Emely Sang Penakluk

Emely Sang Penakluk
Mengobati Vayu


__ADS_3

Aku bisa melihat dari atas bagaimana Vayu harus terbang melewati pepohonan dengan berkelok-kelok sebab para makhluk itu mengejarnya dengan brutal bahkan mereka terus melemparkan bebatuan serta mengarahkan anak panah kepad Vayu saat itu, sedangkan aku sudah melarang Vayu untuk tidak mengeluarkan kekuatannya.


Sebab jika dia mengeluarkan kekuatan dia di hadapan para makhluk itu maka identitas nya sebagai penguasa elemen akan di ketahui oleh mereka, itu akan menjadi lebih berbahaya lagi nantinya.


Melihat beberapa orang makhluk menyeramkan itu terlihat mulai mengambil anak panah dari belakang punggungnya dan panah itu mulai di arahkan tepat menuju Vayu saat itu, aku bisa melihatnya dengan jelas dan di saat anak panah itu mulai di luncurkan aku langsung saja berteriak memanggil nama Vayu untuk segera menyingkir dari tempat itu, namun aku sendiri juga tahu bahwa waktunya tidak akan cukup untuk menghindar.


"Oh tidak dia dalam bahaya...." batinku saat itu ketika melihat sang makhluk menyeramkan mulai menarik panahnya.


"Vayu.... Awas!" Teriakku sangat kencang terhadapnya dan aku langsung saja menari tangan Vayu dengan cepat dan membawanya terbang denganku.


Dia hanya menatap aku dengan tatapan yang kaget dengan terbelalak lebar, jelas Vayu mungkin merasa sama kagetnya ketika melihat aku tiba-tiba saja muncul dan menarik dia, aku terbang terus keatas membawa Vayu setinggi tingginya hingga menembus awan karena aku pikir hanya itulah satu-satunya cara untuk menghilangkan jejak kami berdua dari para makhluk menyeramkan itu, sebab mereka tidak mungkin bisa terbang dan mereka juga tidak akan bisa meluncurkan anak panahnya kepada kami secara tepat sasaran sebab tubuh kami yang terhalang oleh awan dan mungkin pandangan mereka akan kabur dengan hal tersebut.


Anak panah yang tadi langsung saja mengenai salah satu pohon yang ada disana dan Vayu langsung menatap penuh bertanya-tanya kepadaku saat itu.


"Emely bagaimana kau bisa ada disini bagaimana dengan Erebus?" Tanya Vayu terhadapku.


Dia memang orang yang sangat baik hati, bisa-bisanya dia malah menanyakan keadaan Erebus disaat dirinya hampir saja mati sebab di panah oleh makhluk sialan itu, aku sangat mencemaskan dia tapi dia malah mencemaskan orang yang salah seperti Erebus aku sangat kesal dan tidak bisa berhenti marah terhadap dia.


"Vayu jangan bicarakan tentang dia lagi, aku benci dengannya. Sudah aku rasa para makhluk itu tidak terlalu menyeramkan sekarang, kita harus segera pergi menuju perbatasan" balasku kepadanya saat itu.


Vayu mengangguk dan dia terlihat sangat lemah, aku tahu dia mengeluarkan banyak sekali energi di dalam tubuhnya karena terus saja harus terbang dan menggulung angin di dalam tubuhnya sampai harus terbang berkelok-kelok untuk mengalihkan fokus makhluk menyeramkan tadi sebelumnya.


Aku langsung terbang melesat dengan cepat menuju perbatas, dan aku bahkan tidak berani terbang merendahkan saat itu, sebab aku masih takut akan keberadaan makhluk menyeramkan dan sangat sadis seperti itu.


