Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Belajar Terbang


__ADS_3

Sampai ke esokan paginya, mentari yang sangat indah muncul menampakkan sinar dari upuk timur dan cahaya itu langsung menerta wajahku yang membuat aku merasa sangat hangat juga cerah menerima sinar mentari pagi untuk yang pertama, ya saat itu aku yang pertama bangun di susul dengan Vayu dan Brox, sampai yang lainnya ikut bangun juga dan kami duduk menghadap ke arah timur dimana matahari terbit sangat indah, suasana di sekitar dunia bawah ini tetap terasa gelap dan lembap meskipun hari sebenarnya sudah pagi dan matahari sudah mulai naik ke atas sana, karena memang kita tengah berada di dasar bumi atau memang benar-benar berada dalam perut bumi saat ini.


"Wahh... Matahari disini terlihat sangat dekat dan panasnya juga dua kali lipat daripada saat kita di dunia permukaan iya kan Emely" ucap Devano kepadaku,


"Iya kau benar karena kita sepertinya benar-benar berada di dalam perut bumi saat ini, kau tahu berapa kali kita jatuh ini adalah yang ke tujuh, lapisan bumi paling akhir" balasku kepada Devano yang dipanggil oleh mereka semua.


Stelah bener saat menyadarkan diri dan bernafas dengan santai perlahan, kami pun mulai bangkit dan bersiap siap untuk kembali berpetualang mencari satu orang pemilik kekuatan elemen yang bisa membantu kita melawan Abaddon di permukaan bumi nantinya.


"Teman-teman aku rasa kita harus segera bergegas sekarang, karena kita tidak memiliki banyak waktu lagi" ujarku kepada mereka,


"Emely apa kita tidak bisa makan dulu, aku sudah sangat lapar" ucap Devano kepadaku,


"Silahkan saja, siapapun yang ingin makan, kalian makanlah lebih dulu aku akan berjalan-jalan sebentar sekaligus mencoba sayap ini" ucapku pada mereka semua.


Terlihat wajah mereka langsung berseri cerah dan terlihat sangat senang ketika aku mengijinkan mereka untuk makan, padahal sebetulnya aku juga tidak pernah melarang mereka untuk makan kapanpun mereka ingin, selama itu di waktu yang tepat aku tidak akan pernah melarang mereka mengisi perutnya.


Aku segera mengepakkan sayap itu dan berusaha mencari tahu bagaimana cara untuk menggunakannya agar aku bisa terbang, aku sudah berusaha untuk terbang dan sudah meloncat beberapa kali namun tetap saja ujung-ujungnya aku kembali jatuh dan tersungkur di tanah.


"Aaahhh...bruk... Aduh" ringis ku sambil segera bangkit berdiri.


Sayap itu membuat aku kesulitan karena terlalu besar dan aku belum bisa mengetahui bagaimana cara menggunakannya dengan benar dan cara untuk menyembunyikan sayap itu lalu memunculkannya saat aku butuhkan.


Aku terus berpikir sendiri hingga tidak lama Vayu datang menghampiriku dan dia mengulurkan tangannya untuk membantu aku bangkit berdiri saat itu.


"Emely apa kau baik-baik saja, ayo raih tanganku" ucapnya dengan lembut.


Aku pun segera meraih tangannya dan dia membantu aku berdiri dengan cepat, lalu aku mengatakan keresahanku kepadanya karena aku sudah hampir putus asa dengan sayap sialan yang ada di belakang punggungku.


"Huft... Vayu bagaimana caranya terbang kau sudah berjanji untuk mengajariku jadi tolong ajarkan aku secepatnya aku ingin segera bisa menggunakan sayap ini dan aku ingin menghilangnya" ucapku kepada Vayu.


Mendengar itu Vayu justru malah kaget dan seketika membelalakkan matanya menatap heran kepadaku.


