
Aku langsung menggelengkan kepala dengan kuat dan aku sangat yakin bahwa Devano tidak sama dengan seorang dokter, aku terus saja meyakinkan dia untuk bisa menyembuhkan dirinya sendiri saat itu.
"Kau bisa...kau tidak sama dengan dokter kau pemilik kekuatan penyembuhan kau harus bisa menyembuhkan dirimu" ucapku kepadanya,
"Emely tolong jangan menangis, aku tidak akan meninggalkanmu, sekarang kau kembalilah ke atas sana bantu kelimat teman kita, lihatlah mereka sudah terdesak hanya kau yang bisa mengalahkan iblis itu, pergilah Emely" ucap Devano yang justru malah terus meminta aku untuk pergi.
Meski Devano terus berkata kepadaku dan melarang aku agar tidak menangis saat itu, tetapi rasanya aku tetap saja tidak bisa berhenti mengeluarkan air mata dari pelupuk mataku sendiri saat itu, hatiku sakit dan aku yang selama ini tidak pernah menangis, pada akhirnya dinding pertahanan dalam diriku runtuh juga karena aku tidak bisa menahan diriku lagi, aku terus berusaha meminta Devano agar berhenti bicara karena aku sungguh tidak tega saat melihatnya terus meraung dan meringis kesakitan memegangi tubuhnya saat itu.
Juga darah segar yang terus saja memuncrat keluar dari mulutnya setiap kali dia terbatuk kala itu, aku sungguh tidak bisa menahan diri lagi ketika melihatnya dan dengan sekuat tenagaku dengan buah keajaiban yang pernah di berikan oleh Mbah Kerto dari hutan ilusinya aku segera memberikan buah itu kepada Devano dan berharap bisa membantunya untuk mempercepat penyembuhan luka di dalam tubuhnya saat itu.
"Tidak... Devano berhentilah bicara, kau akan sembuh makanlah ini, cepat kunyah buahnya Devano, makanlah jangan buat aku cemas seperti ini" ucapku kepadanya saat itu.
Devano hanya tersenyum menatap dengan matanya yang sudah setengah tepejam saat itu, dia tersenyum kecil kepadaku sambil berusaha mengunyah buah tersebut, dan aku tahu bahwa itu sulit untuk dia dalam kondisinya yang sangat menyedihkan seperti saat itu.
"Hiks ..hiks...hiks... Devano kau tidak boleh seperti ini, cepat sembuhkan dirimu" ucapku lagi sambil memegangi tangannya dengan erat.
"Emely apa kau juga menyukaiku?" Tanya dia kepada secara tiba-tiba saat itu.
Aku terdiam dalam waktu yang cukup lama, aku tidak tahu harus mengatakan apa kepadanya saat itu, karena aku memang nyaman dan menyayanginya, aku juga selalu merasa cemas kepadanya ketika dia dalam keadaan seperti saat ini, bahkan aku selalu merasa tidak terima disaat dia hanya terluka sedikit saja.
__ADS_1
Aku tidak ingin melihatnya bersedih ataupun sakit, aku selalu menyayangi dia dan aku tahu hanya dia yang selalu mengerti aku, melindungi aku bahkan tetap.di sampingku disaat banyak manusia lain yang menatap jijik dan menjauhi aku hanya karena tubuhku yang tidak normal seperti wanita pada umumnya.
"Devano apa kau gila jangan membahas masalah seperti itu di saat begini, kau harus fokus dan cepat sembuhkan dirimu" ujarku kepadanya saat itu.
Hingga tidak lama terdengar suara dentuman lagi yang sangat kencang dari belakang tubuhku saat itu dan ketika aku berbalik aku lihat Vayu terjatuh tersungkur ke tanah hingga membuat tanah itu terlihat retak saking kuatnya Vayu terjatuh saat itu.
"Boom!" Suara dentuman tersebut yang terngiang di kepalaku,
"Aaaaarrkkkkk....bretttssssss...." Suara Vayu yang jatuh menghantam jalanan dengan sangat keras.
Aku sangat kaget dan langsung membelalakkan mata ketika melihatnya dan aku juga masih bisa mendengar teriakkan teman-teman yang lain yang berteriak sangat kencang memanggil nama Vayu saat itu.
Aku hanya bisa melihatnya dengan tangan yang gemetar dan aku segera melepaskan Devano yang sudah terkulai lemah pada pangkuanku saat itu, matanya sudah benar-benar tertutup dan aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah tiada, aku sudah berusaha untuk menggoyangkan tubuh Devano dengan keras dan berteriak memanggilnya meminta dia untuk segera bangun saat itu, tapi sayangnya dia tetap memejamkan matanya dan tidak bergerak sedikitpun.
"Ohh... tidak Devano ada apa denganmu, bangun Devano, Devano bangun aku bilang bangun Devano!" Teriakku sangat kencang memanggilnya.
Aku sungguh langsung terkulai lemah dan putra mahkota dari dunia Avan itu dia segera menghampiri aku lalu menyuruh aku untuk membantu Vayu yang saat itu masih berada di bawah dengan lemah juga dalam bahaya karena iblis Abaddon itu tengah berusaha menghancurkannya juga.
