
Aku sangat gugup untuk masuk ke dalam kelas tapi jika aku kembali itu akan percuma sebab Mauren juga sudah melihatku, aku pun berusaha menangkap diriku dan menelan salivaku susah payah, lalu mengangkat kakiku perlahan untuk masuk ke dalam, hingga akhirnya aku bisa duduk di kursiku dan aku langsung berusaha membangunkan Devano yang duduk tepat di sebelahku.
Aku menendang pelan kakinya berkali-kali tapi dia tidak bangun juga sampai akhirnya tiba-tiba saja Mauren berdiri dari kursinya dan dia berjalan menghampiriku dengan senyum yang menakutkan walaupun dia terlihat begitu cantik dari parasnya.
"Astaga...mau apa dia kemari, ya ampun hey....Devano....bangun...Devano aku dalam bahaya astaga....dia ini kebo atau apa sih kenapa sulit sekali dibangunkan" gerutuku pelan dengan penuh kecemasan dan badanku sudah gemetar dengan hebat,
Mauren duduk di hadapanku dan menatapku dengan tajam kini wajahnya sudah tidak menunjukkan sebuah senyuman melainkan tatapan yang sangat serius kepadaku.
"Kau....jangan mencoba ikut campur dalam urusanku, atau aku juga akan membunuhmu!" Ucap Mauren memberikan peringatan kepadaku.
Aku berusaha menelan salivaku walau rasanya sangat sulit, dia benar-benar menatap tajam ke arahku tapi aku berusaha menguatkan diriku sendiri dan langsung berdiri dari kursiku secara spontan.
"Berhenti Mauren aku tidak akan membiarkanmu memb*nuh lebih banyak orang lagi, ini salah Mauren kau tidak boleh membalaskan dendam mu kepada mereka dengan cara seperti ini" ucapku berusaha menyadarkan dia.
Bukannya sadar Mauren justru malah tertawa terbahak-bahak sambil menunduk lalu dia langsung mengangkat kepalanya secara tiba-tiba hingga membuatku sedikit kaget dan tersentak ke belakang satu langkah, dia menatapku dengan wajah datarnya dan mata yang terbelalak lebar, lalu aku mulai melihat sesuatu yang aneh di tengah-tengah alisnya itu seperti sebuah jarum yang bercahaya dan mengkilat.
"Apa itu, kenapa aku merasa aneh melihatnya?" Gerutuku memikirkan.
Karena aku memperhatikan benda kecil yang gemerlap itu aku tidak sadar Mauren sudah berada sangat dekat denganku dan hendak mencekik leherku namun tiba-tiba saja dia terpental cukup jauh ke depan ruang kelas hingga tubuhnya mengenai papan tulis dengan keras.
"Aaaaa...brukkk...." Suara Mauren yang berteriak keras dan tubuhnya ambruk tepat setelah menghantam papan tulis di kelas itu.
Aku kaget dan membelalakkan mataku sangat lebar, ku pikir ada Pelik yang menyelamatkanku namun setelah aku melihat ke sekeliling kelas tidak ada keberadaannya disana, hanya Devano saja yang terperanjat dari tidurnya dan berdiri sama kagetnya denganku.
__ADS_1
"Heh, panda apa yang terjadi?" Tanya Devano segera menghampiriku dengan wajah kebingungan,
"Tidak tahu tapi Mauren terpental, apa dia akan baik-baik saja?" Tanyaku kepada Devano.
Dia menggelengkan kepala menanggapi pertanyaan dariku dan kami berdua berjalan perlahan mendekati Mauren yang terduduk dengan lemah di depan kelas, ku lihat lagi sesuatu yang mengikat seperti sebuah jarum tajam ditengah tengah alisnya dan itu sangat membuatku penasaran.
Aku tidak sadar ingin menyentuh benda tersebut sebab benda itu terus saja membuatku sangat penasaran dari sejak awal aku melihatnya, namun tanganku langsung ditahan oleh Devano saat hampir menyentuhnya.
"Berhenti Emely jangan bertindak gegabah, sebaiknya kita bawa dia ke uks sekarang" ucap Devano dan aku hanya mengangguk setuju.
Meski aku sudah sangat penasaran sekali dengan benda di dahinya tersebut tapi aku tidak bisa memastikannya untuk saat ini dan Devano segera menggendong Mauren lalu membawanya ke UKS untuk beristirahat, aku dan Devano bahkan menunggui Mauren hingga dia siuman beberapa menit kemudian.