"Emely kenapa kau ingin menghilangkan sayap itu, itu adalah bagian dari kekuatanmu kau harus menerimanya" balas Vayu yang sepertinya salah paham dengan ucapanku sebelumnya,


"Vayu maksudku bukan begitu aku tidak ingin melenyapkan sayap ini untuk selamanya, tapi aku ingin bisa menyembunyikan sayap ini dan memunculkannya lagi disaat aku membutuhkannya, karena tidak mungkin aku terus memunculkan sayap ini, aku takut semua orang akan takut dan menjauhi aku nantinya" balasku menjelaskannya pada Vayu.


Seketika Vayu pun tersenyum mengerti dan dia langsung saja mengajarkan aku untuk mulai belajar terbang dengannya saat itu juga.


"Ahhh... Begitu ya, ya sudah ayo Emely aku akan mengajarimu bagaimana caranya untuk terbang" ucap Vayuakunsegera bersiap-siap dan mendengarkan apa yang Vayu katakan saat itu.


"Fokuskan pikiranmu pada sayap yang ada di punggungku, rasakan kepakan sayap itu dan mulai melakukannya dengan lebih cepat disaat aku menerpa mengenai sayapmu, rasakan anginnya terus kepakan sayapmu dan teruslah terbang ke atas saja" ucap Vayu terus mengajariku.


Satu, dua kali aku hanya bisa terbang rendah hingga percobaan yang ketika aku mulai terbang semakin tinggi lebih tinggi dan sayap besar yang ada di punggungku benar-benar sudah bisa aku kendalikan, aku bisa terbang layaknya seorang burung di atas saja.


"Wow... Emely kau sangat hebat, buka matamu Emely kau sudah bisa terbang sekarang!" Teriak Vayu padaku.

__ADS_1


Aku perlahan mulai membuka mataku pelan karena aku sendiri juga sudah sangat penasaran saat itu, dan ketika aku membuka mata, aku sangat kaget dan bahagia melihat aku benar-benar bisa terbang seperti seekor burung, dan burung phoenix yang sedari semalam hanya hinggap di bahuku kini dia ikut terbang di dekat aku dan sekan burung itu merasa senang atas keberhasilanku saat ini.


"Wahhhh.... Aku terbang aku sudah bisa terbang teman-teman, lihatlah kemari aku sungguh terbang wuhuyyy....." Teriakku terus terbang melesat lebih tinggi lagi dan sangat bahagia.


Teman yang lainnya hanya menatap kagum dan Devano terus menyemangati aku dari bawah sana Vayu ikut terbang dan menghampiri aku lalu dia mulai memberitahu aku bagaimana caranya untuk turun dan mendaran dengan perlahan, dia memberitahu aku seperti tadi lagi untuk memelankan kepakan sayap beberapa kalian dan membiarkan angin bekerja dengan tugasnya itu.


Hingga akhirnya tidak lama aku pun benar-benar bisa mendarat dengan nyaman dan aman di depan semua teman-temanku yang ada disana.


"Wahhh.... Emely kau adalah orang pertama yang sangat cepat belajar terbang" ucap Vayu kepadaku, sambil kembali mengeluh pucuk kepalaku dengan lembut.


Aku sungguh merasa sangat senang dan puas atas pencapaian yang aku miliki, dan sekarang aku mulai meminta pada Vayu agar aku bisa menyembunyikan sayapku ini, hingga Vayu mulai memberitahu aku juga sama seperti sebelumnya.


"Baiklah Emely sekarang kau fokuskan lagi pikiranmu dengan sayap yang kau miliki saat ini, lalu kau kumpulan kekuatanmu pada bagian sayap itu dan bomm lepaskan kekuatan itu hingga sayapmu akan hilang" ucap Vayu yang langsung aku praktekkan saat itu.


Dan saat aku melirik ke belakang sayapku benar-benar hilang dalam sekejap dan aku sangat senang sampai langsung menutup mulut dengan kedua tanganku dengan kaget bercampur senang tidak karuan.


"Wahhh....Vayu aku benar-benar bisa menyembunyikan sayapku itu, waahhh ini luar biasa aku tidak menduga aku bisa melakukannya hanya dalam satu kali percobaan" ungkapku merasa sangat senang,


"Aku tahu kau bisa melakukannya Emely karena kau bukan hanya seorang pemilik kekuatan elemen namun kamu juga pengendali makhluk, kau sangat istimewa" ucap Vayu padaku dengan tersenyum lembut.


