
Sebenarnya saat itu aku tidak tega meninggalkan kakek itu seorang diri disana, apalagi dengan keadaannya yang seperti itu sehingga aku pergi dengan secepat yang aku bisa dan aku terus berjalan ke dalam hutan mencari beberapa kayu bakar yang ada disana.
Perasaanku sudah sangat tidak menentu dan aku terus saja memunguti beberapa ranting pohon yang berserakan di bawah jalanan hutan tersebut, semuanya di penuhi dengan rumput liar dan tanaman yang menjalar hingga aku tidak dapat bergerak dengan cepat disana.
"Aah... Sepertinya ini sudah cukup, aku harus segera kembali sebelum kakek semakin parah" gerutuku sambil segera bergegas kembali.
Sebelumnya aku sudah mematahkan ranting pohon selama perjalanan untuk meninggalkan jejak agar aku tidak tersesat dan akhirnya dengan cara seperti itu membuatku bisa sampai ke tempat semula dengan lebih cepat.
Saat aku tiba disana aku melihat kakek tersebut yang sudah sadar dan dia tengah mencoba bangkit terduduk, aku langsung berlari menghampirinya dan melemparkan kayu bakar yang aku bawa ke tanah begitu saja.
"Oh....kakek rupanya kau sudah sadar, apa ada yang sakit di tubuhmu? Atau ada yang tidak enak, katakan saja kepadaku" ucapku mencemaskan dia.
Kakek itu hanya menatapku dengan datar padahal jelas sekali sebelumnya wajah kakek tersebut terlihat meringis kesakitan, namun disaat aku kembali ke sana dan memeriksa dia, tiba-tiba saja wajahnya langsung berubah menjadi datar dan tatapan matanya terus tertuju pada kalung yang aku kenakan sehingga membuat aku langsung memegangi kalungku tersebut dan menggenggamnya dengan erat.
"Kakek apa ada yang salah dari kalungku? Atau kau menyukainya?" Tanyaku saking penasarannya.
Aku sangat penasaran dan berbagai macam kemungkinan serta perasangka di dalam diriku terus saja mendorongku untuk bertanya kepada kakek tersebut secara langsung, hingga kakek itu berusaha untuk menyentuh kalungku namun dengan cepat aku menahan tangannya.
"Kek, ada apa dengan kalungku, kenapa kau terlihat begitu tertarik dengan kalung ini?" Tanyaku lagi kepadanya.
Setelah aku melakukan itu barulah kakek tersebut menatapku untuk beberapa saat dan dia langsung berdiri serta mengajakku untuk pergi dari tempat itu segera.
"Eh.... Kek apa kamu sungguh baik-baik saja, kenapa langsung berdiri seperti ini?" Ucapku mengkhawatirkan dia,
"Ikuti saja aku jika kau ingin bertemu dengan Devano" ucap kakek tersebut sambil berjalan dengan tongkat di tangannya dan dia melangkah perlahan-lahan memasuki sebuah hutan.
Aku kembali mematahkan beberapa ranting pohon yang aku lewati untuk meninggalkan jejak supaya aku tidak tersesat jika sesuatu terjadi kepadaku di tempat aneh dan antah berantah seperti ini. Ku pikir disaat aku melakukan itu kakek tidak akan menyadari apa yang aku lakukan sebab dia terus berjalan tanpa menengok ke belakang dan tidak bicara kepadaku sedikitpun.
Sampai tidak lama kemudian, dia tiba-tiba saja berbalik tanpa aba-aba terlebih dahulu dan membuatku kaget hampir terkena serangan jantung.
__ADS_1
"Ayaya.... Astaga, kakek apa yang kau lakukan, kenapa berbalik tiba-tiba seperti itu, membuatku kaget saja" ucapku sambil menetralkan nafasku.
Aku berusaha menormalkan nafasku dan tetap berusaha berpikir positif karena aku juga tahu kali ini aku tidak bisa marah apalagi merutuki kakek tua tersebut, meski pun aku sangat ingin melakukannya namun mau bagaimana pun dia tetap seseorang yang lebih tua dariku sehingga aku sangat menghormati dirinya walaupun dia terlihat begitu sama sekali dengan Devano, sama-sama menyebalkan dan membuat aku bingung setiap saat.
Saat itu saja, disaat aku sudah kaget terperangah hingga membuat nafasku tidak teratur, kakek tersebut tetap tidak berkata apapun kepadaku, dia hanya menatapku dengan tajam dan dia seperti tidak menyukaiku, namun sayangnya aku tetap harus bersikap baik padanya agar aku bisa kembali ke tempat sebelumnya.
"Kek, apa ada yang terasa sakit di tubuhmu sampai kau tidak bisa bicara apapun kepadaku?, kek ada apa denganmu sebenarnya?" Tanyaku untuk yang kesekian kalinya.
