka" ucapku mendesak saking tidak sabarnya untuk melihat orang di balik pohon tersebut yang terus menakuti kita semua.
__ADS_1
Sampai ketika Arshaka menariknya tidak ada apapun yang bisa kami lihat hanya saja akar Arshaka itu melingkar dengan tegak tapi tidak ada apapun yang dia tangkap di dalamnya, aku dan yang lainnya sangat merasa aneh dengan hal itu, padahal terlihat Arshaka seperti kesulitan saat menariknya namun setelah keluar dan di lihat dengan dekat dia tidak bisa menemukan apapun di sekitar sana.
"Ehhh ...kenapa akarmu seperti itu?, Apa kau berpura-pura susah dalam menariknya?" tanyaku kepada Arshaka dengan sangat heran.