"Terimakasih Vayu, tapi kau jangan terlalu memuji aku begitu nanti hidungku akan ikut terbang juga karena pujianmu itu" balasku kepadanya dengan sedikit malu.


Yang lainnya menghampiri aku dan mereka terus ikut memujiku itu membuat aku merasa sangat malu sekaligus senang, aku tidak menduga bisa mempelajari semuanya dengan secepat itu, padahal aku kira aku akan membutuhkan banyak waktu untuk mempelajari.


"Tentu saja lain kali aku akan membawamu terbang jika kau tidak berat" balasku yang membuat semua orang seketika tertawa saat itu.


"Ahahah.... Kau terlalu berat Avan, Emely tidak akan sanggup membawamu terbang, kau tetap harus terbang dengan angin milik Vayu baru itu bisa" balas Devano sambil menepuk pundak Avan beberapa kali saat itu.


Aku dan Avan kembali mencoba belajar lagi cara untuk memunculkan sayap itu lagi dan setelah aku bisa menghilangkannya tentu saja semuanya menjadi mudah aku hanya perlu kembali menekan kekuatan yang aku miliki dan memusatkan semua kekuatan tersebut ke bagian punggungku hingga akhirnya sayap itu kembali muncul dan sangat gagah.


Aku segera menghilangkannya lagi dan merasa sangat senang sampai langsung memeluk Vayu karena merasa bahagia dan berterima kasih kepadanya karena dia sudah mau mengajarkan aku banyak hal baru pagi ini.


"Vayu... Terimakasih banyak kamu memang guru yang sangat luar biasa, berkatmu aku bisa mengendalikan sayapku, aahhh aku sangat senang sekali terimakasih banyak Vayu" ucapku sambil memeluknya dengan erat.


Vayu juga membalas pelukanku sampai tiba-tiba saja Devano lagi-lagi menarik tanganku dan menjauhkan aku dari Vayu secepatnya.


"Eh...eh..ehhh sudah-sudah kau hanya diajarkan beberapa pelajaran saja sudah memeluknya, aku yang selalu menyembuhkan mu tidak pernah kau peluk seperti itu" ucap Devano kepadaku.


Aku hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Devano yang selalu saja iri kepada siapapun yang dekat denganku, aku bahkan tidak mengerti lagi apa yang sebenarnya dia pikirkan dalam kepalanya itu hingga selalu saja bersikap seperti anak-anak.


Karena aku sudah bisa mengendalikan kekuatan baruku, kami pun mulai pergi menyusuri tempat itu, di hutan ini tidak terlalu banyak pohon namun suasananya terasa sangat sepi dan mencekam meskipun ini sudah hampir siang hari, banyak sekali debu disana dan semuanya hanya memiliki cahaya remang-remang, hampir tidak ada perbedaan antara siang dan malam kecuali kita bisa melihat matahari terbit lebih dulu dan tenggelam lebih akhir ketika berada di tempat itu.


Tumbuhan di sekitar sana juga sangat aneh, semuanya berwarna hitam dan coklat yang kusam, seperti tidak ada kehidupan sama sekali di sekitar sana, dedaunan yang kering dan tanah yang retak hingga suhu panas yang bisa membakar kulit manusia biasa.


Kami terus berjalan semakin masuk ke dalam hutan tapi tidak ada sesuatu apapun yang bisa kami temukan di tempat itu, hingga aku dan yang lainnya mulai merasa putus asa karena masih belum menemukan apapun di sekitar sana.

__ADS_1


"Aneh... Apa tempat ini memang benar-benar tanpa penghuni?" Ucap Avan dengan heran,


"Tempat ini memang sering di sebut sebagai tempat pembuangan, tapi aku pikir tidak mungkin jika tanpa penghuni, kecuali memang semua orang yang pernah di buang ke sini langsung mati sebab kejadian yang sebelumnya Emely alami saat pertama kali turun dari jembatan pelangi di atas" tambah Brox berbicara.