"Heh, aku peringatkan kepadamu berhenti mematahkan ranting potong di hutan ini, karena mereka bukan tumbuhan biasa, kau juga tidak akan tersesat selama kau berjalan di hutan ini, jadi kau tidak perlu repot-repot mematahkan ranting-ranting tersebut dengan tangan apimu itu" ucapnya membuatku kaget dan langsung terperangah kaget.
"Ah...hah? KA ..kau...darimana kau tahu masalah tanganku dan kekuatan spiritual yang aku miliki?" Tanyaku sangat kaget.
Aku tidak menyangka kenapa kakek tersebut bisa bicara seperti itu dan mengatai aku dengan tangan apimu, aku hanya bisa menatapnya dengan keheranan dan terus berjalan mengikuti dia dari belakang, hingga kami tiba di jalan yang buntu, di depanku hanya ada sebuah bukit yang menjulang tinggi dan mungkin saat ini kami berada di dasar sebuah jurang bukit tersebut.
"Kakek sebenarnya kamu mau membawaku kemana ini jalan buntu" ucapku menanyakannya,
Dia mengetukkan tongkatnya ke tanah dan tiba-tiba saja sebuah pintu muncul dalam sekejap di hadapan kami, lalu kakek itu membuka pintu tersebut dengan santai dan menyeretku untuk masuk bersamanya ke dalam dengan cepat, bahkan aku tidak sempat berkata-kata sedikitpun.
Hingga ketika kami sudah berada di dalam semuanya terasa begitu gelap aku bahkan tidak bisa melihat apapun dan aku sendiri mulai panik mencari keberadaan kakek tersebut.
"Hah, dimana aku sekarang? Kek, kakek dimana kau?" Teriakku sambil meraba-raba kesana kemari.
Hingga tidak lama munculah sebuah cahaya di hadapanku dan ketika aku berjalan menghampiri cahaya itu satu per satu cahaya lain muncul di sekitar sana hingga aku bisa melihat sebuah ruangan kosong dengan dindingnya yang terdapat cahaya seperti sebuah obor di jalan dahulu dan api ada diatasnya.
"Wah....ruangan apa ini?, Kakek apa kau ada disini?" Ucapku merasa kebingungan.
Saat aku hendak melangkahkan kaki tiba-tiba dari belakang terasa ada yang menepuk pundakku dengan keras hingga aku meringis merasakan tepukannya itu.
"Aduhh...." Ucapku merasa sakit.
__ADS_1
Aku sudah gugup dan merinding sedikit takut karena meski ada cahaya tetapi tidak seterang matahari ataupun lampu di rumahku, aku perlahan berbalik dengan tangan yang gemetar ketakutan sampai akhirnya ternyata itu adalah kakek dan Devano yang sudah berdiri di belakangku dengan tegak.
"Aaahhh....astaga aku sangat lemas sekali, aku pikir apaan yang menepuk pundakku, aaahhh kakek kau mengagetkanku lagi" ucapku merasa sedikit lega,
"Emely wajahmu?" Ucap Devano dengan membuka matanya lebar dan dia terlihat kaget ketika melihat wajahku.
Sedangkan aku hanya merasa heran dan menaikkan kedua alisku bersamaan, aku kebingungan karena Devano tiba-tiba saja memegang wajahku dan terus meraba seluruh wajahku begitu saja.
"Devano apa yang sedang kau lakukan?" Tanyaku padanya dengan kesal dan menahan emosi.
Dia tetap memegangi wajahku dan terus saja bersikap seperti orang yang gila, dia memegangi wajahku sembarangan tanpa meminta izin kepadaku dahulu dan terus merabanya juga membolak balikkan kepalaku.
Aku sudah mulai jengkel dan sangat kesal kepadanya sehingga aku tidak bisa menahan diriku lagi.
"DEVANOO! Aishh....apa kau gila seenaknya mengucek wajah orang lain seperti itu!" Bentakku sambil mendorongnya dengan kuat.
"Aaahhh..... Emely wajahmu menjadi bersih kau tidak buruk rupa lagi" ucap Devano mengungkapkan.
Aku kaget bukan main dan panik ingin segera melihat wajahku sendiri, dan aku juga refleks memegangi wajahku saat mendengar itu.
"A..apa?, Kau bercanda yah?" Tanyaku sedikit meninggikan suara.
Aku tidak mempercayainya karena aku pikir semua itu adalah hal yang mustahil terjadi kepadaku, karena kelainan tersebut bukanlah penyakit melainkan sebuah kutukan yang di buat oleh nenekku sendiri untuk memberikan pelajaran pada ibuku lewat aku, sehingga tentu saja aku tidak mempercayai ucapan Devano saat itu.
Tetapi Devano tetap saja meyakinkan aku dan mengatakan bahwa wajahku sudah sembuh.
"Aku tidak bercanda Emely, wajahmu memang berubah kamu terlihat cantik" ucap Devano membuatku semakin keheranan.
Aku semakin tidak mempercayai ucapannya dan hanya bisa membuka mata kaget dan berkacak pinggang menahan emosi untuk tidak melemparkan tinjuan pada Devano karena disana masih ada kakeknya.
__ADS_1