"Emely sudah jangan hiraukan Devano aku akan menjaganya cepat kau selamatkan Vayu jika kau tidak ingin kehilangan salah satu temanmu lagi, dan fokuslah pada dirimu kau sudah memiliki kekuatan penyatuan dalam dirimu, ayo pergi Emely!" Ucap sang putra mahkota tersebut sangat serius menatap kepadaku dengan mengerutkan kedua alisnya saat itu.
__ADS_1
Pada awalnya aku terus menggelengkan kepala dan aku sangat tidak ingin untuk pergi ke sana aku tidak ingin meninggalkan Devano sendirian di tempat itu dan aku tidak mau melihatnya terus terkulai lemah seperti itu, karen aku tahu dia begitu karena menyelamatkan aku sebelumnya.
Tetapi disaat Mbah Kerto, kakek Tetua juga ibunya Arshaka juga menatap kepadaku dengan wajah mereka yang kelelahan dan sudah di penuhi banyak darah di sekujur tubuh mereka, aku seperti mendapatkan kekuatan lagi dan mereka mengingatkan aku tentang baik dan seberapa kuatnya teman-temanku yang lainnya, dan yang harus jaga bukan hanya Devano saja saat itu, melainkan seluruh penghuni dunia ini dan aliansi yang ada di bumi.
"Tidak.....aku tidak ingin meninggalkan Devano aku akan tetap disini sampai kapanpun, dia terlalu kuat aku sendiri bahkan tidak yakin apa aku sanggup melawannya atau tidak, lihat mereka saja yang melawannya bersamaan tidak sanggup apalagi aku yang melawannya sendiri nanti?" Bentakku kepada putra mahkota tersebut.
Dia langsung saja terdiam dan menatap dengan tatapan yang kecewa kepadaku, aku tahu dan sangat paham dengan apa yang dia rasakan, aku tahu dia kecewa terhadapku tetap dalam keadaan sedih dan terpuruk seperti ini, semua orang juga akan kehilangan semangat dalam dirinya, dan akan selalu terlihat lemas dan lesu sama seperti aku saat ini, aku tidak memiliki alasan lain lagi untuk bersemangat, apalagi untuk melawan iblis Abaddon yang memiliki energi juga kekuatan jauh di atasku seperti itu.
Aku hampir putus asa saat itu, dan aku sama sekali tidak keberatan jika aku yang akan di hancurkan oleh Abaddon lebih dulu, jika memang Devano dan Vayu juga teman yang lainnya sudah terkulai lemah dan satu per satu jatuh tersungkur dengan banyak luka di tubuh mereka seperti ini, aku tidak bisa melakukan apapun lagi sekarang dan hanya bisa pasrah saat melihatnya, hingga tidak lama Mbah Kerto dan ibunya Arshaka datang menghampiriku mereka menyentuh pundakku dengan pelan dan langsung saja memberikan aku sebuah pepatah juga nasihat saat itu yang sangat menyentuh hatiku.
"Emely tidak apa jika nanti kamu kalah dan kita semua akan hancur bersamaan, jika kau kalah dan tidak bisa melawannya setidaknya kita pernah berjuang bermasa dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang kita miliki, dan kau tidak akan menyesali apapun nanti" ujar ibunya Arshaka kepadaku saat itu.
"Kau pengecut jika tidak berniat melawannya dahulu, kau hanya diam saja dan menangis seperti ini di saat teman-temanmu mati matian melawan Abaddon sendirian dan lihat mereka meringis dan meraung menahan sakit, berkali-kali jatuh bangun melawannya tanpa henti, tapi apa yang kau lakukan? Kau diam disini dan menangisi bocah itu sendiri, kau pecundang Emely. Aku menyesal mempercayaimu sebagai pemimpin" ucap Mbah Kerto kepadaku saat itu.
Karena perkataan dari Mbah Kerto perlahan aku mulai sadar dan ketika melihat Mbah Kerto dengan tertatih mengangkat Devano juga membawanya ke tempat yang lebih aman, begitu juga dengan Vayu yang terlihat terluka cukup parah di bawa oleh sang putra mahkota saat itu.
Aku tertunduk perlahan dan emosi di dalam diriku mulai terasa semakin panas, aku tidak rela melihat rekan-rekan tim ku menjadi seperti ini, dan terus di hajar habis-habisan oleh Abaddon tanpa ampun sedikitpun.
Saat aku mulai menaikkan kepalaku mata merah mulai kembali terlihat, kedua tangan yang aku kepalkan dengan kuat dan gigi yang aku kerutkan dengan hebat, sampai perlahan sayap api itu kembali muncul di belakang punggungku dengan kibaran apinya yang semakin besar dan menyala, tangan yang bak seperti memiliki urat dari panasnya lava perut bumi, aku mulai merasakan gejolak api dan amarah yang muncul dan terkumpul dalam jiwaku saat itu.
__ADS_1