Hingga sampai di tempat yang aku kenali dan aku benar-benar sudah merasa aman saat itu, barulah aku merasa nyaman dan tenang, aku segera merendahkan cara terbangun dan aku langsung saja mendarat di bibir hutan yang terlihat terdapat sebuah dinding transparan, aku langsung memapah Vayu dan segera saja kami masuk melewati dinding transparan pembatas tersebut, tubuh kami langsung saja terasa tersedot ke dalam saat itu sambil berpelukan dengan Vayu saat itu hingga kami akhirnya sampai dan menembus keluar kembali dari pohon yang besar dan hitam itu.


Saat kami keluar dari sana langsung saja kami di sambut oleh teman-teman yang lain, nampak mereka sudah ada disana dan langsung mendekati aku juga memapah Vayu dariku secepatnya, karena mereka mungkin tahu dan melihat secara langsung bahwa Vayu sangatlah lemah dan tidak berdaya saat itu.


"Ya ampun, Vayu... Emely apa yang terjadi dengan kalian?" Ucap Arshaka yang menjadi orang pertama langsung menghampiri Vayu dan membantunya untuk segera duduk beristirahat disana.


Sedangkan disisi lain Devano juga segera mendekati aku dan langsung membantuku untuk duduk dengan pelan, aku juga melihat bagaimana Devano sangat mencemaskan aku saat itu.


"Emely apa kau baik-baik saja, kenapa kau malah baru keluar sekarang apakah kau terluka mana yang sakit, biarkan aku mengobati mu secepatnya" ujar Devano kepadaku saat itu.


Aku hanya bisa tersenyum pelan melihatnya dan aku sangat senang melihat dia bisa bersikap seperti itu kepadaku, aku senang ketika melihat dia selalu mencemaskan aku.

__ADS_1


"Devano sudah....sudah, aku baik-baik saja kau seharusnya mengobati Vayu, lihatlah dia lebih lemah dariku dan dia bahkan hampir mati terpanah oleh makhluk menyeramkan itu sebelumnya, kau harus segera mengobati dia dan berikan saja buah ajaib itu kepadanya aku baik-baik saja" balasku kepadanya saat itu.


Aku merasa energiku akan kembali pulih nantinya setelah beberapa saat, tapi aku tahu Vayu yang paling berpengaruh besar selama proses pencarian selama ini, jadi aku harus menyuruh Devano untuk mengobatinya agar dia kembali pulih dan memakan buah ajaib itu untuk mengembalikan seluruh energi di dalam tubuhnya.


Walau aku sudah memintanya seperti itu tetapi tetap saja Devano malah memegangi tanganku dengan erat dan dia terus saja menatap aku dengan lekat. Wajahnya yang sangat mencemaskan aku begitu menggemaskan bagiku, aku sangat senang dan tidak bisa menahan senyumku yang lebar ketika melihatnya, dia begitu menggemaskan dan sangat membuat aku terus tersenyum lebar dengan tingkahnya yang selalu berlebihan seperti itu.


"Tapi Emely aku tahu kau juga lemah saat ini, biarkan aku mengobati kamu juga yah" ucap Devano kepadaku saat itu,


"Devano kau ini kenapa sih, selalu saja mencemaskan aku berlebihan, jangan seperti itu aku baik-baik saja memangnya kau lupa seberapa kuatnya diriku, aku tidak sama dengan manusia biasa aku lebih kuat kau harus segera menyembuhkannya atau aku akan mengetuk kepalamu sangat keras, apa kau mengerti!" Ucapku membalasnya dengan tegas,


"Ba..baiklah tapi aku akan tetap mengobatimu setelah aku selesai dengan Vayu dan kau tidak bisa menolak keinginan aku lagi" balas nya yang masih saja keras kepala denganku.


Aku tidak bisa menahan tawaku lagi dan langsung saja mengangguk kepadanya agar dia tidak banyak bicara lagi saat itu.


"Sudah cepat obati Vayu dia sangat lemah kita juga harus segera mencari jalan keluar dari tempat yang panas dan tandus ini" balasku kepadanya.


