
Aku sudah kelimpungan dan merasa sangat malu karena tidak bisa membayar semua belanjaan yang cukup banyak, disaat aku tengah berniat untuk mengembalikan semuanya dan memilih tidak jadi membeli tiba-tiba saja Devano muncul entah dari mana dan dia membayar semuanya.
"Eumm...mbak...itu...bisa.." ucapku dengan gugup,
"Ini mbak saya yang bayar tolong ditambahkan dengan punya saya" ucap Devano sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku,
"CK...apa apaan dengannya ini, apa dia bersikap seperti pahlawan, menjijikan" gerutuku kesal.
Setelah semua belanjaanku di pindahkan aku segera keluar dari sana dengan perasaan kesal dan bercampur aduk tidak menentu, hingga ketika sudah berada di luar aku segera berbicara kepadanya.
"Ayo ikut ke rumahku aku akan membayar uangmu tadi."
"Tidak usah anggap saja sebagai hadiah perkenalan kita, dan kau harus menjadi temanku bagaimana?" Balasnya memanfaatkan situasi,
"Tidak, aku akan membuatmu besok di sekolah, sampai jumpa" tambahku dan langsung pergi meninggalkannya.
Dia sangat menjengkelkan dan setiap kali bertemu dengannya aku selalu merasa kesal, dia mungkin memiliki keahlian sama denganku bisa melihat makhluk yang kasat mata tetapi karakternya itu sungguh bukan tipe ku.
Aku berjalan dengan menundukkan kepala membawa kantung kresek di tangan sebelah kanan dan memasukkan tangan kiriku ke dalam saku depan hoodie milikku, tidak lupa aku selalu memakai kupluk kemanapun atau masker di wajah agar menutupi banyak tanda lahir di wajahku.
Bukannya aku tidak percaya diri dengan kondisi fisikku tetapi aku meminimalisir agar tidak ada orang yang menyakiti hatiku saat berjalan di tempat umum.
__ADS_1
Karena tidak sedikit orang yang sering melempariki dengan kotoran atau bekas botol minum secara tiba-tiba karena mereka takut atau kaget saat tidak sengaja melihat wajahku yang seperti ini, bahkan mereka sering mengatakan perkataan yang menyakitkan untuk aku dengan seperti menghinaku dengan sebutan gadis buruk rupa, iblis atau bahkan meneriaki hantu.
Jujur saja sejutek dan se bodoamat apapun aku dalam menanggapi semuanya namun hatiku tetap tidak dapat dibohongi bahwa aku juga manusia biasa sama seperti mereka yang memiliki hati dan tentu saja bisa merasakan sakit hati dan menangis, sejak kecil aku selalu di didik sangat keras oleh nenekku dia selalu mengajarkan aku agar menjadi gadis yang kuat.
Nenek juga selalu bercerita bahwa ibuku sangat menyayangi aku hanya saja nenek sendiri yang lebih menginginkan aku karena kemampuanku ini tidak akan bisa diimbangi oleh ibuku, ketika nenek masih ada rasanya aku selalu kuat, dan tidak terlalu takut dengan dunia luar namun kini ketika nenek pergi aku merasa hampa dan aku tidak bisa melihatnya lagi untuk selamanya.
Bahkan ketika aku memiliki kemampuan spiritual seperti ini, semua sudah kehendak tuhan yang maha kuasa, aku hanya manusia yang diberikan sedikit keistimewaan diantara kekurangan yang aku miliki di dunia ini, saat mengingat masa lalu rasanya aku tidak bisa menahan air mataku aku menangis tanpa suara dan hanya air mata yang keluar dengan perlahan dari mataku secara perlahan-lahan namun pasti.
Hingga ketika sampai di depan rumah sewaanku aku langsung segera menghapus air mataku dan berusaha menyegarkan wajahku agar Pelik tidak mencurigai sesuatu kepadaku, setelah kurasa aku sudah kembali lebih baik aku segera masuk ke dalam rumah dan rupanya Pelik tidak muncul kali ini, aku merasa jauh lebih lega dan segera membereskan semua barang belanjaan ke dalam lemari es serta menyusunnya dengan rapih.
Ku ambil sebuah botol minuman soda dan aku berjalan sambil membukanya di dekat jendela, aku meminum dalam satu tegukan sambil menatap jauh ke luar sana.
