Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Kekuatan Spiritual


__ADS_3

Entah kenapa rasanya saat ini diriku semakin terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya, dan aku selalu kesulitan mengendalikan diriku dengan kekuatan spiritual yang aku miliki namun kali ini, aku bisa mengeluarkan kekuatan spiritual dari dalam jiwaku, aku melihatnya dan perlahan rambutku terurai serta tubuhku yang melayang ke udara secara perlahan lahan, dengan seekor buru phoenix yang mengepakkan sayapnya di angkasa tepat di atas kepalaku.


Aku angkat tanganku dan api muncul begitu saja diatas telapak tanganku, aku bisa merasakan kekuatan yang sangat luar biasa ini.


Tanpa basa basi lagi aku langsung melemparkan api itu ke arah sebuah makhluk bayangan hitam yang mencengkram Angel.


Tangan-tangan bayangan hitam itu perlahan menghilang dan Angel ambruk jatuh ke tanah dengan keadaan yang lemah serta nafas yang menderu, sedangkan kini Mauren langsung berbalik ke arahku dan dia menujukan aku sebagai sasarannya.


Tangannya terangkat dan bayangan hitam muncul kembali menyeruak dari belakang tubuhnya, tangan panjang itu kembali berbentuk seperti semula dan dia mulai merambat seperti akar yang menjalar mendekatiku, namun dengan cepat aku menangkisnya menggunakan tameng pelindung dari api yang ku buat.


Aku berusaha keras menahan tekanan dari tangan bayangan itu, namun sayangnya energiku tidak cukup kuat hingga tameng yang ku buat perlahan retak dan kekuatanku mulai tidak stabil.


"Hah...ada apa ini, kenapa begini?" Gerutuku mulai merasa cemas.


Kekuatan di tubuhku terasa sangat besar dan luar biasa namun aku tidak bisa mengendalikannya dengan baik sehingga kekuatan itu terasa semakin lemah sedikit demi sedikit, aku berusaha mempertahankan posisiku meskipun tangan bayangan itu semakin kuat menekan tameng api yang aku buat.


"Ahahaha....tameng kecilmu itu tidak akan mampu menahan kekuatan bayanganku!" Ucap Mauren dengan tawa yang menggelegar.


Ku angkat tanganku yang satunya dan berusaha melepaskan Pelik dari belenggu bayangan yang mengikat inti ruh nya, aku berusaha menggapai Pelik meski itu terasa sangat sulit, hingga aku tidak memiliki pilihan lain, aku terpaksa harus meminta bantuan pada burung phoenix yang ada diatas kepalaku, meski aku tidak tahu burung apa itu sebenarnya dan dari jenis makhluk apa dia berasal.


"Phoenix bantu aku selamatkan Pelik!" Teriakku dengan menahan tamengku sekuat tenaga.


Tiba-tiba saja yang tidak aku sangka burung phoenix itu menuruti perintahku, dia mulai mengepakkan sayap dengan api di sekujur tubuhnya langsung terbang menghampiri Pelik dan hanya dengan satu kepakan sayap bayangan hitam di belakang tubuh Mauren yang merambat seperti akar serta membelit tubuh Pelik perlahan terbakar dan hanya terdengar teriakkan Mauren yang menjerit sangat kencang, tangan hitam yang tadi menyerang dinding pertahananku juga perlahan melemah, dan aku bisa melawannya dengan cepat.


Ku kerahkan kekuatanku memanfaatkan keadaan dan mendorong tangan bayangan itu ke belakang, hingga akhirnya aku bisa terbebas dan kembali turun menginjak bumi lagi, namun ku lihat burung phoenix itu memancarkan cahaya api yang sangat besar dan seakan dia tengah membakar inti jiwa ruh jahat di dalam tubuh Mauren, Pelik juga sudah bebas dan dia bergabung denganku.

__ADS_1


"Aaarkhhh....tidak....panas....panas!" Teriak Mauren menjerit kepanasan.


Aku dan Pelik hanya menatap dengan penuh keheranan antara takjub dan kaget melihat burung phoenix yang sangat kuat bahkan bisa membakar inti ruh jahat dengan cepat, tapi tiba-tiba saja Mauren menghilang di dalam kobaran api yang di hembuskan dari mulut burung phoenix itu, aku kaget dan awalnya aku pikir Mauren musnah.


"Apa.... Diaman Mauren?, Tidak dia tidak boleh musnah" ucapku kebingungan dan merasa panik tidak menentu.


Perlahan burung phoenix itu mengecil dan dia terbang menghampiriku lalu masuk ke dalam dadaku begitu saja dan aku tidak bisa merasakan apapun sama sekali selain rasa lelah yang membuat tubuhku tidak sanggup berdiri.


