
Aku sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan pria sialan itu, bukannya dia bersyukur karena Devano menahanku dan kakek tua itu berusaha menghentikan aku dia justru malah meminta kakek itu untuk menghukumku.
"Kakek aku tidak akan segan melawanmu jika kau terus melindungi orang sepertinya" ucapku kepada kakek tersebut.
Aku memang menghormati kakek tersebut sekalipun aku tidak mengenalnya dan aku tidak tahu siapa dia atau seberapa hebatnya dirinya, aku hanya menghormati dia karena dia jauh lebih tua dariku dan hanya itu yang aku lakukan saat ini kenapa aku mendengarkan ucapannya.
"Anak muda kalian terlalu di penuhi dengan emosi terutama kau pengendali api, aku tahu kau sangat kuat dan manusia tua sepertiku tidak mungkin bisa melawanmu, maafkanlah muridku ini, dia hanya tidak mengenali kalian dan ini hanya sebuah kesalahan pahaman" balas kakek itu yang masih saja menahanku,
"CK... Aku tidak bisa menahan diri lagi dia benar-benar sudah melewati batas kek, kenapa kau masih membela dia dan melindunginya, sudah serahkan saja dia pada kami, kami juga tidak akan benar-benar melenyapkannya" balas Avan yang terlihat sudah tidak sabar.
Aku menatap mata pria itu dan aku melihat dia dengan dengan lekat dalam beberapa saat, hingga tidak lama pria itu mulai menatapku juga dan seakan tatapan matanya menyiratkan sebuah penyesalan, aku bisa melihat dia bahwa dia tidak jahat tapi aku juga tidak bisa berhenti untuk tidak memberikannya pelajaran.
"Kek... Kenapa kau diam saja kau adalah tetua di hutan ini kenapa kau harus takut dengan mereka semua, habisi saja orang-orang jahat ini" ujar pria itu lagi,
"Diam! Kau tidak tahu apapun mereka bukanlah orang jahat, mereka adalah rekanmu, mereka yang sudah kakek tunggu sejak puluhan tahun yang lalu" ucap kakek itu membentak pria aneh di sampingnya.
Pandanganku kembali beralih kepada kakek tersebut dan aku merasa penasaran mengapa dia mengatakan telah menunggu kami selama puluhan tahun yang lalu, sehingga rasa kepenasaran dalam diriku terus mendorong aku untuk bertanya lebih dalam lagi kepada kakek tersebut.
Disaat Arshaka sudah tidak bisa menahan dirinya lagi dan dia hampir saja memukulkan tangannya ke tanah aku segera menahan tangan dia dan menghentikannya dengan cepat.
"Sudah biar aku yang akan memberikan dia pelajaran haaa....." Ucap Arshaka hampir saja menyerangnya,
__ADS_1
"Tunggu, Arshaka! Kita bisa memberikan dia satu kesempatan lagi" ucapku menahannya.
Arshaka, Vayu, Devano dan Avan langsung saja menatap dengan heran dan membulatkan mata mereka kepadaku dengan tajam.
"Emely ada apa denganmu, kenapa kau malah menghentikan Arshaka, biarkan saja pria itu mendapatkan pelajaran!" Bentak Devano kepadaku,
"Iya... Kenapa Emely? Kenapa kau menghentikannya bukankah kau sendiri yang sebelumnya mau melakukan itu?" Tanya Vayu kepadaku dengan heran.
"Kalian tahu bagaimana aku, aku tidak akan melakukan atau memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan, sebelumnya aku memang tersulit emosi di dalam diriku, kita juga tidak akan mendapatkan apapun dari menghukumnya atau memberinya pelajaran, dia akan tetap seperti itu dan mungkin akan menjadi lebih membenci kita jika kita melawannya dengan kekerasan, biarkan saja, aku tidak ingin memulai perkelahian lagi dan memakan korban" balasku memberikan pengertian kepada yang lainnya.
Walaupun aku lihat rekanku yang lain nampak kecewa atas keputusan yang aku ambil namun kakek tersebut langsung mengajak kami untuk pergi ke tempatnya, dan kami pun mengikuti dia karena tidak ada lagi jalan yang bisa kami lalui di hutan ini.
"Itu keputusan yang bagus gadis api" ujar tetua tersebut dengan menepuk pundakku dan tidak lama di depan sama aku aku melihat sebuah bangunan kuno yang sangat megah dan besar bak seperti sebuah kerajaan di dunia dongeng.
Aku tahu seberapa besar kekuatan yang aku keluarkan untuk menyerang dia sebelumnya dan aku tahu itu akan menyakitkan baginya, aku tidak tega melihat dia terus meringis kesakitan di sepanjang jalan, dan akupun segera meminta bantuan Devano untuk menyembuhkannya.
Di saat sanga tetua pergi entah menyiapkan apa untuk kami, aku mendekati pria tersebut dan mencoba menanyakan keadaannya.