Dia pun langsung mengangguk patuh dan segera saja mendekati Vayu yang duduk dengan lemas namun masih bisa tersenyum menatap ke arah Devano saat itu, sedangkan Devano hanya menatapnya dengan wajahnya yang terlihat masih mencemaskan Emely bahkan disaat tangannya sudah menyentuh tangan Vayu, tapi wajahnya terus melirik ke arah Emely hingga membuat Vayu langsung menyadarkan dia.


"Devano kau harus fokus saat mengobatiku jangan sampai kau malah membuat aku semakin sakit, kau ini mengobati aku tapi malah menatap Emely apakah kau gila?" Ucap Vayu sengaja menggodanya dan membuat Devano kesal agar dia segera menatap ke arah wajahnya saat itu.


"Aaaakkkkk.... Devano kau ini yang benar saja, bisa mengobati atau tidak sih, itu sakit!" Bentak Vayu dengan kesal dan membelalakkan matanya kepada Devano saat itu,


"Hah... Rasakan saja itu, siapa suruh kau malah menantang aku dan meremehkan kekuatanku, meski aku lemah secara pisik satu kekuatan aku di dalam lebih kuat dari milikmu, aku bisa mengobati semua orang dan masih baik-baik saja, apakah aku tidak kuat hah!" Balas Devano kembali membentak dan lagi-lagi dia menekan kekuatan yang dia miliki ke dalam tubuh Vayu.


Hingga membuat Vayu kembali meringis menahan sakit cukup kuat.


"AA..aaa..aaahhh Devano hentikan kelakuanmu itu, aaishhh kau mau aku hajar yah?" Balas Vayu dengan emosi yang menggebu.


Devano terlihat tersenyum kecil dan merasa cukup puas karena dia pikir dia sudah berhasil melampiaskan dendamnya kepada Vayu sebab selama ini Vayu selalu dekat dengan Emely dan itu sering kali membuat dirinya merasa kesal sebab dia tidak bisa mendekati Emely lagi karena adanya banyak rekan yang kini bersama dengan dia dalam perjalanan tersebut, termasuk Vayu yang selalu terbang dengan Emely dan itu membuatnya iri pada Vayu sebab Devano sendiri tidak bisa terbang sama sekali.


"Sudah diam jangan manja kau, sebentar lagi juga akan selesai, kau kau seorang pria tahan saja rasa sakitnya" balas Devano memberitahu Vayu.


Saat itu Vayu sendiri tahu bahwa Devano sengaja melakukannya, membuat dia merasakan sakit dalam proses penyembuhan yang di lakukan oleh Devano saat itu, padahal Vayu juga tahu bahwa Devano bisa mengobati dirinya dengan lebih baik dan tanpa merasakan rasa sakit yang menekan seperti ini.


"Aahh.... Kau benar-benar membuat aku kesal Devano, awas saja kau" ancam Vayu merasa kesal karena terus di permainkan oleh Devano saat itu.

__ADS_1


Sayangnya Devano tetap saja keras kepala dan dia sama sekali tidak perduli dengan apapun yang dikatakan oleh Vayu dia tetap saja mengobati Vayu dengan sesuai keinginannya sendiri, hingga akhirnya proses penyembuhan itu selesai dan Devano segera memberikan separuh buah ajaib kepada Vayu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Emely namun saat itu Emely memintanya memberikan satu, tapi Devano hanya memberikannya separuh.


Dan separuhnya lagi dia berikan kepada Emely karena dia masih mencemaskannya.


"Emely buka mulutmu" ucap Devano begitu saja tepat setelah dia baru saja selesai mengobati Vayu saat itu.


Aku yang melihat Devano menyuruhku tiba-tiba untuk membuka mulut, tentu saja aku merasa bingung saat itu, karena dia terlihat aneh dan aku juga sama sekali tidak tahu apa yang akan dia lakukan jika aku membuka mulutku, karena itu aku tidak membuka mulutku begitu saja sehingga aku langsung saja bertanya kepadanya.


