
Aku sangat kaget dan marah, aku langsung berbalik melihat ke arah Devano yang sibuk membentak Pelik dan melontarkan kata-kata yang kasar kepadanya, aku tahu betul bagaimana sifat Pelik dia mulai kesal dan aku bisa melihat wajahnya yang menahan emosi, tiba-tiba saja Pelik langsung mengikat disaat aku berusaha untuk menghentikan dia.
"Oh.... Tidak, jangan katakan itu, Pelik....Pelik tunggu kau tidak boleh pergi Pelik....." Teriakku sangat keras namun semua sia-sia karena Pelik sudah menghilang.
Aku sangat cemas dan tidak tahu kemana harus mencari keberadaan Pelik, saat melihat wajah Devano yang masih terlihat tenang dan kesal pada Pelik aku sungguh ingin menghajarnya saat itu juga, tapi aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran kepada orang sepertinya, aku langsung menghampirinya dan memukul perutnya dengan kuat hingga dia jatuh tersungkur ke lantai.
"Bughh...." Satu pukulan yang tepat mengenai perut Devano,
"A..aaahkk... Emely apa yang kau lakukan?" Tanyanya sambil berusaha bangkit dan meringis kesakitan.
Aku berjalan dengan perlahan menghampiri dia dan langsung mencengkram kerah bajunya dengan kuat.
"Kau.... Beraninya kau menghina PELIK!" Teriakku sangat kencang hingga membuat rumah itu bergetar.
Angel dan Anita hanya bisa menatap dengan ketakutan, mereka bingung harus melakukan apa karena mereka juga tidak mengerti apapun tentang semuanya.
"E... Emely lepaskan aku, kau tidak mungkin akan melenyapkan aku hanya karena makhluk tidak berjiwa itu kan?" Ucap Devano yang semakin membuatku marah,
"Sekali lagi kau bilang Pelik makhluk tidak berjiwa, aku akan benar-benar melenyapkan mu Devano, dan ini bukan peringatan tapi ancaman bagimu!" Ucapku dengan mata yang melotot dan berubah menjadi merah cerah.
Aku bisa merasakan Devano yang bergetar takut dan aku masih tidak bisa memaafkan kesalahannya yang fatal terhadap Pelik, sehingga aku terus mengangkatnya dengan kuat hingga dia melayang ke udara dan kakinya semakin jauh dari tanah.
"Kau...sudah membuat sahabatku pergi, kau harus membayarnya!" Bentakku mulai tidak terkendali.
Aku tidak sadar jika aku sudah hampir membuat Devano kehilangan nyawanya, untung saja saat itu aku segera tersadar.
__ADS_1
"Lepaskan, Emely aku tahu ini bukan kau, Emely ini aku....aku Devano aku tidak jahat Emely!" Ucap Devano yang langsung membuatku kembali sadar dan mataku kembali normal seperti semula.
Aku langsung menjatuhkan Devano dalam sekejap dan dia jatuh cukup keras ke lantai.
"Aaa...brukkk...." Suara Devano yang jatuh lagi ke lantai.
"Aduhhh..... sakit sekali" ringin Devano sambil memegangi pinggulnya yang sakit,
"Astaga.... Devano apa kau baik-baik saja, maafkan aku, tadi aku sungguh kehilangan kendali" ucapku merasa bersalah dan segera membantunya berdiri,
"Emely, kau ini kenapa sih, tadi kau seperti kerasukan setan dan hampir membuatku terbunuh di tanganmu" ucap Devano membuatku membesarkan netra mataku dengan cepat.
"A...apa...aku, aku seperti kerasukan?" Tanyaku padanya dengan heran dan kebingungan.
Disisi lain aku mulai merasa takut, aku takut apa yang dikatakan oleh Pelik sebelumnya adalah sebuah kesalahan dan apa yang dikatakan oleh Devano adalah kebenaran, aku hanya takut jika di dalam diriku terdapat makhluk jahat yang menguasainya aku takut akan menjadi seperti Mauren, saat mendengar itu aku langsung berlari keluar untuk mencari Pelik dan menanyakan lagi kepada dia untuk memastikan semuanya.
"Emely tunggu, kau mau kemana?" Ujar Angel dengan menahan tanganku,
"Aku harus pergi untuk mencari makhluk penjagaku karena dia juga sahabatku" ucapku dengan jujur,
"Jangan Emely diluar sangat berbahaya, Mauren bisa datang kapan saja dan bisa menyerangmu dimana saja, jika sampai itu terjadi aku hanya khawatir kau akan terluka karena Mauren sangat kuat dan dia jahat" ucap Angel menyadarkan aku.