"Dup....ahhh.... Bu...burung itu, dia masuk ke tubuhku?" Ucapku dengan gugup dan menatap kebingungan pada Pelik,


"Emely aku rasa burung tadi adalah inti kekuatan spiritual mu" ucap Pelik sambil membantuku berdiri.


Aku masih kebingungan dan tidak mengerti dengan semua kejadian aneh yang baru saja terjadi, dan anehnya saat semua sudah kembali normal semua orang yang ada disekitar jalanan itu masih beraktivitas seperti biasanya, dan Angel perlahan bangkit menghampiriku sambil memegangi lehernya yang pasti terasa sakit.


Dia terlihat begitu syok dan ketakutan, dia juga terus bertanya-tanya kepadaku tentang apa yang baru saja terjadi kepada dia.


"Tenangkan dirimu, aku akan menjelaskan semuanya" ucapku kepadanya dan Angel masih tetap ketakutan.


Aku masih memeriksa ke sekeliling jalanan itu, tidak ada bangunan yang rusak ataupun bekas perkelahian yang terjadi disana, padahal sudah jelas aku tadi sempat melemparkan bola api ke dinding salah satu bangunan yang ada disana, namun semuanya baik-baik saja, dan orang-orang disekitar sana bersikap terlalu normal, mereka seperti tidak melihat apa yang barusan terjadi kepadaku dan Angel.


Disaat aku kebingungan Devano baru muncul bersama Anita, dan Pelik langsung menghilang tepat ketika Devano tiba, lebih parahnya lagi Pelik pergi tanpa memberiku aba-aba terlebih dahulu sehingga aku langsung hampir jatuh ke tanah, untunglah Devano dengan cepat menangkap tubuhku dan dia langsung menggendongku begitu saja.


"Eehh...hey, turunkan aku apa yang kau lakukan?" Bentakku merasa heran,


Aku tidak ingin dia menggendongku dihadapan Anita dan Angel sehingga membuat dua wanita itu akan menaruh curiga terhadapku.

__ADS_1


Tetapi Devano tetap tidak mendengarkan ku dia langsung membawaku pergi begitu pula dengan Angel yang dipapah oleh Anita, karena jalanan itu dekat dengan rumahku sehingga terpaksa aku harus menerima mereka berkunjung sejenak ke rumahku untuk beristirahat dan menenangkan diri mereka terlebih dahulu.


Devano mendudukkan aku di salah satu sofa panjang yang ada di dalam rumahku, Anita dan Angel juga ikut masuk ke dalam.


"Maaf ya rumahku hanya sebentar ini dan tidak ada yang bisa aku suguhkan untuk kalian" ucapku pada mereka,


"Tidak masalah Emely tapi bisakah sekarang kamu menjelaskan semuanya pada kami?, Apa yang terjadi dengan Mauren sebenarnya, apa dia semacam kesurupan?" Tanya Anita dengan penasaran,


"Heh, bisakah kalian tidak mendesaknya apa kalian tidak lihat dia begitu lemah sekarang" bentak Devano memarahi mereka berdua.


Aku menahan Devano untuk membuat keributan, sebab ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukan hal semacam ini lagi.


"Cukup, Devano mereka berhak tahu apa yang terjadi dengan mereka barusan dan biarkan aku menjelaskannya" ucapku sambil mengangguk memberikan kepercayaan kepada Devano.


"Apa kau yakin akan memberitahu mereka?" Tanya Devano dengan sorot mata yang tajam,


"Memangnya bagaimana lagi cara kita untuk menyembunyikan semuanya dari mereka, mereka sudah melihat semuanya cukup jauh mereka sudah tahu siapa aku" ucapku kepada Devano sampai akhirnya Devano hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan lesu.


Aku mengerti Devano hanya takut identitas kami sebenarnya akan terbongkar dan mungkin jika mereka mengetahui siapa aku sesungguhnya, mungkin mereka tidak akan mempercayai sepenuhnya bahkan ketika sudah melihat apa yang terjadi hari ini, dan yang ditakutkan olehku serta Devano adalah takut mereka akan menyebarkan berita ini kepada semua orang.


Maka dari itu sebelum memberitahu yang sebenarnya aku meminta mereka berjanji terlebih dahulu kepadaku dan dihadapan Devano sebagai saksi.


"Aku akan memberitahu kalian tapi kalian harus berjanji untuk merahasiakan semua ini dari orang luar, dan hanya kalian yang bisa mengetahuinya" ucapku dengan tatapan serius.


Anita dan Angel langsung saling tatap satu sama lain lalu mereka kembali menatap ke arahku dengan menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapanku.

__ADS_1


"Baik kami berjanji tidak akan memberitahunya pada siapapun" ucap Angel dengan wajah yang sungguh-sungguh.


__ADS_2