"Untuk apa aku membuka......." Ucapku tertahan karena Devano yang tiba-tiba saja langsung memasukkan buah ajaib itu ke dalam mulutku secara langsung.


Aku terbelalak kaget merasakan buah ajaib masuk ke dalam mulutku dan Devano langsung saja menyuruh aku untuk memakan buah itu secepatnya.


"Kenapa menatap aku seperti itu? Ayo cepat kunyah dan makan dengan cepat" ucapnya seperti itu kepadaku.


Aku terpaksa langsung saja mengunyah buah tersebut dan tentu saja menelannya karena sudah terlanjur ada di dalam mulutku saat itu.


Setelah aku menelannya tubuhku terasa lebih bugar dan saat melihat ke arah Vayu ku lihat dia juga terlihat sudah cukup membaik, aku merasa turut senang ketika melihatnya sudah membaik sekarang dan aku segera saja kembali menatap ke arah Devano yang menyebabkan aku harus tiba-tiba memakan buah ajaib itu sebelumnya.


"Devano apa yang kau lakukan kepadaku, kenapa kau malah memberikan aku obat ajaib itu, bukankah aku sudah bilang bahwa buah buah itu untuk Vayu, apa kau tidak mendengarkan ucapanku?" Bentakku kepadanya dengan menatap tajam saat itu.


"Tenang dulu jangan langsung menatapku seperti itu, aku memang sudah memberikannya kepada Vayu tapi itu hanya separuh, dan sisanya aku berikan kepadamu, aku tahu kau pasti akan menolak aku ketika akan mengobatimu jadi aku memberikan buah ajaib itu padamu" balas Devano yang membuat aku kaget ketika mendengarnya.


Aku sama sekali tidak menduga bahwa Devano akan melakukan hal seperti itu, dia ternyata benar-benar perduli kepadaku dan dia sepertinya memang sudah sedikit memahami aku secara perlahan.


Aku langsung saja tersenyum kepadanya saat itu dan langsung saja Devano malah tersenyum luas kepadaku begitu saja.


"Ehhh... Ada apa denganmu kenapa tersenyum senang seperti itu?" Tanyaku kepadanya karena merasa sedikit heran dengan senyuman yang di berikan eh Devano kepadaku saat itu,


"Ahhh.... Tidak papa kok aku hanya senang saja melihatmu tersenyum seperti itu kepadaku, itu hal yang menyenangkan untukku, ayo bangun kita harus melanjutkan perjalanan kita bukan?" Balas Devano yang tiba-tiba saja terlihat lebih dewasa dari biasanya.


Aku pun menerima uluran tangannya karena aku tahu dia pasti akan kesal jika aku tidak menerima uluran tangan darinya, aku segera bangkit dan berdiri di samping Devano hingga Avan mulai bertanya kepadaku mengenai apa yang sebenarnya terjadi saat itu.


"Emely aku masih sangat penasaran dengan apa yang terjadi mengapa kau bisa terlambat, dan kenapa Erebus terlihat diam dan murung sedari tadi, apakah ada sesuatu yang terjadi diantara kalian tanpa sepengetahuan kami semua?" Tanya Avan yang memang selalu peka dengan situasi dan keadaan.


Saat mendengar pertanyaan tersebut darinya aku hanya bisa terperangah dan bingung bagaimana cara menjelaskan apa yang akan harus aku katakan kepada mereka saat itu.

__ADS_1


Aku menjadi sedikit bingung apalagi disaat melihat wajah Erebus yang terus tertunduk dan terlihat sangat bersalah saat itu, aku tahu betul bagaimana perasaan dan aku sendiri bahkan masih merasa kecewa terhadap dia tapi aku juga sama sekali belum mendengarkan penjelasan yang sebenarnya kepada dia saat itu, jadi aku pun berusaha untuk mengesampingkan rasa kecewa dan kekesalan dirimu kepadanya.


__ADS_2