Aku langsung tertunduk dan kembali berjalan ke dalam lalu duduk di sofa bersampingan dengan Devano yang masih kesakitan.
"Heh, apa kau seperduli itu terhadap makhluk gentayangan sepertinya?" Tanya Devano yang langsung aku balas dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Dia masih saja tidak kapok meski aku sudah hampir membunuhnya karena mulut bodohnya itu.
"A...apa, kenapa kau melemparkan tatapan menyeramkan itu lagi?" Tanyanya dengan gugup,
"Aku peringatkan lagi padamu Devano, jangan menyebut Pelik sebagai makhluk gentayangan ataupun makhluk tanpa jiwa, dia membenci hal itu begitu pula denganku, kau tidak akan pernah tahu seberapa besar emosi seorang ruh, jika mereka marah mereka akan sangat berbahaya dan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, dan kau tahu kenapa Pelik menghilang setelah kau mengatakan itu?" Ucapku memberitahu dia segalanya,
"Mu...mungkin dia merajuk" balas Devano yang masih belum mengerti,
"Tidak, dia tidak merajuk tapi dia melindungimu dia mungkin pergi ke lautan atau ke gunung yang tinggi untuk melepaskan emosinya, atau bisa jadi dia meledak di angkasa bersamaan dengan emosi yang dia bawa karena ucapanmu, dia melakukan itu untuk melindungi orang-orang disekitarnya termasuk kau, orang yang menyebabkan emosinya tersulut, dia tidak ingin kau terluka karena emosinya yang tidak bisa dia kendalikan Devano, dia itu makhluk dia memang tidak berjiwa dia memang gentayangan tapi dia.....dia..." Ucapku tertahan dan aku merasa sangat sakit.
Aku sangat menyayangi Pelik hingga tidak terasa untuk pertama kalinya air mata keluar dari pelupuk mataku dihadapan mereka semua, aku dengan cepat mengusap air mataku dan berusaha menenangkan diriku sendiri dengan menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.
"Dia apa Emely?" Tanya Devano yang mulai penasaran,
"Dia memiliki hati dan perasaan yang sama seperti kita, dia juga ingin pergi ke alam baka dan melakukan reinkarnasi layaknya orang mati pada umumnya, tetapi dia tidak bisa, dia terkunci di dunia ini, dia tertahan oleh sesuatu dan dia sudah tinggal denganku dalam waktu yang sangat lama, aku yakin dia tengah bersedih sekarang, dan aku tidak ada di sampingnya" ucapku mengakhiri semua pembicaraan.
Akhirnya Devano mulai mengerti setelah aku membicarakan semuanya, dia mulai merasa bersalah kepada Pelik karena sudah melontarkan kata-kata yang terlampau kasar dan menyakiti hatinya terlalu dalam.
"Maafkan aku Emely aku tidak bermaksud menyakitinya" ucap Devano meminta maaf,
"Terlambat! Dan kau salah jika kau meminta maaf padaku, kau harus mengatakannya jika Pelik kembali, itupun jika dia akan kembali" ucapku sambil berjalan pergi meninggalkan Devano.
Aku masuk ke dalam kamarku dan mengunci pintu dengan rapat, aku langsung duduk di samping ranjangku dan memegangi kalung yang aku gunakan, itu adalah kalung peninggalan ibuku dan di berikan oleh Pelik baru-baru ini, aku berharap aku bisa memanggilnya dan membuat dia muncul kembali di hadapanku.
Aku sudah mencoba untuk memanggilnya beberapa kali tapi aku tidak berhasil, dia tetap tidak merespon panggilanku dan tidak terdengar sedikitpun suara Pelik, aku semakin mencemaskan dia dan tidak bisa berhenti memikirkannya.
__ADS_1
"Pelik ....datanglah Pelik, ini aku Emely aku sahabatmu, aku keluargamu, kita memiliki perasaan yang sama, kumohon Pelik kembalilah aku menyayangimu Pelik, aku mohon" ucapku terus memanggilnya namun semua nihil.
Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, ketika aku sudah berusaha memanggil dia sebisaku namun dia tetap tidak merespon kemungkinan Pelik terlampau sakit dan dia pasti akan pergi dalam waktu yang lama dan aku tidak tahu itu akan sampai kapan.