Aku pikir apa yang dikatakan oleh Brox memang benar saat itu, namun aku masih merasakan ada sesuatu yang hidup di sekitar hutan itu, sampai tiba-tiba saja Arshaka berteriak sangat kencang dan dia menghilang begitu saja.


"Aaarrrkkh......" Suara teriakkan terakhir dari Arshaka saat itu.


Kami semua langsung menatap ke belakang dan melihat satu teman kami sudah hilang tanpa jejak sedikitpun.


"Arshaka, kemana dia pergi, kalian mendengar teriakkan ya bukan, kemana dia?" Ucapku dengan panik begitu pula dengan yang lainnya.


"Tidak tahu tadi jelas Arshaka berada di belakangku, tapi tiba-tiba saja dia menghilang dan aku hanya mendengar teriakkan ya sekilas" balas Brox saat itu.


Arshaka dan Brox memang berjalan di paling belakang sedangkan aku berada paling dekat untuk menunjukkan arah bersama Devano, kami sangat cemas dan panik saat itu ketika melihat Arshaka tiba-tiba saja menghilang dari pantauan kami hanya dalam beberapa detik saja.


"Kita harus mencarinya" ucapku dengan tegas,


"Tapi kemana Emely, kita tidak tahu kita akan seperti apa dan tempat macam apa wilayah dasar bumi ini" balas Devano dengan wajahnya yang mulai ketakutan.


Aku tahu dia mencemaskan semuanya tetap kita juga tidak mungkin membiarkan Arshaka hilang begitu saja, aku harus mencari dia hingga menemukannya, terlebih aku juga sudah berjanji kepada ibunya untuk selalu melindungi dia dalam setiap saat dan keadaan, bahkan jika aku tidak menemukannya aku akan tetap berada di tempat itu selamanya hingga aku berhasil menemukan dia dan membawa dia kembali pada ibunya.


"Devano jika kau tidak ingin mencarinya aku tidak masalah, yang pasti aku memiliki tanggung jawab besar atasnya dan aku akan mencari dia hingga dia ketemu" ucapku dengan tegas.


Aku langsung berbalik berjalan ke belakang lagi dan berteriak memanggil nama Arshaka sekencang yang aku bisa, di ikuti dengan teman-teman yang lainnya yang juga langsung mengikuti langkah kakiku kecuali dengan Devano yang saat itu berada di paling belakang karena dia merasa tidak setuju denganku.


"Arshaka.... Dimana kau? Arshaka tolong jawab aku.... Arshaka!" Teriakku sangat kencang.


Namun sayang saat kami berjalan beberapa saat dari tempat sebelumnya kembali terdengar teriakkan Devano yang menghilang secara misterius juga, sama seperti menghilangnya Arshaka sebelumnya.


"Aaarrkkkhhh..." Teriakkan Devano saat itu.


Kami semua langsung menatap ke arah dimana Devano berdiri sebelumnya namun kami tidak menemukan dia juga, aku dan yang lain semakin menjadi panik dan takut, kita semua ketika langsung melingkar dan saling tatap satu sama lain karena mulai sama-sama merasakan ada hal ganjil di sekitar sini.


"Hah.... Devano.... Devano keluarlah jangan membuatku khawatir, Devano kemana kau?" Teriakku sangat panik.


Aku tidak bisa kehilangan dia juga, dia adalah yang paling penting bagiku, aku sangat takut tidak bisa menemukan Devano dan Arshaka saat itu dan aku langsung meminta semua orang untuk berkumpul mendekat.


"Semuanya ayo mendekat dan jangan saling berpencar, aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan hilangnya Devano dan Arshaka secara tiba-tiba seperti itu" ucapku kepada mereka semua.


Vayu, Avan dan Brox segera menghampiri dan mendekati aku, wajah mereka juga sama paniknya denganku dan mereka terus menatap ke sekeliling untuk berjaga-jaga.


"Emely aku rasa hutan ini memiliki penghuni dan mungkin saja penghuni tempat ini yang mengambil Devano dan Arshaka" kata Brox saat itu.


Aku dan yang lainnya langsung menatap ke arah Brox dan memiliki pemikiran yang sama tentang hutan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2