Niat awalku datang ke kota yang jauh ini untuk mencari keberadaan kedua orangtuaku dan seorang guru yang diamanatkan oleh nenekku, tapi aku justru malah terlibat dengan misteri di sekolah, dan aku hampir saja mati sia-sia disaat aku sama sekali belum memulai untuk mencari keberadaan kedua orangtuaku.
Benar-benar kehidupan yang tragis, aku mengambil ponselku dan aku melihat notifikasi dimana aku sudah di masukkan ke dalam gruf ruang kelas A oleh Mauren, aku pun mengetahui dia sudah sadar dan mungkin dia sudah jauh lebih baik saat ini karena bisa memegangi ponselnya.
Jika ditanya aku takut atau tidak tentu saja aku takut, karena lawanku bukan makhluk biasa tetapi seorang ruh jahat yang memanfaatkan tubuh Mauren karena dia memiliki dendam yang sangat besar, bahkan ketika dia sudah membunuh satu orang teman yang pernah membuatnya sakit hati. Tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun esok hari aku masih akan bertemu dengannya dan masih harus menghadapinya yang mungkin sekarang akan lebih memperhatikan aku.
Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku pening, hingga tiba-tiba Pelik muncul lagi dan dia memberikan sebuah kalung kepadaku.
"Kalung?, Milik siapa ini?" Tanyaku dengan heran,
__ADS_1
"Ini kalung peninggalan ibumu, saat kamu diambil oleh nenek 17 tahun silam, kamu sudah memakai kalung ini dan aku rasa ini bukan kalung biasa, nenek sempat membuangnya karena dia membenci ibumu sebab dia telah membuangmu sebelumnya, makanya aku memungut kalung ini karena aku pikir kamu akan membutuhkannya agar bisa bertemu dengan ibumu lagi, sekarang ini aku kembalikan karena nenek sudah tidak ada dia tidak akan mencoba untuk membuang kalung itu lagi, dan kau harus menjaganya dengan baik" ucap Pelik memberitahuku segalanya.
Aku tertegun karena baru mengetahui mengenai hal ini, ku ambil kalung itu dan segera aku pakai, melihat liontin kristal meras yang menyala membuatku terasa lebih berenergi dan semakin bersemangat untuk mencari kedua orangtuaku lagi, aku merasa jauh lebih kuat setelah memakai kalung itu dan tidak berselang alam kalung itu memancarkan cahaya merah di sekeliling tubuhku, aku dan Pelik kaget saat melihatnya dan di saat Pelik hendak menyentuhnya cahaya yang terlihat seperti sebuah dinding perisai itu menghilang.
"Pelik cahaya apa itu tadi?" Tanyaku dengan mata yang membulat sempurna,
"Itu sihir pelindung, dan itu sangat kuat" balas Pelik mengetahuinya.
Aku pikir dia juga tidak tahu apa apa karena tadi dia terlihat sama kagetnya denganku namun ternyata dia lebih mengetahui segalanya dibandingkan aku.
Dia memang pantas disebut lebih tua dariku, tidak sia-sia aku menghabiskan banyak waktu bersamanya selama ini.
"Sihir Pelindung?, Memangnya ada hal seperti itu di dunia ini?" Tanyaku dengan heran,
"Bodoh memangnya kau pikir nenek dan ibumu itu siapa, mereka itu penyihir handal dan mereka istimewa karena sudah terlahir dengan kemampuan supranatural sepertimu, bedanya mereka denganmu mereka sudah ahli dan bisa mengendalikan semua yang mereka miliki, sedangkan kau sama sekali belum menguasai apapun kau hanya bisa menaklukan makhluk saja itupun masih harus dengan bantuanku untuk memancing kekuatanmu keluar, sungguh lemah" ucap Pelik meremehkan kemampuanku,
"CK....kau mau menjelaskan atau menghinaku?" Balasku sedikit kesal,
"Ya dengan pelindung itu ibumu mungkin sengaja memberikan sihir itu kepadamu agar kau terlindungi dan aku yakin hanya ibumu yang bisa melihat perisai yang dia buat sendiri bahkan kita saja hanya bisa melihatnya sekali, iya kan" tambah Pelik menjelaskan.
Aku hanya mengangguk paham, dan aku menjadi jauh lebih tenang setelah memakai kalung pemberian dari ibuku ini.
__ADS_1