Mauren mengerjap-ngerjapkan matanya pelan lalu dia segera mencoba untuk bangkit terduduk dengan memegangi kepalanya yang mungkin akan terasa sangat sakit setelah terpentok ke papan tulis sangat keras sebelumnya, aku yang tidak tega melihat kondisinya seperti itu, segera ku bantu dia untuk bangkit dan menanyakan mengenai keadaannya.
"Aku kenapa, kepalaku rasanya berat sekali dan badanku benar-benar terasa sakit semua" balasnya dengan menatap heran dan malah bertanya balik kepadaku.
Aku terperangah dan kaget setelah mendengar Mauren yang tidak menyadari semua hal yang terjadi kepada dia sebelumnya, mataku langsung menatap kepada Devano dan kami juga saling tatap satu sama lain merasakan kebingungan yang sama.
Karena kondisi Mauren yang terlihat masih lemas aku pun tidak memberitahukan kejadian yang sebenarnya kepada dia karena takut itu akan mempengaruhi pikirannya lagi sehingga aku memilih untuk berbohong kepadanya demi kebaikan dirinya juga.
"Aahh...itu tadi kamu jatuh di kelas, ya sudah sebaiknya kamu beristirahat disini dulu yah, aku dan Devano harus segera kembali ke kelas" ucapku sambil segera pergi dari tempat tersebut.
Saat aku sudah keluar dari UKS aku langsung kembali ke kelas dan terus merasa bingung sendiri mengapa Mauren tidak mengingat kejadian yang terjadi sebelumnya, pikiranku terus memikirkannya hingga aku mengabaikan Devano dan saat sudah berada di dalam kelas Devano menggeser bangkunya lalu dia mendekatkan diri kepadaku.
__ADS_1
"Panda apa kau berpikiran sama dengan apa yang aku pikirkan tentang Mauren?" Tanyanya begitu saja,
"Memangnya apa yang kau pikirkan?" Tanyaku balik dengan wajah yang datar,
"Mungkinkah Mauren hilang ingatan?" Jawabnya yang benar-benar membuatku menyesal telah mendengarkan perkataan dia dengan serius sebelumnya,
"Bodoh!, Sudah jelas dia memang tidak sadar dan tidak ingat apapun, itu pasti sebab dari pengaruh ruh jahatnya sendiri, semakin besar kekuatan jahat di dalam tubuhnya tentu saja itu akan semakin mendominasi karakternya dan mungkin saja Mauren akan mati akibat roh jahatnya sendiri" ucapku menduga duga sesuai pemikiran yang aku ketahui selama ini,
"Apa?, Haha...jangan bercanda panda kau berpikir terlalu jauh" balasnya malah menertawakan aku.
Aku menatapnya dengan tajam dan sinis hingga akhirnya dia bisa berhenti tertawa dan kembali serius lalu meminta maaf kepadaku.
"Aishh....kau marah?, Ya sudah maaf...maaf aku minta maaf, kenapa sensi sekali sih" ucapnya meminta maaf dengan tidak tulus sama sekali.
Aku hanya bisa menanggapinya dengan menghembuskan nafas kasar dan menggelengkan kepala merasa tidak mengerti dengan orang seperti Devano itu, dan aku sangat malas untuk berhadapan apalagi berbicara dengannya, saat tengah melamun aku mulai teringat dengan hutangku kepada Devano dan aku segera mengembalikan uangnya tersebut.
"Heh...ini uangmu terimakasih sudah meminjamkannya padaku" ucapku sambil menaruh uang itu diatas mejanya,
"Haha...ayolah panda aku kan sudah bilang aku memberikannya padamu jadi ambil kembali uang ini oke, kita kan teman sekarang" balasnya membuatku semakin membenci dia,
"Ambil uangnya atau aku akan membuang uang itu!" Ancamku dengan tatapan sinis dan bibir yang aku rekatkan,
Devano pun segera mengambil uang itu dari atas mejaku dengan segera dan dia memasukannya ke dalam kantung celananya dengan cepat, lalu dia mulai menggerutu tidak jelas mengenai aku padahal sudah jelas aku ada di sampingnya yang pasti sekali aku bisa mendengar semua gerutuannya yang dia tujukan kepadaku.
__ADS_1