"Hey..... Apa lukamu masih sakit?" Tanyaku kepada pria itu dengan pelan,
"Untuk apa kau menanyakan lukaku, tentu saja ini sangat sakit ahhh semua kulitku melepuh karenamu, tidak tahu lagi apa yang akan terjadi denganku jika tetua tidak datang untuk menghentikanku" balas pria itu yang terlihat masih kesal denganku,
__ADS_1
"Maafkan aku karena sudah melukaimu, dan aku sudah memusnahkan pasukan kelincimu, aku harap kau mengerti kenapa aku melakukan itu, semuanya aku lakukan karena aku terpaksa dan terdesak oleh keadaan, kau tahu aku sudah memohon kepadamu dengan cara yang baik tapi kau sendiri yang memutuskan untuk aku menghabisinya dengan tanganku sendiri" ujarku memberitahunya,
Pria itu nampak terdiam memikirkan apa yang aku ucapkan kepadanya, meskinaku tahu seharusnya dia sadar dan mengerti maksud dari apa yang aku lakukan sebelumnya tapi aku juga mengerti jika dia masih merasa sedih kehilangan pasukannya yang sangat banyak itu.
"Jika kau mau aku bisa meminta temanku untuk menyembuhkan luka di tubuhmu" tambahku bicara kepadanya,
"Tidak perlu tetua akan mengobati aku dengan ramuan yang sedang dia buat" balasnya penuh percaya diri.
"Apa kau akan terus merasa kepala seperti ini? Aku sudah memberiku banyak sekali kesempatan, bahkan membuat rekan-rekanku kecewa, lihatlah mereka menjauhi aku karena mereka kesal dengan keputusanku membelamu, aku bahkan meminta maaf padamu dan menawarkan bantuan untuk menyembuhkan luka yang aku sebabkan, aku rasa aku sudah cukup bertanggung jawab denganmu atas semua yang aku lakukan padamu, kau juga harus berpikir tidak semua yang terjadi saat itu adalah kesalahan aku dan rekanku, kau sendirilah yang menyebabkan semuanya dan kau yang memulai" ucapku lagi memberikan dia pengertian.
Aku lalu pergi meninggalkan dia dan duduk di samping Vayu karena saat ini hanya Vayu yang mau duduk di dekatku, sedangkan yang lainnya masih marah dan kesal kepadaku sebab aku tidak memberikan pelajaran pada pria tadi.
Aku mengerti rasa kecewa yang Devano, Avan dan Arshaka rasakan namun aku juga tidak bisa melakukan itu, setelah aku pikirkan apa yang dikatakan oleh kakek tetua tadi memang ada benarnya, aku masih membutuhkan pria itu, dengan sihir yang dia lakukan tadi itu cukup luar biasa dia bisa membuat seekor kelinci menjadi pasukannya dan dia bahkan membuat dirinya tidak terlihat juga bisa berpindah tempat dalam sekejap.
Bagiku kekuatan spiritual yang dia miliki cukup berguna untuk melawan iblis Abaddon nantinya.
Aku juga sadar bahwa semua itu hanyalah sebuah kesalahan pahaman diantara kami dan pria tersebut, dia mengira aku adalah iblis padahal aku hanyalah pemilik elemen api sehingga wajah jika sorot mataku hampir mirip dengan mata iblis, namun aku tetap memiliki hati dan belas kasih, itulah kenapa aku memaafkan dia dan menunjukkan kebaikan kepadanya, tidak lain untuk membuktikan kepadanya bahwa aku bukanlah iblis, sebab iblis yang asli tidak akan pernah memberikan ampun dan dia kejam dalam segalanya, tidak pula iblis yang melakukan kebaikan di dunia ini, aku sangat berharap pria itu dapat berpikir dengan benar dan bisa berhenti menuduhku sebagai iblis atau jika tidak mungkin aku juga tidak bisa menahan teman-temanku lagi untuk tidak menghajarnya.
Aku duduk di samping Vayu dengan tertunduk lesu hingga Vayu merangkulku dan dia menepuk pundakku pelan beberapa kali.
"Tenanglah Emely semua yang kau putuskan adalah hal yang benar, bukankah memang seharusnya kita memberikan belas kasihan pada orang lain, kak memang memiliki elemen api dan kau kuat saat marah, tapi kau tidak di ciptakan untuk menghancurkan, kau di ciptakan untuk kebaikan, melawan api yang jahat yakni iblis Abaddon" kata Vayu sambil tersenyum kepadaku.
__ADS_1
Senyuman darinya dan perkataan dia yang membuatku tenang membuat aku bisa sedikit mengesampingkan rasa bersalahku dan rasa tidak enak hatiku kepada rekan yang lainnya.
"Terimakasih Vayu, kau sudah mau mengerti aku dan tidak menjauhiku, aku tidak menyesal sudah membujukmu di padang pasir saat itu" balasku kepadanya sambil tertawa kecil.